
Dengan rasa campur aduk, ada rasa malu, tapi juga bersyukur karena bukan Kevin yang mengirim makanan itu, justru ibunya lah yang selama ini memberi perhatian pada menantunya, hal yang selama ini tak pernah Vini dapatkan ketika menjadi menantunya dulu, kini justru Ibunya bersikap sebaliknya meski secara diam-diam.
Ibunya dulu tak pernah punya keberanian memberi perhatian pada Vini lantaran telah di ultimatum oleh ayahnya, bahwa Vini itu tak layak menjadi menantu karena tak bisa memberikan keturunan.
Begitu juga sikapnya dengan Ares, saat tak ada ayahnya ibunya sangat menyayanginya, berbeda saat ada ayahnya, memang sejak kematian Risa adiknya semua keadaan berubah, Ares yang tadinya mendapat kasih sayang yang sama dari ayah dan ibunya tiba-tiba saja berubah.
"Ares itu anak pembawa sial" pernah Ares mendengar ayahnya mengultimatum ibunya agar tak usah memberi perhatian lebih pada Ares.
Ares tau, bukan kemauan ibunya memperlakukannya seperti anak tiri, itu semua adalah karena ayahnya, Ibunya sangat patuh pada ayahnya.
"Kenapa kini ibu tak mengikuti kata ayah, suatu hal yang aneh jika tiba-tiba Ibu menjadi perhatian pada Vini, melihat menantu nya kini merupakan menantu yang telah mereka buang sebelumnya. eh tapi darimana Ibu tau kalau Vini sedang hamil, apa mungkin.... ah. tak bisa ku uraikan segala kemungkinan yang tak pernah terpikirkan olehku" Banyak pertanyaan berputar di pikiran Ares.
Ia telah sampai di depan rumah ayahnya, sudah lama ia tak tinggal di sana. Semenjak Ia punya rumah sendiri, sekedar melepas rindu dengan Ibunya pun tak pernah ia lakukan.
Ares mengetuk pintu rumah itu, tak lama pintu itu di buka perlahan oleh Ibunya.
"Ares"Hanya itu kata yang di ucapkan oleh sang wanita, seiring bulir bening yang membentuk sungai di pipi wanita berusia 50 tahun itu.
Ares pun segera memeluk ibunya. Tak tahan juga menahan sedih, air matanya luruh. merasakan hangatnya pelukan sang Ibu, hal yang sangat jarang ia rasakan dari dulu, meski tinggal serumah jangankan pelukan sekedar perhatian kecil saja jarang ia dapatkan.
"Ibu, apa yang ibu lakukan, kalau ayah sampe tau ibu melakukan ini semua, ayah pasti marah Bu,"
"Ibu sudah tak sanggup lagi memperlakukan anak Ibu layaknya patung Res, kamu juga anak Ibu, tak hanya Kevin, kamu pasti butuh kasih sayang dari ibu, sudah cukup sakit Ibu kehilangan adik kamu, Bertahun-tahun Ibu tak pantas di sebut sebagai Ibu olehmu, karena menggenggam dendam milik ayahmu. Bahkan itu bukanlah kesalahan yang kamu perbuat. Makanya ibu ingin menebus kesalahan ibu di masa lalu meski tak akan bisa mengembalikan masa kecilmu yang penuh perih menanggung beban kebencian yang di berikan Ayahmu nak"
"Ares tau Bu yang ibu lakukan selama ini bukan kemauan ibu, Ares bisa merasakan kasih sayang ibu meski tak pernah ibu tunjukan karena Ayah melarangnya"
" Biarkan ibu memberikan apa yang seharusnya ibu berikan pada menantu ibu dan calon cucu ibu, selama ini tak pernah ibu memberikan perhatian. Ibu ingin kamu tau bahwa ibu sangat menyayangimu"
"Ares tetaplah menjadi anakmu Bu, begitu juga Vini tetap menjadi menantumu , meskipun ibu tak melakukan semua ini. Tapi tunggu, dari mana ibu tau kalau Vini hamil?" Ares melepaskan pelukannya tangannya berhenti di bahu sang ibu.
"Kemarin waktu ibu menginap di rumah Kevin, ibu sempat ngobrol banyak dengan tetangga kamu, dan darinya ibu mendapatkan banyak info tentang kalian, atas permintaan Ibu, Ibu minta tetangga kamu untuk up date informasi tentang kamu dan Vini, selamat ya nak, ternyata Allah memberikan rezeki itu saat Vini bersamamu, bukan Kevin"
"Apakah ibu sendirian di rumah saat ini, Ayah ada di rumah?"
