BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
Vin aku iri.


__ADS_3

"Ayo masuk Vini, Ares" Istri dari Ayahnya Vini mempersilahkan masuk.


Vini pun menyalami ibu tirinya takzim begitu juga Ares.


"Iya Tante makasih, Ayah belum pulang dari kantor ya ?" Vini pun masuk kedalam rumah itu di ikuti oleh Ares.


"Ayah hari ini gak masuk kantor, katanya mau nungguin kamu sama Ares mau datang" Tak lama Ayah Vini pun muncul. "Nah itu nongol yang di cariin, mama ke dalam dulu ya Vin" Vini hanya tersenyum menanggapi ibu tirinya. Kadang Vini berpikir, sebenarnya ibu tirinya tidaklah jahat seperti cerita-cerita yang sering tayang di sinetron, namun hatinya masih belum bisa terima ibunya di gantikan oleh orang lain, meski hal itu telah bertahun silam, baginya tak ada yang bisa menggantikan ibu kandungnya, meski begitu Vini memahami ayahnya, seiring berjalannya waktu, tak mungkin ayahnya terus-terusan bersahabat dengan statusnya sebagai single parent selamanya. Dia pun butuh ada yang mengurus segala kebutuhan dirinya. Meski saat tau ayahnya akan menikah lagi, perasaannya sangat hancur, tak rela memiliki ibu tiri, Vini sadar saat itu Ia masih kecil, pikirannya masih belum tau tentang orang dewasa.


"Ares, Vini udah lama ya datangnya?"


"Ehmm baru aja yah, Ayah apa kabar" Ares menyambut uluran tangan ayah mertuanya, Merasa ada yang aneh, mengapa justru mertuanya yang lebih dulu menyalami Ares salah tingkah sendiri, garuk-garuk kepala yang tak gatal.


Vini hanya menggeleng melihat kekonyolan suaminya, tapi ayah Vini adalah lelaki yang super santai. ia tak menganggap tabu kelakuan menantunya itu. Terlebih sebumnya mereka saling kenal lumayan akrab. ia hanya tersenyum.


"Anak Ayah sehat?" Rudi merentangkan tangannya menunggu Vini menyambut pelukannya.


Vini pun menghambur ke pelukan sang Ayah. Seperti anak kecil dengan manja Vini menyambut sang Ayah.


"Sekarang jangan hanya tanyakan anak Ayah, tanya kan juga yang di sini yah, calon cucu Ayah" Wajah Rudi berbinar mendengar penuturan sang anak.


"Ayah tak salah dengar nak?" Rudi melirik Ares dan Vini bergantian


Vini menggeleng.


"Wah,, menantuku Joss sekali" Rudi menampol pundak Ares hingga Ares sedikit terkejut, namun di tutupi dengan senyuman yang terkesan sedikit membanggakan dirinya.


Ada sedikit rasa iri di dalam hatinya dengan kehangatan Ayahnya pada Vini, meski ayahnya sangat sibuk mengurusi perusahaannya, namun seorang ayah tetaplah menjadikan anaknya princess, berbanding terbalik dengan dirinya. Ayahnya sendiri tak pernah menganggapnya ada.


Jangankan di beri perhatian, hanya sekedar di pandang penuh dengan rasa sayang saja, Ares tak pernah merasakan sensasi emosinya mendapat asupan imun dari rasa dilindungi, disayangi, disemangati. Ah, begitu mirisnya hidupnya selama ini.


Apasih yang bisa menentramkan hati kalau bukan kehangatan keluarga, tempat seharusnya mencari ketenangan dari segala kekacauan di luar rumah, tempat melepas penat saat lelah menjadi teman dalam diri. Keluarga yang menyambut hangat kepulangan kita dari manapun kita pergi. Keluarga yang senantiasa mendukung ketika kita terpuruk, Apapun posisi kita salah atau benar, keluarga selalu membela. Dan itu semua tak di miliki Ares.


Selama mengenal Vini sebagai sahabatnya dulu, Vini seperti anak yang kurang perhatian orang tuanya, ternyata Ayahnya begitu sayang, mungkin karena ayahnya sibuk dengan pekerjaannya. Dan dia masih kurang nyaman dengan ibu sambungnya yang terkesan tak begitu akrab dengan Vini.


