BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
Modus apa serius


__ADS_3

Lisa duduk di ranjang di sebelah Kevin, keadaannya sangat memprihatinkan, sejak makan siang tadi sampai sekarang dia tak mau makan lagi, rambutnya acak-acakan seperti orang mabuk, padahal dia hanya meminum minuman bersoda tapi botol jumbo, melihat suaminya frustasi begitu, ia pun merasa iba.


Di bukanya sepatu Kevin, lalu di angkat kakinya ke ranjang, dan menyandarkan tubuh Kevin ke bantal yang ia susun agak tinggi. Ia pun duduk di pinggir ranjang itu. Kemudian ia masuk ke kamar mandi dan kembali membawa wadah berisi air, membuka laci mencari sapu tangan dan menyeka wajah Kevin dengan air yang di bawanya. Kevin hanya pasrah.


Entah kenapa badannya begitu tak berdaya. hatinya begitu sakit. Penyesalan yang ia rasakan begitu menyiksa. Tak ada lagi harapan memiliki Vini, sehingga membuatnya seperti putus asa, hidup segan mati takut.


Lisa menarik kepala Kevin ke pundaknya tanpa Kevin menolak. Begitu lelaki jika rapuh, masih juga memerlukan pundak, tak hanya wanita.


"Nangis aja kalau itu bisa bikin kamu lega Vin," Lisa mengusap pundak Kevin seperti seorang yang sedang meredakan tangis anak kecil. pundak Kevin bergetar, namun tak ada suara.


"Bodohnya aku Lis, melepaskan orang yang aku cintai begitu saja, sekarang penyesalanku gak ada artinya" Suara Kevin sedikit tak jelas karena sambil menangis.


" Luapin semua yang ada di hati kamu Vin," Meski menitikkan air mata, Lisa tetap menguatkan Kevin. Kevin makin kencang menangis di pelukan Lisa.


"Huuuuu,,,,,,huuuuuu...." ternyata lelaki pun kalau terluka hati bisa tersedu juga nangis nya. Rapuh.


"sudahlah, sekarang tinggal kamu yang harus bisa moove on dari Vini, mungkin emang dia bukan jodoh kamu Vin" Vini mengelus punggung Kevin.


"kalau aku gak bodoh seharusnya masih milikku" Kevin mengangkat kepalanya dari pundak Lisa.


"Ya orang bodoh kan cocoknya sama orang bodoh Vin"


Kevin mengernyitkan alis mendengar kata Lisa. Matanya masih basah.


"Maksud kamu apa Lisa?" Kevin masih tak mengerti


"Kurang bodoh apa aku Vin, nuruti kamu ngejar-ngejar mantan istrinya biar kembali lagi sama kamu, sedangkan kamu itu suamiku. Fix kan kita sama-sama bego bin bodoh?" Lisa berhenti sejenak "Meski aku sakit, aku tetep aja ngikuti mau kamu"


"Dasar bodoh, kenapa kamu mau ngikuti mau aku Lisa,"


"Aku pingin kamu sadar dari kebodohanmu Vin, ternyata membuat orang bodoh sadar itu sakit"


"Maaf"

__ADS_1


"Gak perlu,, cepetan ganti baju, mandi sana"


Kevin pun menurut. Ia segera mandi. Lalu mereka pun terlelap.


***


Pagi itu Lisa baru memesan makanan di hotel itu, sedangkan Kevin masih saja tidur. Lisa pun heran pada suaminya tak biasanya Kevin bangun siang. Didekatinya Kevin dan menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh Kevin. Ternyata Kevin telah bangun namun tubuhnya kedinginan menggigil, wajahnya pucat. Lisa pun panik, apa yang harus ia lakukan.


"Loh Vin, kamu kenapa? badan kamu panas banget," Kevin tak menjawab hanya suara erangan kedinginan yang keluar dari mulutnya.


"Ayo lah ke dokter, demam tinggi kamu," Panik, Lisa ingin segera membawa Kevin kerumah sakit sekarang juga, ia lupa dimana mereka saat ini.


"Kamu kan gak bisa bawa mobil Lisa," suaranya masih terdengar terbata akibat gigilan dari tubuhnya.


