
"Woi bantuin njir!" Teriak Bomin ke Han, Jaehyuk, Jihoon, dan Yoshi.
"Aelah kita juga susah nih lawan ni badut sama bocah tengil!" Balas Jihoon.
"Bantuin gue dulu habis itu kita lawan bareng-bareng setannya!"
"Ya nggak bisa tolol!" Teriak Yoshi yang masih melawan siswa tanpa kepala itu bersama dengan Jaehyuk.
Sedangkan badut dihadapi oleh Jihoon dan Han.
"Bagian yang susah baru kita berdua yang lawan." Han misuh-misuh sambil memonyongkan bibirnya.
"Ha'a benar tuh, nasib kita berdua nggak bagus sekali hari ini." Timpal Jihoon.
"Kalau begini mendingan gue lawan Jeno, lebih baik daripada nih kepala puntung." Sambung Jaehyuk.
"Iya nih, Bomin lemah bener! Nggak bisa lawan Jeno yang manusia, nggak berkembang sekali jadi manusia." Ejek Yoshi ke Bomin.
Bomin hanya melirik kesal ke arah keempat temannya itu.
"Teman sendiri dinistakan." Batin Bomin.
"Awas aja tuh Han sama Jae kalau mau ke kantin nggak gue traktir lagi nanti."
Jadi selama Han, Jaehyuk, dan Bomin bertiga ke kantin atau membeli sesuatu pasti yang bayar itu Bomin karena Bomin anak orang kaya, bisa dibilang kekayaan nya itu setara dengan Sehun.
Ya iyalah setara! Kan bapaknya itu memang Sehun. Jadi uangnya Bomin itu berasal dari Sehun.
Kembali ke situasi tadi.
"Wah ada lima tamu tampan." Sahut Sakura dari lantai dua.
Kelima orang yang merasa itu melirik ke Sakura.
"Jelas dong gue tampan." Ucap Han.
"Gue lebih tampan sih dari lo." Ejek Jaehyuk.
"Nggak ada yang paling tampan selain gue." Kata Jihoon.
"Ngaca lo Hoon! Muka Julid kek gitu dibilang tampan, gue yang paling tampan lah." Yoshi juga ikut-ikutan.
"Berisik tau! Bocah banget kalian debat tentang yang paling tampan disini, jelas lah gue yang tampan di antara kita." Ini Bomin yang bilang.
"Lawan gue stress keknya deh." Batin si badut.
"Idih! Kepedean sekali bocah-bocah ini." Timpal siswa tanpa kepala.
"Dasar nggak normal." Ledek Jeno.
"Siapa yang lo katain nggak normal??!" Teriak kelimanya bersamaan.
"Jeno." Panggil Sakura.
"Kenapa noona?" Jeno bingung.
"Sini dulu, gue mau kasih tau sesuatu."
"Ya gue sih mau kesana tapi ditindih sama Bomin nih." Balas Jeno sambil mengimutkan dirinya membuat Bomin menatapnya jijik.
"Jangan lebay jadi cowok deh." Ucap Bomin.
"Berisik lo muka kodok!"
"HAHAHAHAHAHAHAHA." Tawa Jihoon dan Han.
Yoshi menahan tawanya begitupun dengan Jaehyuk.
"Sialan muka ganteng gue disamakan dengan kodok." Gerutu Bomin.
Jeno menuju ke lantai dua.
"Mau bicara soal apa?"
"Sini gue bisikin."
"Apaan?" Jeno pun maju ke Sakura.
Setelah selesai membisikkan sesuatu ke Jeno, Sakura diam.
"NGGAK! GUE NGGAK SETUJU!" Bentak Jeno.
"Tapi itu kemauan nya Jaemin, lo mau Jaemin nggak tenang dan berkeliaran di dunia terus gitu??"
"Ayolah Jen, ini demi Jaemin juga. Itu permintaan nya ke gue tadi, lagipula kita memang harusnya berhenti untuk melakukan itu." Bujuk Sakura.
"GUE NGGAK PERCAYA SAMA NOONA KECUALI KALAU JAEMIN SENDIRI YANG BILANG!" Bentak Jeno.
Di tempat lain, di rumah sakit Minju sudah sadar ditemani dengan Hyewon yang ngemil snack, Zoa yang duduk di sofa dan Junghwan yang bersandar di bahu Zoa.
Asahi? Masih belum sadar dan dibaringkan di sofa juga. Hyewon sudah menjelaskan perihal Asahi yang menukar jiwanya untuk membuat Minju kembali.
"Nju." Panggil Hyewon.
"Iya eon?" Wajah Minju masih agak pucat.
"Nggak usah dipikirin, gue yakin Jihoon dan Yoshi akan kembali dengan berita baik, mereka berdua pasti bisa membuat Asahi kembali lagi."
