Bloody Game

Bloody Game
Chapter One


__ADS_3

"Sekarang gue akan membuat peraturan yang harus kalian ikuti. Pertama, pemain berjumlah tujuh belas dan di antara kalian terdapat dua pembunuh berantai yang sedang menyamar. Lanjutkan Jin." Titah Jihoon ke Hyunjin.


"Kok gue sih?! Lo kan yang diminta jelasin ke mereka! Jangan lepas tanggung jawab dong!" Kesal Hyunjin.


"Gue lagi nggak mood bicara." Balas Jihoon dengan nada malas.


Hyunjin hanya menatap tajam Jihoon dan melanjutkan.


"Kedua, permainan bloody game adalah permainan lima tahun sekali yang terjadi, kalian terpilih menjadi pemainnya kali ini. Ketiga, kalian akan mencari petunjuk mengenai si pembunuh. Keempat, dua pembunuh itu akan membunuh dua target setiap kesempatan. Kelima, jika kalian tidak berhasil menemukan pembunuh sesungguhnya maka kalian akan mati disini." Jelas Hyunjin.


"Ah dan terakhir kalian bisa vote orang yang mencurigakan menurut kalian di meja bundar. Meja itu digunakan ketika seseorang sudah dibunuh dan diumumkan. Jika tidak ada yang mencurigakan kalian bisa tidak vote." Tambah Jake.


"Oh gitu." Asahi mengangguk dengan datar.


"Sebentar! Jadi ini kita bermain bersama dua pembunuh?!" Kaget Sungchan.


"Iya." Jawab Hyunjin singkat.


"Gue izin bertanya boleh nggak?" Kata Winter.


"Silahkan cantik." Goda Jihoon sambil ngewink.


"Weh ada yang punya kembaran nih." Ejek Jeongwoo melirik ke Haruto.


"Sorry yah gue nggak sama dengan ikan buntel macam orang di depan ini." Sinis Haruto.


"Jadi lo mau nanya apa?" Hyunjin to the point.


"Kalau misalnya ada yang menemukan jalan keluar dari rumah ini gimana?"


"Hm yah dia bisa keluar. Tapi, itu kemungkinan nya kecil dan di jalan keluarnya ada rintangan lain loh."


"Oke gue mengerti." Ucap Winter.


"Lo sudah pilih pembunuhnya?" Tanya Asahi.


"Sudah. Kenapa?"


"Nggak." Balas Asahi.


"Jadi kita ngapain sekarang?" Tanya Soojin.


"Kalian temukan petunjuk nya saja. Mau sendiri atau banyak orang juga boleh." Kata Jihoon.


"Rumah ini ada tiga lantai. Lantai satu, itu isinya ruangan istirahat buat kalian, ruang meja bundar, tempat senjata dan ruangan kami bertiga untuk mengawasi kalian semua."


"Lantai dua isinya, gym, ruang musik, perpustakaan, dan ruang meeting. Sedangkan lantai tiga itu isinya gudang, toilet, kamar mayat, dan ruangan rahasia."


"Ruangan rahasia? Tempat itu bisa dibuka?" Tanya Jaehee.

__ADS_1


"Namanya juga rahasia. Pasti ada kunci nya dong, dan itu nggak mudah didapatkan." Balas Jake.


"Ya udah, gue ikut Jihan dan Wonyoung aja." Ucap Hiyyih.


"Gue sama Haruto deh." Ujar Jeongwoo menarik Haruto ke sembarang arah.


"Gue sama Guanlin dan Soojin." Ucap Beomgyu.


"Gue sama lo Jaehyuk hyung." Jinwoo menarik Jaehyuk.


"Tapi gue mau sama Asahi." Gumam Jaehyuk.


"Gue sendirian." Ujar Asahi meninggalkan yang tersisa.


"Kita berempat sajalah." Saran Jungwon ke Sungchan, Winter, dan Somi.


"Terus gue sama siapa?" Tanya Jaehee yang sudah ditinggalkan sendirian.