Lisa menepuk jidatnya, benar yang di katakan suaminya, ia tak bisa nyetir, Bahkan meski dia punya mobil sendiri pemberian Ayahnya di waktu ultah, dia tak pernah tertarik belajar nyetir, hanya mengandalkan sopir saja, penyesalan sedikit melandanya.


" Ares" Satu nama Lisa hanya terpikir bahwa Ares yang bisa membantunya. segera ia menelpon Vini.


Mendengar nama itu, Kevin sedikit membuka matanya melirik Lisa.


"Ehm Vin maaf ganggu ya, aku mau minta tolong Ares buat nganterin Kevin ke dokter, Kevin panas tinggi" Suara Lisa terdengar serius dari sebrang telepon, sedikit kekhawatiran terbesit di benaknya.


Ya Vini khawatir dengan keadaan Kevin, wajarkah? manusiawi? ah entahlah, dalam hatinya tak pernah ada dendam pada mantan suaminya, mereka pisah secara baik-baik, bahkan karena terpaksa.


Vini masih terdiam terpaku di tempatnya ia berdiri.


*****


Ares sedang duduk di kursi yang menempel di ranjang ketika Vini mengelap rambut basahnya sambil mengangkat panggilan di ponselnya.


"Apa? Bang Kevin sakit?" Ares mengernyit mendengar Vini berbicara diponselnya dengan nada panik.


"Oh oke, aku sama Ares akan segera kesana. kalian nginep di hotel mana?" Wajah Ares makin murung mendengar Vini akan mengajaknya menemui Kevin.

__ADS_1


" oh ya, kita satu hotel? kamar nomor berapa?"


Ares melotot mendengar bahwa Kevin dan Lisa berada satu hotel mereka .


" Cepetan Res kita lihat Bang Kevin, dia sakit kamu harus anterin dia kerumah sakit sekarang juga" Vini terlihat mondar-mandir entah mencari apa.


"Sepanik itu Vin kamu denger Kevin sakit, padahal ada Lisa yang jagain," Ares cemburu melihat betapa istrinya masih care sama Kevin.


"Res, Bang Kevin tu suka step kalau panas tinggi gak cepet dibawa ke dokter" Asal Vini bicara dibalas tatapan aneh oleh Ares.


"Idih, kaya bayi aja, emang orang dewasa bisa step apa? eh Vin gausah panggil bang lah si Kevin itu, melilit jantungku denger kamu panggil dia Bang, tapi kalau di tambahi sat atau ke gak papa" Kesal saja Ares melihat perhatian Vini pada Kevin tanpa menjaga perasaannya. Bahkan panggilannya sangat mesra terdengar di telinga Ares.


"Bang*ke dong, ihhh kamu sodara sakit malah begitu" Vini menutup mulutnya merasa bersalah telah keceplosan.


"kalo dia gak tengil juga, aku gak bakal gitu," Kesal kembali di wajah Ares mengingat keresean yang di buat oleh kakaknya.


"ayo lah! atau aku yang anterin Bang Kevin ke rumah sakit" Ancam Vini pada Ares.


"Oooohhhh ngancem ni anak, baiklah, dari pada" Terpaksa mengalah setelah mendengar ancaman mengerikan dari Vini.


"Dari pada apa?" Vini terlihat bingung.


"Ntar Kevin cari kesempatan sama kamu"Ares manyun terpaksa menyetujui permintaan istrinya.


"Ada Lisa Res," tangan Vini tak bisa menahan untuk tak menjewer Ares, gemas dengan tingkah suaminya.


"Eh, sebelum berangkat kita main dulu yuk! aku pengen" kedua tangan Ares di angguk-anggukkan berhadapan.


"Main apa?" Melotot kesal terhadap Ares.


"Main tembak-tembakan biar aku yang nembakin kamu" Senyum nakal yang Ares berikan membuat Vini bereaksi tambah kesal namun wajahnya memerah, tak di sangka kebiasaan istrinya kambuh lagi.


"Main jewer-jeweran aja Res biar aku yang jewer kamu" sigap Vini menarik telinga Ares, hingga kepalanya ikut tertarik.

__ADS_1


"Aduh....... Sadis banget punya istri, baru seminggu jadi suami kamu telingaku nambah panjang ni Vin" Ares mengusap telinganya yang terasa panas, tapi ia masih


"Cepetan ganti baju!"


__ADS_2