
divya menghentikan mobil nya tepat di depan rumah sederhana milik lavy
dia keluar dari balik kemudi
lalu menarik nafas dalam dalam
divya cukup gugup untuk bertemu dengan lavy
karna bagaimana pun kini status mereke berubah dalam sekejap
divya berjalan perlahan menuju pintu yang terbuka
sebelum nya divya melihat ada motor lavy
itu menandakan orang divya cari ada didalam
divya pun mengucapkan salam terlebih dahulu
''assalamualaikum''
seru divya
seseorang keluar dari dalam rumah dan terkejut melihat yang bertamu adalah divya
''wa alaikum saalam div divya..''
jawab maria dengan terbata bata
maria terkejut melihat divya datang ke rumah nya
''selamat pagi bibi..''
sapa divya ramah dengan se ulas senyum tipis yang mungkin di paksakan
''aah pa pagi nona divya..''
maria balik menyapa nya dengan canggung
''jangan memanggilku nona bibi..aku bukan majikan bibi lagi..''
maria hanya tersenyum kikuk
''kenapa berdiri disitu saja..ayo masuklah nak..''
ajak maria
meski ragu namun divya mengiyakan ajakan maria
kedua kaki nya sedikit lemas memasuki rumah yang dulu pernah ia datangi bahkan divya pernah tinggal di rumah itu selama dua hari
namun sekarang rasa nya sangat lain bagi divya
''ayo duduklah kita sarapan bersama..''
tawar maria pada divya yang masih berdiri
''ehm tidak bibi..aku kesini untuk menemui lavy..''
jelas divya pada inti nya
divya tak ingin berbasa basi
maria sedikit terkejut mendengar divya ingin menemui lavy
kemarin saja divya seperti enggan melihat wajah lavy
''oohh...ehm duduklah dulu nak..bibi akan buatkan minum untuk mu..sebentar lagi lavy pasti turun..''
''terima kasih bi..''
saut divya dengan mengangguk singkat
ia pun duduk di sofa sembari menunggu suami nya๐
divya melihat lihat rumah itu
se andai nya saja diri nya menikah dengan lavy bukan karna keadaan seperti ini pasti lah divya akan bahagia
tinggal di rumah ini bersama dengan orang yang ia cintai
astaga apa yang divya pikirkann.
divya menghalau jauh jauh bayangan gila itu
saat sibuk dengan khayalan nya seseorang yang ia tunggu datang
lavy menuruni tangga satu per satu sembari kedua mata nya menatap punggung wanita yang ia tau itu siapa
lavy melangkah perlahan mendekati divya
divya mengangkat wajah nya
kedua nya bersitatap seperkian detik
namun divya segera mengakhiri nya
divya memalingkan wajah nya
__ADS_1
tak berapa lama maria datang membawa nampan berisikan teh untuk divya
maria merasa suasana diruang tengah itu menjadi dingin
maria meletakan cangkir berisi teh itu didepan divya
''terima kasih bi..''
ucap divya dengan suara pelan
maria hanya mengangguk
setelah nya dia meninggalkan lavy dan divya berdua
lavy mendudukan tubuh nya di sofa depan divya
dia menatap datar ke arah nya
sementara divya nampak sedikit gugup
divya tak pernah segugup ini sebelum nya pada lavy
tapi saat ini divya merasa sangat berdebar jantung nya
''ada apa divya...''
tanya lavy dengan suara dingin
tanpa embel embel nona lagi
''ada hal yang harus kita selesaikan..''
lirih divya dengan menundukan wajah nya
lavy mengangkat satu alis nya
''apa..''
tanya lavy polos
membuat divya mengerutkan kedua alis nya
divya pun mengangkat wajah nya
menatap lavy penuh tanya
''apaa kamu tanya..''
sindir divya dengan senyum sinis nya
''kamu lupa...kamu belum mengucapkan kata talak pada ku...''
dia sudah menduga kedatangan divya adalah untuk menanyakan soal ini
''aku masih ada urusan untuk mencari keberadaan maya..''
jawab lavy singkat membuat divya kesal sangat
''aku tidak perlu mendengar alasan mu..yang aku ingin dengar sekarang kamu menalak ku itu saja..''
tegas divya dengan suara sedikit meninggi
''aku perlu waktu...''
divya benar benar geram dengan lavy
hanya tinggal mengucap talak saja apa susah nya bagi pria itu
''apa susah nya sihh..hanya tinggal memgucap kata talak saja..''
gerutu divya kesal
''tapi kita tak bisa mempermainkan pernikahan divya..''
sentak lavy geram
''pernikahan ini yang permainan lavy...kalian melakukan pernikahan ini tanpa persetujuan ku..''
