
Siang itu Ares datang kerumah vini, ia menunggu di teras duduk di kursi yang menghadap ke jalan setelah memencet bel sebelumnya. Setelah menunggu beberapa saat, tak terlihat tanda-tanda Vini keluar. Ares pun kembali berdiri hendak mengetuk pintu itu.
"Vin, kamu ada di dalam kan, kamu oke?"
Masih tak ada jawaban. lalu pintu pun terbuka.
plak... Sebuah tamparan yang Ares dapatkan.
"Bodoh," hanya kata itu yang bisa Vini ucapkan, matanya berkaca-kaca.
"Aku memang bodoh, lupain cewek kaya kamu aja gak becus"
" bukannya aku gak mencoba bersama wanita lain Vin, tapi hati aku tetap ke kamu,"
"Tapi, kita kan nggak mungkin bisa bersama"
"Kenapa nggak bisa Vin, karna kamu mantan Kevin? aku gak perduli,!
" Banyak hal Res, Aku, orang tua kamu, itu semua penghalang hubungan kita" air matanya pun tumpah.
"Aku gak peduli itu semua Vin,"
"Aku mandul Res, aku gak bisa kasih kamu keturunan, gimana kita bisa baha..." ucapan Vini tertahan oleh jari telunjuk Ares di bibirnya pipinya semakin basah oleh air mata.
"Stop! gak perlu kamu kasih tau aku udah tau Vin, kamu tau? aku gak peduli. Yang aku mau kamu hidup sama aku!" kedua tangan Ares mengusap air mata Vini. Ares mencoba menenangkan Vini.
"Lalu orang tua kamu, keluarga kamu gak ada yang menyukaiku. Pupus harapan aku jadi mantu kesayangan kalau aku nikah sama kamu"
"Biar aku yang urus oke! kita coba jalanin aja. Walaupun kamu gak jadi mantu kesayangan, aku pastiin kamu akan jadi ratu di istanaku"
"Aku gak cinta sama kamu,"
"Bukan gak cinta, tapi belum cinta."
__ADS_1
" Ih, maksa "
"orang keras kepala harus di paksa"
"Vini maukah kamu menjadi pendamping hidupku" Ares berlutut lalu mengeluarkan Cincin dari saku celananya tanpa pembungkus apapun.
"Vini hanya mengangguk, tersenyum"
Perlahan tangis Vini pun mengering, karena suasana hatinya perlahan mencair. Meski ia belum bisa mencintai Ares, tapi Vini menyayangi Ares sebagai seorang sahabat, mungkin suatu saat ia akan bisa mencintai Ares, karna ia tahu Ares sangat tulus padanya.
"Tamu istimewa ini, gak di suruh masuk?" Ares menunjuk dirinya dengan kedua jempolnya dan menaikkan alis.
Vini segera membalik badan Ares dan mendorongnya duduk di kursi teras.
"Enak aja masuk-masuk rumah jendes, diluar aja, aku gak mau jadi gunjingan tetangga" Vini pun ikut duduk du sebrang meja Ares.
"Aku malah pengennya di grebek warga Vin, gak pake lama bisa nikahin kamu. ayuk ah ajak masuk rumah aku nya" dengan gaya kemayu Ares menggoda Vini, membulatlah mata Vini sambil memberi kode tampolan dengan lima jari ke arah Ares.
***
"Vin, aku mau ambil baju-bajuku,"
"Oh silakan masuk Bang, ambil aja di lemari. masih di tempat biasa," Vini menyambut dengan senyum yang tulus meski terasa getir di hatinya. Kevin pun masuk kerumah itu.
Tinggallah Vini dan istri baru Kevin di sana tanpa ada kata, enggan rasanya Vini mengajak bicara, meski Vini bersikap biasa saja bukan berarti ia baik-baik saja. Lama mereka mematung diam sendiri-sendiri. Sampai Kevin pun kembali dengan koper di tangannya.
"Hari ini kami mulai tinggal di rumah itu," sambil menunjuk rumah yang memang akan di tempati oleh Kevin dan istri barunya,
Vini hanya mengulas senyum. tapi di hatinya senyum itu brtolak belakang.
"Semoga hubungan kita tetap baik-baik saja meski kini hanya sebagai tetangga ya Vin," Kevin terlihat berkaca-kaca pelupuk matanya.
Vini tau perceraian mereka bukanlah keinginan Kevin, namun mantan mertuanya lah yang bersikeras memaksa Kevin menikah lagi.
__ADS_1
"Iya Bang, istri kamu kalau bosen di rumah suruh aja main kesini, toh aku lebih sering dirumah ketimbang di luar" istri Kevin pun tersenyum hormat.
" Makasih ya Vin, kamu masih mau menjalin silaturahmi dengan kami, dan sekali lagi maaf!". Vini hanya mengedikkan bahunya memberi senyum datar.
Kevin pun pergi bersama dengan Lisa membawa koper berisi pakaiannya.
Lahar panas mengalir di dalam hati Vini. Begitu menyakitkan. Terasa lunglai kaki Vini menyaksikan belahan jiwanya kini jadi milik orang lain.
***
Masa iddah Vini telah berlalu. Seminggu lagi Ares dan Vini akan menikah. Entah bagaimana Ares meyakinkan orangtuanya sehingga mereka pun setuju walau sangat terpaksa mengambil kembali menantu yang telah di buang. Vini pun tak habis fikir, sekaligus kagum dengan kegigihan Ares. Namun hal itu bukan berarti orangtua Ares mau menemui Vini.
Kevin datang menemui Vini. Dengan wajah sendu.
"Vin kenapa kamu lakuin ini?"
" apa maksud kamu Bang?"
"Aku gak melarang kamu menikah lagi, tapi kenapa harus Ares,"
"Udahlah Bang, seharusnya ini gak perlu kita bahas,"
"Aku masih cinta sama kamu Vin"
"Ya, aku tau itu Bang, tapi aku nggak berarti apa-apa di banding orangtua kamu, buktinya kamu nggak bisa bela aku di depan orangtua kamu, tapi Ares mampu lakuin itu" Kevin hanya menunduk karna hal itu adalah benar.
"Paling tidak Ares tak munafik dengan perasaannya Bang gak seperti kamu"
"Tega kamu Vin," Luruh air mata Kevin, mungkin cinta untuk Vini masih dalam tertancap hatinya.
"Siapa yang lebih tega Bang, siapa yang ingkar" Vini pun tak mampu menahan bendungan di kelopak matanya.
Dengan langkah gontai Kevin pun pergi. Rasa sakit yang dulu ia berikan pada Vini, kini ia rasakan juga.
__ADS_1