
mobil akash sampai dikediaman lavy
divya turun dari mobil
lavy nampak menunggu kepulangan nona nya itu
akash yang melihat lavy mengerutkan alis nya
akash pun ikut turun
divya sedikit terkejut melihat lavy sedang menunggu nya di depan rumah
akash dan lavy juga sama sama terkejut nya
''lavy''
gumam divya
akash dan divya melangkah mendekat
lavy masih tercengang melihat teman sesama dosen maya bisa bersama dengan divya
''nona kamu baru pulang,,aku sangat cemas menunggumu nona''
cerca lavy dengan raut cemas nya
divya hanya diam saja
''lavy kamu,,''
tanya akash bingung
''tuan akash bagaimana kamu bisa bersama dengan atasan ku''
tanya lavy penuh selidik
divya menoleh ke samping nya
menatap kakak sepupu nya penuh tanya
jadi lavy adalah pengawal divya
batin akash
ia menyunggingkan senyum diujung bibir nya
''dia,,,''
tunjuk akash pada divya
membuat divya melirik aneh karna ditunjuk oleh nya
''divya sepupu ku''
jawab akash enteng
lavy sangat terkejut mendengar ucapan akash
ia sampai membuka mulut nya karna shok
''jadi,,nona baru saja,,''
''iya,,dia baru saja aku ajak untuk menjenguk papa nya maya kekasih mu''
potong akash dengan menekankan kata kekasih
lalu tersenyum miring
divya pusing berada diantara mereka
ia berpamitan untuk masuk kedalam
''maaf kak akash aku masuk dulu,,badanku sangat lelah''
pamit divya lalu berlalu masuk tanpa menunggu jawaban akash
lavy dan akash masih bertatapan dengan tatapan dingin
akash berlalu dari hadapan lavy tanpa mengucap sepatah katapun
lavy mengusap usap wajah nya
lalu masuk kedalam setelah menutup pintu utama nya
ia menyusuri ruang tengah
tak nampak nona nya itu
sudahlah besok saja ia bicara dengan atasan nya itu
pagi hari nya
ini adalah pagi terakhir mereka dijakarta
tapi sampai sekarang tuan umar bahkan belum ada tanda tanda akan bangun dari koma nya
jika lavy kembali besok bagaimana sedih nya perasaan maya
ia bingung
setelah shalat subuh tadi
lavy masuk ke kamar maria guna meminta usul bagaimana enak nya
lavy sudah mengatakan pada tuan ryan hanya dua hari,,dan ini adalah hari terakhir
tapi papa nya maya belum juga sadar dari koma nya
''bagaimana bi,,aku sangat frustasi,,aku tidak tega harus meninggalkan maya dengan kondisi papa nya yang masih belum sadar,,tapi''
lavy tak melanjutkan ucapan nya
ia menunduk
maria menarik nafas dalam dalam
ia sendiri tak tau harus mengatakan apa
''apa dirimu mengundurkan diri saja dari pekerjaan ini lav''
perkataan maria barusan membuat telinga lavy tersentak
ia mengangkat wajah nya
menatap datar pada bibi nya itu
''apa maksud bibi''
tanya lavy dengan suara tertahan
maria menarik nafas nya kembali
''iyaa,,kamu mengundurkan diri dari menjadi pengawal nona divya,,dan bekerja lagi di bank seperti dulu,,''
lavy masih betah mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut maria
''tapi,,besok kau antarkan dulu divya ke malang,,setelah nya kau bisa kembali kemari lagi''
mendengar maria mengatakan untuk mengantar divya ke malang entah mengapa hati lavy menjadi bimbang
dia merasa tak setuju dengan usul maria
''tidak bi,,aku tidak bisa mengundurkan diri dari pekerjaan ini,,''
__ADS_1
jawab lavy sambil menggeleng gelengkan kepala nya
kening maria berkerut
ia jadi kesal sendiri dengan lavy
''kau ini bagaimana sih,,kau bilang butuh usul dari bibi,,sekarang bibi mengusulkan itu kau menolak nya''
gerutu maria panjang lebar
''sudahlah,,lebih baik bibi ke dapur,,sebelum nona divya masak lebih dulu,,''
maria beranjang dari ranjang nya
meninggalkan lavy yang masih dengan pikiran galau nya
saat akan membuka pintu yang memang terbuka sedikit
diri nya dibuat mematung
maria menelan ludah nya kasar
''nn no..na divya,,,''
suara maria tersendat melihat divya berada didepan kamar nya saat ini
apa ia mendengar semua yang maria dan lavy bicarakan
''ehm maaf bibi,,aku baru saja akan mengetuk kamar bibi''
ucap divya
mendengar suara atasan nya membuat lavy bergegas berdiri dari ranjang dan melangkah ke pintu
wajah divya nampak tak terkejut melihat ada lavy didalam kamar maria
ia nampak biasa saja
''ada apa neng divya,,''
tanya maria mencoba menguasai
diri nya
divya nampak ingin mengatakan sesuatu namun ia menatap lavy dengan tatapan yang seolah aku ingin bicara berdua saja dengan bibi maria
lavy paham dengan tatapan itu
ia pun meninggalkan maria dan divya berdua
setelah lavy berlalu
divya mendekati maria
''ehm bibi,,''
bisik divya
membuat maria bertanya tanya
''iya,,''
divya nampak ragu ragu
ia menggaruk tengkuk nya
''ada apa neng divya,,''
tanya maria penasaran
ia jadi takut apa divya mendengar semua yang dia dan lavy bicarakan
''apa bibi punya pembalut''
dengan raut muka memerah
maria membulatkan mata nya
