
Dilla... panggil seseorang yang seprtinya sudah menunggu dilla sejak tadi.
Ya Denish memang sengaja keluar dari ruang bioskop lebih dulu demi menunggu dilla. Ia takut Dilla menghindarinya, apalagi ia sadar betul Lisa sangat membencinya.
Dila dan Lisa menoleh. Sontak Lisa menatapnya tajam, berbeda dengan dila yang tampak biasa saja.
Bisa kita bicara..ucap Denish.
Gak bisa..enak aja lo..omel Lisa
Plisss...ucap Denish tak menghiraukan Lisa.
HHHH...dila menghela nafas kasar, sungguh ia malas berurusan dengan Denish apalagi dengan para HAWA yang menggilainya, sungguh kadang Dilla heran, kenapa para Hawa itu bisa kepincut dengan Denish padahal dilihat dari sisi manapun Denish hanyalah playboy yang hanya mengandalkan tampang dan harta keluarganya, diluar itu, sedikit pun tak ada yang menarik dari pria yang kini memelas dihadapannya itu.
OK..ucap Dila
DILL..lisa tak setuju
Makasi...ucap Denish sumringah
Tapi aku gak mau kalau hanya kita berdua saja, aku mau lisa juga ada..ucap Dilla
Lisa tersenyum menang
Tapi...ucap Denish tak setuju
Gak sekali dua kali aku dilabrak sama fans fans gila kamu..ucap Dilla memotong. Denish terdiam dia gak pernah tahu, karna selama mereka bertunangan, dilla gak pernah protes apalagi mengadu padanya.
__ADS_1
Cafe HJ
Gimana kabar kamu... tanya Denish setelah hanya diam memandangi dilla dengan tatapan sulit.
Aku? seperti yang kamu lihat, aku baik, sehat dan bahagia...ucap dilla.
Maaf aku gak penah tahu kalau selama ini kamu selalu di labrak mereka..ucap Denish
Its okay..aku udah biasa kok, kamu lupa kalau papi-ku itu HOT PLAYBOY..ucap Dilla santai. Sedangkan Lisa hanya diam mendengarkan keduanya.
Selama kita bertunangan kenapa kamu gak bilang..tanya denish
Apa dengan aku ngomong ke kamu, semua teror dan perlakuan tak menyenangkan yang aku terima bakalan berhenti gitu aja?? enggak denish... Yah mau bagaimana lagi saat itu aku hanya bisa pasrah, siapa suruh tunanganku seorang playboy..ucap dilla santai, lisa tersenyum mengejek, Denish tertohok.
Maaf...ucap Denish lagi.
hening.
Dil, apa selama ini kamu pernah mencintaiku... tanya denish berharap.
Cinta...ucap dila lirih
Cinta?!...ucap dila tak percaya dengan yang ia dengar.
Tentu saja tidak, kenapa aku harus memberi hatiku pada seseorang yang hanya tahu bermain hati tanpa tahu bertanggung jawab?!...ucap Dilla tenang, Denish terdiam.
Lagi pula, apa kamu masih membutuhkan CINTA dari ku, saat para wanita yang dengan senang hati naik ke ranjangmu itu menghujanimu dengan CINTA...lanjut Dila. Denish terdiam
__ADS_1
Kau tahu denish... selama aku menjadi tunanganmu, selama itu juga kotak pesanku di WA-ku di penuhi dengan kiriman video panasmu diranjang dengan para wanitamu setiap detiknya. Sekarang coba kamu kasih tahu aku, apa kamu masih layak mempertanyakan CINTA sama aku, disaat kamu dengan mudahnya menyentuh dan bercumbu dengan perempuan lain, disaat jari pertunangan kita mengikat jelas dijari manis kamu?!.. ucap dila tanpa nada marah sedikit pun, sedang rahang lisa sudah mengeras. Karna dirinya juga adalah saksi atas semua penghianatan dan kebejatan seorang Denish Prawarsa.
Aku...aku... ucap Denish tak bisa berkutik.
Kalau kamu ngajak aku kesini cuma untuk membicarakan itu, aku sudah kasih kamu jawabannya, dan aku harap ini terakhir kalinya kamu menyita waktuku...ucap Dilla lalu berdiri diikuti Lisa.
