
"Karena—"
"Karena Jeongin juga mengalami hal yang sama." Potong Jaehyuk yang datang bersama Han.
"Kalian?? Kenapa datang kesini?" Tanya Jihoon.
"Bomin menghubungi kami lewat chat, gue dan Han memutuskan untuk kesini juga biar kalian mengetahui kebenaran cerita itu."
"Kebenaran? Kebenaran apaan?" Tanya Jihoon sedangkan yang lain hanya menyimak.
"Jadi gini, setelah Jeongin melihat perempuan itu ia lebih sering melamun dan melihat hal-hal yang gaib. Terkadang ia juga mimpi buruk dan berbicara sendiri." Jelas Han.
"Kami bertiga merasa kasihan dengan Jeongin karena kami tidak pernah diganggu dan melihat hal-hal gaib."
"Beda dengan kalian yang dua diantaranya anak indigo." Timpal Jaehyuk.
"Dua? Kan cuma Asahi yang bisa melihat begituan." Bingung Jihoon dkk.
Sementara Asahi sudah tau siapa yang dimaksud Jaehyuk.
"Bukan cuma gue, Zoa juga punya kemampuan itu." Ucap Asahi.
"Hah?!" Kelima sahabatnya kaget.
"Zoa kenapa nggak pernah cerita??" Tanya Junghwan.
"Gue nggak pernah cerita soalnya gue bisa melihat begituan cuma waktu kecil doang. Dan gue bingung kenapa sekarang malah bisa melihat lagi. Beda dengan Asahi yang sejak kecil sampai sekarang masih bisa melihat."
"Terus kenapa Jeongin bisa menjadi korban??" Tanya Hyewon.
"Kami nggak tau. Hari itu, kami bertiga menerima pesan dari Jeongin. Di pesan itu, isinya Jeongin cuma minta maaf ke kita bertiga dan meminta kita untuk melanjutkan hidup dengan bahagia."
"Awalnya kita juga nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba chat begitu jadi gue, Han, dan Jaehyuk memutuskan untuk pergi ke rumah Jeongin. Pas kami tiba, kata dongsaeng nya dia kembali ke sekolah karena lupa mengambil sesuatu."
"Gue, Han, dan Jaehyuk punya firasat buruk dan langsung nyusul Jeongin. Tapi kami terlambat, Jeongin sudah tewas di ruang seni dengan cutter di tangannya." Jelas Bomin dengan raut wajah sedih.
"Kami bertiga masih merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Jeongin. Terlebih gue karena gue yang menyarankan ide untuk pergi ke sekolah itu tengah malam." Ucap Jaehyuk.
"Dan gue harap kalian nggak mengalami hal yang sama dengan Jeongin." Lanjut Jaehyuk.
"Kemungkinan besar orang yang melihat perempuan jelek itu nggak akan bisa selamat dan akan terus dihantui sepanjang ia belum bunuh diri."
"Jadi kalian berprasangka kalau Jeongin bunuh diri??" Tanya Zoa.
"Kami nggak yakin sih tapi kenyataannya dia memegang cutter." Ucap Han.
"Gue rasa dia nggak bunuh diri tapi dibunuh." Sahut Asahi.
"Iya, gue setuju dengan Sahi." Sambung Zoa.
"Tapi siapa pelakunya??" Tanya Bomin.
__ADS_1
"Kalau itu kami nggak tau." Balas Zoa.
"Ruang seni?? Kemarin kan gue dan Zoa kesana dan temukan foto ini, apa mungkin ini petunjuk dari Jeongin??" Pikir Junghwan dalam hatinya.
"Kenapa lo Wan?" Tanya Yoshi.
"Eh nggak papa hyung."
"Oh iya, yang lihat perempuan itu siapa?" Tanya Bomin ke Jihoon.
"Minju."
"Kalau gitu kalian harus jagain Minju, jangan pernah tinggalin dia sendirian dan jika dia berperilaku aneh kalian harus waspada." Saran Bomin.
