BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
Hemmm Pinginnya selalu makan yang asem


__ADS_3

"kenapa kamu Res, lagi ada masalah, kok sembab mata kamu, momen langka banget seorang Ares meneteskan air mata,"


"apaan sih, siapa juga yang nangis, sejak kapan preman nangis, gini nih kalau pengantin baru, banyak lembur nya, jadi sering begadang" Ares menarik kerah jaketnya, menyembunyikan gundah di hatinya dengan candaan. Ia tak ingin Edo dan yang lainnya tau dan menambah beban mereka.


"Oh ya? masa sih?"


"Ah ntaran juga ngrasain kalo kamu udah merit, "


"ah iyain ajalah"


"oh ya ada apa tadi manggil?"


"itu ada Yang nyariin."


"siapa?"


"Bang Rudi"


Ares segera menuju ke depan menemui orang yang mencarinya dan juga mencari Vini.


"Abang, eh Ayah apa kabar" Ares meralat panggilannya kemudian menyalami mertuanya yang tengah duduk di salah satu kursi di mana ia dan Vini duduk tadi sewaktu baru datang.


"baik Res, kamu sendiri ?"


"Baik yah" Ares duduk di kursi dekat lelaki berusia 50 tahun itu namun masih nampak gagah. Sebagai pelanggan servis mobil di bengkelnya lumayan lama Ares mengenal ayah Vini, namun Ares baru tahu bahwa pelanggannya itu adalah mertuanya beberapa hari sebelum menikah.


"Abang. Eh Ayah tadi ke rumah, gak ada orang, jadi langsung aja kesini sekalian servis mobil, apa Vini ikut kesini?" begitu juga lelaki itu salah menyebut panggilannya pada Ares,


"oh ada dia lagi di dalam,"


"Gimana kado pernikahan kemarin," Rudi menaik turunkan alisnya.


Ares mengernyit mengingat kejadian malam itu dengan 'obat oles', dia bahkan baru tau bahwa kado itu dari ayah mertuanya, pasalnya, tak ada nama pemberi nya, hanya tertulis 'Jamu Kuat'. Senyumnya melebar seketika sambil memberi jempol pada ayah mertuanya.


"joss dong, langsung habis semalam" Ares menjawab asal meski sebenarnya malah merasa kebas kembali mulutnya mengingat kejadian itu.


"What,, habis semalam?" Rudi melotot mendengar penuturan menantunya. menelan liur yang terasa cekat.


Ares mengangguk bangga.


"Anak kesayangan ku itu Res, jangan diekploitasi dong, itu obat untuk 50 kali pake, masa di habiskan semalam" Rudi menggebrak meja sedikit emosi.

__ADS_1


"Yang ada aku yang tersiksa Bang, gara-gara Abang tulis 'Jamu Kuat' obat itu aku minum" Tak kalah keras Ares bicara, bahkan ia lupa sedang bicara dengan siapa, tanpa sadar keceplosan menceritakan rahasia kebodohannya.


"Apa? kamu minum? Hahahahahahahaha"


Rudi tak lagi bisa menahan tawa yang mengocok perutnya.


Ares hanya menatap kesal pada Rudi.


"Ah kamu tampang aja preman ya, rupanya masih bocah, belajar lagi ya!"


"Ayah" Vini datang setelah mendengar tawa ayahnya y ang khas. segera Rudi menahan tawanya meski masih nampak bahunya naik turun melihat anaknya menghampiri dan memeluknya.


"Maafin ayah ya Vin,baru sempat nengokin kamu, ayah terlalu sibuk, gimana kamu sehat kan?" Rudi mengelus kepala putrinya yang duduk berlutut di dekat kursi yang ia duduki menggelayut di lengan ayahnya. Hal yang sangat jarang karena kesibukannya mengurus perusahaannya.


"Ayah gak usah khawatir Vini kan gak sendirian, Kan Ares selalu jagain Vini Yah


Tante Linda gak ikut yah"


"Enggak, katanya lagi ada acara arisan, jadi gak mau ikut" Vini hanya mengangguk mendengar penjelasan ayahnya.


Vini dan Ibu tirinya tak terlalu dekat, jadi hingga saat ini, untuk memanggil istri dari Ayah nya dengan sebutan mama ia tak pernah. Rudi tak pernah permasalahkan itu, mengizinkan dia menikah dengan Linda saja suatu hal luar biasa baginya. Tapi dia bangga terhadap putrinya meski kurang perhatian dia tak pernah ada masalah serius dengan istrinya, meski juga tak akrab.


Dan juga dulu ketika Vini remaja, meski sedikit tomboy dan terkesan bebas, tapi prilakunya tak pernah menyimpang, Vini sama seperti almarhumah ibunya. Jadi dengan kesibukannya mengurus perusahaannya dia masih bersyukur putrinya tak menjadi salah jalan.


