Brothers?!

Brothers?!
Cinta Kamu


__ADS_3

Kini Dilla/Armand & Lisa/Arsyad sudah ada dikamar pengantin mereka masing-masing di hotel H, salah satu hotel milik Reyhan yang seenaknya ia ubah menjadi kamar pengantin dalam waktu beberapa jam yang berhasil membuat karyawannya mengumpat kesal karna bosnya yang suka seenaknya itu.


Sejak kapan mas melamar aku... tanya dilla yang menunduk dan duduk disudut ranjang pengantin masih dengan gaun pengantin yang disiapkan dengan buru-buru itu.


Sejak sehari setelah pertemuan pertama kita... ucap Armand kini duduk dibawah tepat dihadapan Dilla menggenggam tangan gadis yang menunduk itu.


Kenapa?? tanya Dilla


Entahlah, hanya mas ingin kamu yang jadi istri mas, bukan yang lain... ucap Armand.


Kenapa mas gak pernah bilang?? tanya dilla


Karna mas gak mau bikin kamu canggung dan sebar salah apalagi menarik diri menja.h dari mas...ucapnya seraya membelai pipi tembam dilla yang gempal itu, membuat dilla memejamkan matanya, entahlah dilla suka saat Armand membelai pipinya.


Mas ingin kamu terbiasa dengan kehadiran mas.... lanjutnya


Gak usah buru-buru, pelan-pelan aja, mas bisa menunggu, apalagi sekarang kamu istri mas, mas gak perlu takut ada yang berani deketin kamu, apalagi pesta pernikahan kita akan dilaksanakan 2 bulan lagi... ucap Armand sarat bahagia. Seketika membuat dilla ikut tersenyum.


----


Lis, kok lama banget sayang mandinya... panggil Arsyad dari luar kamar.


Cklek... lisa membuka pintunya


Loh kok belum mandi yang... ucap Arsyad.


Lisa menggigit bibirnya, ia menatap suaminya bingung, lalu ia membalikkan badannya. Arsyad masih bingung.


Gak bisa dibuka... ucap Lisa. Sontak Arsyad tersenyum dan membuka resleting gaun Lisa. Kulit putih punggung lisa menyapa Arsyad, Arsyad menelan ludahnya, awalnya ingin menggoda, justru ia yang tergoda.


Lisa segera masuk kedalam kamar mandi setelah resleting gaunnya terbuka. Sedangkan Arsyad segera mengatur nafasnya yang mendadak cepat.

__ADS_1


Ia pun segera push up, untuk menghilangkan gugupnya.


-----


Cklek, pintu kamar mandi terbuka, sontak dilla mengalihkan pandangannya saat melihat Armand keluar dengan hanya menggunakan handuk.


Armand pun tersenyum geli melihat gadis yang dulu harus ia kenalkan sebagai adik, kini justru menyandang nama nyonya Armand.


Dilla segera masuk kekamar mandi sambil membawa baju ganti yang disiapkan tiba-tiba oleh Rukmana. Setengah jam membersihkan diri, dilla keluar dengan rambut basah, Armand melirik, mengikuti kemana saja gadis itu berjalan.


Perlahan Armand mendekat dan membantu Dilla mengeringkan rambutnya dengan telaten, sambil menahan gejolak dibawah sana.


-----


Lisa sudah keluar dengan mengenakan baju tidurnya. Awalnya ia ingin tidur di sofa tapi Arsyad justru menggendong istrinya itu dan membaringkannya di tempat tidur king size itu.


Lisa sempat hampir berteriak, saat Arsyad tiba-tiba menggendong dan merebahkannya ditempat tidur.


----


Mas mau kemana... tanya Dilla


Mas tahu kamu risih, jadi mas tidur di sofa aja... ucap Armand. Dilla melihat sofa yang bahkan sudah pasti lebih pendek dari suaminya yang 189Cm itu.


Dilla menahan tangan Armand. Tanpa bicara ia membawa Armand untuk tidur di ranjang bersamanya. Mereka masih diam dengan detak jantung yang maraton sambil menatap langit-langit.


Dilla mengingat jelas ucapan Rukmana, kalau suami istri tak boleh pisah ranjang, tak boleh saling membelakangi saat tidur, dan seorang istri tak boleh menolak saat suami meminta malah akan lebih baik jika si istri yang meminta.


Dilla memejamkan matanya, wajahnya memerah malu, belum lagi jantungnya yang tak bisa diajak kompromi. Selain itu ini pertamakalinya ia seranjang dengan seorang pria.


Mas... mas udah tidur... tanya Dilla pelan

__ADS_1


Belum... kenapa dek... tanya Armand.


Dilla menoleh pada Armand, ingin bertanya tapi tak berani, ia malu. Armand yang merasa ditatap pun menoleh dan menatap Dilla yang terus saja menatapnya lembut.


Entah keberanian dari mana Dilla pun bertanya.


Mas gak pengen... tanyanya polos.


Armand terdiam, ia heran bagaimana bisa gadis cantik disampingnya itu begitu berani menanyakan hal itu, namun melihat sorot mata serius itu membuat Armand terhipnotis.


Tentu saja mas pengen, tapi kalau kamu gak siap mas gak akan maksa... ucap Armand sambil membelai sura' rambut dilla lembut.


Entah bagaimana dilla menyentuh wajah Armand disetiap incinya dan berhenti pada bibir dingin Armand. Armand tak menolak ia justru menikmati setiap sentuhan kecil jemari mungil Dilla.


Tiba-tiba saja Armand menarik tangan dilla dan membuat dilla berada diatas Armand. Dilla sedikit mengangkat tubuhnya. Armand membelai rambut dilla. Dilla menatap kedua mata Armand yang kini dilla sadari selalu menatapnya penuh cinta dan damba, Dilla merasa bersalah tak pernah menyadarinya.


Perlahan dilla memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya diatas bibir Armand. Armand terdiam. Dilla mengangkat wajahnya dan menatap Armand dengan sayang. Seketika Armand membalik Dilla dan membuat dilla ada dibawahnya.


Jangan memancing mas, dilla. Mas gak mau memaksa kamu... ucapnya sendu seraya menatap bibir manis yang sempat singgah di bibirnya tadi


Dilla tersenyum manis mendengar itu, tapi bukan berhenti dilla justru menarik wajah Armand dan kembali mengecup bibir dingin Armand.


Armand terkejut,.


Dilla.. sebutnya dengan suara seraknya berusaha menahan gejolak namun dilla justru mengalungkan tangannya di leher Armand dan kembali mengecupnya.


Kamu yakin... tanya Armand. Dilla tersenyum manis dan mengecup bibir Armand kembali


Armand pun segera ******* bibir manis Dilla. Ia melepaskan semuanya, ia tak menahan saat melihat Dilla ikhlas menerimanya bahkan memintanya.


Malam itu Dilla menyelamatkannya dari pertunangan yang tak ia inginkan,, Gadis itu bahkan kini menjadi istri sah nya di hari yang sama dan kini Gadis yang ia cintai itu benar-benar menjadi miliknya.

__ADS_1


Mas cinta kamu, Dilla.... desahnya disela aktifitas penuh cinta mereka.


__ADS_2