Brothers?!

Brothers?!
KUTUB


__ADS_3

Dek, dimana...tanya bundaku diseberang telepon.


mm...di sekolah bund, baru selesai ngajar. kenapa bund...tanyanya


Nggak...bunda cuma mau bilang 3 hari lagi jangan lupa fitting baju di butik bunda ya..ucap rukmana.


emang meritnya kapan bund? tanya dilla sambil memeriksa tugas-tugas muridnya.


3 bulan dari sekarang dek...sahut bundanya terdengar bahagia. Sontak gerakan tangan dilla berhenti. sedikit sedih memang, bunda yang hanya miliknya kini harus ia bagi dengan yang lain. Namun jauh dilubuk hatinya ia juga ikut bahagia untuk bundanya. Satu-satunya wanita yang paling ia cintai.


Sayang...kamu masih disitu, kok diem...tanya bundanya


mm?! mm dilla denger kok bun,cuma lagi baca tugas dari murid dilla doang sampe gak fokus ke bunda, sorry...hehehe...ucap dilla


mm...yasudah, pokoknya jangan lupa ya lusa dateng loh...nanti biar dijemput sama mas mu...ucap rukmana lalu mematikan sambungan hpnya.


Mas?? ah iya gue bakal punya abang ya...hampir aja lupa...gumamnya.


Siapa boss..tanya lisa teman seperjuangan gue.


mm...bunda...sahutku


beneran mau nikah lagi...tanya lisa hati-hati. lisa juga anak broken home, bedanya hubungan kedua orang tuanya gak pernah baik-baik saja, itu sebabnya ia sedikit takjub dan sedikit iri dengan bagaimana kedua orang tuaku tetap perduli dan menomorsatukan diriku, namun ia tak pernah membenciku, jika aku menyombongkan diri, mungkin lisa baru akan benar-benar membenci bahkan memusuhiku.


mmm...sahutku.


Calon ayah baru lo orangnya gimana? ... tanya lisa penasaran


Ganteng, padahal udah berumur...sahut dilla jujur.


wuihhh...ok punya dong...celetuk lisa, dilla hanya mengangguk


BTW, punya anak kagak...tanya lisa kepo.


mmm...ada...empat.... sahut dilla cuek.


wuih banyak bener... laki? cewe? tanyanya kepo.


laki..sahut dilla lagi


cakep gak? usianya berapa?...tanya lisa makin kepo.


Cakep sih cuma.....ucap dilla mendongak dan mulai mengingat wajah para calon abang sambungnya itu.


Cuma apa? ah lo mah bikin gue makin penasaran aja...cerca lisa.


Dilla menoleh dan duduk menghadap lisa, ditatapnya lisa dengan serius. Lisa meneguk ludahnya.


Cuma suraaaaaaammmmmmm banget... asli merinding deh kalo deket deket... terutama yang paling tua, berasa lagi liburan dikutub gue...ucap dilla jujur.


Yang bener lo?! ucap lisa gak percaya, bukan gak percaya sih, tapi sulit percaya, masalahnya dilla itu gak pernah bohong, gak perduli soal apapun itu.


mm..beneran..ucap dilla sambil mengangguk serius.


hmmm...serem gue dengernya...ucap lisa.


Trus gimana? tanya lisa lagi.


mm?? apanya..? tanya dilla tak mengerti.


Abis nyokap lo merrit, lo gimana? tetep tinggal diapartemen atau nebeng tinggal sama keluarga baru lo..tanya lisa


nah itu dia masalahnya, nyonya besar pengen gue tinggal bareng sama keluarga barunya...aduuuuuuuhhhhhhh pusing gue, hidup gue yang tenang, aman, damai, terkendali...bakalan suram deh..aduuuhhhh...keluh dilla sambil mengantukkan kepalanya ke atas desk meja kerjanya.


Lisa sampai meringis.


Aduh...udah dong dill, elo yang begini gue yang serem...ucap lisa mencoba menghentikan tindakan ekstrim dilla.

__ADS_1


3 hari berlalu. Jam sekolah bubar.


Seorang pria tampan sudah berdiri sambil bersandar didepan mobil pajero putihnya menunggu seorang gadis aneh yang akan jadi adiknya.


Kehadiran pria tampan nan gagah itu menjadi pusat perhatian banyak siswi wanita yang sedang puber-pubernya.


Dilla dan Lisa berjalan bergandengan, sambil bercerita.