Disaat akan beranjak pergi, Denish segera menahan tangan Dilla, Dilla menoleh. Ditatapnya mata denish dalam. Diliriknya tangan Denish yang menahan tangannya, masih terpasang cantik cincin pertunangan mereka dulu disana. Dilla mengatur nafasnya, ia gak boleh lemah dan menunjukkan lukanya.
Aku udah maafin kamu, jauh dari sebelum kamu meminta maaf sama aku, anggap saja sebagai rasa terimakasih aku ke kamu yang udah dengan baik hatinya setuju untuk membatalkan pertunangan kita... Ucap Dilla seraya memegang tangan Denish lalu melepas cincin pertunangan yang pernah dengan terpaksa ia pasangkan dijari manis denish. Denish terdiam tanpa sengaja air mata menetes di pipi playboy itu. Hatinya serasa diremas saat dilla melepas cincin pertunangan yang dirinya sendiri tak pernah bisa melepasnya.
Hidupku sudah amat sangat bahagia denish, walaupun kamu dan aku gak pernah punya hubungan lebih dari cucu dari sahabat Opa, tapi aku harap suatu hari nanti kamu bahagia sama seperti aku saat ini...ucap Dilla lalu berbalik pergi bersama lisa yang segera menggandeng tangannya meninggalkan denish yang terdiam mematung.
Di dalam mobil yang ditumpangi Dilla dan Lisa tampak hening, Lisa menghidupkan Radio.
Dilla menatap cincin pertunangan yang ia lepas dari jari manis denish, mata dila sudah berkaca-kaca, dengan putus asa ia tarik kalung berliontin kan cincin pertunangannya dengan denish yang selalu ia pakai selama ini. Ia menatap kedua cincin pengikat itu dengan Nanar. Bibirnya bergetar menahan isak yang berontak ingin keluar. Dengan bergetar ditekannya tombol window untuk membuka jendela mobil disampingnya. Dilla melepaskan perlahan kedua cincin itu begitu saja bersamaan dengan mimpi yang sempat dengan bodoh ia rajut, diiringi Air mata yang tak terbendung lagi. Isak tangisnya pun akhirnya berhasil bersuara.
Lisa dengan baik hatinya mengeraskan suara di radionya, Dilla meraung menangis terseduh seduh. Lisa masih ingat dengan jelas bagaimana Dila menangis meraung beberapa tahun lalu saat seorang perempuan yang mengaku sebagai kekasih Denish datang ke RS tempat Dilla bekerja untuk memeriksakan Janinnya, Janin yang perempuan itu akui adalah hasil buah cintanya dengan Denish.
Hancur..saat itu Dilla Hancur seketika, selama ini dilla bertahan karna ia fikir Denish akan berubah dan mereka bisa hidup dengan saling mencintai seperti pasangan normal lainnya, namun ia salah seorang playboy sampai mati pun tidak akan pernah berubah, semua sikap baik, perhatian dan ketulusan mereka hanyalah kamuflase belaka sebelum nantinya mereka akan dengan senang hatinya menghunuskan pisau ke jantungmu.
Dilla pernah berharap Denish tidak seperti papinya, namun ternyata denish lebih buruk dari papinya, setidaknya papi dilla tak pernah punya anak selain dirinya apalagi meniduri wanita sebelum menikahinya.
Dilla masih ingat dengan jelas saat Denish menggendong perempuan itu untuk menyelamatkan bayi dirahim perempuan itu saat tanpa sengaja perempuan itu terjatuh.
Dilla mematung saat denish mengatakan " tolong selamatkan bayiku" pada dokter yang bertugas disana tanpa menghiraukan kehadiran dilla disana, dan dengan tidak langsung denish mengakui itu anaknya.
Menangislah, setelah itu aku harap kamu benar-benar melepas bajingan itu... ucap Lisa dengan mata yang memerah karna sejak tadi ia ikut menangis bersama dilla. Sedangkan Dilla, ia masih menangis mengeluarkan semua kepedihan dan luka yang ia tahan selama ini
__ADS_1