Dari pernikahannya dengan Linda Rudi punya anak laki-laki, dengan Vini pun tak begitu dekat.


Ares berjalan menuju lemari pendingin mengambil beberapa botol softdrink lalu di berikan salah satu pada mertuanya. Dan meminum yang lainnya.


"Res boleh kan Ayah ajak Vini keluar sebentar tanpa ngajak kamu" Rudi menenggak air bening dan manis dari botol berwarna bening itu.


"boleh dong, lagian sudah lama kan kalian tidak saling melepas rindu, kemarin resepsi Ayah langsung pergi aja, karena masih lanjutin kerjaan, lagian aku masih banyak kerjaan, karena sudah lama gak masuk kerja" Ares biar panjang lebar. Di sambut acungan jempol oleh Rudi.


***


"Gimana Vin, perlakuan Ayah mertuamu padamu? masih seperti dulu" Rudi menyeruput kopi yang baru saja datang, kemudian terkejut menjulurkan lidahnya kepanasan.


"Masih panas Ayah" Vini menyodorkan minuman dingin miliknya namun di tolak oleh sang Ayah dengan lima jari.


Anak ayah itu, duduk berhadapan di sebuah kafe kecil tak jauh dari bengkel Ares sekedar melepas rindu saling berbagi cerita, hal yang jarang mereka lakukan.


"Sejauh ini Vini belum pernah bertemu lagi dengan mereka yah, bahkan ayah tau sendiri kan mereka saja tidak datang di pernikahanku dan Ares kemarin, mereka memisahkan aku dan Kevin, tak semudah itu menerimaku kembali sebagai menantu "

__ADS_1


"Sastro Utomo, Lelaki sukses membangun perusahaan hingga semakin besar sampai sekarang, tapi gagal di keluarganya"


"Ayah Ares punya kenangan buruk di masa lalu yah, itu yang di gunakan sebagai alasan membenci Ares"


"Kenangan buruk?"


Vini kemudian menceritakan kisah Ares dan juga Risa, seperti yang Ares ceritakan sebelumnya. Rudi mendengarkan dengan baik, sesekali di sruput kopinya yang hangat.


"Ya, sampai saat ini ayahnya Ares masih bersikap dingin terhadap Ares, apalagi setelah Ares menikahi Vini, semakin jauh"


"Oh jadi itu alasannya, Sastro keterlaluan, meski ayah gedek sama dia maksa kamu pisah sama Kevin dulu, tapi dia tetap mertua kamu sekarang, lihat saja yang akan Ayah lakukan"


"maksud Ayah apa?"


"kita lihat aja nanti, sluuurrpp" sruputan terakhir mendorong pancake yang masih tersangkut di tenggorokan hingga agak melotot menelannya.


"Ayah, pelan-pelan makannya" Vini kembali menyodorkan minumannya yang tinggal setengah pada Ayahnya, kali ini Rudi tak menolak, bahkan menghabiskannya.


"pancake nya agak keras Vin"


"Ah, enggak tuh, alasan aja Ayah" Vini mengambil nya dengan tangan dan memakannya. sengaja mereka hanya memesan satu porsi buat berdua.


Rudi hanya tersenyum.


***


"Res, hari ini langsung pulang aja gausah mampir-mampir, habisin dulu itu buah yang kamu bawa tiap hari, baru beli lagi kalo udah habis, mubazir" Ares mendengar ocehan Vini di telepon sedangkan di tangannya sudah menenteng sekantong buah kedondong.


"oke" Ares hanya nyengir kuda pada dirinya sendiri di telepon. namun di balas senyuman manis tanpa gigi oleh sang penjual buah.


Akhir-akhir ini Ares suka sekali makan buah, terlebih yang buah yang masam. kemudian masuk ke mobil hendak pulang setelah telepon Vini terputus.


Vini sedang menunggu di teras, tak berapa lama Ares sampai di rumah. Dengan kedua tangan di pinggang dan menggelengkan kepala, melihat Ares lagi-lagi membawa buah.


"Res, kamu lagi program diet apa gimana sih, tiap hari selalu beli buah, itu numpuk di kulkas" Belankangan ini Ares sangat suka membawa pulang sekantong buah setiap hari. Isi kulkas hampir penuh dengan buah bawaan Ares.


" Enggak juga, aku kalo malam suka kebangun Vin, pingin makan buah terus bawaannya, kalo belum makan buah gak bisa tidur"


Akhir-akhir ini Ares memang bersikap aneh, jadi suka sekali makan buah, tak seperti biasanya.


"Ya nggak tiap hari juga belinya Res, numpuk itu, paling nggak nunggu habis dulu baru beli lagi"

__ADS_1


"iya besok-besok nunggu habis baru beli deh" Ares menghadiahi Vini huruf V dengan tangannya.


__ADS_2