BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
Dinner romantis


__ADS_3

Dinner romantis telah terhidang di Kamar mereka yang sengaja di matikan lampu nya, hanya terdapat cahaya lilin dimeja.


Setelah makan malam selesai.


"Vin, apakah kamu masih ingin kembali sama Kevin?"Ares menggenggam jemari Vini menatap matanya lekat penuh kekhawatiran.


"Res kenapa kamu ngomong gitu?" Vini menautkan kedua alisnya, heran dengan pernyataan Ares.


"Karna aku tau, kamu masih belum bisa moove on dari Kevin," Ares mengelus tangan yang tadi digenggamnya.


"kenapa kamu berfikir aku akan kembali pada Kevin" Vini menarik nafas sejenak lalu lanjut bicara. "menyatukan benang putus memang bukan tak mungkin Res, tapi tetap saja menimbulkan benjolan, tak akan mulus lagi, aku tak mau itu"


"Pasti sulit bagimu melupakan Kevin, pasti kamu belum moove on darinya?" Ares memperdalam tatapannya pada Vini.


"Belum bisa moove on bukan berarti masih berharap ingin kembali bersama kan Res," Vini pun membalas tatapan Ares lembut.


"Tapi gimana kamu bisa lupa sama Kevin sepenuhnya kalau dia selalu ngejar-ngejar kamu, aku pasti kalah telak jika di bandingkan dengan Kevin, dari segi apapun, cuma satu aku lebih cakep dari Kevin, tapi dia lebih kaya dari aku" Ares menyugar rambutnya yang selalu cepak. Vini mengusap kepala Ares gemas, kebiasaan sejak dulu masih sekolah tak bisa Vini rubah.


"Kamu gak akan merasa kalah saing dengan abangmu setelah ini Res" Vini berjalan beberapa langkah mendekat ke arah Ares dan memegang kerah bajunya keatas hingga Ares setengah berdiri.


Mata Vini menatap lekat pada Ares, tangannya masih menggenggam baju sang pria. Ares heran dengan tingkah Vini, ia pun memegang tangan Vini yang masih mencengkram bajunya, namun masih bingung.


Tanpa peduli dengan wajah bingung Ares Vini langsung mengecup bibir Ares lumayan lama dan kencang, membuat mata Ares membelalak, mendadak sekujur tubuhnya kaku, tak ketinggalan dedek nya juga bangun dari tidurnya tiba-tiba. Perlakuan Vini yang tak terduga oleh Ares membuat pria itu sedikit gugup.


"Apa yang kamu lakukan Vini, kamu mengambil alih tugasku, seharusnya aku yang berbuat seperti itu sama kamu setelah kamu benar-benar sudah mencintaiku, ah kamu menghancurkan impianku saja" Ares berdiri menatap Vini. Lalu berbalik membelakangi Vini. Vini memegang lengan Ares menahan agar menghadap nya, Ares menghadap Vini dengan enggan.


"Ah Res gausah belaga bego deh, dari kemaren juga badanku udah bonyok sama kamu, dan sekarang kamunya gak ada inisiatif, malah sibuk mikirin Kevin, ya udah aku yang mulai" tangan Vini berada di pundak Ares dan perlahan membuka satu kancing bajunya.


Ares memegang kening Vini dengan punggung tangannya. Takut kalau Vini kesambet.


"Kesambet kamu Vin, gak seharusnya kamu yang menguasai pernainan, aku..aku.." nafas Ares semakin memburu gugup namun ia tetap menuruti Vini yang menariknya ke tempat tidur, kini Ares dan Vini duduk di tepi ranjang saling berhadapan.


" Res, apa kamu gak merasakan cinta yang mulai tumbuh? awalnya aku pun menyangkal mana mungkin secepat ini aku bisa jatuh cinta sama kamu, nyatanya aku salah, aku bahagia saat kamu cemburu, aku senang kamu perhatian setiap waktu,"


"Aku gak salah dengar kan Vin, kamu serius" Ares memegang kepala Vini menatap matanya lekat. Vini hanya mengangguk mengangkat alisnya


Ares segera menggendong tubuh Vini berkeliling mengitari kamar berukuran 3x4 meter itu.

__ADS_1


"Ares, aku mau di bawa kemana?, mau kamu lempar."


