
Vini sedang merapikan kamar yang mereka tempati, ia dan Ares baru selesai merombak ulang posisi beberapa benda yang ada di kamar, itu memang kebiasaan Vini selalu merubah posisi ruangan manapun, sesuai keinginannya. Hal itu sering ia lakukan jika tidak sibuk dengan pekerjaannya. Tentunya dibantu oleh suaminya. Begitu juga saat bersama Kevin.
"Huffft, akhirnya selesai juga." Vini menepuk kedua telapak tangannya berlawanan arah, kemudian mengusap keringat di keningnya menggunakan punggung tangannya. Namun sebelum hal itu Vini lakukan tangan Ares lebih dulu menahannya. Tangan Ares menggenggam pergelangan tangan Vini.
"Tanganmu kena debu Vin" Ares lantas mengambil tisu di atas nakas yang berada tak jauh dari posisi mereka saat ini, lalu mengusap keringat di wajah Vini ketika mereka berhadapan.
Vini diam saja, tiba-tiba ia merasakan gelayar aneh di hatinya, seperti tersengat listrik watt rendah, tak biasanya seperti ini saat Ares memberi perhatian, dari dulu Ares memberi perhatian Vini biasa saja.
Matanya bersitatap dengan mata Ares, baru kali ini ia menatap Ares begitu dalam. Tatapan Ares begitu menenangkan hatinya. Tapi otaknya masih menyangkal tak mungkin secepat ini ia jatuh cinta pada sahabatnya, meski kini memang Ares yang harus ia cintai.
Lima hari menjadi istri Ares, Vini selalu di hujani perhatian oleh Ares, meski dulu sering Ares lakukan, namun kali ini mengapa Vini merasa berbeda. Vini selalu menyangkal perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, Ares pun berfikir tak mudah membuat Vini jatuh cinta padanya.
Tangan Ares yang memegang tisu berhenti di pipi Vini saat pandangan mereka bertemu. Kemudian perlahan tangannya berpindah kedagu, kemudian menariknya mendekatkan satu sama lain, hingga bibirpun saling berpadu.
Vini yang selama ini sering menolak saat Ares melakukan hal Serupa,( pengecualian saat Vini tidur) kini hanya diam saja, bahkan ia sangat menikmatinya. Dalam pikirannya dia kan harus belajar menerima Ares.
"Vin, terima kasih"ucap Ares setelah mereka saling melepaskan pagutan.
"untuk,,?" Vini menghapus bibirnya yang basah, wajahnya terasa panas.
"untuk kamu telah mau belajar mencintaiku, aku tahu, ini sulit buat kamu," Ares memegang kedua pundak Vini dan mengelusnya lembut, matanya sendu menatap mata Vini.
"oh," Vini menjawab acuh.
"Vin, aku ngomongnya serius, cuma itu jawaban kamu" Ares mendadak kesal melipat kedua tangan di dadanya.
"emm, ngambek aja, atau mau kita gak teguran kalau kamu marah," Vini menantang Ares.
"mana bisa aku marah sama kamu sayang, aku yang rugi dong gak bisa cap cup" Ares tersenyum nakal mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ah, kamu rugi doang yang di hitung, gak sadar udah bikin badan aku kaya macan tutul, dan itu tanpa izin aku lagi, dalam hal ini aku yang dirugikan Res,"
"Itu kan udah sah jadi punya aku, boleh dong aku apain aja, berhubung jalur utama belum boleh dilalui karna banjir, ya aku pake alternatif aja, lumayan sedikit mengurangi pusing kepala"
"Dasar piktor, mimpi apa aku punya suami kaya drakula begini." Vini mencubit dada Ares pelan.
"Aduh Vin,, atiiitt, lama-lama kamu juga akan terbiasa Vin semua ini, bahkan setelah banjir surut, kamu akan tau siapa aku sebenarnya..." Ares mengepalkan kedua tangannya dan membentuk siku di kanan kiri kepalanya seperti binaraga.
"aku ngeri ngebayangin kamu kaya drakula Res, ntar cepet habis darahku kamu buat"Vini hanya bergidig melihat kekonyolan suaminya.