Pria itu mencari dan akhirnya menemukan sosok mungil yang akan ia sebut adik itu sedang tersenyum manis, dan kadar tertawa riang bersama seorang wanita yang berjalan berdampingan disampingnya.


Pria itu pun berjalan mendekat.


Dan tiba-tiba Dilla yang sedang bicara dengan Lisa menubruk sesuatu


Oh maaf maaf...ucapnya terkejut, melihat dada bidang seseorang dengan dilapisi Jas didepan matanya, perlahan ia mendongak dengan was was dan menemukan bahwa orang yang ia tabrak adalah calon abang sambungnya.


hallo...cicit dilla nyengir. Ya Arman lah yang menjemputnya. Manusia kutub yang ingin dihindari dilla. Dilla perlahan mundur dan memberi jarak, lalu tiba-tiba lisa menariknya dan berbisik


Siapa....tanya lisa


Si kutub...gumam dilla berbisik agar tak terdengar arman, namun sepertinya arman begitu peka.


Kutub..batinnya bertanya, arman menaikan alisnya keatas sambil menatap dilla. Dilla yang ditatap begitu seketika menelan ludahnya


Woi, gue cabut ya... ucap dilla pamit


Lisa mengganguk, Dilla menatap lekat sahabatnya itu, Lisa menunggu Dilla bicara.


Doain gue selamat ya...ucapnya lemas. Lisa mengangguk.


Hati-hati dijalan...nih bawa ini, buat jaga-jaga.... tadi paket gue baru dateng, buat lo aja, kayaknya lo lebih butuh...ucap lisa


Dilla melihat pouch penghangat. Dilla pun tersenyum, setidaknya dia tidak akan mati membeku saat hanya berdua di mobil.


Arman menahan tawanya, gadis yang akan jadi adiknya ini sepertinya selalu bisa membuatnya geli.


Dilla.. sebut armand, sontak dilla menoleh lalu nyengir.


Arman sedikit terkejut dengan Dilla yang bersikap sedekat itu padanya, dan yang lebih aneh lagi, normalnya Arman akan menepis wanita manapun yang sembarangan menyentuhnya namun entah mengapa, ia justru merasa nyaman dan geli dengan perlakuan Dilla. Arman pun tersenyum tipis dengan sikap spontan dilla.


Dilla masuk kedalam mobil pajero Arman. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Dilla memainkan penghangat tangan yang diberi lisa padanya. Tiba-tiba rasa penasaran dilla muncul.


Tinggal di negara tropis, kenapa si lisa pake beli penghangat segala.... gumam dilla heran yang ditangkap jelas oleh pendengaran arman


Arman melirik pada dilla yang bergumam dan sepertinya sedang hanyut dengan pemikirannya sendiri. Arman tersenyum tipis tanpa sepengetahuan dilla.


Tak lama mereka pun tiba di butik sang bunda.


Dill, dilla...arman mencoba membangunkan dilla


mmm?!...dilla menoleh pada arman.


udah nyampe dill...ucap arman, dilla menoleh ke samping dan mendapati gedung butik sang bunda..


Arman melepas seat beltnya lalu turun dari mobilnya. Ia membukakan pintu untuk dilla yang masih setengah sadar. Arman dengan sigap membukakan seat belt dilla saat dilla memaksa turun sedang seat beltnya masih terpasang.


mm...kok gak bisa...keluh dilla yang masih setengah sadar. Melihat itu Arman tersenyum lalu membantu melepaskan seat belt dilla dan membantu dilla turun dari mobilnya. Dilla berjalan agak sempoyongan karna dia masih ngantuk berat. Dengan sigap Arman menggendong dilla dipundaknya.


Pintu butik terbuka. Bunda menyambut mereka. Disana sudah ada Hakim, Ardhan, Arsyad dan Arya yang sedang menunggu mereka. Mereka agak terkejut melihat dilla yang tidur dipundak Arman.


Loh dilla kenapa mas...tanya bunda pada arman.


Sepertinya dia kecapean bund...sahut arman dan menurunkan dilla perlahan dibantu Arsyad yang tak jauh darinya.


Arsyad menggendong dilla dan merebahkan dilla di sofa. lalu menyelimutinya. Dilla tertidur pulas


Hhh...kayak nya dilla capek banget ya... ucap arsyad yang duduk disamping dilla, sambil merapihkan rambut dilla yang berantakan dengan hati-hati agar tak mengganggu tidur dilla.

__ADS_1


Hmmm dia memang selalu seperti ini kalau sudah kecapean banget, pasti beberapa hari ini dia begadang bikin soal ujian deh....huffff...ucap bundanya.