"mau aku bawa ke ranjang, ini malam pertama biasanya kan main gendong-gendongan dulu Vin "


"Lah tadi udah di ranjang ngapain di gendong lagi sih? langsung aja lah" Vini menggantung di leher Ares.


"Issh Vin apa ini beneran kamu, main langsung-langsung aja, pemanasan dulu donk biar lebih....."


"Aku gak punya balsem buat pemanasan Res,"


"Yee gak gitu juga lah Vin, gagal lagi ntar kalo harus pake balsem, gak mau aku sejarah menyedihkan itu terulang,"


"La terus?"


"Aku ingin malam kita tak terlupakan, dan kenangan mu bersama Kevin dahulu hilang tanpa bekas,"


"Ya udah, lanjut, apa nunggu aku inisiatif duluan lagi, biar kamu keok?" Vini gak sabaran


bikin gerah aja.


"Hei jangan anggap remeh aku dong Vin, kamu yang bakal KO," Nah lo malah gelud.


"Vin, belum tau siapa aku?"


"La emang siapa?"


"Hiaaaaaaaaaaa....... kamu akan tahu setelah pertarungan selesai Vini" Ares sengaja membawa Vini mengitari meja makan di kamar mereka setengah berlari.


Gubraaaakkk....


Karena penerangan hanya lilin, kaki Ares tersandung kaki kursi, hingga mereka pun terjatuh di lantai dengan posisi bertindih, Vini yang berada di bawah.


"Ares...... bego.... sakit tau... udah di bilang gausah gendong, masih ngeyel" Vini menjitak kepala Ares bertubi-tubi.


Ares segera duduk di sebelah Vini dan terbahak melihat istrinya mendengkus kesal.


"Dasar stresssss..... "

__ADS_1


****


"Selamat pagi sayang" Ares mengusap pipi Vini yang masih tertidur di lengannya. keduanya masih sama-sama polos, namun tubuh mereka berada di balik selimut yang menutupi mereka, perlahan matanya terbuka.


Ares tersenyum melihat istrinya menarik selimut menutupi wajahnya, malu-malu.


"Telat malu-malunya sekarang Vin, sudah Lima ronde kita lewati," Ares menarik selimut yang di gunakan untuk menyembunyikan wajahnya.


"Ares apaan sih," wajah Vini bersemu merah.


"Kamu sih nantangin, baru tau Sekarang," Ares menautkan alisnya menggoda Vini. Tabokan dari Vini yang Ares dapatkan.


"Aduh, gitu ya,, tadi malam aja minta nambah terus, sekarang main tabok aja.


"Buruan ayo mandi, keburu waktu sholat habis," Vini mengalihkan bicara Ares.


"ayo lah, mandi bareng ya " Vini hanya mengangguk, lalu mencari pakaiannya yang entah terlempar kemana semalam, setelah di dapat ia pun langsung memakainya.


Ares segera berdiri mengambil handuk dari lemari kemudian melingkarkan ke pinggangnya, tak lupa ia mengambil satu handuk lagi untuk Vini, Namun ia masih melihat Vini hanya duduk di tepi ranjang. matanya terlihat sayu sisa begadang semalam.


Ares segera masuk kekamar mandi, namun Vini memanggilnya, ia pun menoleh .


"Res, " Vini hanya menaikkan kedua tangannya minta gendong.


"Apa? mau nambah?" Vini menggeleng.


"darahku terasa Habis di sedot drakula Res, kalo nambah bisa pingsan aku"


"itu akibatnya meragukan Ares, kewalahan kan kamunnya" Ares menoel hidung Vini lalu mengacak rambutnya yang berantakan.


Vini hanya manyun memonyongkan bibir sensualnya, dan menghapus bekas usapan Ares.


Ares hanya tersenyum lantas ia berbalik badan menggendong Vini di punggung nya dan membawanya ke kamar mandi.


Tubuh Ares yang tinggi besar tak kepayahan menggendong Vini yang memiliki postur kecil namun berisi.


"Eh Vin ngomong-ngomong, sakti juga kamu ya kecil-kecil gini"

__ADS_1


"sakti kenapa emangnya Res?" "Ya kamu bisa sembuhin sakit aku, aku udah gak pusing lagi nih, hebat kamu"


Bukannya di jawab oleh Vini justru jitakkan lah yang Ares dapatkan.


__ADS_2