
beberapa jam kemudian
seorang pramugari memberitakan
bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara malang
pramugari itu berpesan agar para penumpang bersiap siap dan mengingatkan barang barang mereka agar tak tertinggal
lavy terbangun dari tidur nya
ia menengok seberang nya
maria dan divya masih terlelap
ia segera membangunkan dua wanita itu
''bibi,,bi bangun bi kita sudah mendarat,,''
lavy menguncang bahu maria pelan
ia melirik divya yang terlelap dengan wajah tenang nya
membuat lavy sejenak terpaku
namun ia segera menggelengkan kepala nya
maria terbangun
ia membangunkan divya disamping nya
karna tidak mungkin lavy yang menyentuh nya
mereka berjalan keluar untuk mencari taksi
ketiga nya sudah berada didalam taksi
lavy berniat akan kerumah nya lebih dulu
untuk menurunkan divya dan bibi nya
ia akan kerumah sakit mengunakan motor nya saja
''kita akan kemana bibi,,''
tanya divya membelah keheningan
lavy melihat nya dari spion atas
''entah lah,,lavy kita akan kemana dulu,,''
''kita akan kerumah saja bibi,,agar bibi dan nona divya bisa istirahat,,''
jawab lavy
divya mengatupkan bibir nya
ia ingin dirumah bibi nya saja tapi segan mengatakan pada lavy dan maria
beberapa menit kemudian
taksi berhenti tepat didepan rumah sederhana milik lavy dan maria
lavy turun dari mobil dan membukakan pintu belakang
ia dan divya bertatapan
lavy segera melangkah ke bagasi dan mengambil tas tas mereka
divya memandang rumah sederhana itu
dengan seksama
maria mendekat dan memegang pundak nya
''ayo nona masuk lah,,''
ajak maria
divya mengangguk singkat
lavy membuka kunci rumah nya
dan terbuka lah rumah yang sudah satu bulan lebih ia tinggali
tak menyangka ia akan pulang kemari lagi lantaran tuan umar kecelakaan
jika saja tuan umar tak mengalami koma mungkin ia juga tak akan datang ke jakarta lagi
kedua mata divya menyusuri isi dalam rumah itu
benar benar nampak sederhana
lavy menatap nya
''ehm nona divya,,,''
panggil lavy
divya menoleh
''iya,,''
''beginilah rumah saya dan bibi maria,,saya harap nona bisa nyaman beberapa hari disini,,''
ucap lavy
sedang maria sudah menuju ke kamar nya
meletakan barang barang nya
''tidak apa apa lavy,,aku pasti nyaman disini karna suasana nya menenangkan,,''
jawab divya sembari kembali memutari rumah itu dengan kedua mata nya
lavy tertegun mendengar jawaban nona nya itu
''aku akan menunjukan satu kamar lagi nona untuk mu,,ayo ikut aku,,''
ajak lavy
mereka sudah terbiasa menyebut diri mereka dengan aku
hanya kadang kadang lavy masih kagok saja
divya mengekori lavy menunjukan kamar untuk nya
lavy menunjukan kamar yang memang untuk tamu
yang dulu juga dipakai oleh maya
divya sudah memasuki kamar itu
kamar nya nampak nyaman dengan ranjang yang lumayan besar
meski tak sebesar ranjang yang ada dirumah nya
dan ada lemari berukuran sedang
''ini kamar nona,,semoga nona suka,,''
''terima kasih lavy,,kamar nya nampak nyaman,,''
divya meletakan tas jinjing dan tas lengan nya di ranjang
ia duduk di tepi ranjang
lavy tersenyum tipis
''kalau begitu aku tinggal dulu nona,,aku akan ke kamar ku sebentar,,''
pamit lavy
divya hanya mengangguk
lavy meninggalkan divya didalam kamar nya
maria keluar dari kamar nya
setelah meletakan barang barang nya dan merebahkan tubuh nya sebentar
ia celingak celinguk
__ADS_1
karna ruang tengah dan ruang tamu yang menjadi satu itu nampak sunyi
kemana lavy dan divya
