Bodyguard Ganteng Itu Suamiku

Bodyguard Ganteng Itu Suamiku
87


__ADS_3

setelah melihat divya sedikit tenang


akash mengajak nya untuk kembali ke ruang dimana tadi lavy dan divya mengikrarkan janji suci


divya menolak nya karna enggan menatap wajah lavy yang kini menjadi suami nya


namun akash memaksa nya dengan mengatakan divya tidak bisa seperti ini terus


ia harus menghadapi kenyataan ini


divya pun akhir nya menuruti apa kata kakak sepupu nya itu


kedatangan akash dan divya membuat semua yang ada disana memandang ke arah mereka


termasuk lavy


divya menyembunyikan tubuh nya dibelakang punggung akash


divya bahkan menundukan wajah nya


''divyaa..''


suara bariton dan tegas itu


memanggil nya


divya sudah hafal suara itu


ya itu adalah suara papa nya yaitu tuan rian


namun divya masih enggan mengangkat wajah nya


''divyaa...''


seru tuan rian lagi lantaran geram dengan tingkah puteri sulung nya itu


akash menggerakan telapak tangan nya yang menggegam tangan divya untuk menyadarkan adik sepupu nya itu


divya akhir nya mengangkat wajah nya


dan kedua mata nya bersitatap dengan kedua mata lavy


membuat divya langsung memalingkan tatapan nya pada papa nya


''papa tau ini sangan sulit bagimu dan papa minta maaf karna harus memintamu untuk menikah dengan lavy..tapi percaya lah divya lavy pria yang baik dan akan bertanggung jawab..''


terang tuan rian


membuat divya tersenyum masam


hati nya terluka dengan ucapan papa nya barusan


bagi divya ini bukan masalah lavy pria baik ataupun bertanggung jawab


tapi bagi divya apa yang terjadi sekarang ini benar benar membuat nya sangat kecewa dan marah


''papa..''


lirih divya dengan tatapan sendu nya


dila sang adik yang ikut merasa terpukul dengan keadaan yang menimpa kakak nya pun berjalan mendekati sang kakak


''kakak''


panggil dila pelan


divya mengalihkan pandangan nya pada adik satu satu nya itu


ia menghambur memeluk sang adik dan menumpahkan tangis nya di pelukan dila


semua yang memandang nya ikut bersedih tak terkecuali nyonya vira ia hanya bisa terisak lirih dan menuput bibir dengan satu tangan nya


apalagi lavy


ia yang paling merasa bersalah dan tentu nya ia pasti tak sanggup bertatap muka dengan wanita yang sekarang menjadi istri nya itu


lavy tau divya pasti sangat kecewa dan marah pada nya


''sudah kak jangan menangis terus aku akan ikutan menangis jika kakak menangis seperti ini..''


ucap dila mencoba menenangkan sang kakak


''kakak sangat kecewa pada semua nya dil..kaka marah pada takdir ini.''


jawab divya sangat pelan karna wajah menyusup di dekapan dila


dila hanya mengangguk anggukan kepala nya


''percaya lah pada takdir allah kak..mungkin ini memang jalan dari allah untuk kakak..''


divya mengurai pelukan nya


ia mengusap air mata di wajah nya


lalu berjalan dengan perlahan dan kaki gemetar


ia akan memutuskan sesuatu


''paahh..mahh..''


ucap divya


divya menatap satu per satu semua yang ada disana kecuali lavy ia enggan menatap wajah suami nya itu


''dan semua yang ada disini..sekarang aku akan memutuskan sesuatu..dan aku berharap papa akan menerima keputusan ku ini...''

__ADS_1


tutur divya panjang lebar dengan suara tersendat sendat


tuan rian mengernyit sesaat mendengar penuturan puteri nya itu


''keputusan apa div..''


divya menarik nafas perlahan


''aku akan menerima takdir ini


dimana sekarang aku sudah menikah dengan dia..''


divya bahkan tidak menyebut nama lavy


''tapi...aku tidak akan menjalani pernikahan ini seperti semesti nya..''


perkataan divya barusan semakin membuat bingung yang mendengar


''maksud kamu..''


tanya tuan rian lagi


yang belum mengerti arah pembicaraan divya


''aku tidak akan pernah menganggap bahwa dia adalah suami ku...''


tekan divya sembari melirik sinis ke arah lavy


membuat semua tercengang


tak terkecuali lavy dan maria tentu nya


tuan rian melototkan kedua mata nya mendengar keputusan divya baru saja


tuan rian tidak pernah menyangka divya puteri yang sangat anggun dan baik hati bisa berkata seperti itu


''divya...''


sentak tuan rian menggelegar


sehingga mengagetkan semua yang ada disana


''kenapa pah...''


tanya divya dengan suara dingin nya


bahkan lavy sendiri tak pernah melihat divya bersikap seperti ini


''papa sendiri yang memutuskan menikah kan aku dengan nya..bahkan aku tidak di beri kesempatan untuk menolak..''


