
Tanpa pikir panjang Ares segera mendatangi rumah Kevin.
"Kevin, keluar kamu pengecut" tanpa basa-basi Ares menggedor pintu rumah Kevin. Tak lama pintu di buka oleh Lisa.
"Lisa, mana suami mu yang kurang ajar itu?"
"Ada apa Res malam-malam teriak-teriak, Kevin belum pulang, emang ada apa?
"Tanyakan sendiri pada suamimu, yang kurang kerjaan itu."
"Apa yang harus aku tanyakan sedangkan duduk permasalahannya aku tak tau"
Mobil Kevin berhenti di depan rumahnya, dari posisi duduknya terlihat Ares segera berlari menuju ke arahnya di ikuti Lisa yang sedikit berlari mengejar Ares.
"Res, bicarakan apa masalahnya dulu jangan emosi gitu" Lisa takut terjadi kekerasan seperti yang sudah-sudah, mencoba mendinginkan kepala Ares sebisanya.
Kevin keluar dari mobil, baru saja menutup pintu mobil, tangan Ares telah mencengkram kerah baju Kevin hingga Kevin sedikit terangkat.
"Apa-apaan ini Res?" Kevin mencoba melepas cengkraman adiknya namun gagal, dari postur tubuh dia lebih kecil dan lebih pendek dari Ares, tenaga di pastikan orang yang sedang emosi seperti ada kekuatan lebih, karena seperti ada yang membantu, setan mungkin.
"Perlu aku ngomong biar kamu paham, apa kamu emang udah putus urat saraf ke otak jadi begonya gak ketulungan. apa maksud kamu ngirim makanan setiap hari kerumah hah?"
"Ngirim makanan?" Kevin melirik Lisa sejenak. "wajar dong kalau kita tetangga saling kirim makanan, lagian kita ini sodara, saling kirim makanan tu hal wajar, ya kan Lisa" Lisa hanya diam saja tak mengerti apa yang di bicarakan Kevin.
"Lalu kenapa harus pura-pura aku yang kirim? kamu mau mencoba merendahkan ku di hadapan istriku?"
__ADS_1
" Hei Res, aku gak sepengecut itu buat pura-pura jadi kamu agar Vini kembali sama aku, aku tak pernah mengirim makanan atas nama kamu pada Vini, mana bukti atas tuduhan kamu? kalau aku mau, aku bisa saja memberikannya langsung pada Vini, aku sedang berusaha menerima kenyataan, bahwa Vini bukan milikku sekarang, tapi kamu malah nunjukin sama aku bahwa kamu bukan orang yang tepat buat Vini, sampai perhatian ke Vini aja bisa di ambil alih oleh orang, kemana aja kamu sebagai suami?" Kevin melepaskan cengkrama tangan Ares yang sedikit melonggar.
"Kenapa kamu malah balik nuduh aku gak perhatian sama Vini, maksud kamu apa? apa urusan kamu mengomentari kehidupan aku sama Vini hah" Ares menunjuk wajah kakaknya geram.
"Ya iya lah, istri kamu sedang butuh perhatian lebih, justru perhatian itu ia dapatkan dari orang lain, koreksi diri sendiri dulu sebelum menuduh jangan langsung main menyalahkan saja, apalagi menuduh yang hal aneh, apa semacamnya lah Res"Kevin berlalu meninggalkan Ares yang terbakar emosi. Tangannya mengepal erat.
"Kevin, kalau sampai aku punya bukti kamu yang mengirim makanan buat Vini, kamu akan tau akibatnya" Ares pergi begitu saja, Kevin pun terlihat tak menggubris perkataan adiknya.
****
Ares baru saja selesai membersihkan diri hendak tidur, semenjak dari rumah Kevin tadi lama berpikir antara yakin dan ragu bahwa Kevin si pengirim makanan pada Vini, hingga ia putuskan akan menyelidiki saja, percuma jika menuduh orang yang tak mungkin akan mengaku begitu saja tanpa bukti.
Vini yang sudah berada di ranjang dengan pakaian mininya, membuat Ares menelan salivanya berkali-kali.
Berdesir hati Ares melihatnya, seminggu ini Vini yg tak pernah mau tidur bersama lantaran tak suka bau badannya, ditambah lagi larangan dokter kandungan agar tak terlalu sering berhubungan menjadi senjata Vini untuk menolaknya secara halus.
