Bodyguard Ganteng Itu Suamiku

Bodyguard Ganteng Itu Suamiku
84


__ADS_3

tuan ryan dan rombongan saat ini tengah makan siang bersama


mereka membentuk lingkaran


hanya saja lavy menolak dia ingin duduk sendiri lebih tepat nya dibelakang divya


nyonya vira sangat risih harus berbaur bersama dengan maria


ia melirik kesal pada suami nya


kenapa juga harus makan berjejer dengan wanita ini


gumam nyonya vira menahan kekesalan nya


namun yang membuat nya kesal nampak acuh saja dan menikmati makan siang nya


dila nampak tak nyaman duduk sedikit berdesakan


dia pun memilih berdiri dan duduk bersama dengan lavy


''aku boleh duduk disini kak lavy..''


tanya divya memecah kenikmatan lavy yang sedang makan


lavy pun menoleh nampak dila sedang menunggu jawaban nya sembari membawa piring berbahan karet di tangan nya


lavy pun mengangguk karna ia sedang menahan kunyahan nya


dila dengan riang duduk bersebelahan dengan lavy


divya sedikit melirik ke arah adik dan pengawal nya itu


hati nya merasa tidak senang


melihat sang adik begitu dekat dengan lavy


namun divya tidak bisa berbuat apapun


dila dan lavy nampak makan sembari bercakap cakap


sesekali dila terlihat tertawa karna mendengar candaan dari lavy


hati divya mendadak panas


ia buru buru bangkit dari duduk nya lantaran divya telah selesai dengan makan nya


melihat divya yang sudah selesai dengan makan nya membuat lavy terkesiap


ia bahkan belum selesai dengan makan. nya


''nona mau kemana..''


tanya lavy


namun divya hanya menatap nya datar


dila juga ikut mengamati wajah kakak nya itu


''saya mau jalan jalan di pinggir pantai..''


jawab divya singkat dengan nada dingin


sontak membuat lavy sedikit tersentak mendengar divya mengucap dengan kata ''saya''


karna selama ini mereka sudah terbiasa berucap ''aku kamu''


''akan saya temani nona..''


lavy buru buru bangkit meski makan nya masih sisa lumayan banyak


divya melirik nya


''tidak perlu lavy..saya bisa sendiri..lagian kamu belum selesai makan nya..''


tolak divya


''gapapa nona..nanti saya lanjutin..''


''ga usah lavy..pamali kalo makan belum selesai...''


cegah divya dengan tegas


membuat tuan ryan nyonya vira dan juga maria memandang ke arah nya


''ada apa sih sayang..''


tanya nyonya vira pada divya


divya mengalihkan pandangan nya pada mama nya


''gapapa ma..divya cuma pengen jalan jalan dipinggir pantai..tapi lavy belum selesai makan nya..''


jelas divya sembari kedua mata nya melirik sinis pada pengawal nya itu


''gapapa nona..saya''


kalimat lavy terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari nona muda nya


lavy pun mengalah melanjutkan makan nya yang belum selesai


divya berjalan dengan santai di pinggiran pantai


ia berjalan dengan menatap ke bawah memandang kedua kaki nya yang melangkah bergantian

__ADS_1


divya berhenti sejenak di tepi pantai


lalu memutar tubuh nya menghadap ke depan


divya melipat kedua lengan nya lalu menutup kedua mata nya


merasakan hembusan angin menerpa wajah cantik nya


gamis yang ia gunakan pun melambai lambai terkena angin


apa yang divya lakukan tak lupus dari pandangan kedua mata lelaki yang saat ini berdiri tak begitu dekat di belakang nya


siapa lagi jika bukan pengawal nya


lavy mempercepat durasi makan nya saat divya berjalan menyusuri pantai


bahkan dila menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan


sejenak hanya ada keheningan di antara lavy dan divya


lantaran divya belum menyadari keberadaan pengawal nya itu


saat lavy mengalihkan pandangan nya ke depan terdengar pekikan dari seseorang yang berada sedikit jauh didepan nya


lavy terkesiap melihat divya terduduk di pasir dengan mengaduh kesakitan


segera saja lavy berjalan cepat menghampiri nya


lalu duduk disamping divya dengan lutut ditekuk


''ada apa nona..nona kenapa''


tanya lavy panik seraya bingung sendiri karna ia tak berani menyentuh atasan nya itu


divya membuka kedua mata nya


ia sedikit terkejut melihat lavy ada dihadapan nya


bukan nya tadi ia sudah melarang nya


''achh...''


