BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
Ribet bangeett


__ADS_3

Tengah malam Ares masih saja berkutat dengan rujak kesukaannya baru-baru ini, seperti biasa dia belum bisa tidur jika belum melakukan ritual itu. Vini sudah tertidur pulas, seharian tadi dia sama sekali tak keluar rumah, sedangkan Ares memutus kan untuk tidak masuk bengkel hari itu.


Cukup menguras tenaga menuruti keinginan istrinya yang kadang tak masuk akal. Sehari saja Ares di suruh mandi 5 sampai 6 kali, Vini bilang keringatnya bau, walau berjauhan masih tetap saja masih tercium olehnya. bahkan di lain ruangan pun masih tercium cecar Vini, pertama Ares mandi di pagi hari, wangi sabun yang biasa Ares gunakan membuat Vini muntah, kemudian Ares mandi kembali lantaran Vini mengomel dan sesekali muntah, Karena merasa iba ia pun menurut, Vini memberi kan sabun cair berwarna hijau, hanya itu yang ramah bagi hidung Vini.


"Vin, kamu pikir aku panci, kamu suruh mandi peke sabun beginian.?" Ares memegang sabun pemberian Vini dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari. melihat tak percaya sabun cuci piring yang harus ia gunakan untuk membersihkan badannya, akan seperti apa kulitnya setelah ini.


"cuma sampai aku bisa lagi cium bau wangi sabun kamu Res, ini aja dulu, cuma itu yang baunya seger" Ares mendengkus pasrah.


Setelah selesai mandi yang ke dua kalinya, dia mendekatkan tangannya pada hidung Vini,


"coba nih bau apa nggak?"


"Hemmm seger ini Res, enak baunya,"


"enak dari mananya,? kulitku rasanya kering banget ni Vin," Ares segera mengambil lotion yang ada di meja rias Vini, dan memakainya keseluruh tubuhnya.


"Areesss.... kamu pake apa lagi, bau banget... aku mual.."


"Ampun.... masa aku harus mandi lagi sih..." Ares menepok jidat kesal.


Dan kejadian itu terulang di sore harinya,. lantaran Ares lupa menyemprotkan parfum karena sudah menjadi kebiasaan, dan belum terbiasa dengan aturan Vini selagi nyidam ini.


"Heran, kemaren waktu belum tahu kalo lagi hamil gak begitu amat sama bau-bauan dan semacamnya, aku gak ngerti kenapa bisa kaya gitu sih Vin"


"Aku juga gak tau lah Res, tiba-tiba aja gak suka sama apa-apa yang dulunya aku suka"


****


Pagi ini Ares memutuskan untuk berangkat kerja, setelah di yakinkan oleh Vini bahwa dia baik-baik saja.


Vini yang tiba-tiba tak suka bau badan Ares, lebih baik jika Ares kerja saja.


"Kamu gak mandi dulu Res," Ares yang belum mandi telah siap memasang jaketnya.


"udah aku jamak kemaren mandinya Vin" Ares mencari alasan, dari pada harus mandi dengan cairan cuci piring, lebih baik ia mandi nanti di bengkelnya.


"Nanti mau aku bawain apa Vin" Ares mencium kening Vini saat hendak berangkat. Vini manut, meski sambil menutup hidungnya.


"Ntar aja aku telepon, sekarang lagi belom pingin apa-apa"

__ADS_1


"Oke, jaga diri dan anak kita baik-baik ya cintaku"


Setelah tak nampak lagi mobil Ares dari pandangan barulah Vini masuk kerumah.


Entah sejak kapan Lisa berdiri di samping rumah Vini, Vini tak tau, ia baru sadar setelah hendak masuk rumah. Kemungkinan ia mendengar percakapannya dengan Ares tadi.


"Jadi berita itu bener ya Vin, kamu hamil?" tanpa basa-basi Lisa langsung bertanya pada Vini.


"Alhamdulillah Mbak Lisa, ayo masuk Mbak, di luar meski sepagi ini cuaca sangat panas" Vini mempersilahkan Lisa duduk di teras.


