
"Cuma pusing dikit aja, minum teh anget aja udah mendingan, ayo putar balik aja"
Ares tak lagi mendengar kan Vini yang kekeh tak mau periksa, ya karena pusingnya sebenarnya sudah sedikit berkurang.
"Udah Vin, kamu nurut aja, kita periksa kedokter, buat mastiin kamu baik-baik aja, jangan sepele, pusing dikit. Lebih jelasnya kita tanya dokter, nodebat"
Vini menggelembungkan pipinya pasrah, hingga sampai lah ke tempat yang mereka tuju.
Terpasang Baliho bertuliskan praktek dokter umum di pinggir jalan yang mereka lalui, disanalah Ares memeriksakan Vini.
"Menurut ciri-ciri dari gejala yang dialami saudari Vini, Kemungkinan saudari Vini tengah mengandung pak, untuk lebih jelasnya silahkan saja Bapak periksa ke dokter kandungan," Dokter cantik berkacamata itu bicara panjang lebar dihadapan Vini dan Ares dari sebrang meja yang memisahkan mereka, Vini dan Ares menanggapi nya sesekali menaik turunkan Alis tanda paham, namun masih sedikit ragu.
"Apa? maksud dokter Vini hamil? tapi.." Ares melongo tak percaya, namun takut untuk mengekspresikan kebahagiaan, karena dirinya belum begitu yakin, di tatapnya Vini dan juga dokter muda itu bergantian. Sedangkan Vini tak kalah heran dengan ucapan dokter di hadapannya, hanya melongo saja. Meski sebenarnya dia ingin melompat kegirangan.
"Untuk lebih jelasnya silahkan bawa istri Bapak ke dokter kandungan,"
"Ba baik, dok, kami akan segera memeriksakan istri saya ke dokter kandungan. sebelumnya terima kasih dokter" Ares dan Vini undur diri dari ruangan tersebut. Sampai di depan pintu ruangan itu mereka berhenti sejenak ingin meluapkan kegembiraan.
"Beneran gak si Res, coba sini kamu aku cubit," Vini segera mencubit telinga Ares keras, Ares pun mengaduh kesakitan.
"Aduh, Vini sakit, kita gak mimpi Vin, aku sudah gak sabar ingin kamu periksa ke dokter kandungan, buat mastiin" Kali ini ia senang di jewer, Ares menyatukan kesepuluh jari Vini dengan jarinya. Bahagia jika kabar yang akan di terima benar-benar apa yang mereka harapkan. Meski dalam hati masih ada perasaan was-was kalau-kalau diagnosa dokter salah, karena masih belum percaya sepenuhnya.
"Iya Res, secepatnya ayo periksa ke dokter kandungan, biar lebih yakin" Vini yang tadinya ogah-ogahan menjadi semangat memeriksakan keadaannya.
"Ehmmm, permisi boleh saya masuk" Lelaki paruh baya berdiri melipat tangan di dada menunggu Ares dan Vini yang masih di depan pintu ruangan dokter itu menghalangi pria itu masuk.
"Silahkan pak!" Ares dan Vini mundur selangkah masing-masing mempersilahkan pasien tersebut masuk seperti dua orang penjaga pintu yang menyuruh tamu masuk dengan tangannya, lalu pergi dengan senyum tertahan. Pria itu pun masuk dengan wajah kesal.
***
Ares dan Vini baru saja pulang, gurat kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. dengan hati-hati Ares menuntun Vini, pelan seperti menuntun anak kecil belum bisa berjalan. Sangat hati-hati.
Mereka baru saja memenuhi anjuran dari dokter sebelumnya agar memeriksakan kandungan pada ahlinya. Dan alangkah bahagia kedua pasutri itu dengan kabar yang mereka terima. Vini positif hamil. Tangis bahagia tak tertahankan mendengar hal itu.
__ADS_1
"Hati-hati ya jalannya Vin, mulai sekarang kamu gak usah ngapa-ngapain dirumah biar aku aja yang ngerjain tugas rumah, istirahat, dan kalau kamu pengen apa-apa, langsung ngomong sama aku, aku gak mau anak kita ileran"
"Ares, aku hamil, bukan sunat, kenapa kamu nuntun aku kaya nuntun orang sunat di film-film sih" Vini agak aneh di perlakukan seperti orang sakit oleh Ares, karena dia merasa sehat-sehat saja.
"Huss,, diem aja, kata orang kalo orang hamil itu rentan Vin, jadi harus ekstra hati-hati, aku gak mau kamu kecapean terus berefek pada kesehatan kandungan kamu loh"
"Iya, iya, tapi aku pun bisa kira-kira sendiri, gak segitunya, gak mungkin juga aku ngelakuin hal yang akan membahayakan"
" Kamu di bilangin ngeyel Vin, aku kayak gini karena aku takut kamu kenapa-napa, gimana sih kamu anggap sepele" Ares mendengkur kesal dengan sikap Vini yang baginya terkesan menyepelekan.
"Dih, sensi amat calon Bapak, lagi PMS yak?"
Ares mendudukkan Vini di kursi setelah mereka masuk. Ia pun ikut mendudukkan tubuh di sebelahnya kasar, masih terlihat gurat kekesalan di wajahnya.
"Kamu beneran kesel sama aku Res, Aku heran deh sama kamu Res, dari kemaren kamu jadi aneh banget, suka sekali makan buah yang asem, sekarang kamu sensitif banget, gampang ngambek, yang hamil aku Lo Res, masa sih kamu yang Ngidam,"
"Apa iya aku ngidam karena kamu lagi hamil Vin?"