maria menilik kamar tamu yang nampak terbuka
ia melangkah mendekati kamar itu
dan melihat divya sedang menghadap jendela sembari menelfon
ia menelfon siapa
ah maria tak ingin kepo
mungkin mengabari nyonya vira bahwa sudah sampai dijakarta
maria mengetuk pelan pintu kamar itu
membuat divya sedikit kaget dan menghentikan obrolan nya di telefon
''ada apa bibi,,''
tanya divya sembari melangkah ke luar pintu
''tidak apa,,maaf sudah menganggu telefon mu,,''
jawab maria sungkan
''ah tidak bibi,,ada apa bibi,,''
''tidak,,semoga kamu nyaman dikamar ini nona,,''
ucap maria menatap lekat wajah divya
''iya bibi,,aku sangat nyaman terima kasih,,''
ucap divya tersenyum manis
''baik,,istirahat lah,,''
''iya bibi,,''
maria berlalu meninggalkan divya
divya menutup pintu kamar nya
jeda sebentar lavy turun dari atas kamar nya
berpakaian rapi lalu menghampiri kamar maria
mengetuk beberapa kali
''ada apa lavy,,apa kau akan ke rumah sakit sekarang,,''
tanya maria menelisik penampilan lavy
''iya bibi,,aku ingin segera melihat keadaan tuan umar,,apa bibi tidak apa aku tinggal sebentar,,''
''tidak apa lavy,,ada baik nya kau segera kesana,,maya pasti membutuhkan mu,,''
tutur maria
''ooya bibi,,ini,,pesan lah makanan untuk bibi dan juga nona divya,,''
lavy memberikan beberapa uang seratusan
untuk makan maria dan juga nona nya
''untuk apa lavy,,bibi masih ada uang sendiri,,''
tolak maria
namun lavy memaksa nya
''sudahlah bibi gunakan saja uang itu,,kita harus membelikan makanan yang enak untuk nona divya,,''
''aku pamit ya bi,,jaga diri bibi baik baik dan juga nona divya,,aku usahakan hanya sebentar,,''
''tenanglah lavy,,tidak perlu khawatir begitu,,pergilah''
lavy mengangguk
lalu berlalu
yang tertutup
lalu melangkah kan kaki nya keluar
maria menggeleng kan kepala nya
dan melihat uang yang tadi diberi oleh lavy
banyak sekali
dari mana lavy mendapatkan uang sebanyak ini
lavy sudah sampai dirumah sakit yang dikirimi maya lewat pesan
ia mengunakan motor kesayangan nya
masuk kedalam rumah sakit dan langsung menuju resepsionis
lavy menanyakan dimana ruang icu
pada penjaga informasi
setelah mendapat info nya lavy berjalan cepat menuju ruang icu dimana tuan umar sedang koma
dari jauh ia sudah melihat maya kekasih nya berada diluar
lavy yakin maya sedang menunggu nya
mendengar derap langkah membuat maya menengok langkah kaki itu
melihat siapa yang datang membuat kedua mata nya berbinar senang bercampur terharu
maya bangkit dari kursi nya lalu berhambur memeluk erat tubuh kekar yang sudah di nanti nantikan oleh nya beberapa hari ini
lavy membalas pelukan erat maya
dan mengusap usap punggung bergetar itu
maya menumpahkan tangisan nya didekapan lavy
lavy terus menenangkan kekasih nya itu
''hikz hikz hikz,,,''
maya menangis tersedu sedu
hingga pakaian yang dikenakan lavy basah dengan air mata maya
''sstt tenang lah may,,aku sudah disini,,''
ucap lavy mengelus rambut maya dengan sayang
maya melepas pelukan nya
lalu bertatapan dengan lavy
kedua mata maya sangat sembab dan bengkak
lavy sungguh tak tega
ia mengusap cepat air mata pujaan hati nya itu
dan merapikan beberapa helaian rambut maya yang diwajah nya
lavy mencium kening maya lamaa
dan memejamkan mata nya
maya masih terisak meski tak sekeras tadi
lavy mencakup wajah maya
kedua nya berpandangan lekat
ia menempelkan kening mereka
''tenang ya,,semua akan baik baik aja,,''
__ADS_1
bisik lavy
lavy mengajak maya untuk duduk dikursi tunggu
