
Ares yang sedang mengemudikan mobilnya menelpon seseorang.
"Bisa kita ngobrol sebentar"
"Aku tunggu di kafe dekat kantor ya" Ares segera menutup sambungan teleponnya.
Ia pun segera masuk kesebuah kafe dan duduk di salah satu kursi kosong, kebetulan kafe itu belum ada pelanggan segera ia memesan dua capucino panas.
Tak butuh waktu lama Ares menunggu, orang yang ada janji mendadak dengannya pagi ini sudah datang. Ares mempersilahkan duduk dengan menunjuk kursi dengan mengangkat kepalanya. Dia baru saja hendak menyalakan rokok yang di belinya sebelum masuk kafe itu di warung kecil depan kafe.
"Ada apa? kok muka kamu kusut gitu kaya kain bekas kunyahan sapi" Edo yang masih mengenakan pakaian bengkel pun duduk di hadapan Ares
"sialan kamu, aku mau tanya banyak hal sama kamu, bukan mau minta komen mukaku!"
Edo karyawan bengkelnya yang sering menasihatinya banyak hal, menjadi tempat nyaman untuk curhat bagi Ares setiap ada masalah.
"Ya udah cerita, tak dengerin dari awal sambil ngudud" Edo mengambil sebatang rokok di hadapan Ares tak lupa dengan koreknya, menyulutnya kemudian menghisapnya dalam tak lupa menghembuskannya.
"Vini lagi ngidam"
"Lho,, bukannya istrimu itu..... " Edo membelalak kaget.
Ares mengangkat kedua bahunya sekejap.
"Harusnya kamu senang dong Res, kenapa malah kaya gak senang gitu?"
" bukan aku tak suka dia hamil aku sangat bahagia dia hamil, tapi sikapnya berubah, dia tak suka dengan bau badan ku, dia tak suka makanan yang aku beri, anehnya setiap hari ada yang mengirimnya makanan, dan... dia menyukainya, Aku curiga Kevin yang mengirim makanan itu tiap hari, tapi ia sama sekali tak mau mengakui, dan yang paling bikin aku kesel dia mengirim makanan itu atas namaku"
__ADS_1
" Dasar kamu Res Res, Lalu kamu melampiaskan kekesalanmu itu pada Vini yang sedang hamil?, Hey Res, orang yang lagi hamil itu ya macem macem tingkah nya dan itu bukan disengaja oleh orang nyidam, jangan nyalahin orang ngidam dong, lagian orang hamil itu harus selalu bahagia, kalau kamu sering bikin nangis orang hamil, gak baik buat kesehatan anak kamu, Disitulah salah sebagian kecil rumah tangga di uji" Edo menyruput minuman miliknya yang di pesan oleh Ares. Masih terasa hangat lalu melanjutkan petuah jitunya yang langsung masuk ke otak Ares.
" Kamu kesel dengan segala macam ke absurdannya, atau karna Vini gak ngasih jatah ni, kamu sampai emosi gini" Edo yang nota bene seorang Duda, sedikit banyak tau tentang wanita ngidam. Istrinya meninggal tiga tahun lalu saat melahirkan anak pertamanya. Hingga saat ini dia belum ada niatan menikah lagi, masih fokus membiayai anaknya yang di asuh oleh Ibunya.
"Dulu aku waktu almarhumah istriku lagi nyidam Kayla juga tingkahnya aneh Res, semua suami mengalami perlakuan di luar kebiasaan istrinya sewaktu istrinya hamil, Masa kamu gak bisa maklumi istri kamu. Jangan mau enaknya aja, giliran susahnya malah kamu nambah beban mental pada istri kamu, suami Luknut dong kamu!"
Ares hanya terpekur mendengarkan Ceramah singkat dari temannya itu, benar yang di katakan Edo, tak seharusnya dia menyalahkan Vini, ini semua bukan kesengajaan Vini, Ia sangat menyesali prilakunya telah membuat wanita yang di kasihinya meneteskan air mata.
Hanya karena tak terpenuhi hasrat kelelakiannya, lantas ia langsung saja menyalahkan istrinya, yang sedang merasa sangat tak nyaman menghadapi keanehan dalam dirinya sendiri. Bahkan Vini lebih menderita dibandingkan dirinya. Betapa egonya saja yang ia pikirkan tanpa memikirkan istrinya.
Tapi justru dirinya yang merasa paling tersiksa lantas melampiaskan emosinya pada Vini yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang lebih intens.
"Aahhh, betapa begonya aku Do, telah mengecewakan belahan jiwaku, bahkan aku tak memberinya dukungan menghadapi kehamilannya yang tentu tak mudah menjalannkannya. Ares segera berdiri hendak pergi.