"Kamu sakit kayaknya Res" Vini menyentuh kening Ares dengan punggung tangannya. "Ayo berobat"
"Iya Vin, aku butuh berobat, tapi gak disini berobat nya"
"terus dimana?
"jauh di Bali,"
"ya nggak ada, kan dukun nya kamu"
"Dasar Sakit jiwa"
Ares pun tertawa lebar.
Vini melangkah membelakangi Ares. Pipinya memerah panas mendengar kata-kata suaminya, ia pun segera pergi, takut Ares tahu perubahan wajahnya.
***
Esoknya Vini dan Ares telah bersiap pergi, sepertinya akan lama, karena keduanya membawa koper besar. Sepertinya rencana membuat Ares sembuh dari stress nya akan segera di wujudkan, setelah keduanya sepakat akan pergi Berbulan madu.
__ADS_1
Tiba-tiba tetangga Vini datang menghampiri. Kebetulan Ia baru pulang belanja.
"Eh Vini, mau kemana? Hanymoon ya?"
"Eumm," Vini hanya tersenyum menanggapi Leni tetangga nya itu, ia malas banyak bicara pada Leni itu, meskipun terlihat polos, namun ia terkenal Ratu gosip di kompleknya.
"kemana Hanymoonnya si Vin, banyak banget bawaannya"Vini masih hanya tersenyum, justru Ares yang antusias.
"Ke Bali Mbak!, kami perginya lumayan lama jadi harus banyak yang di bawa, kan sekalian mau ikhtiar biar dapat momongan , jadi pantang pulang sebelum berhasil." Vini melotot kesal pada Ares, hanya di balas kedikan bahu dan kerlingan oleh Ares."
"oh ya udah, selamat bersenang-senang ya, Vini sama mas, emm, mas siapa sih nama suami baru kamu Vin kenalin dong"
"Ares mbak, panggil aja Ares" Ares masih saja meladeni tetangganya itu yang mengkepoi mereka. Ares begitu ramah, sopan dan bersahaja meladeni Leni.
"oh, semoga berhasil ya, meski kecil kemungkinan untuk berhasil," Leni sedikit menekankan kata-katanya yang terdengar oleh Vini persis seperti ejekan.
Vini terlihat sebal dengan perkataan Leni, begitu juga Ares. Perkataannya seperti mengandung belati tajam menghujam dada Vini. Raut wajah Vini pun berubah masam.
Berita perpisahan Vini serta sebabnya sudah tersebar ke seluruh komplek, hal itu adalah hasil dari kerja keras Leni, memang dia adalah penyabar berita yang baik.
Akhirnya merka pun berangkat setelah selesai berkemas, tanpa berkata apa-apa pada Leni.
Setelah mobil Ares berlalu pergi, Leni pun bertamu kerumah Kevin setelah lebih dulu pulang kerumahnya menaruh barang belanjaannya. Leni hendak melancarkan aksi sebagai wanita lambe lemes.
Vini tampak murung didalam mobil, tak banyak bicara. Ia masih terngiang ucapan Leni. Ares menyadari kegelisahan istrinya, lalu ia menggenggam erat tangan Vini dengan tangan kirinya meletakkannya di dadanya, sementara tangan kanannya mengemudi, ia memposisikan punggung tangan Vini di atas dadanya.
"Kamu ga usah khawatir kita bisa lalui ini semua Vin, Aku gak peduli seperti apa kamu, aku cinta kamu apa adanya" Bulir bening mengalir di pipi Vini, Ia merasa terharu dengan ketulusan Ares.
Memang tak salah Vini menerima Kevin, Hanya dia yang mau menerimanya apa adanya dia, bagaimanapun keadaannya. Andaikan saja ia menolak Ares, ia pun tak tahu lelaki mana yang mau menerima kekurangannya seperti ini.
__ADS_1
Eh apakah Ares itu bukan pria normal, mau menerima dia begitu saja. jika dia pun tak punya kekurangan apapun?. Tapi sejauh ini dia bersahabat dengan Ares tak ada tanda dia bukan pria normal.