
Bab 18
Ify sedang mondar-mandir di kamarnya sambil menggigit kuku telunjuknya. Ia berjalan kearah cermin yang ada di meja rias, menatap pantulan dirinya yang tembus pandang.
"Bagaimana mau study tour kalau tubuhku saja begini." Ify menghela nafas lelah lalu duduk di kursi meja rias. Rara tiba-tiba muncul dibelakang Ify dengan senyum tak berdosanya.
"Ada masalah apa sih Fy, wajahmu sampai murung gitu?" Rara menatap Ify lewat cermin yang ada didepannya, tak jauh berbeda dengan Ify, tubuh Rara pun sama tembus pandang. Ify membalas tatapan Rara lalu menidurkan kepalanya dilipatan tangan yang sudah ia lipat di atas meja.
"Tubuhku saja begini Ra, bagaimana aku ingin tour ke Cibodas." Lirihnya dan menutupkan kedua matanya.
"Kau masih bisa ikut Fy." Ucap Rara dengan tenangnya.
"Bagaimana caranya?" Tanya Ify.
"Selagi aku selalu ada disampingmu, kau bisa ikut. Itu sangatlah mudah." Ify membukakan matanya dan duduk dengan tegak, Rara melangkah menuju kasur Ify dan duduk di tepinya.
"Ra sudah, jangan memberiku teka-teki seperti ini. Aku sedang tidak bisa berpikir, pikiranku buntu." Rengek Ify dan menyusul Rara yang ada di kasurnya lalu menggoyang-goyangkan tangan Rara. Sedangkan Rara hanya tersenyum misterius.
***
Pagi menjelang dengan langit yang amat cerah untuk menyambut hari yang baru. Seperti siswa-siswi Swenerry High School berdatangan dengan wajah yang berseri-seri, wajah semangat. Mereka sangat antusias dengan hari ini, karena apa? Karena hari ini adalah hari dimana mereka semua akan study tour, yeeyyy!!
Yapp, study tour ke Cibodas. Belasan bus sudah terparkir di tempat parkir sekolah. Mereka membawa banyak barang, karena mereka akan kemping disana. Para siswa tidak begitu repot-repot bawa ini itu, tidak seperti para siswi yang sangat banyak bawa barang sampai tiga ransel sekaligus, Omg!!
Veni dan Vano baru saja datang dan berjalan dikoridor, seperti biasa mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi Swener.
"Van, ranselku sepertinya sudah memberat. Tanganku sudah terasa sakit." Veni memangku ransel berisi pakaiannya yang tadinya di jingjing.
"Salah sendiri, kenapa banyak banget yang harus dibawa, dan mana ada sebuah ransel tiba-tiba menjadi berat?" Vano terkekeh melihat Veni yang keberatan dengan ransel yang ia bawa.
"Kau tidak tahu kebutuhan seorang perempuan, jadi diam jangan banyak bicara, itu sangat menggangu." Veni melirik sinis lewat ekor matanya, yang di lirik hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Yasudah, aku diam. Dan jangan harap aku akan menolongmu." Vano mempercepat langkahnya dan meninggalkan Veni yang melongo tak percaya wajahnya sampai memerah menahan amarahnya.
"REVANO SANJAYA!! SIALAN. AWAS AJA YA KAU. KAU ITU SANGAT MENYEBALKAN. AKU MEMBENCIMU, IHHH!!" Veni berteriak kencang membuat siswa-siswi menatap Veni dengan tatapan tak percaya. Ini mah rezeki mereka, soalnya mereka belum pernah melihat mereka bertengkar seperti ini.
Menurut mereka pertengkaran Veni dan Vano sangat lucu, seperti kucing yang sedang rebutan bola benang rajut dengan kucing yang lain.
Veni menghentak-hentakkan kakinya dan kembali berjalan yang sempat ia berhenti akibat Vano. Veni menyipitkan kedua matanya kedepan, dari belakang postur tubuh seseorang yang didepannya seperti ia kenal.
"Ify--" Veni berlari kecil untuk menghampiri seseorang yang ada di hadapannya.
"Fy, kau ikut juga?" Ini sih kayaknya bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Sosok yang di sapa Ify menoleh kearah Veni yang sudah ada di sisinya, ia hanya tersenyum tipis membuat Veni menahan nafasnya.
'Apa aku sedang berbicara dengan hantu? Kok merinding ya?' Veni mengusap tengkuknya yang merinding.
"KAK VENI!!" Veni membalikkan tubuhnya kebelakang di ikuti Ify. Ternyata yang barusan teriak itu Via, Shilla Agni.
"Kak Veni, kita mau tanya." Ucap Shilla, matanya yang tadinya menatap ke arah Veni doang ia tersadar lalu menatap Ify.
"Eh, ad--ada If--fy toh." Shilla langsung tergagap dan langsung mendapatkan cubitan cantik dari Agni.
