BUKAN AKU YANG MANDUL

BUKAN AKU YANG MANDUL
Bikin Kesel


__ADS_3

Lisa sedang duduk di ranjang di sebelah Kevin dengan raut wajah panik, karena panas badan Kevin masih tinggi meski telah di kompres olehnya.


Tak lama pintu kamar mereka di ketuk, oleh seseorang, Lisa segera berlari membukanya, ternyata yang datang adalah orang yang Lisa harapkan, Ares dan Vini.


"Vini, , , " Kevin segera duduk melihat dua orang tamu ke kamarnya dengan ekspresi yang berbeda. Senyum menatap Vini dan sinis menatap Ares. Seperti melihat kebahagiaan pada Vini dan melihat kesengsaraan melihat Ares.


"Kamu sakit Vin" Vini hendak menempelkan punggung tangannya sedangkan Kevin memajukan kepalanya mendekat manja. Tanpa malu ataupun sedikit canggung pada adiknya juga istrinya, bahkan seperti sengaja.


"Oh iya ya Kevin badan kamu panas banget Vin"


Ares yang lebih dulu menyentuh jidat Kevin agak kencang hingga Kevin sedikit terdengal kepalanya, hingga ekspresinya merah padam di wajahnya. Ares menatap Kevin dan Vini bergantian sambil nyengir, puas bisa memberi pelajaran dengan cara halus, dan menohok langsung ke sasaran utamanya. rasanya Ares ingin tertawa lepas, cukup dihatinya ia terbahak.


Vini dan Lisa tersenyum, tapi tidak dengan Kevin, ia mendengkus kesal ia merasa di permainkan oleh Ares.


"Jangan gitu Bang Kevin(sengaja ditekan), yang mau anterin kamu ke dokter itu aku lo, mau nanti malah tak antar ke alam lain karna mau modus sama Vini" Ares mengelus pundak Kevin, Kevin menepis kasar, matanya melotot menatap Ares. Kesal emosi berkumpul di dada Kevin.


"Jangan gitu dong Res sama Bang Kevin, dia beneran sakit lo, ayo cepat kedokter," Vini menepuk pundak Ares.


"Bang bang, ****** kali ah, ngapain sih pake sakit segala kamu Vin, ngrepotin tau, gak tau orang lagi hanymoon, malah ada aja gangguannya, atau kamu mengada-ngada nih" Ares segera memapah tubuh Kevin, meski awalnya menolak tapi setelah mendapat kode anggukan dari Vini agar nurut dia tak lagi menolak.


"kalo kamu gak mau bantu gak usah repot Res, biar Vini aja yang nganterin aku ke dokter, aku yakin Vini gak keberatan"


"haeh,,, nglunjak ni orang lama-lama, beneran pingin pindah alam kamu, ya gitu tuh anaknya Sastro Utomo"


"kamu juga anaknya bego"


"Lebih tepatnya anak yang gak di anggap, beda dong, kamu kan anak emasnya" Ares mencibir kesal.


Kevin terdiam, dalam hal ini sangat di sadarinya bahwa perkataan Ares memang benar. Dari kecil selalu dirinya yang di anggap dan di turuti segala keinginannya, sangat berbanding terbalik dengan Ares.


Vini dan Lisa bergidik saling pandang melihat dua saudara itu bertengkar, namun masih saja berpelukan. Memapah Kevin, meski terpaksa tetap Ares lakukan.


Baru saja mereka menutup pintu, pelayan hotel mengantar pesanan Lisa, namun Lisa menolaknya dan memberikan pada pelayan hotel tersebut setelah membayar dan meminta maaf.


Mereka pun membawa Kevin ke rumah sakit terdekat, tak ada keluhan berarti, bahkan sampai di rumah sakit hanya di beri Vitamin oleh dokter, karena suhu badannya telah normal. Entah apa yang membuat Kevin begitu cepat sembuh, apa mungkin sakit yang di derita nya merupakan sakit cinta, sehingga setelah ketemu obatnya langsung sembuh.


"Tuh kan apa aku bilang, Kevin tu cuma modus, biar di tengokin Vini, kampungan banget si kamu Vin," Ares membuka bicara di dalam mobil ketika mereka hendak pulang. tatapan matanya yang terpantul dari spion Ter tangkap oleh Kevin, yang hanya santai menanggapinya, sangat menyebalkan bagi Ares.

__ADS_1


"Tapi tadi pagi emang badan Kevin panas banget Res," Lisa membela. Ia pun tak kalah heran mengapa secepat itu sembuh.


"Setelah di lihat Vini, langsung sembuh gitu, maksudnya apa coba, mau nunjukin ke Vini kalau kamu beneran gak bisa jauh dari Vini, Vin, usaha kamu itu cuma sia-sia aja, stop ngejar Vini" Ares mewanti-wanti Kevin.