Yasudah ga papa, kita dulu aja yang diukur ya, biarin nanti si adek belakangan.... ucap bunda dan yang lain mengangguk


15 menit kemudian saat bunda sedang mengukur tubuh Ardhan, Dilla membuka matanya dan bangkit dari tidurnya. Ia mencari dimana tasnya. saat menemukan tasnya, ia segera membukanya dan mengambil sebungkus roti, lalu menggigit roti itu beberapa gigit dengan spontan lalu ia tertidur lagi dengan masih mengunyah roti dimulutnya. dan masih memegang roti yang ia dekap dengan hati-hati di atas dadanya.


Ke 5 pria tampan itu terdiam dengan ke absurd-an dilla.


Maaf ya, Anak itu emang dari kecil begitu, apalagi pas dia ngambil sekolah kedokteran dulu, dia sering banget laper kalo ngantuk, dan sering ketiduran dimeja makan kalau lagi makan....bunda juga heran entah dari siapa ia menuruni itu...ucap bunda..


Ia saya tahu bund.... ucap Ardhan.


Loh kok bisa?? tanya Bunda terkejut.


mmm....dulu dilla itu teman satu angkatan saya saat kuliah kedokteran di Harvard...ucap Ardhan.


Ah.... begitu rupanya...ucap bunda.


Tapi kok dilla kayak gak kenal kamu mas... tanya arya yang sedang mencoba menjahili dilla yang tampak sangat lucu dimatanya.


Ah itu.... ucap bundanya tak enak.


Itu karna dilla tidak tertarik berdekatan atau akrab dengan pria, apalagi jika pria itu tampan dan populer... seperti ayahnya.... ucap bundanya menjelaskan.


Ke 4 pangeran tampan itu terdiam, mereka ingat ucapan dilla.


"Emang ganteng, tapi bukan tipe saya... cowok ganteng cuma nyusahin bikin cape hati, cape hidup.... saya mah ogah yang begituan, udah cukup satu cowok ganteng dalam hidup saya, saya gak berminat buat menambahkannya OM"


Ah...karna ayahnya dilla adalah Ray Danuarta adalah seorang pria yang sangat tampan dan populer.


mereka mengangguk mengerti.


Tak lama dilla bangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya. Perlahan ia duduk.


Udah bangun dill..ucap bunda


Kapan nyampe sini...dilla bertanya pada dirinya sendiri.


20 menit lalu....ucap Arsyad yang duduk diujung sofa yang dilla tiduri.


Oh... dilla bangkit lalu meletakan bungkus roti yang masih ia pegang di meja, kemudian ia melipat selimut yang ia gunakan. lalu ia berjalan menyalam bunda, hakim dan ke 4 calon abangnya.


Bund, baju dilla masih ada kan ya?!... numpang mandi ya, dilla gerah tadi habis ngajar badminton soalnya... ucap dilla berlalu


Loh kamu bukannya guru science sayang...kok bisa ngajar badminton? itukan tugasnya guru olahraga...ucap bundanya.


Pak Lucas bininya melahirkan bund, yasudah dilla yang gantiin...lagian gak ada yang mau handle kelas pak lucas muridnya iseng semua.... ucap dilla cuek.


Kalau iseng, terus kenapa kamu mau....ujar bundanya.


Kenapa enggak, kan satu frekuensi sama dilla... udah ah dilla mandi dulu biar bunda enak ngukurnya, kan dilla udah wangi... ucap dilla lalu berlalu, menunduk sedikit dan melewati celah tangan Arya yang terangkat.


10 menit kemudian, dilla sudah kembali dengan hot pants dan baju hoody pink yang super besar, hingga membuat tubuhnya yang pendek makin tenggelam.


Gemes.....lagi lagi itu yang bisa menggambarkan perasaan ke 5 pria tampan beda generasi itu


Lalu dilla menghampiri sofa dan mengambil penghangat yang diberi lisa padanya tadi.


Itu apaan sih dek dari tadi kamu pegangin terus... tanya arya.


penghangat....ucap dilla.


buat apa? kamu kedinginan? panas gini?!...ucap arya heran


Dingin, kan lagi di Kutub...ucap dilla


Kutub??...ucap arya heran namun ia mengerti saat dilla melirik Arman, Ardhan dan Arsyad.

__ADS_1


hahahahhaha..... tawa arya menggelegar diikuti hakim yang mulai mengerti maksud dilla


Bunda dilla hanya menggelengkan kepalanya lalu mulai mengukur dilla .


__ADS_2