"Vin, tak bisakah aku mendapatkannya malam ini, sekali saja pun tak apa, aku janji gak minta nambah deh, pelan-pelan aja ya, bisa ya"
" Res, jarak segini aja bau kamu udah memporak porandakan isi perutku, gimana kalau makin dekat, kamu mau aku muntah sepanjang malam, oeeekkk" lagi Vini muntah berada di dekat Ares.
Lagi-lagi Ares harus menelan kekecewaan dari tingkah aneh istrinya. Ia memilih tidur di luar kamar daripada harus terus tersiksa. Pernah ia mencoba mendekati Vini saat sudah tertidur pulas seperti kebiasaannya dulu, namun berujung Vini tak tidur semalaman lantaran muntah terus sampai menjelang pagi.
Ia harus lebih melapangkan kesabarannya menanti istrinya kembali normal.
"Vin, masa aku harus nunggu anak kita lahir baru bisa memanjakan si Otong, ntar dia ngambek lagi Vin" Bantal guling yang di bawanya di ajak bicara oleh Ares.
__ADS_1
"Kamu gak kasian sama aku Vin, si Otong ngambek nih" Masih saja Ares berbicara pada bantal dalam pelukannya.
****
Pagi ini Ares sengaja tak masuk kerja, ia ingin mencari bukti, keyakinannya Kevin lah yang telah mengirimkan makanan kepada istrinya. Ia sangat yakin Kevin yang sengaja mengirim makanan itu, siapa lagi kalau bukan dirinya, yang masih saja mau kembali sama Vini, padahal sudah jelas Vini menolak.
"Main halus kamu Kevin" Ucap Ares dalam hati.
"Jam berapa biasanya kurirnya antar makanan Vin?" Vini yang sedang mengupas mangga berhenti, memutar matanya mengingat ingat. Posisi mereka berjauhan karena Vini tak suka berada di dekat Ares, Ares duduk di teras sedangkan Vini duduk di ruang tamu, jadi bicara Ares sedikit keras. Vini tak mau dekat -dekat dengan Ares.
Ares yang baru datang membawa dua porsi ayam geprek dan di berikan pada Vini satu, hanya tangannya yang mengulur ke dalam. Baru saja mencium aroma dari makanannya ia meminta Ares meletakkannya di meja. agak jauh dari tempatnya duduk, kemudian Vini segera menghirup aroma mangga untuk menetralisir mualnya tadi. Ares menarik nafas menahan kecewa. Ia pun masuk dan meletakkannya di meja agak kasar.
"seharusnya udah datang jam segini Res, setiap kamu sudah pergi kerja, kira-kira kamu sampai bengkel lah, Pesanan itu datang" tangannya memegang pisau dan menusukkan ke mangga yang baru di kupasnya, memasukkan ke mulutnya kemudian.
Bahkan Vini pun sudah hafal jadwal kiriman itu datang, ada rasa cemburu mengusik hatinya hingga menimbulkan percikan api.
"Apa kamu gak ngerasa aneh setiap kali makan makanan itu, ada gejala mual atau apa gitu?"
"Enggak, aku suka makanan itu, pasti selalu aku habiskan Res, sedangkan makanan yang kamu beli ini, gak tau kenapa aku tak suka " Vini melirik pesanan Ares yang masih utuh di meja, dia lebih memilih memakan buah karena sudah mual terlebih dahulu melihat makanan yang Ares pesan.
Semakin Membara api cemburu di hatinya, mendengar Vini dengan lantang lebih menyukai makanan kiriman yang di duga dari Kevin itu di banding makanan yang di beli olehnya. Bahkan Ares rela menempuh jarak jauh demi membeli makanan itu di kedai yang sama dengan yang Vini makan kemarin.
"Vin, salahku apa makanan yang aku pesan tak suka, aroma tubuhku tak suka, terus aku harus gimana? pergi dari sini?" tiba-tiba saja emosi Ares meluap. Dadanya naik turun.
"Apa kamu ingin, Kevin yang memesan makanan buat kamu biar kamu mau makan, itu yang kamu harapkan iya kan, apa bedanya sih, aku pesan makanan yang sama dengan yang kamu makan tempo hari" segera Ares mengambil Kunci mobil dan pergi begitu saja. Rencananya ingin tau siapa si pengirim itu menguap bersama emosi di dalam hatinya.
__ADS_1
Vini yang tak menyangka Ares akan semarah itu terdiam. Mangga yang di dalam mulutnya ia telan terasa susah sekali melewati tenggorokan segera ia letakkan di atas piring dimeja yang berada di hadapannya. Bulir bening menetes begitu saja melihat Ares pergi tanpa bicara.
.