divya mengaduh lagi


lavy nampak meringis ia benar benar bingung


lalu ekor mata nya melirik ke telapak kaki divya


kedua mata nya membola saat melihat sepercik darah mengalir dari telapak kaki itu


''no.. nona telapak kaki mu terluka..''


divya kembali mendesis


divya membulatkan kedua mata nya


''tidak..itu akan sangat sakit..''


tolak divya tegas


lavy menghela nafas nya


''nona..jika tidak aku cabut akan semakin masuk kedalam duri nya..dan semakin sakit untuk nona berjalan''


tegas lavy panjang lebar


divya menatap nya dengan ragu


''benarkah...''


lavy mengangguk cepat


''baiklah...''


divya meluruskan salah satu kaki nya yang terkena duri


lavy sedikit canggung harus memegang kaki divya


bukan hanya karna divya atasan nya


namun lavy tau divya gadis yang soleha dan tak pernah bersentuhan dengan lawan jenis


''no.. nona maafkan aku..aku harus memegang kaki mu..''


ucap lavy pelan dan takut takut


divya hanya mengangguk pasrah


lavy sedikit membungkuk dan memegang kaki divya dengan tangan nya


lalu ia menengok ke telapak kaki divya melihat duri yang masuk kedalam nya


lavy menarik nafas dalam


membuat divya menatap nya heran


''kenapa...''


''duri nya mungkin sudah sedikit dalam..aku harus menekan nya kuat kuat agar duri itu keluar..''


divya menelan ludah


ia sedikit was was

__ADS_1


pasti sangat sakit


''lalu apa yang kau tunggu lavy..cepat ambil duri itu..''


pinta divya dengan sedikit memaksa membuat lavy menoleh ke arah nya dan menatap nya lekat


''tapi nona harus tahan dan nona bisa berteriak jika kesakitan atau nona bisa meremas punggung ku..''


titah lavy


divya mengangguk ragu


dia pasrah saja


yang penting duri itu bisa keluar dari telapak kaki nya


lavy menarik nafas lagi


lalu kembali membungkuk dan mengubah posisi duduk nya dengan menyelonjorkan salah satu kaki nya


lalu kaki divya diletakan di kedua paha nya


divya menelan ludah lagi lagi


ia benar benar tak pernah sedekat ini dengan laki laki


apalagi lelaki ini adalah pengawal nya


dan mungkin juga saat ini lelaki ini pemilik hati divya


sehingga membuat divya berdebar debar jantung nya


lavy menoleh menengok ke arah divya


''siap nona..aku akan menekan nya sekarang..''


lavy memberi aba aba


ia mulai menekan perlahan telapak kaki divya


lambat laun tekanan itu semakin kuat dan terasa sakit


divya sampai meringis kesakitan


ia menuruti perintah lavy untuk meremas punggung nya


namun divya hanya meremas baju belakang lavy


tapi tetap saja kuku kuku divya sedikit mengenai punggung lavy


''sedikit lagi nona..''


ujar lavy


ia sampai berkeringat menguarkan duri dari telapak kaki divya


apalagi kedua nya saat ini berada di bawah terik matahari


beberapa menit kemudian lavy berhasil mengambil duri dari telapak kaki divya


dan sedikit mengelap darah yang ada di telapak kaki itu dengan tangan nya


''lavy jangan...''


elak divya saat melihat apa yang dilakukan pengawal nya itu


kedua orang tua divya dan adik nya sedikit berlari mendekat ke arah mereka


''ada apa sayang..kamu kenapa..''


tanya nyonya vira sembari berjongkok mendekati divya


ia nampak cemas


''gapapa ma..tadi ada duri yang ''masuk ke kaki aku..''


''apa kamu sudah mencabut nya lavy..''


tanya tuan ryan menatap lekat pada lavy


''sudah tuan..duri nya sudah keluar..''


''kaka gapapa..''


tanya dila yang ikut berjongkok disamping divya


''kakak gapapa dil..''


dila menghela nafas lega


''lagian kaka ngapain coba ga pakek sandal jalan jalan kepantai..jadi nya kena duri kan..''


gerutu dila memarahi sang kakak


divya hanya bisa tersenyum geli


''udah udah sekarang kita ke gazebo aja..udara nya panas..''


ujar nyonya vira


dila membawakan sandal milik divya dan membantu sang kakak untuk berjalan


TBC

__ADS_1


__ADS_2