BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
protes


__ADS_3

Kevin duduk di sofa, masih dengan pelipis yang berdarah, luka yang nampak tak separah luka yang menganga di dalam hatinya, merutuki kebodohannya, menyesali keegoisan ko orangtuanya, yang begitu mengatur segala yang ada pada dirinya. Menyesali diri mengapa tak mampu berbuat seperti adiknya. Andaikan dulu ia tak melepaskan Vini, mungkin saat ini tak begini yang terjadi.


Telah lebih Tiga bulan, menikah dengan Lisa tak ada tanda Lisa hamil. Padahal sebelum menikah, orangtuanya lebih dulu memeriksa Lisa, dan ia subur. Kevin semakin frustasi memikirkan Vini.


Meski Lisa bukanlah istri yang buruk, namun hatinya belum bisa menyingkirkan Vini. Belum berubah perasaannya pada Vini.


Apakah dulu salahnya menolak ajakan Vini periksa kedokter lain. Bisa saja yang di katakan kedua dokter keluarganya itu meleset. Kevin menepuk sebelah kepalanya, dan ia lupa kalau yang di pukul itu bekas tonjokan adiknya.


"Aduuhh," terlihat wajahnya semakin frustasi saja.


"udah tau sakit di tampol sendiri sih Vin" Lisa datang membawa kotak P3K, dan membersihkan darah yang hampir mengering, lalu memplaster luka itu setelah memberi cairan berwarna kecoklatan.


Kevin hanya diam tak menanggapi ucapan Lisa. Malah semakin teriris-iris hatinya. Mengingat dengan wanita ini terpaksa ia akan menjalani sisa hidupnya. Wanita yang tidak tak memiliki ruang di hatinya.


Lisa tau kalau Kevin belum mencintainya. Namun ia tak menyerah berusaha membuat ruang di hati Kevin untuknya meski hanya sedikit. Lisa rela banyak bertanya pada mantan istri suaminya meski harus mengesampingkan rasa cemburu dengan wanita yang di cintai suaminya, hanya demi agar Kevin bisa melihat cintanya yang tulus meski di dapatnya dengan paksa.


Dia selalu menanggung sakit, karena suaminya begitu mencintai Vini.


Walau sakit Lisa rela menahannya, kepahitan atas cinta tak berbalas di pendam sendiri. Inilah konsekuensi merebut paksa suami orang yang tidak mencintainya.


"Vin, gak seharusnya kamu ngelakuin itu pada mantan istrimu, yang kini menjadi adik ipar kamu"


Mendengar Lisa menasihati pikirannya melayang. Ia teringat kata-kata Vini 'inilah konsekuensi dari langkah yang kita pilih' dalam hatinya begitu bergejolak. Mengejar cinta yang telah ia buang sudah tak mungkin, karena cintanya kini telah milik orang lain.


Kevin pun pergi meninggalkan Lisa begitu saja tanpa satu kata pun. Air mata Lisa pun menetes menatap Kevin yang pergi begitu saja dari balik kaca tanpa peduli kata-katanya. Terdengar deru mobil Kevin yang di gas kencang oleh sang pengemudi.


Didalam mobil berkali-kali Kevin mengusap wajahnya kasar. Tak jarang ia berteriak kesal mengumpat apapun yang menurutnya tak disukai. Tak seperti biasanya ia begitu, mungkin karena hatinya sedang tidak baik-baik saja. Hingga ia sampai kantor, satpamnya hanya terlambat membuka gerbang saja tak luput dari amarah Kevin.

__ADS_1


Kevin berjalan menuju gedung berlantai tiga itu, dan telah di sambut oleh sekretarisnya dengan membawa beberapa map.


"Maaf pak Kevin, beberapa berkas harus di revisi ulang, Pak Dirut menolak semua berkas yang kita kerjakan kemarin" Viona menyodorkan tumpukan map yang tadi ia pegang kepada Kevin. Kevin tampak tak perduli ia berjalan menuju ruangannya diikuti sekretarisnya.


"Letakkan saja di meja" Dengan malas Kevin menjawab sekretarisnya.


"Apakah Bapak sakit, kok mukanya lesu?


atau bapak terlalu banyak kejar target dengan istri baru " Viona nampak tersenyum menggoda. Namun Kevin malah merasa dirinya sedang diperolok oleh sekretarisnya, hingga wajahnya pun memerah.


