
"Rujak, rujak" tulit tulit tulit bunyi tukang rujak lewat di depan bengkel, segera Ares menyuruh Edi memanggil tukang rujak keliling untuk berbelok.
"rujaknnya bang, lima" Ares memesan rujak di balas anggukan senang oleh sang penjual.
semua karyawan Ares saling pandang, dan saling mengedikkan bahu melihat tingkah aneh bosnya, tak biasanya Ares suka rujak.
"Seriusan Res kamu mau makan sendiri tuh rujak, kami baru aja pada makan gado-gado loh, masih kenyang" Edo menelan ludah ngilu melihat Ares dengan santai menyantap mangga yang masih berwarna putih nan renyah.
"Yeh, siapa yang nawarin kalian pada hah?"
Ares segera menyantap pesanannya sebelum yang pesanan lainnya selesai di packing.
"Nyidam kali dia Bang" Kang rujak nyeletuk menanggapi Edo.
"Emang bisa Bang pria nyidam?" Edo mengernyitkan alisnya tak percaya.
Ares yang sedang menikmati rujak nya berhenti mengunyah mendengar penuturan Kang Rujak. "Mana mungkin si Bang, nyidam tu bagian perempuan, aku cuma bagian infestasi aja" Ares kembali mengunyah menikmati rujak dengan bumbu kacang pedas itu, tak terasa dua porsi habis dalam sekejap.
"Eh bisa aja juga kok Res, dulu cerita emakku, bapakku yang ngidam waktu hamil adekku si Erni," Edi yang sedang mengisi angin pelanggan membenarkan kata Kang Rujak.
"Kalo itu bener sih aku seneng banget, sayangnya kata dokter, Vini.." Ares tak melanjutkan bicaranya.
"Kan baru kata dokter Res, Kalo Allah berkehendak ngasih kamu kepercayaan, gampang bagi Dia membuktikan bawha kata dokter salah" Edo yang sedikit banyak tau tentang Vini, mencoba memberi dukungan pada Ares.
Ares mengangguk, ia melanjutkan ritualnya makan Rujak "kalian pada gak kepingin apa, nih kalo mau mumpung masih disini penjualnya" semua pada menggeleng.
" Mereka pada gak mau bang" Tapi Kang Rujak masih saja berdiri melihat Ares menikmati rujak buatannya.
" Nungguin apa lagi bang udah cukup rujaknya Lima, teman aku gak pada mau, masih kenyang katanya"
__ADS_1
"Ehmm anu Bang, rujaknya belum di bayar"
Ares melongo di tengah mengunyah kedondong mendengar Kang Rujak disambut tawa lepas teman-temannya. Segera Ares merogoh kantongnya dan mengambil uang lembaran berwarna merah dan menyerahkannya pada Kang Rujak. Sebagai permintaan maaf tak di ambilnya kembaliannya, meski sebelumnya Kang Rujak menolak, akhirnya di terima juga, tak lupa ia ucapkan terima kasih lalu pergi.
***
Di rumah Kevin, Ayah dan ibunya yang menginap beberapa hari lalu berkemas hendak pulang, mungkin sebentar lagi setelah sarapan yang sedang Lisa persiapkan.
"Kamu beruntung menikah sama Lisa Vin, pintar masak, dan juga lembut, gak urakan seperti Vini" Ayah Kevin menyruput kopi hangat buatan Lisa,
"Yah, gak usah banding-bandingin Vini dengan siapapun, setiap orang punya kekurangan dan juga kelebihan" Sastro hanya menarik bibirnya kesal melihat Kevin membantahnya, seperti biasa ibunya hanya diam, dia sama sekali tak pernah membantah ataupun menyangkal pendapat suaminya, cenderung sangat patuh.
"Sekarang gimana? apakah ada tanda Lisa hamil Vin,? sudah empat bulan kalian menikah, seharusnya Lisa sudah mengandung anak kamu Vin, apa jangan-jangan kamu tak menyentuhnya sama sekali?"
"Selalu itu yang Ayah tanyakan, aku sudah berusaha semaksimal mungkin yah, tapi belum juga berhasil, aku bisa apa yah, jika memang belum berhasil"
"Ares juga anak Ayah kan, kenapa hanya Kevin yang ayah tekan?"
"Apa yang bisa diharapkan dari Ares yang menikahi perempuan mandul itu"
Kevin melirik ibunya yang menitikkan air mata menahan sesuatu, namun tak bisa mengucapkan apa-apa mendengar sang suami menyebut nama Ares. Dulu Ibunya adalah sosok wanita yang ceria, kini berubah menjadi pendiam, entah sejak kapan Kevin tak ingat.
"Lalu bagaimana jika ucapan ayah salah" nada suara Kevin meningkat menjadi emosi.
"salah bagaimana sudah jelas" Sastro tak kalah meninggi.
"Bagaimana jika keadaannya justru sebaliknya? aku yang tak bisa punya keturunan yah?" Kevin terlihat frustasi mengucapkannya.
"maksud kamu?" Sastro melebarkan matanya tak mengerti ucapan anak kesayangannya.
__ADS_1
"bisa saja yang di katakan dokter tentang Vini itu salah yah, bahkan bisa sebaliknya"
"itu tidak mungkin Vin"
"dokter juga manusia yah bukan Tuhan"
"Ah, sudahlah, tingkatkan saja usahamu, gak usah lagi bahas Ares dan Vini, ayah mau kamu segera punya anak titik."
Sastro sangat keras kepala, perkataannya adalah hal yang mutlak, sangat anti dia mendengar bantahan. Memiliki sifat yang sama dengan Ares membuat ayah anak itu semakin tak harmonis hubungannya.
****
Ares baru saja pulang, tak seperti biasanya, Vini tak menyambutnya di teras, Ares segera masuk mencari istrinya.
"Vin," Ares segera menuju ke dapur kalau-kalau ada Vini di sana, namun tak ada, motor masih ada ruang tengah, berarti dia tidak sedang pergi, Ares duduk di meja mekan dan menuang air digelas dari teko yang tersedia. Ares menuju ke kamar yang tak tertutup pintunya dengan sempurna.
"Vin" perlahan Ares membuka pintunya betapa terkejutnya Ares melihat Vini tak sadarkan diri tergeletak di lantai dekat ranjang.
"Ya ampun Vin, kok tiduran di lantai" Ares segera mendekat mengangkat kepala Vini menaruhnya di pahanya, menepuk-nepuk pipinya. Tak lama Ares memangku Vini, Vini membuka matanya perlahan, terlihat kebingungan.
"Lho Res, kamu udah pulang, sejak kapan?" Vini mencoba duduk sambil memegang kepala yang masih terasa sakit.
"Udah gak usah banyak bicara, kamu tidur kok di lantai, kenapa gak di atas? bikin panik aja"
"katanya gak boleh banyak bicara tapi pertanyaan kaya kereta api, aku gak tau kenapa bisa tidur di lantai, tadi kepalaku pusing, terus gak ingat apa-apa"
"Pusing? Ayo ke dokter sekarang juga," Ares segera menggendong Vini.
"Gak usah lah Res, ntar juga enakan, mungkin aku cuma kecapean, turunin aku!" Meski Vini menolak Ares tak mendengarkannya, tetap saja Ares membawa Vini ke mobil.
__ADS_1