
Vini mendekat ke dinding yang terpampang banyak foto di sana. matanya tertuju, pada beberapa foto.
Gambar yang berurutan itu seperti video. lantaran urutannya sangat pas, seperti sebuah cuplikan film pendek.
"dari mana kamu dapat foto itu Res," Vini mengernyitkan alisnya mengingat sesuatu. Merasa aneh, malu, entah apa lagi.
"Kenapa emangnya?kamu tau siapa gadis tengil dan dekil itu?" Ares menahan senyumnya melihat Vini kebingungan.
"Enak aja dekil" Vini melihat urutan foto itu, terlihat dirinya sedang memanjat pagar setinggi 2 meter, terjun bebas kebawah, berjalan setengah menunduk, dan memetik mangga beberapa buah lalu memasukkannya dalam kantong celana kodoknya sampai penuh hingga seperti orang hamil, yang paling tidak Vini suka, ekspresi wajahnya ketika kepergok Om Ferdi dia sedang memanjat pagar dengan perut buncit. masam.
"lah emang dekil, tu lihat" Ares mencibir, menunjuk foto di dinding itu.
"yang aku heran kapan kamu ngambil gambar itu Ares? sepertinya dulu kita gak pernah ketemu, meski aku dan Om Ferdi tetanggaan, tapi wajar sih, dengan anaknya aja aku gak akrab, bahkan tak pernah main bersama"
"Ya ketika kamu nyolong mangga tempat Om Ferdi Vin " Ares menjawab enteng sedangkan Vini bersemu merah wajahnya, menahan malu. Kejadian konyol waktu kecil adalah sebuah rahasia, namun tanpa sadar justru terekam apik oleh suaminya sendiri. Tanpa sengaja.
"Dulu aku sering main tempat Om Ferdi, bersama Risa dan Kevin demi bermain dengan Rini anak om Ferdi, diantar oleh ayah sebelum ke kantor, kemana-mana aku selalu membawa kamera, tadinya aku mengambil fotomu biar ingat wajahmu, karena ingin kasih kamu pelajaran, karena telah mencuri mangga milik Om Ferdi, tapi hari itu terakhir aku datang kerumah Om Ferdi, karena setelah kematian Risa ayah tak mau lagi mengantar ku"
"Sampe lupa aku mau kasih kamu pelajaran, eh keburu aku jatuh cinta duluan sama kamu ketika kenal kamu pas SMA" Ares mencubit pipi Vini gemas.
"wajahku itu terlalu imut jika harus diberi pelajaran Res,"
"mana ada cewek tomboy imut Vin,"
__ADS_1
"hemmm masa sih? jadi apa dong yang bikin kamu bisa suka sama aku?
"entahlah Vin, aku tak pernah menemukan alasan untuk mencintai kamu, yang jelas aku suka aja dari dulu sama kamu seorang Vini si Cewek tomboy, pemberani, rajin membolos, suka nongkrong bareng akud, tak pernah tergantikan, kadang aku merasa bodoh sendiri memikirkan diriku, kenapa bisa begitu bucin sama kamu, andaikan tak kudapatkan dirimu, mungkin akan selamanya ku nikmati kesendirianku ini sayangku"
"Ohh,,, so sweet sekali suamiku, kang rompis, kang gombal,, ah ,,andai ada pencarian bakat kang gombal, aku yakin kamu masuk nominasi dan bakal menang pasti kamu Res," Vini menepuk tangan menanggapi gombalan Ares.
"Oh Yaaa, tapi kamu suka kan di gombalin, makanya bisa luluh"
"Ehhmmm enggak sih,, aku gak semudah itu luluh karena gombalan kamu ya, gak mempan aku sama kata-kata manis, manis kaya tebu, terlalu lama di nikmati lama-lama menjadi hamabar"
"halahhh udah kek ahli bahasa aja bicaranya pake istilah, salah-sala kepleset memaknai istilah istilahan.