"Tidak, kalau sudah tak hal penting silahkan keluar dari ruangan ku" Kevin pun duduk di belakang meja kerjanya dengan kasar. Matanya melotot ke arah Viona. Sekretarisnya pun keluar tanpa banyak bicara lagi. Viona heran tak seperti biasanya bosnya itu murung semurung-murungnya seperti ini.


Tak beberapa lama pintu ruangannya kembali diketuk kemudian nampak kepala Viona.


"Ada apa?" Kevin merasa sangat terganggu.


Tangan Kevin mengepal dan menghempaskannya dimeja, membuat Viona melonjak kaget. Sebenarnya Kevin kesal terhadap Dirutnya. Ia pun berdiri dengan malas berjalan menuju ruangan Dirut. Namun sekretarisnya begitu ngeri dengan Kevin yang tiba-tiba kaya singa lapar.


Kevin segera masuk ruangan itu setelah membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Terlihat di belakang kursi duduk lah orang yang memanggilnya membelakangi meja, kemudian memutar kursi yang didudukinya setelah mendengar kedatangan Kevin.


"Ada apa sama kamu Vin, kenapa pekerjaan dalam peganga mu kacau beberapa bulan ini, kalau begini terus lama-lama perusahaan kita rugi akibat ke kurang telitian kamu," Sang Dirut menatap tajam pada anak kesayangannya itu.


Kevin nampak hanya diam, dia tak peduli omelan Sang Dirut, dia hanya menatap datar ayahnya itu.


"Kenapa ayah restui pernikahan Ares dan Vini yah, Ayah tega membuat aku hancur sehancur-hancurnya" Kevin malah bertanya hal diluar pekerjaan.


"Adik kamu itu keras kepala dari dulu, dia tak mau mendengarkan ayah, lagi pun ayah tak peduli adikmu yang pembangkang itu,"

__ADS_1


"Ayah ingin kamu cepat melupakan mantan istri kamu. Jika mantan istrimu menikah kamu akan cepat melupakannya, ini semua demi kebaikan kamu,"


"kebaikan apa yah, aku justru terpuruk saat ini yah. Orang tua seperti apa yang tega begitu saja menghancurkan kebahagiaan anak KESAYANGAN KONON" Kevin sengaja menekankan kata kesayangan


"perusahaan kita butuh penerus Vin ayah ingin anakmu yang kelak jadi penerus perusahaan kita, tapi Vini tak mampu memberi ayah cucu, Kalau Lisa kan sudah jelas dia subur,"


" Lalu apa bedanya sekarang Lisa pun belum juga hamil,"


"Mungkin kalian butuh healing, agar tak spaning, sebaiknya minggu depan kalian pergi berlibur, ayah akan pesankan tiket untuk kalian berdua bulan madu. Ini semua ayah lakukan karna ayah sayang kamu Vin, ayah ingin kamu punya keluarga kecil, bersama Lisa."


"nyatanya Kevin tak bahagia bersama orang yang TIDAK Kevin cintai" lagi Kevin menekankan kata tidak sambil menggebrak meja ayahnya.


"Lisa itu wanita yang baik Vin, Ayah yakin kamu bisa melupakan Vini"dengan tenang sang ayah menghadapi emosi anak kesayangannya itu.


"kamu harus belajar mencintanya Vin, tiket bulan madu ke Bali sudah ayah booking selama seminggu, mulai minggu depan, nanti ayah kirim lewat WA" Ayah Kevin menunjukkan bukti transaksi tiket bulan madu untuk Kevin yang baru dia pesan.


"Dari dulu kamu ayah suruh pergi Hanymoon, kamu bilang nanti, nyatanya sampe sekarang belum juga pergi"


"Kevin sama sekali gak minat yah" Ia pun berdiri dan meninggalkan ruangan itu.


"nanti silahkan beri tau ayah kalau kamu berubah pikiran" Ayahnya agak berteriak agar Kevin mendengarnya, posisi Kevin masih akan membuka pintu ruangannya.


"Kevin tak butuh yah" Kevin pun berteriak menjawab Sang Dirut tanpa menoleh sedikitpun.


Ia pun masuk ke ruangan nya hanya mengambil Kunci mobil dan juga Ponsel, kemudian keluar lagi.


Viona yang hendak masuk ke ruangan nya, urung saat Kevin pun akan keluar. Ia tak berkata apa-apa, hanya menatap Kevin tegang.

__ADS_1


__ADS_2