Bloody Game

Bloody Game
Chapter Nine


__ADS_3

"Sayangnya nggak semua tebakan lo benar Kim Minjeong." Dari ruang senjata ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan Sungchan dan Winter.


Hiyyih dan Jihan kembali ke ruang istirahat. Jaehee menatap Jihan dengan curiga.


"Apa dia sudah tau kalau gue pembunuhnya? Tapi nggak mungkin juga sih, Jihan kan salah satu anak paling bodoh di kelas. Tidak masuk akal jika dia sudah tau kalau gue pelakunya." Batin Jaehee.


"Tapi kenapa dia menghindari gue yah? Apa karena Sungchan yang bilang kalau pelakunya huruf J? Mungkin Jihan jadi agak takut sama gue."


"Jihan!" Panggil Jaehee.


"Kenapa Jae?" Jihan berpura-pura santai.


"Lo tumben nggak bareng gue. Kenapa sama Hiyyih perginya tadi?" Tanya Jaehee.


"Hehe nggak kenapa-kenapa. Cuma gue tadi dekat sama Hiyyih jadi yah bareng Hiyyih. Nggak papa kan Jae?"


"Nggak. Lo nggak cerita sesuatu ke Hiyyih gitu?"


"Cerita apa?" Jihan nanya balik.


"Kalau Jihan nanya balik nggak mungkin dia tau gue pembunuhnya. Jihan kan anak polos dan lugu." Pikir Jaehee.


"Kalian hari ini tidur dulu. Sampai besok."


"Tumben sekali dia baik hati buat kita istirahat." Kata Jeongwoo.


"Ya udahlah. Tidur aja, positif thinking bro." Balas Jinwoo menepuk Jeongwoo.


Jeongwoo tidur bersama Jinwoo, Jungwon dan Sungchan, Winter, Jihan, dan Hiyyih juga tidur. Tersisa Jaehyuk dan Jaehee yang masih terjaga.


"Kenapa nggak tidur lo?" Tanya Jaehyuk ke Jaehee.


"Gue nggak bisa tidur. Takut nanti ada yang incar gue." Balas Jaehee tanpa menoleh ke Jaehyuk.


"Takut diincar apa takut kalau ketahuan lo pembunuhnya?"


Jaehee menoleh ke Jaehyuk. Jaehyuk menatap Jaehee dalam.


"Maksudnya apa? Lo nuduh gue?" Kesal Jaehee.


"Kalau bukan pelakunya nggak usah marah dong. Gue tidur dulu." Jaehyuk pun pergi ke tempat Jeongwoo.


Jaehee menatap Jaehyuk yang sudah tidur.


Tak lama kemudian, Jaehee membangunkan rekannya. Mereka pergi ke ruang meeting.


"Lo mau bunuh siapa nanti?" Tanya rekannya.

__ADS_1


"Gue terlalu curiga dengan banyak orang. Sepertinya sudah banyak yang tau kita pelakunya." Pikir Jaehee.


"Masa sih? Gue nggak merasa gitu."


"Itu karena lo nggak pernah peka!" Jaehee memukul kepala rekannya.


"Ya udah gue sudah tentukan target gue siapa. Lo gimana?" Tanya rekannya.


"Gue juga sudah. Sepertinya dia memang harus dibunuh dulu kali ini."


Paginya, Hiyyih dan Jihan terlebih dulu bangun.


"Huaaa masih ngantuk nih." Ucap Jihan.


"Kita ada dikasih sarapan nggak yah sama Jihoon bantet itu??" Tanya Hiyyih ke Jihan.


"Mau nanya ke dia nggak?"


"Boleh, yuk pergi." Hiyyih menarik Jihan keluar ruang istirahat.


Mereka mencari Jihoon, Jake, dan Hyunjin.


"Ngapain disini?" Hyunjin lewat.


"Mau makan. Kami berdua lapar." Sahut Jihan.


"Kami berdua doang?" Tanya Hiyyih.


"Kan cuma kalian yang lapar. Kalau yang lain mau, bisa cari gue, Jihoon, atau Jake. Nanti dikasih juga kok." Balas Hyunjin.


"Tumben lo baik. Ada angin apa?" Tanya Hiyyih.


"Banyak bacot lo! Gue baik salah, gue dingin juga salah. Mau kalian itu apa sih?!" Kesal Hyunjin.


"Diam aja kali lebih baik." Celetuk Jake yang baru datang bersama Jihoon.


"Lo kenapa kesini?" Tanya Hyunjin.


"Mau makan jugalah. Gue dan Jihoon lapar tau nggak."


Sampailah kelima orang itu di sebuah ruangan lantai tiga tepatnya ruang rahasia.


Hyunjin membuka dengan memencet tombol di remote. Ruang itu adalah ruang makan besar dan laboratorium.


"Kalian bisa sarapan disini. Kami juga akan mengawasi kalian berdua." Kata Jihoon.


"Sebelum itu gue mau nanya sesuatu ke kalian." Ucap Hiyyih.

__ADS_1


"Apaan?" Tanya Jake.


"Kan ada ruang meeting dan meja bundar, kenapa bukan ruang meeting yang dipakai diskusi?" Tanya Hiyyih.


"Oh itu toh. Kalau itu gue nggak bisa kasih tau. Yang jelas kalian cuma harus menuruti aturan permainan jika ingin selamat."


"Ruangan apa ini?" Seseorang datang dari luar.


"Jungwon? Kok lo disini?" Tanya Hiyyih.


"Gue ikutin kalian berdua tadi. Soalnya gue kan rajin bangun pagi, dan gue penasaran kalian mau kemana jadi ikut kesini juga deh."


"Kok gue nggak merasa lo ikuti sih? Lo merasa nggak Han?" Tanya Hiyyih.


"Nggak. Cuma selama perjalanan kesini gue seperti diawasi sama sesuatu."


"Nah ini makanannya. Nggak ada racun kok, tenang aja." Jake memberikan roti dan susu ke Jihan dan Hiyyih.


"Lo mau nggak?" Tawar Hiyyih ke Jungwon.


"Sorry gue nggak level makan roti. Gue sarapan itu biasanya makan steak." Tolak Jungwon.


"Cih sombong banget sih!" Gerutu Hiyyih.


Setelah semuanya sarapan di ruang rahasia kecuali Jungwon, Jihoon dkk mengunci kembali ruangan itu.


"Cuma laboratorium dan ruang makan kok sampai ditutup sih? Penting amat kah?" Bingung Hiyyih.


"Iya penting. Rahasia itu." Balas Jihoon.


"Sana kembali ke ruang istirahat kalian! Nanti yang lain curiga lagi kalian ke tempat yang aneh-aneh." Usir Hyunjin.


Jungwon menarik Hiyyih dan Jihan menjauh menuju ruang istirahat. Sekilas Jungwon melihat ke belakang menatap Jihoon, Hyunjin, dan Jake.


"Darimana kalian bertiga?" Tanya Jeongwoo.


"Oh habis jalan-jalan. Bosan disini terus-menerus. Lo kenapa kebangun Woo?" Tanya Jungwon.


"Lagi nggak bisa tidur nyenyak, tau sendiri kan masih ada dua pembunuh disini." Ucap Jeongwoo.


"Ya udah lo sama gue aja lagi nanti." Saran Jungwon.


"Gue bareng siapa?" Tanya Jaehyuk yang ikut bangun.


"Sama Jinwoo saja, atau nggak lo bareng Sungchan dan Winter tuh." Sahut Jeongwoo.


Jaehyuk melirik Sungchan dan Winter.

__ADS_1


"Ya udah. Kita bertiga." Final Jaehyuk.


__ADS_2