
Dilla merasa terganggu saat merasakan ada seseorang yang membelainya, dengan perlahan Dilla membuka kedua matanya. Sebuah Dada bidang tanpa sehelai kain ada tepat didepan matanya, dan dengan seketik membuat Dilla gugup saat ia mendongak dan mata cantiknya berpapasan dengan wajah tidur Armand, perlahan jari lentik Dilla tergoda untuk menyentuh wajah mahluk tampan yang hallal untuk ia sentuh kapanpun ia mau.
Dilla terpesona, ia tak pernah tahu kalau Armand setampan itu, atau lebih tepatnya Dilla tak pernah menyempatkan diri untuk mengagumi wajah tampan mempesona AL-Farhat bersaudara itu. Dilla tersenyum canggung saat tiba-tiba Armand membuka mata elangnya.
Pagi...sapa Dilla.
Selamat Pagi istriku... sapa Armand dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Dilla tak pernah tahu ia akan tersipu malu hanya karena ucapan salam dari suaminya itu.
Pipi chuby dilla merona, ia tersenyum malu-malu, hingga membuat armand menarik dan mendekap Dilla erat. Sungguh ia mengucap syukur pada Allah SWT karna mengijinkannya memiliki bidadari seperti Dilla dalam hidupnya, walau ia tahu dilla belum mengukir Namanya dihatinya. Namun Armand bersyukur karna Dilla tak menolak kehadirannya.
__ADS_1
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di kamar lain
Arsyad Al-Farhat, hakim muda itu membuka matanya dan betapa bahagianya ia disuguhi wajh cantik Lisa, gadis itu bahkan memeluk erat Arsyad. Arsyad heran kenapa gadis menyebalkan ini bisa tampak bagai malaikat saat sedang tertidur, padahal kalau dalam keadaan sadar hobinya benar-benar menguras kesabaran Arsyad, rasanya ia selalu ingin bertengkar dengan gadis cantic bernama Lisa itu sejak pertama kali bertemu.
Dan entah mengapa Lisa selalu berhasil membuatnya kesal dan cemburu saat melihat kedekatannya dengan Arya, si bungsu dari Al-Farhat bersaudara, ia bahkan tak menyangka kini sudah berstatus suami dari Lisa, padahal ungkapan rasa saja tidak pernah ada diantara mereka, namun tak sekali pun ada rasa rag dihati Arsyad saat ia mengucap ijab Kabul atas nama Lisa, Arsyad justru bersyukur setidaknya yang ia nikahi adalah gadis baik-baik seperti Lisa, walau temperamennya yang begitu mudah terpancing akibat ulah Arsyad, Arya dan Dilla yang kin menjadi kakak iparnya.
Arsyad menyelipkan rambut Panjang Lisa ke balik telingannya dengan hati-hati tak ingin membangunkan sang istri, Lisa menggeliat, gadis itu memeluk dan semakin mencari kehangatan dalam pelukan Arsyad tanpa sadar. Arsyad? Laki-laki menyebalkan itu kini justru mendekap Lisa dan mengusap punggung Lisa dengan sebelah tangannya yang bebas. Perlahan Lisa membuka matanya saat merasakan hembusan diatas pucuk kepalanya, Lisa mendongak dan pandangan matanya seketika bertemu dengan wajah tampan Arsyad yang kini sedang tersenyum menggoda, Lisa hanya diam memandangi, terpesona dengan senyum manis itu hingga ia tersadar dan tanpa sadar berteriak kencang dan reflex menendang Arsyad hingga terjatuh.
Akh… rintih Arsyad. Lisa terdiam, ia segera menghampiri Arsyad.
__ADS_1
Mas... Mas ga papa…? tanyanya khawatir, Arsayd mengusap bokongnya yang sakit.
Kamu…ucap Arsyad berusaha menahan kesabarannya
Glekkk…
Lisa sedikit merinding melihat tatapan tajam Arsyad. Lisa perlahan ikut bangkit dan berjalan mundur saat Arsyad berjalan mendekat kearahnya. Perlahan langkah itu makin cepat hingga akhirnya Lisa mengambil langkah seribu dan masuk kekamar mandi demi menyelamatkan diri dari amukan Arsyad yang menyeringai mengejarnya.
Ppfft…hahaha… tawa Arsyad lepas, rasa-rasanya mengerjai sang istri akan menjadi hobinya yang baru.
Yank…cepetan mandinya, kita masih harus sarapan bareng yang lain…ucap Arsyad dari balik pintu dengan sengaja memanggil Lisa dengan sebutan YANK, rasanya tak bosan menggoda sang istri.
__ADS_1
Sedangkan Lisa dibalik pintu, masih mengatur nafasnya sambil terus memegang dadanya yang berdegub kencang, sungguh bertemu Arsyad dipagi hari tak baik bagi jantungnya. Tapi bagaimanu mungkin bisa menghindar, sedangkan kini ia harus selalu seranjang dengan laki-laki menyebalkan itu hingga akhir hayatnya.
AKHIR HAYAT, tanpa sadar kata itu membuat hati Lisa yang hanya diisi sepi kini bersemai rona yang sanggup membuat hati Lisa berbunga-bunga penuh warna.