__ADS_1
"Tapi Asahi sudah banyak membantu gue eon, gue jadi merasa bersalah." Minju menunduk.
"Aelah noona, Asahi kan suka sama noona jadi dia pasti bantuin noona lah." Celetuk Junghwan membuat Minju kaget.
"Itu beneran Wan??"
"Waduh gue keceplosan! Maafin gue hyung." Batin Junghwan.
"Hehe iya noona." Junghwan tertawa canggung.
"Huwaaaaaa! Gue jadi tambah merasa bersalah."
"Ih Wawan lo harusnya nggak ngomong itu tadi, lihat kan sekarang Minju eonni tambah nangis!" Zoa menjitak kepala Junghwan.
"Aduh beb jangan galak sama gue dong, gue kan cuma ngomong kenyataan nya doang." Ringis Junghwan.
"Gue harap Jihoon dan Yoshi bisa berhasil." Batin Minju.
Di rumah Jeno.
Wush, angin kencang tiba-tiba datang. Terlihat Jaemin dan Jeongin datang bersama sedangkan Seungmin diminta menjaga di rumah sakit.
"JAEMIN?!" Jeno kaget sementara Sakura sudah menduga bahwa Jaemin akan datang.
"Jen gue mohon sama lo untuk mengakhiri semua ini, gue nggak bisa tenang kalau lo masih melakukan ritual ini dan membuat lebih banyak korban lagi. Bahkan Jeongin yang salah satu korban lo ini nggak tenang." Pinta Jaemin.
"Gue tau kalau lo masih nggak rela gue mati karena keselak tulang ayam waktu itu, tapi kan itu sudah takdir Jen. Gue mau lo dan Sakura noona ikhlas dengan kepergian gue."
"Ini permintaan gue Jen, tolong lo kabulin."
Jeno terdiam tanpa membalas kata-kata Jaemin.
"Eh itu bukannya Jeongin dan Jaemin yah?" Tanya Jihoon ke Yoshi.
"Ah iya, ngapain mereka?"
"Mana gue tau!" Balas Jihoon.
"Hah Jeongin?! Mana-mana??" Tanya Han.
"Itu disitu, di depan nya Jeno sama Sakura. Di sampingnya Jaemin." Tunjuk Jihoon.
"Mana sih??"
"Lah nggak lihat lo?" Tanya Yoshi.
"Kagak."
"Lo lihat Hoon?" Tanya Yoshi.
"Iya."
"Hah kemampuan apaan??" Bingung Jihoon.
Sedetik kemudian Jihoon sadar.
"WOW GUE INDIGO SEKARANG! KITA INDIGO YOS!" Seru Jihoon.
"Nggak usah heboh Hoon, nanti kalau tiba-tiba muncul setan yang mengerikan terus ikutin lo sampai rumah gimana?? Masih bisa senang lo??" Jaehyuk menakut-nakuti Jihoon.
Jihoon langsung berpikir.
"MAMA GUE NGGAK MAU INDIGO DEH! GUE MAU NORMAL AJALAH BIAR NGGAK DIKUNTIT SAMA SETAN MENGERIKAN!" Teriak Jihoon.
"BISA DIAM NGGAK SIH KALIAN?! GUE TENDANG DARI RUMAH GUE MAU KALIAN?!" Bentak Jeno.
Pada akhirnya Jeno menerima permintaan Jaemin.
"Satu-satunya cara buat teman mereka kembali hanya dengan gue dan Sakura mati kan?" Tanya Jeno ke Jaemin.
"Iya. Gue tau kalian pasti nggak mau. Tapi ini juga konsekuensi karena kalian sudah melakukan ritual itu Jen."
"Ya udah nggak papa, toh nanti gue ketemu lagi sama lo Jaem. Berarti kita bertiga bisa bareng lagi seperti dulu. Lagian kalau gue disini dengan Sakura noona tanpa lo terasa hampa Jaem, gue nggak bisa."
"Noona mau kan?? Biar kita bisa bareng lagi." Jeno melirik Sakura.
Sakura mengangguk.
Di rumah sakit.
.
Tiba-tiba, jari-jari Asahi perlahan bergerak, Zoa yang berada di dekat Asahi kaget.
"Eh eh Asahi oppa gerak tuh." Sahut Zoa yang berada di samping Asahi.
"Cih pakai embel-embel oppa lagi, gue kan juga mau dipanggil gitu." Cibir Junghwan dalam hati.
"Eugh kepala gue sakit." Kata Asahi sambil memegang kepalanya.
"ASAHI?? SUDAH BANGUN LO?? INI BENERAN LO KAN??" Heboh Hyewon.
Pletak.
"Ingat ini rumah sakit eonni." Ucap Zoa menggeplak kepala Hyewon.