"eh Res, Katanya mau cerita soal adik kamu itu Res, ayo cerita"
"Aku dan Risa sangat suka bermain di sekitar kolam tak seperti Kevin yang hanya sibuk dengan bacaannya dia itu kutu buku. Kolam di belakang rumah tidak terlalu besar, di sekeliling kolam itu tersusun rapi batu-batu besar mengelilingi kolam di satu sisi kolam ada pohon menjorok ke kolam, tak jarang aku dan Risa memanjat pohon, Risa baru berusia 5 tahun saat itu, tapi sangat aktif sepertiku, dia tomboy kaya kamu" Ares menoel hidung Vini, Vini asyik mendengarkan cerita Ares sehingga dia diam saja.
"terus, apa lagi"
Ares menarik nafasnya berat. seperti ada beban di dadanya mengingat tragedi beberapa tahun silam, tragedi yang merubah haluan hidupnya.
"saat itu, aku sedang berlarian dengan Risa mengelilingi kolam, seperti biasa Ayah dan Ibu, juga Kevin duduk di teras, sebenarnya Ayah telah melarang ku berlarian lantaran rumput basah baru saja terkena hujan, Aku dan Risa sama keras kepala sehingga tak mengindahkan kata-katanya."
"Baru saja Ayah berhenti berbicara, Kaki Risa tergelincir, dia pun jatuh dalam posisi terjengkang hingga kepala bagian belakang membentur batu, tawaku tiba-tiba lenyap melihat Risa terjatuh, Risa kehilangan nyawanya sebelum sempat dibawa kerumah sakit" Bulir yang menetes di matanya segera ia tepis.
__ADS_1
" Sejak saat itu lah Ayah tak lagi mau menganggap ku ada, bicaranya tak lagi hangat padaku, emosinya tak terkontrol jika ada aku di dekatnya" bulir bening kembali menetes di pelupuk mata Ares, Vini segera memeluknya.
"Gak seharusnya Ayah menyalahkan kamu atas kematian Risa Res, ini semua takdir, kamu juga jangan menyalahkan diri"
"ini emang salah ku Vin, emang pantas Ayahku membenciku"
"Hubungan anak dan ayah tak mungkin bisa putus Res, dia tetap ayahmu, dan kamu tetaplah anaknya, kamu berhak mendapatkan kasih sayangnya, dan juga respeknya sebagai seorang Ayah"
"Aku telah gagal, menjaga adik perempuan ku satu-satunya Vin, tak pantas ayah memaafkan ku"
"Apa pernah kamu mencoba bicara pada Ayahmu, bahwa kamu juga berhak mendapatkan kasih sayangnya, bahwa kamu juga merasa kehilangan Risa?" Ares hanya menggeleng.
"Ayo lah Res, masalah yang tidak di selesaikan bukan akan selesai dengan sendirinya" Vini mencoba membujuk suaminya, barangkali bisa merubah sikap ayahnya selama ini jika Ares membicarakannya.
"Itu semua tak semudah yang kamu bicarakan Vin"
"Tak mudah merubah kebencian yang sudah tertanam lama menjadi kasih sayang, ayah sudah terlanjur membenciku, apa mungkin ada tersisa maafnya untukku, memaklumi perlakuanku yang sangat fatal, membuatnya kehilangan anak perempuan satu-satunya?"
"Tapi jika itu sudah takdir Res, kamu maupun ayahmu tak mungkin bisa merubahnya, yang sudah tertakdirkan itulah yang akan terjadi"
Ares terdiam. Hatinya merasakan perih mengingat kejadian silam yang sampai saat ini tak pernah ia bisa percaya, tak sejalan kenyataan dengan yang ada di fikirannya, fikirannya masih tak percaya adiknya telah tiada, dan belum percaya ayahnya membencinya, namun kenyataannya sangat berlawanan. Tak pernah di rasakan kasih sayang dari ayahnya. Sedangkan Ibunya, apa yang di katakan ayahnya adalah hal mutlak.
Terdengar dari luar Edo memanggil Ares. Ares pun segera keluar.
__ADS_1