Buku Harian

Buku Harian
[10] Ada Cinta


__ADS_3

Bab 10


Vano berjalan di area sekolah, semua murid sudah masuk kelas sebab pelajaran ke tiga sudah dimulai. Vano berkeliling karena ia ada tugas osis, saat di koridor kelas X, ia melihat siswi berwajah dingin berkacamata. Vano menyerit heran, itu bukannya siswi yang ia dan Veni temui ditangga? Apa yang dia lakukan dengan semua buku itu?


Vano mengikuti gadis itu dari jarak yang lumayan jauh. Dari arah berlawanan ada siswi yang berjalan tergesa-gesa dan siswi itu menabrak gadis berkacamata sampai buku yang dia pegang berjatuhan. Siswi yang menabrak malah memaki tanpa menolong gadis itu lalu pergi. Gadis itu hanya memasang wajah pucat dan datarnya. 


***


Gadis berkacamata itu kaget karena ada seseorang yang menolongnya dan mengambil buku yang terjatuh. Dengan wajah yang masih datar, gadis itu menatap wajah yang sangat tampan yang berada dihadapannya. Lalu ia bangkit membiarkan orang itu memungut bukunya, setelah selesai orang itu malah menatap gadis berkacamata dengan tatapan lembut.


"Kau ingin pergi kemana?" Tanya orang itu.


"Kembalikan buku itu." Ucapnya dingin, orang itu malah acuh akan ucapan gadis itu.


"Aku Vano." Ucap orang itu yang ternyata Vano, mengulurkan tangannya.


"Gak penting." Vano tersenyum lembut menanggapi ucapan gadis itu.


"Sebutkan saja tempat yang kau ingin tuju, biar ku tolong membawakan ini."


"Perpustakaan."


Vano langsung menarik lembut tangan gadis itu membuat siempunya tangan melongo tidak jelas. Vano yang melihat dia dari ekor matanya hanya tersenyum tipis sangat tipis.


'Aku sudah tahu semuanya, aku minta maaf karena aku tidak menyadari keberadaanmu selama ini.'


'Kau tidak akan bisa jauh dariku, sekarang kau tinggal dimana? Apa aku harus mengikutimu sampai rumah?'


'Yang menjadi pertanyaanku saat ini, kau kenapa seperti tidak mengenalku? Apa ada sesuatu terhadapmu?'


'Aku senang bisa berdekatan lagi denganmu.'


Sesampainya di perpustakaan Vano menaruh buku yang ia bawa ke meja pojok perpustakaan dekat jendela. Vano membalikkan tubuhnya ingin berlalu tapi ada sebuah tangan yang dingin menyentuh tangannya. Ia berbalik ternyata gadis itu menahannya.


"Terimakasih." Ucap dia sambil tersenyum tipis. Vano hanya mengusap-ngusap pucuk kepala gadis itu.


"Semoga kita bertemu kembali." Ucap Vano, dia hanya menganggukan kepalanya. Vano berlalu karena ia harus ke ruangan osis. 


***


Vano lagi-lagi menghentikan langkahnya diruang musik. Ia menempelkan kupingnya ke pintu yang sedikit terbuka. Ia mendengar orang yang sedang bermain piano sambil bernyanyi, lalu ia tersenyum dikala ia tahu pemilik suara merdu nan lembut ini, siapa lagi kalau buka Veni kembarannya.


Ada cinta yang ku rasakan 


Saat bertatap dalam canda 


Ada cinta yang kau getarkan 


Saat ku resah dalam harap 


Oo indahnya? cinta


Pernah ku ragu akan sikapmu 


Tapi mengapa kini semuanya indah 

__ADS_1


Oo resahnya?


Ada cinta yang ku rasakan 


Saat bertatap dalam canda 


Ada cinta yang kau getarkan 


Saat ku resah dalam harap 


Oo indahnya? cinta


Pernah ku malu pada hatiku 


Tapi mengapa kini seolah cinta 


Telah ku genggam


Tuhan ku inginkan semoga semua ini 


Bukan hanya rasa, rasaku saja 


Rasaku sendiri?


Ada ada saja dengan apa yg ku rasa 


Bergetar di dada buat ku merana 


I got the feeling cause you making me smiling 


Ku merasa ohh ada cinta


Prok-prok-prok!!!


Veni menghentikan permainannya dan menoleh ke arah tepukan tangan itu.


"Aku tidak menyangka suaramu semakin merdu." Puji Vano dan melangkah ke arah Veni. Veni hanya tersenyum sambil memeluk Vano.


"Terimakasih, tentu saja kau yang membantu melatihku, Van." Ucap Veni yang masih memeluk Vano.


"Biarku tebak, kau menyanyikan lagu ini pasti sedang jatuh cinta ya?" Vano melepaskan pelukan itu dan duduk didepan Veni.


"Aish.. Bagaimana kau tahu tentang itu?" Ucap Veni malu-malu dan pipinya bersemu merah.


"Hahaha, pipimu memerah. Siapa dia?"


"Dia cowok tampan." Ucap Veni sambil tersenyum lebar. Vano mengusap wajah Veni dengan tangan kanannya.


"Sudah jangan menghayal mulu. Sekarang ke ruang osis, ayo." Vano menarik tangan Veni lembut dan mereka pergi ke ruang osis bersama. 


***


Ify mengikat rambutnya sambil berjalan, tidak banyak murid yang berkeliaran diluar kelas. Ia tak tahu ingin pergi kemana dan ia hanya mengikuti kakinya melangkah.


"DOORRR!!!" Ify berdecak sinis dan melihat ke samping, ternyata si pelakunya adalah Rara, yang berhari-hari menghilang tanpa kabar.

__ADS_1


"Wajahmu kok tidak kelihatan kaget sih? malah menatapku dengan sinis." Ify hanya berdecak sambil memutar bola matanya. 


"Kau kemana saja?"


"Kenapa? Kau merindukanku?" Ledek Rara.


"Siapa bilang?"


"Aku yang bilang." Jawab Rara polos.


"Maksudku siapa yang bilang aku merindukanmu?" Ucap Ify gemas.


"Itu kau yang bilang." Rara bergeling  genit membuat Ify cemberut tidak ada wajah datar dan dinginnya. Dihatinya Rara bersorak gembira. Akhirnya ia bisa sedikit-sedikit membuat Ify kembali ke seperti dulu. Ify berhenti di samping lapangan indor basket lalu duduk dan di ikuti Rara.


"Ra, perasaanku seperti ada yang sedang memperhatikan kita."


"Kita? Kau saja kali, mana bisa mereka lihat hantu sepertiku."


"Iya juga sih." Ify menoleh kearah belakang dan keseluruh penjuru lapangan. Tidak ada siapa-siapa disini kecuali dirinya dan Rara.


"Udah jangan dipikirkan, biarkan saja anggap itu fans rahasiamu."


"Tapi itu sangat menyeramkan Ra."


"Santai saja Fy."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buku Harian ❄


Kebersamaan akan datang kembali disaat semuanya telah berkumpul.


Mencari kebenaran sangatlah sulit jika ada yang menghalang.


Dan mungkin awal ke bersamaan kita akan terulang walau aku menyamar. Aku ingin kalian tahu, bahwa aku berada di dekat kalian.


Miss you all 💜

__ADS_1


Rarify Anifhumari^~^


__ADS_2