
Sesampainya di Apartemen Lisa.
Ya lisa sengaja membawa Dila menginap diapartemennya, karna lisa tahu jika mereka pulang dalam keadaan mata sembang dan hidung bengkak, sudah pasti Rukmana akan menghujani mereka dengan berbagai macam pertanyaan.
Dan Lisa tidak begitu jahat untuk membiarkan Rukmana, wanita yang sudah seperti ibunya itu tahu keadaan hati dila yang sebenarnya, juga alasan yang membuat dila belum mau kembali ke tempat dimana mimpinya berada. Luka dihati dilla masih begitu basah, dan masih begitu jelas diingatannya ucapan Denish saat itu. Tempat mimpinya berada ternoda dengan penghianatan, membuat dila tak nyaman untuk ada disana, bayangan itu terus menghantuinya. Konyol memang, tapi Dila juga perempuan, hatinya tak terbuat dari baja, Dila hanya manusia biasa yang mudah terluka. Apalagi saat itu adalah yang pertama untuknya.
Ya sejak saat itu dilla melepas mimpinya, menjauhi tempat yang selalu ingin dia datangi, menutup hatinya, berhati-hati dengan semua orang yang berusaha mendekatinya. Semua demi melindungi Hati dan harga dirinya.
Keesokan paginya.
Lo disini aja ya, ga usah masuk dulu, muka lo pucet, muka lo bengkak semua, apalagi tuh mata, udah kayak ditonjok orang sekampung tahu gak..ucap Lisa, dilla hanya mengangguk, ia pun sedang tak ingin bertemu siapapun saat ia sedang begitu sulit menyembunyikan lukanya, seperti hari ini.
Bund, Dilla izin ya tinggal di apartemen Lisa untuk beberapa hari ini, sekolah lagi sibuk-sibuknya dan dilla rasa dari sini akan lebih mempersingkat waktu, boleh ya bund...ucap Dilla meminta izin.
Rukmana, terdiam mendengar suara dilla yang terdengar agak serak. Namun ia memilih untuk tak bertanya.
Ok, yaudah kamu hati-hati ya disana..ucap Rukmana lalu mematikan sambungan telponnya.
Dilla kenapa belum pulang juga bund..tanya Arya
Sekolah sibuk jadi dia nginep diapartemen Lisa dulu untuk beberapa hari ini..ucap rukmana terlihat tenang, namun Hakim bisa melihat jelas istrinya itu sedang khawatir.
Kening ke 4 putranya seketika mengernyit. Bukankah Dila sengaja membeli sepeda motor agar tidak takut telat, tapi kenapa alasan dila seperti itu, pasti ada yang gak beres namun mereka memilih diam.
Seminggu Kemudian.
Kediaman al farhat tampak sangat sepi, sejak dilla memutuskan menginap sementara di apartemen Lisa.
Lo gak balik ke rumah? bunda sama ayah pasti khawatir apalagi abang-abang lo...ucap Dilla.
mm.. balik kok, besok..sahut dilla dan meneguk susu UHT nya.
**
Pagi itu seperti biasa sejak ditinggal dilla keadaan kediaman al farhat tampak begitu sepi. Tiba-tiba....
Morning everyone... sapa dilla yang tiba-tiba turun dari lantai atas kamarnya.
Semua menoleh padanya.
Dilla kapan pulang nak... tanya Rukmana.
Semalem bun..sahut dilla lalu duduk dikursinya dan mengambil sarapannya seperti tak terjadi apapun.
Kok pulang gak bilang-bilang sih dek... tanya Arya.
hehhee...capek banget mas, sumpah, makanya langsung tewas dikamar semalem, hehehehe...ucap dila sambil nyegir polos.
HHHH...ke empat abangnya hanya bisa menghela nafas sabar.
__ADS_1
Adek pulang sendiri..tanya Arsyad sambil mencari keberadaan Lisa.
MM??? ah mas cari lisa...masih molor dia, hari ini off dia, mau ziarah katanya..sahut dilla cuek
Ah...hari ini ya... ucap rukmana.
mmm... angguk dilla.
Kamu gak nemenin..tanya rukmana.
Gak deh bund, lisa butuh privasi..ucap dilla dengan ekspresi yang tersirat kekhawatiran.
Mereka tak bertanya lagi.
Mas lewat sekolahku kan? tanya dilla pada Ardan
Mmm..angguknya.
Dilla nebeng ya, males bawa motor..ujarnya cuek.
Tak lama mereka berangkat. Dilla dan Ardan tampak hening sejenak.
Udah enakkan.. tanya Ardan
Mmm?? Dilla mengernyit menoleh pada Ardan tiba-tiba Ardan menunjuk kearah jantungnya sendiri.
Disini.. tanya Ardan lagi. Dilla terdiam.
Gak sengaja lihat, maaf harusnya mas dateng nolongin kamu, tapi mas tahu kamu pasti gak suka, dulu juga begitu kan?!.. ucap Ardan lagi.
Ah.. gak asik, mas selalu aja liat ancurnya aku... gerutu dilla masih tak menjawab pertanyaan Ardan Gadis itu memilih memejamkan matanya, dan bersandar pada sandaran mobil.
