Bodyguard Ganteng Itu Suamiku

Bodyguard Ganteng Itu Suamiku
77


__ADS_3

mobil akash sampai dikediaman lavy


divya turun dari mobil


lavy nampak menunggu kepulangan nona nya itu


akash yang melihat lavy mengerutkan alis nya


akash pun ikut turun


divya sedikit terkejut melihat lavy sedang menunggu nya di depan rumah


akash dan lavy juga sama sama terkejut nya


''lavy''


gumam divya


akash dan divya melangkah mendekat


lavy masih tercengang melihat teman sesama dosen maya bisa bersama dengan divya


''nona kamu baru pulang,,aku sangat cemas menunggumu nona''


cerca lavy dengan raut cemas nya


divya hanya diam saja


''lavy kamu,,''


tanya akash bingung


''tuan akash bagaimana kamu bisa bersama dengan atasan ku''


tanya lavy penuh selidik


divya menoleh ke samping nya


menatap kakak sepupu nya penuh tanya


jadi lavy adalah pengawal divya


batin akash


ia menyunggingkan senyum diujung bibir nya


''dia,,,''


tunjuk akash pada divya


membuat divya melirik aneh karna ditunjuk oleh nya


''divya sepupu ku''


jawab akash enteng


lavy sangat terkejut mendengar ucapan akash


ia sampai membuka mulut nya karna shok


''jadi,,nona baru saja,,''


''iya,,dia baru saja aku ajak untuk menjenguk papa nya maya kekasih mu''


potong akash dengan menekankan kata kekasih


lalu tersenyum miring


divya pusing berada diantara mereka


ia berpamitan untuk masuk kedalam


''maaf kak akash aku masuk dulu,,badanku sangat lelah''


pamit divya lalu berlalu masuk tanpa menunggu jawaban akash


lavy dan akash masih bertatapan dengan tatapan dingin


akash berlalu dari hadapan lavy tanpa mengucap sepatah katapun


lavy mengusap usap wajah nya


lalu masuk kedalam setelah menutup pintu utama nya


ia menyusuri ruang tengah


tak nampak nona nya itu


sudahlah besok saja ia bicara dengan atasan nya itu


pagi hari nya


ini adalah pagi terakhir mereka dijakarta


tapi sampai sekarang tuan umar bahkan belum ada tanda tanda akan bangun dari koma nya


jika lavy kembali besok bagaimana sedih nya perasaan maya


ia bingung


setelah shalat subuh tadi


lavy masuk ke kamar maria guna meminta usul bagaimana enak nya


lavy sudah mengatakan pada tuan ryan hanya dua hari,,dan ini adalah hari terakhir


tapi papa nya maya belum juga sadar dari koma nya


''bagaimana bi,,aku sangat frustasi,,aku tidak tega harus meninggalkan maya dengan kondisi papa nya yang masih belum sadar,,tapi''


lavy tak melanjutkan ucapan nya


ia menunduk


maria menarik nafas dalam dalam


ia sendiri tak tau harus mengatakan apa


''apa dirimu mengundurkan diri saja dari pekerjaan ini lav''


perkataan maria barusan membuat telinga lavy tersentak


ia mengangkat wajah nya


menatap datar pada bibi nya itu


''apa maksud bibi''


tanya lavy dengan suara tertahan


maria menarik nafas nya kembali


''iyaa,,kamu mengundurkan diri dari menjadi pengawal nona divya,,dan bekerja lagi di bank seperti dulu,,''


lavy masih betah mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut maria


''tapi,,besok kau antarkan dulu divya ke malang,,setelah nya kau bisa kembali kemari lagi''


mendengar maria mengatakan untuk mengantar divya ke malang entah mengapa hati lavy menjadi bimbang


dia merasa tak setuju dengan usul maria


''tidak bi,,aku tidak bisa mengundurkan diri dari pekerjaan ini,,''

__ADS_1


jawab lavy sambil menggeleng gelengkan kepala nya


kening maria berkerut


ia jadi kesal sendiri dengan lavy


''kau ini bagaimana sih,,kau bilang butuh usul dari bibi,,sekarang bibi mengusulkan itu kau menolak nya''


gerutu maria panjang lebar


''sudahlah,,lebih baik bibi ke dapur,,sebelum nona divya masak lebih dulu,,''


maria beranjang dari ranjang nya


meninggalkan lavy yang masih dengan pikiran galau nya


saat akan membuka pintu yang memang terbuka sedikit


diri nya dibuat mematung


maria menelan ludah nya kasar


''nn no..na divya,,,''


suara maria tersendat melihat divya berada didepan kamar nya saat ini


apa ia mendengar semua yang maria dan lavy bicarakan


''ehm maaf bibi,,aku baru saja akan mengetuk kamar bibi''


ucap divya


mendengar suara atasan nya membuat lavy bergegas berdiri dari ranjang dan melangkah ke pintu


wajah divya nampak tak terkejut melihat ada lavy didalam kamar maria


ia nampak biasa saja


''ada apa neng divya,,''


tanya maria mencoba menguasai


diri nya


divya nampak ingin mengatakan sesuatu namun ia menatap lavy dengan tatapan yang seolah aku ingin bicara berdua saja dengan bibi maria


lavy paham dengan tatapan itu


ia pun meninggalkan maria dan divya berdua


setelah lavy berlalu


divya mendekati maria


''ehm bibi,,''


bisik divya


membuat maria bertanya tanya


''iya,,''


divya nampak ragu ragu


ia menggaruk tengkuk nya


''ada apa neng divya,,''


tanya maria penasaran


ia jadi takut apa divya mendengar semua yang dia dan lavy bicarakan


''apa bibi punya pembalut''


dengan raut muka memerah


maria membulatkan mata nya


mendengar pertanyaan divya


''ap apa pe..pembalut,,''


tanya maria dengan suara tersendat


divya mengangguk ragu


maria membuang wajah ke arah lain


apa divya tidak mendengar pembicaraan ku dengan lavy tadi


''bibi,,''


seru divya membuyarkan pikiran maria


''eh,,ehm tunggu sebentar seperti nya bibi tidak punya neng,,bibi akan belikan,,''


jawab maria cepat


''tapi bibi,,ini masih terlalu pagi,,apa akan ada yang buka warung sepagi ini''