''bukan nya kamu tidak akan menerima pernikahan ini..kamu juga tidak akan menganggapku sebagai suami mu...lalu kenapa sekarang kamu sangat ingin mendengar kata itu dari ku..''
lavy bahkan enggan mengucap kata talak dari bibir nya
divya bungkam
dia tak tau harus menjawab apa
''kenapa diam...''
tanya lavy dengan senyum miring nya
''itu sebab nya..aku memang tidak menerima pernikahan ini tapi aku tidak ingin terikat dengan mu.. karna biar bagaimana pun dengan pernikahan ini aku terikat terus denganmu dan aku tidak mau..''
terang divya panjang lebar
lavy menarik nafas dalam dalam
''begini saja...aku harus menyelesaikan urusanku dengan maya..jika memang maya melakukan ini sengaja maka pernikahan ini tetap berjalan...''
__ADS_1
divya akan berucap namun di potong oleh lavy
''dan se andai nya ada yang terjadi dengan maya...maka aku akan mengakhiri pernikahan ini..''
lirih lavy di akhir kalimat nya
entah mengapa lavy merasa enggan untuk mengakhiri pernikahan nya dengan divya
bukan karna dia mencintai divya
melainkan apa lavy sendiri tidak tau
divya membulatkan kedua mata nya
divya tak percaya dengan keputusan lavy yang se mena mena itu
''keputusan apa itu..keputusan yang hanya menguntungkan dirimu saja..''
geram divya
namun lavy hanya diam saja
''jawab lavy...aku tidak mau menerima keputusan sepihak mu itu..''
desak divya lantaran lavy masih diam saja
''aku hanya ingin mempertahan kan status ku saja...''
membuat divya heran status apa maksud nya
''apa maksud mu..''
''jika aku bercerai darimu itu arti nya aku berubah status menjadi duda dan aku tidak mau..''
sanggah lavy membuat divya semakin mengeram
''aku tidak peduli...sekarang juga katakan talak padaku..''
paksa divya
''aku tidak mau...''
kekeh lavy
''katakan lavy...''
''tidak...''
''kenapa...''
''karna akuu...''
lavy tidak melanjutkan ucapan nya
dia terdiam sesaat sembari menatap wajah merah padam di hadapan nya
''karna apaa...''
cerca divya tak sabar
hati nya berdebar tak menentu
''karna aku tidak ingin mengecewakan tuan rian...''
jawab lavy akhir nya
divya hanya tersenyum masam
''sekarang pulang lah...''
pinta lavy setelah terjadi keheningan di antara mereka
divya benar benar tak menyangka lavy kekeh dengan keputusan nya untuk tak menalak diri nya
tapi divya tak akan menyerah
dia akan terus memaksa lavy sampai pria itu mau menalak nya
jika saja pernikahan mereka sah secara hukum negara
maka divya akan mengugat nya di pengadilan
karna pernikahan mereka hanya secara agama maka hanya ucapan talak yang dibutuhkan divya dari bibir lavy
divya menarik nafas nya
dia tersenyum kecut menatap lavy
''aku akan pulang..tapi aku akan kembali lagi sampai kamu mau menalaku lavy muhdar...''
tegas divya seraya berdiri dari duduk nya dan melangkah keluar dari rumah lavy tersebut
lavy memandang punggung divya dengan pandangan yang sulit di artikan
ia menundukan wajah nya setelah divya hilang dari dalam rumah nya
yang ga suka sama cerita nya bisa skip
__ADS_1
yang suka bisa dong kasi like nya๐๐๐