"Adaww!! Sakit sih Ag." Shilla mengusap-ngusapkan tangannya yang menjadi korban cubitan Agni.
"Kau baru menyadarinya, Shill? Astaga." Ucap Agni dan menjitak kepala Shilla.
"Yak! Lalu kenapa kalau aku baru menyadarinya?"
"Sudahlah, aku malas harus debat denganmu. Membuang tenaga."
"Lalu siapa yang ingin berdebat, Agni?" Geram Shilla, sedangkan Via sedang gelisah ditempatnya.
Tanpa Via sadari Ify menatap Via dengan tatapan yang dingin dan Mata Via tak sengaja melihat matanya dia langsung bergetar dan berkeringat dingin.
"Guy--guys, ini seper--tinya sosok yang pernah singgah di tubuhku, maybe." Via berbisik ke dua temannya.
"Vi, jangan mengada-ada." Agni membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Via, di ikuti Shilla.
"Iya, jangan bikin aku takut juga Vi." Bisik Shilla.
"Yasudah kalau kalian tidak percaya, aku mau kelapangan." Via melenggang pergi meninggalkan Agni, Shilla, Veni dan juga Ify.
"Yeehh, ngambek dia." Cibir Shilla.
"Kalian tadi mau apa?" Tanya Veni bingung membuat Shilla dan Agni cengengesan.
"Ini loh kak, aku mau tanya. Aku sama yang lain dapet bis yang keberapa kak?" Tanya Agni, Veni berpikir sebentar dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti. Hehe." Agni dan Shilla melongo mendengar ucapan Veni.
"Yeeuh! Atuh ari kitu mah jang naon kudu di pikiran."
Bahasa Sundanya Shilla di keluarin juga dan dia malah pergi dari sana dengan wajah yang di tekuk, Agni menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Shilla.
"Pada PMS kali ya tuh mereka berdua." Gumam Agni.
"Kalau begitu aku susul Shilla sama Via ya kak." Veni hanya menganggukan kepalanya.
"Aku duluan ya kak Ven, Fy. Semoga kita se-bis." Ucap Agni sinis di akhir kalimatnya, Veni mengacungkan ibu jarinya dan Ify hanya tersenyum tipis.
Setelah kepergian Agni, Veni menghela nafas. Entahlah hari ini seperti berat untuknya. Semoga aja nggak akan terjadi apa-apa nanti disana.
"Fy, kita kelapangan sekarang." Ify tersenyum manis dihadapan Veni dan itu membuat jantung Veni berdegup kencang.
'Kakak merindukanmu Rif. Apa kau juga merindukanku dan kak Vano?'
Veni tersenyum miris dengan pemikirannya, apakah pertanyaan itu akan ada jawabannya? Semoga aja iya.
"Aku juga kak." Ucap Ify lirih sambil menatap mata Veni, lalu ia pergi meninggalkan Veni yang melongo tak mengerti.
"Apa maksudnya?" Gumamnya. Pandangan nya masih lurus menatap Ify.
"Apa dia bisa baca pikiran orang lain?"
***
"Selamat pagi semuanya. Saya Revano Sanjaya selaku ketua osis, panggil aja saya Vano." Ucap Vano yang sekarang ada di tengah-tengah lapangan.
"Kak Vano!!"
"Ganteng banget!!"
"Kakak udah punya pacar belum?"
"Huu.. Nggak lihat tuh disamping kak Vano ada kak Veni pacarnya."
"Jangan macem-macem deh."
"Eh, itu PHO sama PELAKOR kok ngikut-ngikut sih."
"Huuuuuuuhhhhh."
"Sudah lanjut-lanjut."
"Oke di sebelah kiri saya bernama Griya Orla selaku waketos panggil saja dia Riya dan di sebelah kanan saya bernama Raveni Sonaya selaku bendahara panggil saja dia Veni."
"Halo kakak-kakak cantik." Ucap semua siswa dengan serentak.
"Huuuuuuuhhhhh."
"Saya akan mengumumkan kalian ada di bus mana."
"Bus 1 terdiri dari." Veni membukakan kertas yang ia lipat.
"Gergio rizanes Haling, Vevilya Zizahra, Alvianos Jhonatan, Qweshilla Drezahran, Shamiel Thanza, Ragni Trinubu, Groy Cakka, Ify Umari, ----- " Veni terus membacakan nama siswa-siswi yang akan di bis 1, nama yang terpanggil langsung memasuki bis.
Ify melangkah ke bagasi bis untuk menyimpan barang berat yang ia bawa, begitupun yang lainnya.
Ia duduk di dekat jendela barisan ke tiga yang bermuatan untuk dua orang. Ify memasangkan handset di kedua kupingnya dan sedetik kemudian ia sibuk dengan handphonenya.
***
"Fy, aku lapar." Rengek Rara.