''bibi akan minta tetangga bibi,dia punya anak perempuan,,''


divya tercengang


''apaa,,ah tidak perlu bibi,,itu akan sangat menganggu dan memalukan,,''


lirih divya di kalimat akhir


''tidak masalah neng,,bibi akan mintakan sekarang''


maria berlalu begitu saja tanpa menunggu lagi


divya hanya bisa menghela nafas


dan menahan malu


lalu ia memikirkan apa yang ia dengar tadi


flashback on


divya sudah bangun


namun sedikit terlambat


ia bergegas ke kamar mandi didapur


karna kamar yang dia tempati tak ada kamar mandi nya


saat akan buang air kecil


divya terkejut ternyata ia sedang datang bulan


bagaimana ini,,,dia tidak membawa pembalut


ingin keluar tapi apa ada warung yang sudah buka pagi pagi buta begini


apa dia minta saja pada bibi maria


kali saja bibi maria masih punya


bibi maria nampak belum terlalu tua menurut divya jadi pasti masih mendapatkan tamu bulanan


divya segera mengganti pakaian nya dengan yang baru dan tentu nya yang berwarna gelap agar tidak tembus

__ADS_1


ia melangkah menuju kamar bibi maria


pintu kamar maria tidak tertutup rapat


ia akan mengetuk dan memanggil nya


namun mendengar suara lavy menyebut nama maya menghentikan tangan nya yang akan mengetuk


ia tak sengaja mendengar maria yang mengatakan untuk berhenti menjadi pengawal nya


divya tak bermaksud menguping namun ia juga sedikit penasaran


jujur ia sendiri juga tidak masalah jika lavy berhenti menjadi pengawal nya


namun kenapa hati nya jadi berat melakukan nya


lamunan nya buyar saat maria membuka pintu itu dan terkejut melihat divya ada didepan kamar nya


flashback off


ketiga nya saat ini sedang sarapan bersama


lavy tak henti mencuri pandang pada atasan nya itu


ada yang ingin ia tanyakan


''ehm nona divya''


ucap lavy mengawali obrolan nya


divya menoleh


''iyaa,,''


''ehm jadi kemarin kamu pergi bersama sepupu mu itu untuk menjenguk papa nya maya,,''


tanya lavy dengan nada ragu ragu


wajahnya pun nampak grogi


''iyaa,,''


jawab divya singkat


melanjutkan aktifitas sarapan nya


maria menjadi pendengar


lavy bingung harus bicara apa lagi


ponsel lavy berdering diatas meja disamping piring nya


lavy melihat siapa yang menelfon nya


tertera nama my maya diponsel nya


lavy melirik divya dan maria bergantian


''aku terima telefon dulu ya,,''


lavy menerima telefon itu didepan maria dan divya


divya ogah sebenar nya untuk mendengarkan pembicaraan lavy dan maya


namun makan nya dia belum selesai


jika ia selesaikan makan nya padahal belum habis


maria atau lavy akan berpikir ia cemburu


''halo assalamualaikum may,,''


''apaa,,beneran may,,,alhamdulillah ya allah,,,''


''syukurlah may,,papa kamu udah sadar dari koma nya,,''


maria dan divya tercengang mendengar papa nya maya sudah sadar dari koma nya


entah kenapa dalam hati divya bersorak gembira dan bersyukur


maria pun ikut tersenyum lebar


''iya may,,abis ini aku kesana langsung ya,,salam buat papa kamu,,assalamualaikum''


lavy memutus sambungan telefon nya


lalu menoleh ke maria dan divya


''om umar udah sadar bi,,dia udah bangun dari koma nya,,''


seru lavy dengan suara yang sangat senang


''syukurlah lav,,bibi juga ikut senang mendengar nya,,''


jawab maria ikut senang


''syukur lah papa nya nona maya udah bangun dari koma nya,,''


saut divya juga ikut tersenyum tulus


''ii iya nonaa,,''


selesai sarapan lavy segera meluncur ke rumah sakit guna melihat keadaan tuan umar yang baru saja siuman


lavy sempat menawari divya untuk ikut namun divya menolak


ia tak mau maya menjadi salah paham jika ia ikut dengan lavy


lavy mengiyakan


sesampai nya dirumah sakit tuan umar sudah dipindah ruang kamar rawat vip


maya sudah mengirimkan nomer kamar rawat papa nya


lavy melangkah mendekati kamar rawat tuan umar


ia menarik nafas sebentar lalu mengetuk pintu itu


pintu itu terbuka dan munculah sosok yang dicintai oleh lavy


siapalagi jika bukan maya


maya dengan wajah berbinar nya segera memeluk lavy


lavy membalas pelukan itu


maya melepas pelukan nya dan berpandangan dengan lavy


senyum diwajah nya tak pernah pudar


''ayo masuk lav,,papa udah nanyain kamu,,''


ucap maya


lavy hanya tersenyum lalu ikut masuk ke kamar inap tuan umar dengan tangan digandeng oleh maya


bersambung


semoga suka dengan cerita nya ya


ga bosen bosen buat ngingetin


untuk like dan komen nya ya kakak♥️😊

__ADS_1


__ADS_2