
divya terpaksa menuruti ke inginan lavy untuk di antar oleh nya
didalam mobil lavy yang mengemudi sementara divya duduk di samping nya dengan wajah di tekuk
divya mengalihkan pandangan nya ke arah jendela
lavy sesekali melirik ke arah gadis itu
''antarkan aku ke kafe..''
titah divya tanpa mengalihkan pandangan nya
dan lavy pria itu menghembuskan nafas nya
''ada hal yang ingin ku bicarakan..''
ucap lavy masih fokus menyetir
''aku harus bekerja..''
jawab divya acuh
''kita akan bicara di ruangan mu nanti..''
divya mengalihkan pandangan nya pada lavy
divya nampak kesal dengan paksaan pria itu
''kenapa kamu memaksa..sudah ku bilang aku sibuk..''
''hanya sebentar saja..tidak sampai setengah jam..''
lavy meminta dengan suara lembut
hingga divya mau tak mau meng iyakan
sampai di kafe divya segera turun dari mobil
di ikuti oleh lavy
kedua nya memasuki kafe
dengan tatapan pertanyaan dari pelayan pelayan yang sedang membersihkan kafe tersebut
''selamat pagi semua..''
sapa divya ramah dan tersenyum
meski suasana hati nya sedang
kurang baik
lavy mengekor di belakang nya
''pagi non divya..''
jawab pelayan nya dengan serempak dan ramah pula
lavy hanya tersenyum
''lanjutin kerja kalian ya..''
titah divya dengan sopan
divya melangkah kaki nya menuju ruangan nya
lavy masih mengekor
membuat divya sangat risih
ika dan anik pun semakin di buat penasaran dengan kedekatan bos mereka dan pria itu
''tuh kan bos divya sama tu laki lagi..''
seru anik
membuat semua pelayan di kafe itu ikut nimbrung
''ganteng juga ya pacar non divya..''
kata salah seorang pelayan laki laki
bernama adi
''non divya ga punya pacar..''
sanggah ika
''elu gimana sih..kemaren non divya sama tu cowok sekarang sama cowok itu lagi..gimana bukan pacar nya..''
''ya kali aja ada urusan kerjaan..non divya itu perempuan saleha..selama ini aja jarang ada cowok yang nyamperin..''
''lah tu cowok nyamperin non divya..''
kata adi lagi
''ya mangkan nya mungkin urusan kerjaan yang belum kelar..udah ah kita kerja aja..ngapain sih ghibahin bos kita..''
sudahi ika yang malas harus membicarakan bos nya
__ADS_1
meski ika sendiri juga penasaran tingkat dewa
di dalam ruangan
divya duduk di kursi kerja nya
dan lavy duduk didepan nya terhalang meja
''apa yang ingin kamu bicarakan..''
tanya divya langsung inti nya
sembari menatap datar wajah didepan nya
lavy menarik nafas dalam
semalam ia sudah memutuskan
bahwa ia akan meresmikan pernikahan nya dengan divya
dan mengenalkan divya pada maya
lavy juga sudah meminta petunjuk dari tuhan nya bahwa ia mantap meneruskan pernikahan nya dan menyudahi hubungan nya dengan maya
lagipula saat ini maya tak mengingat diri nya sebagai kekasih nya
bukan kah lebih baik
jadi lavy tak harus menghancurkan hati gadis itu
meski perasaan lavy masih terpaut dengan maya
dan lavy juga tak tau apakah divya akan menerima pernikahan nya ini
tapi lavy berharap divya akan menerima nya dan mereka akan memulai hidup yang baru
walau belum saling mencintai
ehem
lavy menetralisir kegugupan nya
ia sendiri juga was was
membicarakan hal serius ini
''ehm...''
ragu ragu lavy ingin bicara
ia menatap lekat pada wajah divya
''kenapa menatap seperti itu..cepat katakan ..''
divya merasa tak nyaman di tatap seperti itu oleh lavy
''apa aku boleh melanjutkan pernikahan kita..''
tanya lavy ragu
kening divya berkerut
''maksud nya..''
divya sudah mulai faham arah pembicaraan lavy
namun diri nya pura pura
lavy menghela nafas
''aku ingin meneruskan pernikahan kita..aku akan melegalkan status pernikahan kita menjadi sah di mata negara juga..''
