
Ares hendak berangkat kerja, sebelumnya ia telah melakukan ritual sarapan bersama Vini.
"Ini baru jam 07:25 lo Res, udah mau berangkat aja" Vini sibuk mempersiapkan bekal, Atas permintaan Ares. Ares ingin masakan istrinya sebagai bekal makan siang.
"Udah seminggu lebih bengkel gak aku check, aku pun mulai kangen utak atik mesin" Ares memsasang jaket kulit ke badannya, di rapikannya rambut cepaknya meski tak ada perubahan berarti.
"Jangan pulang kesorean ya, bosen di rumah sendiri,"
"Kamu mau ikut ke bengkel? kalau mau ikut, sekalian aku kenalin sama rekan-rekan aku, biar kamu gak bosen kan banyak temen ngobrol di sana."
" Boleh juga tuh tapi naik motor aja ya, eh tapi kamu gak papa bawa istri ke bengkel ntar ngrecokin kamu ngotak-atik mesin," Ares mengangguk, di keluar kan nya motor yang terparkir di dalam rumah.
"ya kalo kamu ngrecokin aku, gantian kamu yang aku Otak-atik mesinnya" Ares menaikturunkan alisnya.
"Hissh ni anak, otaknya minta di vacum, ngeres"
"Lagian emang kamu mau kena oli kalo ngrecokin aku mbengkel?"
"Alah, cuma oli doang,"
"Oli doang? biasanya cewe paling anti sama oli loh Vin,"
"Masih bisa hilang kan kalo di cuci? udah simple, aku gak takut kena oli toh masih bisa hilang"
"Cewe aneh kamu, montir bukan oli gak takut, tapi ya aku malah seneng sih, punya wanita super ehhhmm"
Baru saja Ares dan Vini naik motor, sebuah mobil yang Ares dan Vini kenali berjalan pelan ke arah rumah Kevin. Ares telah 3 hari pulang dari berlibur sedangkan Kevin baru saja kemarin pulang langsung di sambangi oleh Ayah dan ibu. Ares menarik nafas kasar, Vini hanya menelan liur.
__ADS_1
"Gara-gara aku, hubungan kamu dengan orang tuamu semakin renggang Res"
"Jauh sebelum aku kenal kamu Vin, memang begitu kontrasnya perlakuan Ayah pada kami Vin, jadi ini bukan kesalahanmu, mereka sangat membenciku setelah kematian Risa, adik perempuanku satu-satunya"
"Jadi kamu punya adik perempuan Res?"
"Kevin gak pernah cerita sama kamu? Nanti saja aku cerita, ayo kita berangkat" Vini menggeleng sekaligus mengangguk menanggapi Ares.
"eh tapi, kita gak temuin dulu orang tua kamu"
"nggak untuk sekarang Vin" Ares segera menjalankan motor matic milik Vini kencang, ada hati yang tergores di sana. Sakit selama ini terulang-terulang dari orangtuanya.
****
Sampai bengkel ternyata sudah ada pelanggan, bengkel Ares terbilang ramai karena letaknya strategis. Terletak di persimpangan yang memungkin kan orang datang dari segala arah.
Dua ruko miliknya berdampingan namun berbeda, satu bengkel mobil, dan lainnya bengkel sepeda motor. Namun Ares lebih condong mengutak-atik mesin motor, sedangkan bengkel mobilnya di kerjakan oleh karyawannya yang ahli di bidangnya. Jadi lebih sering ia berada di bengkel motor.
"Eh Ares takut amat istrinya ngilang, sampe ke bengkel aja di ajakin" salah satu karyawan bernama Edo(tertulis di seragam bajunya) nyeletuk tanpa rikuh ketika melihat Ares dan Vini datang, tangannya membongkar ban motor hendak di pompa, sepertinya baru selesai menambal ban motor milik pelanggan.
"Ya kaya gak tau aja, kan lagi sayang sayangnya" Ares merangkul Vini yang ada di belakangnya hingga membuat badan Vini berada di bawah ketiak Ares.