Tapi Ares bersyukur, bagaimanapun Allah tak pernah membiarkan hambanya begitu saja, ibarat tak ada rotan akar pun jadi, Ia pun begitu, Tak ada keluarga yang mendukungnya teman-temannya selalu ada untuknya, bersyukur pun tetap ia panjatkan, ia di temukan dengan teman yang jauh dari prilaku-prilaku yang menyimpang.


"Malam ini Ayah minta kalian tidur di sini ya kalo bisa seminggu atau sebulan, Vini kamar kamu udah kangen tuh sama kamu, masa dari setelah nikah bahkan sampai menghasilkan calon bayi baru hari ini kalian sempatkan diri bertandang, itupun lantaran ayah minta, kalian keterlaluan, kalian pikir kalian cuma hidup dua batang kata saja, nih lihat keluarga kamu yang rindu"


"Iya, maaf yah,, Ayah aja yang terlalu sibuk, habis Vini nikah aja ayah langsung keluar kota lama, heemm mungkin tiga hari ini yah kami nginap kalo kelamaan ntar bengkel Ares gak ada yang kontrol" Ayahnya hanya terkekeh mendengar protes Vini.

__ADS_1


"Yaa gak apa, yang penting nginap, Ayah udah senang walaupun cuma tiga hari, kapan-kapan ayah kesana lagi kalo kangen lagi"


Makan malam telah terhidang di meja. Ketika makan, mereka tak banyak bersuara hanya sesekali terdengar klentingan akibat gesekan benda alat makan. Mereka makan berlima, Kedua orang tua Vini, adik Vini, Ares dan Vini. Hanya saling pandang satu sama lain saat mereka makan, dan saling tersenyum saat bertemu tatap.


Setelah selesai makan, mereka berpindah tempat keruang tengah kecuali adik tiri Vini yang memilih masuk kamar lebih dulu, mereka saling bertukar cerita perihal apapun hingga malam hampir larut. Vini sudah mulai ngantuk, dan ia berniat pergi ke kamar, Ibu tirinya sudah lebih dulu masuk kamar beberapa menit yang lalu, tinggallah berdua Rudi dan Ares.


"Kamu Res, tolong jagain Vini sepenuh hati ya, jangan bikin anakku nangis, gak bagus orang hamil keseringan nangis, kamu harus jadi suami SIAGA buat Vini.


"Aku kuat dong jadi SIAGA, 'Siap Angkat GApura' gitu kan maksud ayah, Ares menggoda mertuanya sehingga menimbulkan pelebaran pada mata sang Ayah mertua, tapi sejenak lalu tertawa setelah sadar bahwa Ares hanya bercanda"


"Hampir aja kamu aku tampol kalo gak bisa SIAGA Res, jangan cuma enaknya aja kamu mau, sakitnya anak aku yang nanggung sendiri, bisa ku pecat kamu jadi menantu"


"Menantu emang bisa di pecat apa Yah,, aku kaya karyawan pabrik aja bisa di pecat gitu hahaha"


"Pabrik apaan?"


"Pabrik Bayi"


"Hahahaha,," Keduanya tertawa lepas, seperti dua teman yang sedang bersenda gurau tanpa canggung.


Hingga larut malam kedua ayah menantu itu asyik bergurau dengan banyak topik menarikpp. , hingga tak tau kapan mulai mengantuk, tanpa sadar mereka pun tertidur di ruang tengah sampai pagi.


***


Di perjalanan pulang Vini minta berhenti di sebuah kafe, Ares pun menurutinya seperti pesan Ayah mertuanya semalam, dia harus bisa mengikuti segala keinginan istrinya, seaneh apapun itu, tapi kalau cuma makan di kafe, itu bukan hal aneh baginya, Its oke, dengan senang hati.


Ares dan Vini pun masuk dan segera menempati tempat kosong yang kebetulan hanya tinggal satu di pojokan, ramai pengunjung kafe itu, meski posisinya sedikit masuk gang.


Vini memilih posisi menghadap ke arah jalan, sedangkan Ares duduk di posisi yang bisa melihat ke sekeliling ruangan itu, sambil menunggu pesanan datang Vini menikmati pemandangan di hadapannya, terlihat kolam di tengah taman kecil di balik kaca dekat mereka duduk. Ares lebih memilih menyapu pandang ke sekeliling kafe, memperhatikan beberapa pengunjung. Sekelebat seperti melihat Kevin dan seorang wanita, tapi ia tak begitu yakin karena posisi lelaki yang di duga Kevin membelakangi posisi mereka. Sekilas lagi ia melihat wanita bersama Kevin itu adalah wanita yang ia kenal. Ares pun menajamkan pandangannya.