jelas lavy
divya membulatkan kedua mata nya
divya terkejut mendengar ucapan lavy
apa dia sudah gila
''aku tidak mau...bukan kah sejak dulu aku sudah memintamu untuk menalak ku..dan kamu bilang akan melakukan nya setelah maya ditemukan..''
tegas divya beruntun
''aku tahu..tapi sekarang maya mengalami amnesia dia tidak mengingatku sebagai kekasih nya..''
divya merasa terkejut mendengar ucapan lavy
ia sampai menutup mulut nya dengan tangan
''kau serius..''
tanya divya pelan
lavy mengangguk lemah dengan wajah tertunduk lesu
ada rasa aneh yang menghampiri divya di hati nya
entah mengapa hati divya merasa
__ADS_1
sedikit tenang mendengar maya mengalami amnesia dan tak mengingat lavy
namun divya juga kasihan melihat raut muka lavy
divya tau bahwa lavy sangat mencintai kekasih nya itu
mengingat itu hati divya merasa sesak
''lalu apa kamu tidak berjuang atau membantu nya agar ingat padamu..''
tanya divya penasaran
kenapa lavy malah ingin meneruskan pernikahan nya
''aku sudah tak berminat..apalagi status ku sudah menikah..jika saja waktu itu aku tak menikah dengan mu mungkin aku akan berjuang..''
perkataan lavy membuat divya sedikit geram
''maksud mu karna menikahi ku kau jadi tidak bisa berjuang apa aku menjadi penghalang bagimu tuan lavy...perlu kau ingat yang memaksa ku menikah dengan mu adalah papa ku bukan kemauan ku..jika kau tidak bisa berjuang karna pernikahan ini kau bisa menalak ku sekarang juga..''
jelas divya panjang lebar dengan sedikit menggebu
divya merasa sakit mendengar lavy seolah menyalahkan nya
padahal divya sendiri tak menginginkan menikah dengan nya
''bukan maksud ku mengatakan kamu penghalang hubungan ku dengan maya..hanya saja aku sudah tak berminat memulai dari awal lagi dengan maya..jadi aku memilih meneruskan pernikahan kita..''
''tapi aku tidak mau..''
tolak divya cepat
''kenapa...''
''karena kita tidak saling mencintai..''
divya mengatakan nya dengan pelan
lavy mengusap wajah nya
''aku tahu...tapi aku janji..aku akan belajar membuka hati untuk mu..begitu juga kamu..''
divya tercengang mendengar kata kata lavy
apa benar lavy akan membuka hati nya untuk nya secara lavy lumayan lama menjalin hubungan dengan maya
''apa kamu percaya denganku...''
lavy bertanya karna melihat keraguan di wajah divya
''apa kamu yakin..akan melepas maya dan melanjutkan pernikahan ini..bagaimana jika perasaan maya hancur melihat kamu menikah denganku..''
''maya hanya mengenalku sebagai teman papa nya di tempat kerja yang sama..jadi maya tidak akan sedih..''
lavy harus melakukan nya
ia tidak ingin menunda nunda lagi
setelah lavy mengesahkan pernikahan nya lavy akan mencari pekerjaan
kini kedua nya sudah berada di kantor agama guna mengurus pernikahan mereka agar sah di mata negara
namun mengalami kesulitan karna di buku nikah tertera nama maya bukan nya divya
lavy akan berusaha mengurus semua itu
melihat ke khawatiran divya
''kamu tenang saja aku akan mengurus nya dengan cepat..''
lavy mencoba menenangkan divya
divya hanya mengangguk
setelah nya selesai dengan urusan mereka lavy ingin mengajak divya untuk melihat keadaan maya
sekaligus mengatakan bahwa diri nya sudah menikah
sejak di dalam mobil divya terlihat risau
lavy melirik nya
''ada apa divya..kenapa kamu risau seperti itu..''
''jika kamu mengenalku kan aku sebagai istri mu bagaimana dengan orang tua maya..apa mereka tidak akan kecewa nanti nya..''
pertanyaan divya baru menyadarkan lavy
ia sampai lupa dengan orang tua maya
tuan umar dan nyonya salmah mungkin akan kecewa dengan nya
kemarin saja tuan umar sudah kesal pada nya karna tak menjenguk puteri nya lagi
''biar itu menjadi urusanku...aku akan menjelaskan nya pada mereka..''
jangan lupa like dan komen nya
semoga suka dengan alur cerita nya
__ADS_1