"Tau lah Res, alah itu gak penting Res, yang terpenting kita harus bersyukur karena di beri kepercayaan ini" Tiba-tiba air mata Vini luruh, ini kali kedua, tadi saat dokter kandungan menyatakan bahwa dirinya positif hamil tangis haru pun tak tertahan kan, begitu lancar mengaanak di ujung mata bulatnya.
"Aku nangis karena bahagia Res, makasih Ya Allah" Vini pun tergugu dalam pelukan suaminya.
"Vin, Vini, ini punya kamu ya?" Leni tetangga Vini tiba-tiba datang membawa secarik kertas yang berlogo khas, lengkap beserta tespeknya. Ares dan Vini punsegera menemui nya di depan.
Ares segera merogoh saku bajunya mencari sesuatu. Nihil.
"Oh iya Mbak, kok bisa sama Mbak, dari mana Mbak dapet ini?" Ares mengingat-ingat, kapan ia menjatuhkannya, namun percuma.
"Tadi saya pulang belanja, waktu lihat Vini keluar dari mobil di bantu sama Mas Ares, saya lihat kertas ini jatuh dari kantong baju Mas Ares, ya udah saya ambil dan saya kembalikan, maaf ya gak sengaja kebaca tespeknya, tapi gak nyangka ya, ternyata Vini hamil, selamat ya ternyata kamu nggak mandul," dengan lembut seperti biasa Leni menceritakan kejadian dimana kertas itu di temukan.
Yang Vini heran, Leni bagaimana bisa tak sengaja membaca, sedangkan kertas beserta tespek itu berada di dalam sebuah amplop. Hmmmm.
"Oh,, iya Mbak Leni, terima kasih ya,"
__ADS_1
"Iya sama-sama Vin, jaga baik-baik kandungan kamu ya Vin, Mbak pamit dulu, mau masak, udah mau magrib, tapi Mbak belum masak nih." Leni segera pergi kerumahnya.
"Oh iya Mbak" Vini pun masuk kerumah diikuti oleh Ares, dan segera menutup pintu.
Vini menarik nafas dan melepasnya kasar, sudah di pastikan, kabar kehamilannya akan tersebar ke seluruh komplek , karena sang reporter handal telah menggenggam berita. Sebenarnya ia tak ingin memberi tahu siapapun dulu, tapi harapannya telah pupus begitu saja hanya karena secarik kertas ringan di tangan suaminya yang tercecer.
Sebenarnya bukan apa-apa berita itu tersebar, tapi dia tak ingin membuat Kevin dan Lisa tau, tapi ada juga baiknya mereka tau, karena bisa membuat Ayah mertuanya tak lagi salah menilainya. Ah, entahlah, entah apa yang di pikirkan Vini, bercampur aduk perasaannya kini.
"Kamu kenapa Vin, kaya ada sesuatu beban?"
Ares menangkap kegelisahan yang melanda Vini, Vini menggeleng.
****
Dugaan Vini tak meleset sedikitpun, pagi ini, atau bahkan mungkin sejak tadi malam berita telah tersebar lewat grup WA komplek tersebut, yang kebetulan Vini tak tergabung karena telah mengeluarkan diri sejak berita kemandulannya dahulu tersebar. Karena tak tahan dengan kejulidan para tetangganya.
Terlihat di simpang komplek, tempat biasa para ibu rumah tangga menunggu Kang sayur lewat, telah ramai sepagi ini pasti berita kehamilannya menjadi topik terhangat kali ini, Vini menebak demikian karena sesekali satu dua dari mereka tak lepas matanya melihat ke arah tempat tinggalnya. Tak terlihat Lisa di sana, sudahkah dia tau hal ini, terkadang agak ingin tahu juga tentang Kevin dan Lisa.
Vini mengintip dari balik jendela rumahnya di menempel di sofa memeluk punggung sofa itu.
Ares yang sedang sibuk di dapur memasak untuk sarapan, karena Ares melarang Vini melakukan pekerjaan apapun. Ares terbiasa masak sendiri saat di kost waktu sekolah, walaupun jarak rumah tak jauh dari sekolahnya, dia lebih memilih kost.
Sedang asyik mengintip para bidadari komplek berghibah ria, tercium aroma tumisan bawang dari arah dapur langsung terasa menusuk, hingga perutnya yang belum
terisi terasa hendak meluncur naik ke tenggorokan.
Segera Vini berlari menuju dapur melewati Ares yang sedang berkutat dengan spatula dan wajan masuk ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya, berupa air. Ares segera mengikuti Vini, setelah mematikan kompor terlebih dahulu.
Ares memijit-mijit leher bagian belakang Vini, guna meringankan sesak saat muntah, Vini membiarkannya, karena setelah lehernya di pijit agak enakan. Ares merasa iba juga, namun tak bisa berkata apa-apa. Hanya melakukan sebisanya dan setahunya saja.
Setelah di rasa tak lagi mual, Ares segera membuat teh hangat untuk Vini yang tadi di tuntun duduk di meja dapur. agar berkurang rasa mual, ilmu itu ia dapatkan setelah Googling berbagai cara menghadapi orang Ngidam.
"Kamu kenapa tiba-tiba muntah Vin,?
__ADS_1
"Bau bawang yang kamu tumis itu Res, aku gak suka, terus tangan kamu, sepertinya juga bau, begitu juga gelas teh ini masih bau, cuci tanganmu dulu baru bikin lagi tehnya, gak usah lanjutin masak!" Ares hanya mondar-mandir bingung apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, karena ceceran Vini. Hingga akhirnya di berhenti sejenak menarik nafas dan melepaskannya, dan memutuskan mencuci tangan terlebih dahulu, dan melanjutkan keinginan Vini yang lain.
Vini menyesap teh hangatnya, terasa sedikit berkurang mual di perutnya. Ares mengusap-usap punggungnya merasa kasihan.