"Aku pulang dulu Do, oh ya bayar tu kopinya, yah!" Ares segera pergi meninggalkan Edo sendiri.
***
Ares sudah hampir sampai di rumah, tinggal melewati beberapa rumah lagi, ia melambatkan laju mobilnya karena melihat
Seorang kurir mengendarai motor masuk kepelataran rumahnya. Ia pun memutuskan berhenti di depan rumah yang berjarak 3 rumah dari rumahnya, namun bagian depan rumahnya masih terlihat.
Kemungkinan Kurir itu kembali mengantar pesanan dari seseorang yang mengatasnamakan dirinya. Sepertinya dugaan Ares tak meleset, Kurir membawa sesuatu di tangannya. menunggu tepat di depan pintu rumahnya menunggu sang empunya rumah membukakan pintu.
Tak lama Vini pun keluar, Masih dalam pantauan Ares, lama sepertinya mereka berbincang sesuatu. Tak perduli Ares apa yang mereka bicarakan, dia hanya butuh informasi dari si kurir siapa pengirim makanan itu. Akhirnya kurir pun keluar dari pelataran rumahnya, membawa kembali paket yang akan di berikan Vini Dalam hati Ares semakin merasa bersalah pada Vini, dia masih mengindahkan kata-katanya meski sikapnya tadi menyakitkan hatinya. Vini tak mau mengambil makanan itu karena Ares melarangnya kemarin.
Sang Kurir keluar dari pelataran rumah
__ADS_1
Ares berniat mengikuti si Kurir dari belakang, Kurir itu berhenti sejenak dan terlihat menelpon seseorang, Ares menerka bahwa yang ditelpon adalah sang pengirim, kurir itu menjalankan kendaraannya diikuti oleh Ares.
Di belakang Kurir Mobil Ares melaju, rute yang dilalui nya seperti ia kenal arahnya menuju kantor Ayahnya. Saat sampai di depan kantor ayahnya kurir itu pun berhenti . Semakin yakin Ares bahwa pengirim adalah Kevin, mengepal tangan Ares ketika melihat Kevin Ada di sana terlihat menghampiri Kurir.
Ares segera turun dari mobilnya menuju ke arah Kevin dengan langkah memburu. Belum sempat Kevin menerima paket itu, wajahnya telah lebih dulu mendapat pukulan dari Ares.
"Masih mau ngelak kamu kalau bukan kamu yang kirim makanan pada istriku hah?"
Bugh, Bugh, dua pukulan keras mengenai bibir Kevin hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Satpam yang ada di pos segera berlari menuju Ares mereka bertiga dan segera melerai dan menarik tangan Ares ke belakang.
Kurir yang tak tau kapan Ares datang terkejut, sampai paket yang di bawanya pun terjatuh.
"Pak Kevin, Bibir Bapak terluka pak apa perlu kita bawa ke kantor polisi orang ini Pak" Satpam yang masih baru itu tak mengenal Ares, jadi dia tak canggung menangkapnya.
"Res, kenapa kamu tiba-tiba nyerang aku gini?" Kevin menggeleng ke arah satpam dan terlihat bingung dengan yang Ares lakukan padanya.
"Udah ketangkap basah masih aja pura-pura bego kamu Vin aku mengikuti kurir ini sejak ia dari rumahku, dan ia mengembalikannya ke kamu, masih negelak kalau bukan kamu yang ngirim-ngirim makanan ke Vini" Ares memberontak tangannya yang di pegang oleh satpam. Di biarkan oleh satpam atas suruhan Kevin.
"Aku terima paket makanan itu dari Ibu Res, makanan ini bukan aku yang memesannya, kalau kamu tak percaya, tanya aja sana sama tuh masih disini, hidup lagi,"
Ares yang emosinya meledak-ledak sebelumnya menjadi tenang, dan kikuk sendiri mendengar penuturan Kevin.
"Bang, siapa yang nyuruh kamu kirim makanan itu kerumahku? kenapa kamu bilang kalau itu aku yang mengirim?"
Kurir yang masih ketakutan itu gemetar, lama tak menjawab pertanyaan Ares.
"Beb beb,, benar apa yang di katakan Mas itu Bang, Ibuknya Mas itu yang setiap hari nyuruh saya kirim makanan buat Mbak Vini"
__ADS_1
Ares segera pergi dari tempat itu, tak lupa ia mengambil paket makanan yang terjatuh itu dan di bawanya pergi. Semua yang ada di TKP melihat Ares keheranan.