Hyewon misuh-misuh sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Nggak usah gitu noona, nanti kalau Yoshi hyung disini dan lihat noona monyong-monyong gitu yang ada langsung diembat." Celetuk Junghwan dan langsung dipukul Zoa.
"Aduh sakit! Kenapa lo hobi banget sih mukul gue??" Sewot Junghwan.
"Lo sih pikiran nya mesum!"
"Bacot anda Jo Hyewon!" Balas Junghwan.
"Dahlah stress gue lama-lama kalau berantem sama cowok mesum macam lo!"
"Sialan gue dibilang mesum!" Batin Junghwan.
"Minju." Panggil Asahi.
Minju menoleh ke Asahi.
"Lo gimana? Udah baikan? Ada yang sakit nggak?" Tanya Asahi beruntun.
"....."
"Jangan bilang masih belum berakhir, gue gagal kah? Ini Minju bukan sih?" Tanya Asahi.
Buk.
"Aduh sakit!" Asahi memegang kepalanya yang dipukul Minju.
"Lo kenapa Nju?"
"LO BISA NGGAK SIH NGGAK BIKIN GUE KHAWATIR?? HARUSNYA LO NGGAK PERLU KORBANIN JIWA LO BUAT GUE! GIMANA KALAU MISALNYA LO NGGAK BALIK-BALIK LAGI? GUE BISA JOMBLO SEUMUR HIDUP TAU NGGAK SAHI!" Bentak Minju dan memukul Asahi sesudah itu menangis.
Asahi hanya menenangkan Minju.
"Hehe maafin gue yah, gue tau gue salah. Tapi kan gue juga nggak punya pilihan Nju. Gue nggak mau kehilangan lo." Tutur Asahi.
"Ehem masih ada kita bertiga loh disini yang jomblo." Hyewon menyindir Asahi.
"Sorry ya noona bukannya nggak dukung nih tapi gue dah jadian sama Zoa." Ucap Junghwan.
"HAH SEJAK KAPAN??" Teriak Hyewon lagi.
"Enak aja! Gue belum jawab yah waktu di kantin tadi." Elak Zoa.
"Alah gengsi lo, kalau suka sama gue bilang aja kali. Gue kan juga suka sama lo Zoa."
Zoa hanya memutar matanya malas.
"Dasar kepedean!"
Tiba-tiba.
Bruk.
"HALO SEMUANYA PENJAGA NERAKA, JIHOON SUDAH KEMBALI DARI RUMAH ANGKER." Seru Jihoon yang datang bersama Yoshi.
"HALO JUGA PENGHUNI NERAKA, GIMANA KABAR LO DI RUMAH ANGKER?" Tanya Junghwan.
"Anjir lah pada ngegas. Ini rumah sakit bisa diam nggak sih?!" Bentak Yoshi membuat Junghwan dan Jihoon diam.
"Eh Minju sudah sadar, gimana? Sudah baikan nggak? Masih ada yang sakit gitu?" Tanya Jihoon.
"Udah kok, gue mendingan sekarang."
"Kapan lo keluar rumah sakit?" Tanya Jihoon.
"Entah, mungkin besok." Jawab Minju.
"Hye gue suka sama lo." Ungkap Yoshi tiba-tiba membuat satu ruangan kaget.
"Demi apa Yoshi suka sama Hyewon yang tukang makan begini?? Yakin lo? Nggak dirasukin arwahnya Jeno kan lo?" Tanya Jihoon.
"Kurang ajar lo Hoon!" Hyewon langsung menampar mulut Jihoon.
"Btw gimana Jeno dan Sakura?" Tanya Asahi.
"Dah pergi bareng sama Jaemin ke surga kali." Balas Yoshi.
"Bomin dan yang lain?"
"Mereka lagi ziarah ke kuburan nya Jeongin."
"Oh gitu."
"Itu ngapain lo peluk-peluk sama Minju? Sudah official?" Tanya Jihoon penasaran.
"Hehe lagi on going. Doain aja Hoon." Ucap Minju.
Asahi langsung keringat dingin.
"Kenapa Sahi?" Tanya Minju.
"Hyung nggak papa nih?" Tanya Asahi.
"Aelah santai aja kali, gue mah banyak bisa dipacarin selain Minju. Lagian Minju nya juga suka sama lo, gue nggak boleh egois dong mendingan nyerah aja."
"Lah lo suka sama gue Hoon?" Tanya Minju cengo.
"Yeh baru nyadar dia, gue mau move on dulu lah dari lo. Cari yang lain gitu." Sahut Jihoon.
__ADS_1
"Ya udah semangat Hoon biar lo nggak jomblo sendirian di geng kita." Ejek Yoshi membuat yang lain ikut tertawa meledek Jihoon.
*TAMAT*