"Ayahmu sedang tak ada di rumah, maaf ibu menggunakan nama mu agar ayahmu tak curiga"
"Iya Bu, tadinya aku mencurigai Kevin. Mungkin anak yang di dalam perut Vini tau kalau makanan itu dari neneknya Bu, Ibu tau Vini tak mau makan selain dari yang ibu kirimkan setiap hari meski aku memberikan makanan yang sama Bu"
"Benarkah, syukurlah kalau Vini suka, besok akan Ibu kirim setiap hari makanan buat menantu Ibu, besok ibu tak mau pesan makanan, akan ibu masak sendiri jika Vini suka"
__ADS_1
"Ares jadi iri sama Ibu, Vini tak pernah suka apapun dari Ares, tapi Ares seneng kok Bu, makasih ya Bu"
***
Ares pun pulang ke rumah Vini masih duduk di ruang tengah. Tak di hiraukan Vini kedatangan Ares diam saja hanya melirik sinis pada Ares yang mencoba mengajak Vini tersenyum.
"Vin, maafin aku ya, udah bikin kamu nangis dengan sikap keegoisan aku. aku yang salah gak bisa ngertiin kamu" Vini tak menjawab kata-kata Ares. Bibirnya masih mengumpul di tengah menahan sebal pada suaminya. Ares duduk di hadapan Vini dengan jarak satu meter karena larangan Vini untuk lebih dekat.
"Vin, pliss jawab, aku gak bisa kamu diemin kaya gini" Ares mendekat ke Vini namun lagi, di tahan dengan tangan Vini agar Ares tak lebih dekat. Dilema Ares mau mendekati Vini takut kalau muntah, tapi meminta maaf dalam posisi berjauhan seperti ini, aneh rasanya.
"Oh iya Vin, aku bawa makanan yang tadi di antar kurir tapi kamu tolak itu, Aku tau kamu marah dan juga sebel sama aku, mulai sekarang aku gak akan ngelarang kamu terima paket itu, kalau kamu suka, paket itu 100 persen aman buat kamu, kamu tau siapa yang ngirim makanan itu, kamu kaget kalo aku kasih tau" Panjang lebar Ares bicara tak mendapatkan tanggapan dari Vini. Ares hanya menarik nafas panjang. Ia memaklumi sikapnya tadi pagi sudah keterlaluan. Sekarang tinggal terima konsekuensi jika Vini ngambek. Lama Ares terdiam wajahnya memelas, berharap Vini merasa iba, tapi Vini tak perduli
"Makan ya istriku,, biar dedek bayinya sehat"
"Aku gak laper, udah kenyang sama tingkah kamu yang kayak anak-anak" Vini melipat kedua tangannya di dada.
"Aku terima apapun hukuman dari kamu deh, tapi makan dulu ya, biar kuat ngambeknya, nih telinga aku udah kangen pengen di jewer, jewer aja sampe panjang" Vini menahan ketawa, namun demi harga dirinya ia masih menahan bibirnya, ia ingin menunjukkan pada Ares, tak mudah membujuknya meski sebenarnya sudah mulai luntur rasa kesalnya. Tapi ia ingin memberi pelajaran pada Ares.
"Kan aku udah bilang aku gak laper Ares kamu gak denger"
krucukkkkkkkk. terdengar cacing di perut Vini demo minta turunkan ego didalam hati agar segera makan. tapi tetap saja Vini bertahan. Namun tak bisa menahan bibirnya yang mulai tak bisa ia kendalikan.
"Tu kan anak kita di dalam udah di protes Vin sama cacingnya minta makan, kamu gak kasihan anak kita di dalam perut kelaparan akibat keegoisan Mamanya, belum lagi mendapat protes dari cacing kelaparan. kamu makan dulu ya, masalah ngambek nanti aja lanjutin setelah makan" Ares memberikan makanan yang ia pegang dan membukanya. Vini melirik dan sedikit tergiur, lidahnya keluar mengitari bibir dan menelan saliva.
"Iya, oke sayang, kamu mau makan aja aku seneng"
Ares tersenyum melihat Vini sudah mulai luluh.