"Emang hantu bisa merasakan lapar juga? Kirain cuma sundel bolong aja yang bisa merasa lapar." Tanya Ify dan membuat Rara mendesis kesal.
"Emang yang kau tahu tentang hantu apa?" Tanya Rara dengan sinis.
"Setahu ku hantu itu cuma bisa datang dan hilang tiba-tiba lalu mengganggu semua manusia." Ucap Ify yang sibuk memainkan handphonenya.
"Hantu juga punya perasaan kali." Ketus Rara.
"Aku kira tidak." Ucap Ify polos.
"Au ah, aku mau cari makan dulu."
__ADS_1
"Eh, jangan pergi nanti aku bagaimana? Aku takut." Ify menatap ke depan, Rara tersenyum lebar. Ify melihat ke sekelilingnya dan ternyata sudah penuh, hanya ada beberapa kursi yang kosong.
"Yaudah kau ambil cemilan kek Fy." Ify mengambil cemilan yang ia pisahkan.
"Ada rumor yang beredar, sepertinya ada satu siswi yang tidak ikut." Via dan Alvin baru saja naik, Alvin hanya berdehem saja. Ify langsung menatap mereka.
"Masa tidak ikutan, ini kan wajib." Via dan Alvin duduk di hadapan Ify.
"Cerewet banget sih kau ini Vi." Via memanyunkan bibirnya dan kepalanya di senderkan ke bahunya Alvin.
Bukkk
Suara bantingan tas membuat semua yang ada di dalam bis menoleh ke pintu. Rio naik ke dalam dan mengambil tas itu dan di sampirkan ke bahunya.
"Astaga Rio!! Kau selalu saja membuat rusuh." Rio menatap Via yang tengah membulatkan matanya.
"Eh sipit, percuma kau melebarkan matamu, tetep aja matamu cuma segaris."
"Wah!! Wah!! Sepertinya aku harus membunuhmu, hitam."
"Mentang-mentang berkulit kuning, menindas orang hitam sembarangan."
"Matamu bermasalah? Kulit putih dikata kuning. Helow, kau buta warna ternyata." Via berdiri sedari tadi semenjak mereka adu mulut sama Rio.
"Itu sih bukan salahku, tapi kau nya saja yang terlalu PD." Cibir Rio. Semua pasang mata menatap mereka dengan nyantai, ini sih nggak asing lagi Via dan Rio berdebat, jadi ya biasa aja.
"Aduh kalian berisik, ada apa sih?" Tanya Vano yang baru masuk.
"Dan kau Rio, kenapa masih berdiri? Cepet duduk, sebentar lagi kita jalan." Vano memilih duduk di belakang kursi Ify. Rio langsung duduk di depan Vano.
"VANO KELUAR SINI KAU." Teriak Veni dari luar, membuat Vano berdesis kesal.
"Ada apa lagi sih tuh nenek lampir." Gumamnya lalu ia melangkah turun. Ify melihat dari kaca apa yang Vano dan Veni lakukan, disana mereka sedang berbicara sesekali muka Veni di tekuk dan langsung saja naik ke bis.
'Hahaha, kak Veni dikata nenek lampir sama kak Vano. Lucu juga.' Ify terus saja memandang Vano yang sedang membenarkan barang-barang yang ada di bagasi.
"Lihatin siapa sih Fy?" Tanya Rio dengan suara pelan, Ify menoleh kan kepalanya dan membuat dia menahan nafas. Lihat saja wajah Rio sangat dekat dengan wajahnya.
'Dasar biang onar, mesum, ngambil kesempatan dalam kesempitan.' Gerutu Ify dalam hatinya.
'Ya Tuhan!! Cantik!!' Mata mereka saling mengunci satu sama lain, seolah-olah mata keduanya sangat enak dipandang. Ify tersadar terlebih dahulu, lalu ia memandang ke luar jendela begitupun dengan Rio yang menegakkan lagi tubuhnya.
"Baiklah, sebelum kita berangkat alangkah baiknya kita berdoa supaya kita selamat sampai tujuan dan pulang nanti. Pergi barengan pulang pun harus barengan. Berdoa dimulai." Ucap Vano yang berada di depan, semua pun berdoa untuk keselamatan mereka.
"Selesai. Ayo kita berangkat!! Diawali dengan berbaca Basmallah"
"BISMILLAH HIRAHMAN NIRAHIM!!" Ucap semuanya. Satu persatu bis keluar dari sekolah dan meluncur beriringan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Sudah lama aku nggak liburan, dan sekarang aku liburan lagi. Ahh senang nya. Coba aja keadaan ku tidak begini aku pasti sangat sangat sangat senang.
Dan aku satu bis sama kedua kakakku, coba aja aku bisa se-kursi sama mereka. Tapi nggak apa-apa deh, mereka duduk juga dibelakangku.
Semoga ini study tour yang menyenangkan dan dikenang.
Rarify Anifhumari^~^
__ADS_1