"Kalau kalian butuh bantuan, kami bakalan siap bantu." Lanjutnya.
"Thanks yah Bom soal informasi nya, kita pergi dulu." Pamit Jihoon.
"Zo lo lihat nggak?" Bisik Asahi ke Zoa.
"Iya, Jeongin sepertinya menjaga mereka dari jauh." Balas Zoa yang melihat arwah Jeongin tersenyum kepadanya dan Asahi.
Jihoon dkk masuk ke dalam mobil.
"Kita nginap di rumah Minju noona lagi aja, biar nggak ada yang ganggu noona." Saran Junghwan.
"Bilang aja lo mau tiap hari serumah sama Zoa, alasan banget pakai nama Minju." Julid Jihoon.
"Ya nggak salah juga sih hyung." Junghwan cengengesan.
"Gue mau main game dulu yah." Junghwan langsung duduk di ruang tamu dan mengambil kaset game.
"Kebiasaan deh." Zoa geleng-geleng kepala.
"Gue mau sedia makanan kita dulu, ada yang mau bantu nggak?" Tanya Hyewon.
"Ya udah gue ikut eonni." Kata Zoa.
"Gue juga deh." Yoshi menyusul keduanya ke dapur.
"Gue ke kamar dulu yah, mau belajar." Ucap Minju.
"Nju." Panggil Jihoon.
Minju membalikkan badannya dan menatap Jihoon.
"Jangan melamun yah, nggak baik. Kalau lo butuh sesuatu panggil gue dan yang lain aja."
"Oke."
Jihoon dan Asahi juga ke ruang tamu. Junghwan yang bermain game, Asahi yang sibuk dengan hpnya sesekali memikirkan Minju dan Jihoon yang gelisah bukan karena memikirkan Minju tapi karena takut kalah bermain game dengan Junghwan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Zoa, Hyewon dan Yoshi datang membawa pizza dan cola.
"Yuhuuu makanan datang!" Seru Zoa.
"Minju dimana?" Tanya Hyewon.
"Lagi belajar." Jawab Asahi.
"Gue panggil dulu kalau gitu."
Hyewon mengetuk pintu kamar Minju.
Cklek
"Nggak dikunci rupanya." Batin Hyewon.
Hyewon melihat Minju sedang duduk di ranjangnya.
"Minju, turun yuk. Makanan sudah jadi." Ucap Hyewon.
"....."
Hyewon mendekati Minju dan menepuk pundak Minju.
"Turun yuk Nju."
Sekali lagi Hyewon merasa terkacangi.
"Duh sabar mah gue." Batin Hyewon.
Di ruang tamu.
"Kok mereka lama yah?" Tanya Yoshi.
"Entah. Susulin sana Yos, gue mau makan duluan." Titah Jihoon.
Yoshi pun menyusul Hyewon.
"Lho pintunya terbuka??"
Yoshi langsung masuk.
"Woi kalian turun—" Mata Yoshi membelalak kala melihat Hyewon dicekik oleh Minju.
"ASTAGA KALIAN NGAPAIN WOI?! NJU TURUNIN HYEWON ITU, DIA BISA MATI KALAU LO CEKIK TERUS!" Teriakan Yoshi membuat Asahi, Zoa, Junghwan dan bahkan Jihoon yang sudah makan langsung keselak.
Mereka semua menyusul Yoshi ke kamar Minju. Di kamar suasana sangat kacau dengan Minju yang mencekik Hyewon, Hyewon yang berusaha melepaskan diri dan Yoshi yang memukul-mukul Minju supaya melepas Hyewon.
"NJU LO NGAPAIN?! ANAK ORANG BISA MATI ITU KALAU NAFASNYA HABIS." Teriak Jihoon.
"Percuma, itu bukan Minju." Ucap Asahi santai.
__ADS_1
"Lah terus itu siapa??" Tanya Junghwan.
"Itu dia, perempuan jelek yang dilihat Minju di aula malam itu."