Tak lama mereka pun sampai di depan sekolah tempat dilla mengajar.
Ardan sengaja tak membangunkan dilla, Ardan pun menyandar pada stirnya ia menghadap kearah sahabat, rival, cinta pertama dan kini adik sambungnya.Tatapan penuh kehangatan dan sayang yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun.
Jangan melihatku seperti itu...ucap dilla lalu membuka matanya dan menoleh pada Ardan
Kenapa? apa kamu jadi salah paham?? goda Ardan
Aku baik-baik aja, jangan mengasihaniku, semua sudah berakhir...ucap dilla mengacuhkan godaan Ardan
Ardan tersenyum. lalu membelai lembut surai rambut dilla dan merapihkannya.
MM..Okay... ucap Ardan sambil tersenyum.
Dilla duluan mas..sahutnya lalu mencium tangan Arnand dan turun dari mobilnya. Ardan tersenyum hingga dilla hilang dari pandangannya. Lalu ia melajukan mobilnya namun senyum itu menghilang dan tampak rahangnya mengeras. Arnand masih mengingat dengan jelas air mata yang jatuh di pipi Dilla beberapa tahun lalu sebelum akhirnya dilla menghilang dari dunia medis bagai di telan bumi.
Flashback
__ADS_1
Ruang Operasi.
Dilla yang masih shock memaksakan diri melakukan operasi. Dengan keadaannya yang labil saat itu dilla hampir saja mencelakai pasien yang sedang ia operasi karna batin pikirannya yang terguncang.
Jika saja saat itu Ardan tidak menjadi asisten pertamanya, mungkin dila sudah pasti kehilangan izin dokter dan juga nyawa pasiennya.
Ardan masih ingat tangan dila yang bergetar hebat saat itu.
Rooftop RS
Ardan membuka pintu rooftop, Dilla ada disana duduk di bench dengan tatapan kosong. Perlahan Ardan duduk disamping Dilla tanpa bersuara.
Maaf .. ucap dilla memecah keheningan.
Its okay... sahutnya
tiba-tiba air mata dilla menetes deras saat ia menatap kedua tangannya.
Hiks hiks aku, aku hampir jadi pembunuh, hiks...tangan ini hampir membunuh.... hiks hiks... isak dilla.
Ardan segera menggenggam tangan dila yang gemetar dengan erat.
Tidak, kamu salah dilla, tanganmu, tangan mungil ini m.ngkin memang hampir melakukan kesalahan tapi kamu jangan lupa sudah berapa banyak nyawa yang selamat karna tanganmu ini...ucap Ardan seraya menatap dilla dalam. Dilla terisak dan menangis histeris. Ardan membawanya kedalam pelukannya.
Seminggu setelahnya Ardan dikejutkan dengan kabar kalau dilla mengundurkan diri dari RS tempatnya mengabdi. Ardan mengejar dilla hingga ke parkiran.
Dilla Stop!!! teriaknya.
Dilla membalikkan badannya.
Kau tidak perlu mengundurkan diri hanya karna hal ini .. ucap Ardan
Aku merasa sudah tidak layak, manusia rentan sepertiku yang begitu mudah terganggu konsentrasinya hanya karna masalah pribadiku hanya akan membahayakan pasienku...ucap dilla dengan ekspresi terlukanya. Ardan terdiam, ia bisa memperkirakan berapa banyak air mata yang mengalir dari mata indah itu dengan hanya melihat bengkak di mata dilla.
Maaf ya kamu jadi harus menghandle pasienku...ucap dilla, ardan hanya diam menatapnya datar namun tangannya sudah mengepal
Kami boleh marah dan membenciku. maaf sudah tidak bisa menjadi rivalmu, ah...salah, dokter gagal sepertiku gak akan pernah pantas menjadi rivalmu... semoga kamu selalu sehat dan sukses...aku pergi.... ucap Dilla lalu berbalik.
Apa bajingan itu begitu layak untuk membuatmu melepas mimpimu....ucap Ardan menghentikan langkah dilla.
Dilla berbalik, menatap lurus pada Ardan yang tepat berada dihadapannya
Tidak, bajingan itu tidak layak. Bajingan itu memang sudah melukaiku, tapi yang membuatku berhenti dari mimpiku adalah karna aku kecewa pada diriku yang tak bisa mengontrol perasaanku hingga hampir membuat pasienku mati ditanganku. Tangan yang kujaga dan kurawat ini, hampir merenggut seorang ibu dari putrinya, hampir merebut seorang istri dari suaminya, hampir merebut seorang anak dari orang tuanya. Aku, hiks hiks aku...aku gagal.... ucap dilla dengan air mata yang lolos begitu saja dari mata indahnya tanpa izin.
Ardan terdiam, ia tak menemukan sedikit pun kebohongan disana.
Flashback off
Ardan sampai diparkiran RS. Ia mengetik pesan pada HPnya dan mengirimnya pada Armand. Untuk pertama kalinya Ardan meminta bantuan dari kakak pertamanya itu.
__ADS_1
Rahang Armand mengeras saat membaca pesan dan detail informasi yang dikirimkan Ardan padanya.