Tak butuh waktu lama Vini menghabiskan makanannya, bahkan sisa makanan yang menempel di tangannya pun tak rela ia biarkan. Di sela menikmati makanan di jarinya matanya menangkap Ares yang sedang memperhatikannya sambil tersenyum. ia berhenti dengan aktifitasnya itu, kembali memperlihatkan wajah sebalnya.
"Anak kita tau kalau yang kirim makanan itu neneknya Vin, makanya dia lebih suka makanan dari neneknya"
Mata Vini melotot mendengar Ares menyebut kata neneknya.
"Iya sayang, yang kirim makanan itu Ibu" Tanpa ditanya Ares menjawab mimik wajah yang di berikan oleh Vini.
"Aku gak sedang mimpi kan Res?" Vini masih tak percaya pada kata-kata Ares. Ares menjawab dengan gelengan kepala.
Tanpa sadar mata Vini berkaca-kaca dan dalam sekejap menganak sungai di pipinya. Haru menjalar di hatinya, betapa tidak, selama ini menjadi menantu tak pernah mendapat perhatian sama sekali. Tapi kali ini tiba-tiba mertuanya berubah tanpa ada sebab.
__ADS_1
"Kamu gak sedang mimpi Vin, Ibu bilang dia ingin membayar semua perhatian sama menantu dan calon cucunya, yang dulu tak pernah ia berikan" Ares mendekati Vini dan memeluknya, kali ini Vini tak menolak, maungkin masih belum menyadari aroma tubuh Ares yang tak di sukai.
"Dari mana ibu tau kalau aku hamil Res?" Vini heran kenapa bisa tau Ibu mertuanya.
Ares menunjuk arah rumah Leni. Memberi kode bahwa infonya berasal dari sana.
"Aku mau ketemu Ibu Res"
"Kita atur waktunya nanti ya Vin, Ibu melakukan ini secara diam-diam agar tak di ketahui Ayah" Ares mengusap pipi Vini yang basah dan mengelus kepala istrinya yang berada di pundaknya.
Vini mengangguk dalam pelukan Ares.
"Nanti sore kita kerumah Ayah kamu ya, tadi beliau nelpon suruh kerumah katanya, sekalian aja kita kasih kabar bahagia ini sama Ayah"
Vini mengecek ponselnya, ternyata ada panggilan Ayahnya tak terjawab beberapa kali, padahal dari tadi ia tak mendengar bunyi Ponselnya berdering, setelah dicek, ternyata mode senyap yang tertera dilayar ponselnya. Ia tak ingat kapan ia merubah pengaturan ponselnya.
"Sekarang kamu udah gak ngambek lagi kan Vin" Vini yang masih menyandar di bahu Ares tiba-tiba menggeser kan tubuhnya menjauhi Ares.
" Aku masih sebel sama kamu"
" Ehmm gak papa sebel, kan seneng betul"
"Ih, nyebelin, pokoknya aku masih ngambek"
Tangan Vini menarik telinga Ares, dengan sengaja Ares seolah tertarik tubuhnya hingga menimpa merobohkan tubuh mereka dan bertumpuk, sedangkan wajahnya menempel di wajah Vini. Lama Vini terdiam merasa ada getaran di hatinya.
Ares tak kunjung bangkit dari posisinya sekarang. di pandangnya wajah Vini yang kini matanya terpejam mengernyit. Tanpa pikir panjang di pagutnya bibir istrinya itu. Beberapa detik Vini tak menolaknya, namun setelahnya ia mendorong tubuh Ares kesamping, dan duduk.
"Dasar modus kamu Res" Vini mengusap bibirnya yang basah.
"Ehmmm, emang" tapi kamu suka kan.
"gak" kembali jutek Vini menjawab. Wajahnya memerah menahan sesuatu yang menderu di dalam hatinya.
Vini pun berdiri meninggalkan Ares yang tersenyum melihatnya salah tingkah.
"Aku mau mandi" Vini berjalan menuju ruang depan.
"Mau mandi di mana kamu sayang kamar mandinya kan kesana" sedikit berteriak Ares memanggil Vini dan menunjuk arah berlawanan dari arah yang Vini tuju. Tak lama Vini kembali.
__ADS_1
"Aku mau cari angin dulu tadi" masih sok jutek Vini menjawab Ares menutupi salah tingkah dan kecanggunganya.
"Baru sedikit Vin kamu udah nerves gitu, belum juga..." Vini melotot mendengar Ares menggodanya.