Ia semakin yakin bahwa orang itu adalah Kevin dan juga Gress, mantan pacarnya sebelum menikah dengan Vini. Ada urusan apa Gress dan juga Kevin bertemu, apa mereka ada hubungan spesial?, bukannya cemburu, tapi keadaannya Kevin itu punya istri, kenapa makan di kafe berdua, dan setau Ares mereka bukan partner kerja.


Malas Ares terlalu kepo dengan urusan Ares, ia pun tak menggubris dan mencari tau lebih lanjut, ia pun memutuskan untuk tak memberi tau pada Vini. Hingga puas apa yang di inginkan Vini terpenuhi semua, mereka memutuskan pulang, Kevin dan Gress sudah beranjak beberapa menit yang lalu, kemungkinan mereka masih berada diparkiran. Vini sama sekali tak melihat mereka.


"Ayo pulang Res, aku udah kenyang"


"Beneran udah, tunggu aku ngabisin kopi ini bentar ya sayang"


"Ya udah habisin cepet, tinggal dikit ini, ayo cepat"

__ADS_1


"Ares mencoba mengulur sedikit waktu, mencoba mengatur keadaan agar Vini tak bertemu dengan Kevin"


"Sabar bentar aja, kopi itu enaknya di sruput dikit-dikit, baru mantap"


Tak lama Ares menghabiskan sisa kopinya, dan segera pergi dari tempat itu setelah membayarnya.


Meski tak mencoba mencari tau, tetap saja ada rasa penasaran dalam hati Ares tentang Gress dan juga Kevin. Namun hanya dia simpan dalam hatinya.


***


"Buka pintunya Res, oh ya pagi ini mau langsung ke bengkel apa besok aja"


" Besok aja Vin"


"Eh Vini dari mana aja sih,, sekarang jarang banget di rumah,, Kan udah berhasil bercocok tanamnya, mbok ya anteng di rumah gitu, temenin saya ngobrol,"


Belum juga Ares dan Vini masuk rumah Leni datang tiba-tiba. Ares segera masuk lebih dulu meninggalkan mereka berdua, membawa beberapa barang bawaan dari Rudi.


"Aku masuk dulu ya Vin" Vini mengangguk mengiyakan.


"Ehmm anu Mbak, baru pulang dari rumahnya Ayah, kan udah lama gak kesana, jadi nginep agak lama" Vini menjawab dengan ramah.


"Eh, Vin semenjak kamu hamil, keluarga mantan suami kamu kayaknya makin berantakan ya,, mantan suami kamu sering pulang sampai larut, dan tak jarang mereka bertengkar"


"Mbak tau dari mana, kok kaya detektif aja" Vini menjawab dengan sedikit heran.


"Ehhm,, kadang gak sengaja denger Mbak Vin, pasti mantan suami kamu itu frustasi banget ya udah ninggalin kamu gitu aja dulu"


"Mbak masalah itu, mungkin memang aku dan Kevin tak berjodoh, jadi gak usah lagi bahas masalah Kevin ke aku Mbak, biar aku tenang menjalani kehidupan aku sama Ares"


"Iya si Vin, tapi kan kasian juga istrinya Kevin"


"Udahlah Mbak, doain aja semoga mereka baik-baik aja, pertengkaran dalam rumah tangga itu hal biasa, kita sebagai tetangga sebaiknya gak usah ikut campur urusan mereka Mbak"


"Hmmm ya udah Mbak pulang dulu ya Vin, mau masak buat anak-anak"


"Oh iya Mbak, aku juga mau masuk, capek banget ini pengen rebahan"


Vini pun masuk rumah, meski mencoba tak mau ikut campur urusan Kevin, tapi berita dari Leni cukup membuat Vini kepikiran.

__ADS_1


Ares masih merenung mengingat apa yang Ia lihat tadi di Kafe, lebih lagi ia tak sengaja mendengar obrolan tetangganya. banyak terkaan pada Kevin. Ada hubungan apa Kevin dengan Gress, apakah Kevin selingkuh dengan Gress, dan masih banyak hal lain memenuhi pikiran Ares.


__ADS_2