mendengar pertanyaan divya
''ap apa pe..pembalut,,''
tanya maria dengan suara tersendat
divya mengangguk ragu
maria membuang wajah ke arah lain
apa divya tidak mendengar pembicaraan ku dengan lavy tadi
''bibi,,''
seru divya membuyarkan pikiran maria
''eh,,ehm tunggu sebentar seperti nya bibi tidak punya neng,,bibi akan belikan,,''
jawab maria cepat
''tapi bibi,,ini masih terlalu pagi,,apa akan ada yang buka warung sepagi ini''
''bibi akan minta tetangga bibi,dia punya anak perempuan,,''
divya tercengang
''apaa,,ah tidak perlu bibi,,itu akan sangat menganggu dan memalukan,,''
lirih divya di kalimat akhir
''tidak masalah neng,,bibi akan mintakan sekarang''
maria berlalu begitu saja tanpa menunggu lagi
divya hanya bisa menghela nafas
dan menahan malu
lalu ia memikirkan apa yang ia dengar tadi
flashback on
divya sudah bangun
namun sedikit terlambat
ia bergegas ke kamar mandi didapur
karna kamar yang dia tempati tak ada kamar mandi nya
saat akan buang air kecil
divya terkejut ternyata ia sedang datang bulan
bagaimana ini,,,dia tidak membawa pembalut
ingin keluar tapi apa ada warung yang sudah buka pagi pagi buta begini
apa dia minta saja pada bibi maria
kali saja bibi maria masih punya
bibi maria nampak belum terlalu tua menurut divya jadi pasti masih mendapatkan tamu bulanan
divya segera mengganti pakaian nya dengan yang baru dan tentu nya yang berwarna gelap agar tidak tembus
__ADS_1
ia melangkah menuju kamar bibi maria
pintu kamar maria tidak tertutup rapat
ia akan mengetuk dan memanggil nya
namun mendengar suara lavy menyebut nama maya menghentikan tangan nya yang akan mengetuk
ia tak sengaja mendengar maria yang mengatakan untuk berhenti menjadi pengawal nya
divya tak bermaksud menguping namun ia juga sedikit penasaran
jujur ia sendiri juga tidak masalah jika lavy berhenti menjadi pengawal nya
namun kenapa hati nya jadi berat melakukan nya
lamunan nya buyar saat maria membuka pintu itu dan terkejut melihat divya ada didepan kamar nya
flashback off
ketiga nya saat ini sedang sarapan bersama
lavy tak henti mencuri pandang pada atasan nya itu
ada yang ingin ia tanyakan
''ehm nona divya''
ucap lavy mengawali obrolan nya
divya menoleh
''iyaa,,''
''ehm jadi kemarin kamu pergi bersama sepupu mu itu untuk menjenguk papa nya maya,,''
tanya lavy dengan nada ragu ragu
wajahnya pun nampak grogi
''iyaa,,''
jawab divya singkat
melanjutkan aktifitas sarapan nya
maria menjadi pendengar
lavy bingung harus bicara apa lagi
ponsel lavy berdering diatas meja disamping piring nya
lavy melihat siapa yang menelfon nya
tertera nama my maya diponsel nya
lavy melirik divya dan maria bergantian
''aku terima telefon dulu ya,,''
lavy menerima telefon itu didepan maria dan divya
divya ogah sebenar nya untuk mendengarkan pembicaraan lavy dan maya
namun makan nya dia belum selesai
jika ia selesaikan makan nya padahal belum habis
maria atau lavy akan berpikir ia cemburu
''halo assalamualaikum may,,''
''apaa,,beneran may,,,alhamdulillah ya allah,,,''
''syukurlah may,,papa kamu udah sadar dari koma nya,,''
maria dan divya tercengang mendengar papa nya maya sudah sadar dari koma nya
entah kenapa dalam hati divya bersorak gembira dan bersyukur
maria pun ikut tersenyum lebar
''iya may,,abis ini aku kesana langsung ya,,salam buat papa kamu,,assalamualaikum''
lavy memutus sambungan telefon nya
lalu menoleh ke maria dan divya
''om umar udah sadar bi,,dia udah bangun dari koma nya,,''
seru lavy dengan suara yang sangat senang
''syukurlah lav,,bibi juga ikut senang mendengar nya,,''
jawab maria ikut senang
''syukur lah papa nya nona maya udah bangun dari koma nya,,''
saut divya juga ikut tersenyum tulus
''ii iya nonaa,,''
selesai sarapan lavy segera meluncur ke rumah sakit guna melihat keadaan tuan umar yang baru saja siuman
lavy sempat menawari divya untuk ikut namun divya menolak
ia tak mau maya menjadi salah paham jika ia ikut dengan lavy
lavy mengiyakan
sesampai nya dirumah sakit tuan umar sudah dipindah ruang kamar rawat vip
maya sudah mengirimkan nomer kamar rawat papa nya
lavy melangkah mendekati kamar rawat tuan umar
ia menarik nafas sebentar lalu mengetuk pintu itu
pintu itu terbuka dan munculah sosok yang dicintai oleh lavy
siapalagi jika bukan maya
maya dengan wajah berbinar nya segera memeluk lavy
lavy membalas pelukan itu
maya melepas pelukan nya dan berpandangan dengan lavy
senyum diwajah nya tak pernah pudar
''ayo masuk lav,,papa udah nanyain kamu,,''
ucap maya
lavy hanya tersenyum lalu ikut masuk ke kamar inap tuan umar dengan tangan digandeng oleh maya
bersambung
semoga suka dengan cerita nya ya
ga bosen bosen buat ngingetin
untuk like dan komen nya ya kakak♥️😊
__ADS_1