''lain hal nya jika papa menjodohkan aku dengan orang lain dan papa bisa membicrakan lebih dulu padaku


papa juga bisa memberiku pilihan untuk menolak perjodohan itu atau menerima nya...tapi hal ini..''


tuan rian bungkam dengan ucapan divya


''dan sekarang ini adalah keputusan ku...aku tidak mau menerima nya ataupun menganggapnya sebagai suami..'''


hak tersebut membuat perasaan lavy sedikit tak nyaman dan geram dengan yang diucapkan divya


tapi dia tak bisa berbuat banyak


biarlah itu menjadi pilihan divya


''tapi divya biar bagaimana pun pernikahan kalian sah di mata agama dan negara..''


tuan rian mencoba untuk membuat divya mengerti


''tidak sah dalam negara pah..karna di buku nikah yang tertera adalah nama maya bukan nama ku..''


tegas divya membuat tuan rian membungkam


lavy juga baru tersadar jika ia dan maya sudah mencetak buku nikah dan mendaftar di kantor agama pula


sekarang apa ia juga harus mendaftarkan pernikahan nya dengan divya


tapi melihat sikap divya ia rasa tidak perlu


''itu arti nya pernikahan ku dengan nya hanya pernikahan siri..''


tekan divya dengan senyum sinis nya


tuan rian memandang ke arah lavy


dia merasa tak enak hati dengan mantan pengawal puteri nya sekaligus menantu nya itu


''tidak masalah tuan rian..saya akan menerima apapun keputusan nona divya...''


tukas lavy yang mengerti akan pandangan tuan rian pada nya


''lebih baik bercerai...''


seru nyonya vira membuat semua orang menoleh pada nya


''apa kata mu vir...''


tanya tuan rian dengan suara menajam


''iyaa bercerai...lagi pula pernikahan lavy dan divya hanya siri..tinggal lavy mengucap kata talak maka selesai pernikahan konyol ini..''


seru nyonya vira panjang lebar


mendengar perdebatan antara keluarga itu membuat teman teman maya dan juga sahabat lavy ram mengundurkan diri dan berpamit untuk pulang


mereka enggan melihat perdebatan yang tidak ada ujung nya itu

__ADS_1


akash pun juga pamit untuk pulang


ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk adik sepupu nya itu


selebih nya enggan ikut campur


pada akhir nya divya ikut pulang bersama tuan rian karna divya menolak keras untuk pulang bersama dengan suami nya


tuan rian mau pun lavy tak bisa memaksa nya


sebenar nya apa yang nyonya vira katakan itu menjadi beban fikiran bagi lavy


memang mudah saja bagi lavy menalak divya saat itu juga


tapi kenapa hati nya seperti berat untuk melakukan nya


lavy meminta beberapa waktu untuk memikir kan nya


hal itu membuat divya memutar bola mata nya jengah


divya merasa lavy hanya mencari cari alasan saja


tapi divya juga enggan berdebat lagi


yang penting lavy tak memaksa nya untuk pulang bersama nya saja divya sudah tenang


sampai di rumah lavy


lavy meluapkan segala emosi dan kemarahan nya sejak tadi yang ia tahan


lavy mengobrak abrik bantal sofa di ruang tengah


lavy juga menendang meja kecil di tengah tengah sofa itu


maria hanya bisa mematung dan membisu melihat kemarahan anak angkat nya itu


maria tidak menyalahkan lavy


karna memang apa yang di lakukan maya sangat keterlaluan


maria juga tak mengerti alasan apa yang membuat maya tega meninggalkan lavy di hari bahagia mereka sendiri


ram sahabat lavy juga sudah mencoba mendatangi kediaman tuan umar


tapi rumah megah itu nampak sepi


beberapa tetangga disana mengatakan bahwa keluarga tuan umar sudah berangkat ke acara pernikahan


tapi mengapa mereka tidak datang datang


apa mungkin tuan umar berubah fikiran dan tidak merestui jika maya menikah dengan lavy


bukan nya selama ini tuan umar sudah memberi restu untuk maya dan lavy


memikir kan nya membuat kepala maria pening


saat ini maria hanya ingin istirahat


dan dia akan membiarkan apa yang akan di lakukan oleh lavy


maria tak ingin ambil pusing


maria meninggalkan lavy sendirian di ruang tengah yang sudah berantakan itu


maria hanya ingin memberi waktu sendiri untuk lavy


setelah kepergian maria ke kamar nya


lavy meraung raung sendirian


dia menangisi nasip nya yang sangat menyedihkan


''kenapa may...kenapa kamu tega melakukan ini padaku...apa salah ku mayy...''


lirih lavy dengan sesegukan


dia terduduk lemas di lantai


''aku sangat mencintai mu tapi kenapa kamu tinggalin aku di hari bahagia kita may....kenapa...''


lavy berteriak kencang


dia sangat marah dan kecewa pada maya


wanita yang sangat dia cintai tega menghancurkan kepercayaan nya dan pergi meninggalkan nya tanpa sepatah kata pun


lavy bersumpah dia akan mencari tahu kenapa maya melakukan ini semua


dia tidak mau berdiam diri seperti ini terus menerus tanpa melakukan apa pun


lavy hrs bergerak cepat guna menemukan maya dan keluarga nya


dan menanyakan apa maksud mereka mengagalkan pernikahan nya


lavy berjalan setengah berlari untuk ke kamar nya


ia ingin membersihkan diri dan istirahat sejenak lalu mencari informasi tentang maya


dia harus bisa menemukan keberadaan maya


karna walau bagaimana pun


lavy masih mencintai maya


meski maya sudah tega meninggalkan. nya

__ADS_1


__ADS_2