Vini segera mencubit pinggang Ares heran yang hanya menggelinjang sedikit tapi di sembunyikan rasa sakitnya dari karyawan dan pelangganny dengan cengiran. Sang pelanggan yang seorang ibu berusia kisar 30 tahun bersama anaknya umur 6 tahun hanya tersenyum melihat Ares dan Vini.
"Whoi penganten baru, ngapain kesini, bikin iri aja" teriakan karyawan dari bengkel mobilnya di ruko sebelah membuat semuanya menoleh ke sumber suara.
"makanya buruan kawin, keburu karatan" Ares menjawab cibiran Ibra di jawab gelak tawa karyawan yang lain, juga pelanggan yang hanya senyum-senyum. ia menuju kasir hendak membayar jasa tambal ban karena sudah selesai. Tak berapa lama ia pun pergi. Ares segera turun dari motornya dan berjalan menuju tempat duduk diikuti Vini yang hanya diam.
__ADS_1
"Apa kabar bro, seminggu gak kesini, banyak perubahan, makin ceria aja" Edo menyalami Ares dan melirik Vini dan tersenyum ramah. Tangannya hitam khas montir, sehingga urung dia menyalami Vini hanya dengan anggukan kepala.
Begitu juga rekan lainnya menyapa dari kejauhan dengan lambaian tangan, karena mereka disibukkan dengan tugas masing-masing.
Ares tak pernah menganggap dirinya bos di bengkelnya, mereka semua dianggap keluarga oleh Ares, karena disinilah ia merasa dianggap ada, tak seperti saat dirumah orang tuanya. tak ada kecanggungan diantara mereka. Mereka satu keluarga bagi Ares, meskipun ia adalah pemilik baginya usahanya tak akan sesukses ini tanpa bantuan rekannya.
"jelas dong ceria ada yang urusin sekarang, oh iya mana si Edi sama Tio? gak masuk kerja apa, kok gak kelihatan" Ares celingukan mencari karyawannya yang tak muncul.
" Tuh baru datang, tadi lagi nyari ketoprak buat sarapan" datang dua orang membawa motor ninja mereka orang yang di tanyakan oleh Ares.
"Eh ada Ares, wah kita gak tau kalau ada kamu, jadi aku cuma beli sembilan bungkus ketopraknya, nih kamu gorengannya aja yah"
"Ya udah makan aja, aku kan udah ada yang masakin, kalian lupa ?, pagi udah sarapan, dibawain bekal lagi" Ares memamerkan bekal makanan yang dibuat Vini.
"Ehmm iya iya, yang punya istri" Edi menyalami Ares, dan menatap Vini menyeluruh.
"Pantesan rela menunggu kamu Res," Tio yang nyeletuk dibelakang, Edi satu pemikiran namun tak di ucapkannya hanya manggut, matanya tak lepas melihat Vini.
" Whoi, jagain mata, dia udah punya aku," Ares yang di sebelah Vini merangkul istrinya. Edi hanya tertawa begitu juga yang lainny
Ares memperkenalkan karyawannya semua pada Vini, yang di sebut namanya melambai kadang ada juga yang mengerlingkan mata memanasi Ares. membuat Ares mengangkat kepalan tangannya.
"Ayo Vin, kita masuk, kalau kelamaan disini pada gak fokus kerjanya, rugi dong aku gaji mereka" suara Ares di jawab gelak tawa semua yang di tempat itu.
Ares masuk ke dalam ruko tersebut, ternyata di dalam ada ruangan khusus yang orang lain tak boleh masuk. Hanya Ares saja. karena ruangan itu terkunci, dan kuncinya di bawa oleh Ares. Ruangan lainnya kunci masih tetap menempel di lubang kunci.
"Ini ruangan apa Res,"
__ADS_1
"Ya ruangan rahasia"
Setelah Vini masuk, ia sangat terkejut melihat dinding ruangan itu. Terpaku melihat deretan Foto di dinding ruangan itu