"Berarti apa yang ayah tuduhkan selama ini salah Vin, kalo kamu bisa hamil, berarti selama ini yang bermasalah adalah Kevin, bukan kamu"


" Belum tentu juga Mbak, mengingat diagnosa dokter padaku dulu, Tak lantas kita sebagai orang awam langsung menyimpulkan bahwa Kevin yang mandul"


"Semua mungkin sudah suratan tanganku dan Kevin hanya ditakdirkan sebagai ipar, mungkin memang aku dan Kevin tak berjodoh sehingga harus seperti ini"


"tapi buktinya Vin, kamu tau sendiri sampai saat ini aku belum juga hamil, Aku takut akan bernasib sama seperti kamu dulu, jika ayah sampai mendengar berita kehamilanmu, sudah pasti ayah akan semakin memojokkan aku dan juga Kevin, atau bahkan dia akan bertindak lebih"


Vini tampak memijit kepalanya, dalam hati ia membenarkan kata Lisa, jika Ayahnya tau kalau dirinya hamil, entah apa reaksinya pada Kevin dan Lisa. Mengingat sifat keras kepala ayah Kevin, bukan hal mustahil baginya memisahkan lagi Kevin dan Lisa.


"Sebaiknya kita rahasiakan sementara kabar ini Mbak"


"nanti aku coba pikirkan sama Ares gimana solusinya ya mbak"


Lisa memejamkan mata menarik nafas dan mengeluarkannya. berharap menemukan jalan keluar. Tak lama Lisa dan Vini mengobrol Lisa pamit karena ada urusan katanya.


****


Vini baru saja ingat bahwa perutnya belum terisi sama sekali, setelah Lisa pulang kembali perutnya seperti bersalto isinya saling bertabrakan satu sama lain. Ia melarang Ares memasak karena tak tahan baunya, membaui Ares masak saja tak sanggup, apalagi masak sendiri. Nyerah.


Ia memutuskan untuk memesan secara online saja, tak tega jika harus merepotkan Ares, sejak kemarin Ares sudah di pusingkan dengan tingkahnya yang menurutnya juga aneh. biar bagaimanapun bayi di perutnya perlu nutrisi, dia harus mencoba makan.


Belum saja memesan, seorang kurir telah datang mengantar makanan.


"Mbak mau antar pesanan, kepada Mbak Vini bukan?"


"Betul mas, tapi saya gak pesen makanan, ini baru mau pesen"


"saya cuma di suruh antar Mbak"

__ADS_1


"Dari siapa mas?


"Dari Ares mbak, Foto dulu ya mbak,"


"oh, ya udah, makasih ya mas" Dalam hati Vini mbatin tau aja keinginan istrinya.


Ia pun segera masuk dan membuka kiriman itu. Seporsi ayam geprek terhidang di depannya. dalam sekejap berpindah ke perutnya separuh. Lahap.


Sambil mengelus perutnya yang rata. ia bergumam, "pinter ni anak, makan banyak gak mual ya nak"


Setiap hari kurir selalu mengantarkan berbagai makanan yang berbeda-beda, selalu di makan Oleh Vini semuanya, tanpa sisa.


Sore hari nya Ares pulang pun selalu membawa makanan, namun Vini tak pernah memakan makanan yang Ares bawa, bahkan dia mual sebelum membuka makanan itu.


"Aku gak suka ini, Res besok gak usah bawa lagi kalo aku gak minta ya"


" terus kamu makan apa kalo ini gak mau makan"


"Tadi pagi yang di antar kurir sih doyan, tapi ini kok mual aku ciumnya"


"Oh, ya udah besok aku kirim lewat kurir aja makan siang buat kamu"


"Lah setiap pagi kan emang kamu selalu kirim makanan buat aku Res, itu udah cukup"


"Setiap pagi?" Ares tak merasa mengirim makanan pada Vini,


Vini hanya mengannguk,.


"Aku tak pernah kirim kamu makanan Vin"


"tapi kurirnya bilang itu dari kamu kok" Vini mengedikkan bahu gak mengerti.


"Aku pikir, itu kamu sendiri yang pesan, kemarin sempat akan mau pesan kan, tapi waktu sore hari aku pulang, kelihatannya ada bekas makanan. jadi aku gak pesanin besoknya, kan kamu yang tau keinginan kamu sendiri, aku pesenin takut gak sesuai keinginan kamu, kaya gini nih, mubazir kan udah kebeli tapi gak mau kamunya."


"Siapa yang ngirim dong?"


"Besok gak usah diterima ya Vin, aku takut kalo ada sesuatu"


"oke, tapi siapa yang kirim ya Res?"

__ADS_1


__ADS_2