ia ingin tahu apa penyebab tuan umar kecelakaan
maya menceritakan kronologi kecelakaan papa nya dengan berurai air mata
dan tatapan sendu nya
lavy selalu menenangkan nya dengan mengusap usap rambut maya
''kamu yang kuat ya,,,kalo kamu nangis terus gini,,yang ada akan buat papa kamu sedih may,,kamu harus tangguh dan beri semangat untuk papa kamu,,''
nasehat lavy lembut
maya mendengar nya dengan seksama
''kamu juga harus tabah,,mama kamu sedih dan kamu juga sedih siapa yang akan menguatkan mama kamu,,''
maya menatap lavy
lavy memberi senyum tulus nya
maya berhambur memeluk lavy
''makasih ya lav,,kamu udah mau datang kesini,,aku bener bener ga tau lagi,,kalo ga ada kamu,,kamu penyemangatku,,''
kata maya dengan suara serak nya
''iya may,,sama sama,,kamu harus tetep semangat dan kuat ya,,''
''jangan lupa juga doain papa kamu,,''
lavy mengecup pucuk kepala maya
''iya sayang,,,''
kedua nya nampak terdiam
dengan masih berpelukan
maya mendongakan wajah nya
menatap manik mata pria yang dicintai nya itu
terpancar kerinduan yang sangat dari mata cantik itu
''aku kangen sama kamu lav,,''
ucap maya dengan suara parau nya
lavy terdiam
''aku juga kangen sama kamu may,,''
menjelang sore
maya mengajak lavy untuk melihat papa nya
kedua nya berjalan bergandengan menuju ruang icu
maya membuka kamar itu dan meminta lavy untuk masuk
karna hanya di ijinkan dua orang saja yang melihat
''masuklah lav,,''
pinta maya
lavy mengangguk lalu mengusap pipi maya
sampai dikamar icu
lavy nampak mama nya maya nyonya salmah yang duduk di samping brankar tuan umar
dengan tatapan terpuruk nya
lavy mencoba mendekat
ia memegang bahu salmah
membuat salmah menolehkan kepala nya kebelakang
''lavy,,,''
lirih nyonya salmah
salmah akan berdiri namun segera dilarang oleh lavy
''tante duduk aja,,saya cuma ingin melihat keadaan tuan umar,,''
salmah menurut
lavy memandang lekat wajah papa dari gadis yang dia cintai tertidur lelap dengan wajah pucat pasi nya
tanpa ada pergerakan
salmah menjadi terisak lagi dengan kedatangan lavy
ia menatap lavy
memegang tangan nya
''makasih kamu udah bersedia datang ke sini lavy,,''
ucap salmah dengan suara berbisik
lavy mengangguk sekilas
''saya minta tolong sama kamu lavy,,''
''minta tolong apa tante,,''
tanya lavy dengan raut muka penasaran nya
''tolong titip maya,,beberapa hari ini dia mogok makan,,kamu bujuk dia ya supaya mau makan,,''
pinta salmah dengan terdengar putus asa
lavy terdiam sejenak
''lavyy,,''
''eh ii iya tante,,saya akan coba bujuk maya nanti,,saya keluar dulu,,''
lavy pamit keluar setelah cukup menengok kondisi tuan umar
ia menyalami tangan salmah
lalu keluar dari ruangan icu
saat keluar dari ruangan icu
pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah maya yang berurai dengan air mata
lavy memahami perasaan gadis nya itu
ia mendekati maya
membungkukan tubuh nya lalu mengapus air mata nya
maya memeluk pinggang lavy
''udah may,,jangan nangis terus ya,,kita sholat dulu yukk,,''
ajakan lavy membuat maya mendongakan wajah nya
lavy tersenyum
lalu maya mengangguk
kedua nya berjalan menuju mushala rumah sakit dengan tangan saling menggegam
maaf kalo cerita nya terkesan garing atau gitu gitu aja
aku emang belum bisa sih nulis yang bikin greget gitu atau nangis nangis bombay
jadi nikmati saja ya alur nya
kayak cerita cerita biasa aja sih
__ADS_1
but like dan komen nya tetep aku tunggu
😊🥰♥️