"Ah gue susul Soojin eonni sajalah." Jaehee berlari ke Soojin yang sudah jauh.


"Target pertama mereka berdua siapa? Sudah diberitahu belum ke lo?" Tanya Jake ke Jihoon.


"Iya. Gue nggak nyangka sih." Jihoon tersenyum.


"Kita balik ke ruangan saja." Ajak Hyunjin ke Jake dan Jihoon.


Jeongwoo dan Haruto pergi ke lantai dua. Mereka masuk ke perpustakaan.


"Darimana lo tau?"


"Menurut firasat Einstein dong." Bangga Jeongwoo.


"Alah! Einstein pala lo! Soal matematika aljabar aja lo masih harus nyontek dengan alasan ke toilet padahal ada kertas yang lo masukin ke kaus kaki busuk, tulis di paha, dan di kantong baju sekolah."


"Kok lo tau sih kejelekan gue selama pelajaran matematika?" Tanya Jeongwoo.


"Ya iyalah! Gue kan juga gitu!" Balas Haruto sambil nyengir.


Jeongwoo menatap kesal Haruto, harusnya dia tidak bertanya tadi.


"Weh astaga!" Teriak Jeongwoo membuat Haruto kaget.


"Apaan?"


"Gue mau ke toilet dulu, lo tunggu disini yah. Nanti kalau ada apa-apa gue akan hubungi lo dengan hp." Ucap Jeongwoo dan berlari ke lantai tiga.


"Eonni!" Teriak Jaehee.


"Jaehee? Lo mau ikut kita juga?" Tanya Soojin.

__ADS_1


"Iya. Gue sendirian."


"Gue merasa risih dekat dengan Jaehee sekarang? Kenapa yah?" Batin Guanlin.


"Lo kenapa Lin?" Tanya Beomgyu.


"Gue agak risih dengan Jaehee. Kenapa yah Gyu?"


"Perasaan lo doang kali Lin, Jaehee kan anak baik. Dia nggak mungkin pembunuhnya. Lagian dia juga nggak akan bisa bunuh kita karena sendirian."


"Benar juga."


"Kita kemana sekarang?" Tanya Soojin.


"Gue lihat Ruto dan Jeongwoo ke lantai dua. Sungchan ke lantai dua juga, Wonyoung ke lantai satu, kita ke lantai tiga aja gimana?" Saran Beomgyu.


"Ya sudah. Gue ikut yang paling pintar saja deh." Ucap Soojin.


Guanlin dan Jaehee juga menurut.


Di lantai tiga, Beomgyu dkk bertemu dengan Jeongwoo dan Asahi.


"Kalian berdua kok bersama? Haruto dimana?" Tanya Guanlin.


"Kami berpapasan di depan toilet. Dan akhirnya Asahi ikut bareng gue untuk ketemu Ruto. Baru saja kami mau ke perpustakaan di lantai dua, kami ketemu dengan kalian." Jelas Jeongwoo.


"Oh gitu. Lanjutkan saja." Beomgyu dkk juga pergi ke gym.


Ctek


Saklar lampu mati.


"Weh kok lampunya mati sih?! Lupa bayar listrik nih pasti!" Gerutu Jaehee.


"Wah nggak baik nih sepertinya. Gue punya firasat kalau ada yang gugur." Tebak Guanlin.


Wonyoung, Jihan, dan Hiyyih yang naik ke lantai dua juga kaget karena tiba-tiba mati lampu.


Syut


Brak


Sesuatu jatuh di antara mereka.


Cklek


Lampu kembali menyala dan terlihat Jinwoo dan Wonyoung yang jatuh bersamaan.


Wonyoung sudah jatuh dengan darah bercucuran di kepala nya dan sebuah pisau menancap di dadanya. Jinwoo terluka di bagian bahu kirinya dan pingsan karena jatuh.

__ADS_1


"Wonyoung telah di eliminasi. Tersisa lima belas orang lagi." Jihoon mengumumkan di speaker.


__ADS_2