"Ya sudah lah bagus kan kalo sembuh


, berarti sakitnya gak berbahaya" Vini menengahi.


"udah ku duga ini cuma akal-akalan Kevin saja Vin," Ares melirik Kevin kesal melalui kaca spion. Kevin tak menanggapi.


Ares mempersilahkan Lisa dan Vini turun terlebih dahulu di sebuah kafe, karena Ares ingin bicara dengan Kevin berdua saja.


"Kali ini cukup Vin usaha kamu mengejar kembali Vini, aku bicara baik-baik, sebagai lelaki yang istrinya kau ganggu, sebagai adik ke saudara laki-lakinya" Ares berhenti sejenak menyruput minuman di botolnya yang ia beli di jalan saat mampir di warung dekat kafe tempat Lisa dan Vini mereka tinggalkan. Kali ini mereka duduk berdua di pinggir pantai yang ramai orang di sana.


"Sebagai lelaki seharusnya bersikaplah seperti lelaki, mengejar kembali setelah membuangnya, sungguh memalukan, terima konsekuensi dari keputusan yang kamu ambil, selama ini aku maklumi kamu mengganggu hubungan kami, kuharap ini yang terakhir kalinya, karena jika hal seperti ini akan terjadi lagi, aku tidak akan tinggal diam Vin, camkan itu"


"Res, jangan paksa aku untuk melupakan Vini, perpisahan ku dengannya karena terpaksa, paksaan ayah, masih ada cinta di antara kami Res, kamu tau itu, aku yakin kamu pasti tau,"


Ares mendengkus kesal menghadapi kenyataan yang terasa pedih yang di hadapinya. Ia tak bisa menyangkal, dari perhatian Vini, meski tak di curahkan secara langsung, masih ada ruang untuk Kevin di hati istrinya.


"Mungkin belum sepenuhnya Vini mencintaiku Res, tapi takkan ku biarkan ia kembali ke padamu"


Tangan Ares mengepal menahan Emosi, tapi kali ini ia tahan untuk tak melayangkannya pada Kevin.


***


Karena terlanjur kesal oleh ulah Kevin, atas keputusan Ares mereka pulang sebelum waktu yang di tentukan, karena percuma saja di teruskan liburan mereka akan tetap terganggu. Vini pun menurut.


"Sudah semuanya kan Res gak ada yang ketinggalan?"


"Ada vin, yang ketinggalan"


"apa?"


"Jejak perjuangan kita berdua,"


"Hemmmm, nyesel aku tanya."

__ADS_1


"Apa? Pingin ndusel? sini, sini"


"Sebenarnya masih pengen lagi mengukir kenangan lagi, tapi ntar malah di gangguin sama orang gak tau diri itu, mending di undur lagi, kapan-kapan kita liburan lagi ya sayangkuuuu, tapi harus bawa Bodyguard, biar gak ada yang ganggu"


Vini hanya menggleng tersenyum.


"mereka ya mereka, kita ya kita Res,"


"Iya Tapi mereka selalu kekita terus tujuannya, aku heran sama Lisa nurut aja suaminya ngejar istri orang"


"Ya udah Hanymoonnya di jalan aja. di manapun berada anggap aja selalu hanymoon".


"tapi sebenarnya masih pengen di sini sih"


" Yah, kamu sih minta pulang Res, emangnya ngapa kalau ada Kevin, toh aku gak gimana-gimana,"


"Kamu gak gimana-gimana, Kevin itu yang kaya ayam jantan minta kawin, ngejer-ngejer kamu terus, risih aku lihatnya,"


"Ya, besok aja lanjutin pertempurannya di rumah oke,"


"Kayanya ada yang ketagihan nih" Lagi Ares menggoda istrinya.


"Emangnya kamu enggak?" Vini tak mau kalah menggoda suaminya yang sejak tadi menggodanya.


"Aku, ketagihan? ya nggak salah, apa ntar kita di jalan aja kalo keadaan gelap kita lancarkan aksi" Ares menantang Vini,


" ogah"


"ogah nolak"


"Omeeesss" Kembali jeweran Vini mendarat di telinga Ares.


Selama perjalanan hanya gurauan dan candaan sehingga sangat menyenangkan bagi kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu.


Sesekali mereka berhenti di suatu tempat, menikmati keindahannya, persis seperti remaja yang sedang kasmaran.


Di suatu tempat di mana ada taman kota mereka sering mengabadikan kebersamaan.

__ADS_1


Sahabat jadi cinta, tak ada salahnya, asalkan bisa saling menerima kekurangan masing-masing. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain, sedikit banyak sudah tau kekurangan dan kelebihan keduanya.


Meski tak semua yang kenal lama jaminan langgeng sebuah hubungan. Namun cinta ya cinta tak harus mengenal lama atau bahkan tak mengenal sebelumnya


__ADS_2