
Bab 6
Malam berlanjut tanpa bintang dan terangnya bulan. Saudara kembar Vano dan Veni sedang menikmati coklat panas di balkon kamar Vano, memang ini sudah kebiasaan mereka, bukan hanya berdua melainkan bertiga.
Rify. Seorang gadis yang manja, baik dan segalanya. Ia adalah gadis kedua yang Vano jaga setelah Veni, dan Veni adalah bunda ke dua bagi Rify. Sekarang hanya mereka berdua, tidak ada lagi Rify diantara mereka. Mereka telah lalai, mereka kalah tidak bisa menjadi kakak yang terbaik bagi adiknya.
Kini mereka sedang bermain ular tangga untuk mengusir kebosanan, Veni sesekali menggerutu karena kuda Veni mendapatkan kepala ular dan itu harus turun sampai ujung tubuh ularnya.
"Yak!! apa-apaan ini? Kau jangan bermain curang Ven, Ulang-ulang!" Ucap Vano, ia melihat Veni membalikan dadu yang tadinya mendapatkan angka satu karena di depannya terdapat kepala ular, dan dengan keisengan Veni ia membalikan dadu itu menjadi angka lima dan ulah Veni ketahuan oleh Vano.
Veni memutarkan bola matanya kesal dan mau tak mau harus mengocok dadu lagi. Dadu itu mengguling dan mendapatkan angka lima, lalu Veni memajukan kudanya hingga balok yang kelima, kudanya akhirnya selamat dari ular yang sedang kelaparan itu.
"Kalau tahu hasilnya akan seperti ini, aku tidak usah mengulanginya lagi." Ucap Veni dan memberikan dadu itu ke Vano.
Kuda Vano saat ini sedang di atas-atasnya menuju kemenangan, Vano mengocok dadu dan dilemparkannya. Dadu itu berguling mendapatkan angka 3.
"Horee tigaa!!" Veni melongo melihat angka tiga yang berarti Vano menang karena kuda Vano diam di balok yang sisanya tiga di angka 100.
"Ahh!! Menyebalkan sekali, kapan aku akan menang." Kesal Veni dan tangannya dilipatkan didepan dada.
"Artinya kau memang tidak ahli dalam permainan ini Ven."
"Tck, baru segini aja sudah sombong."
"Bukan sombong tapi memberitahu."
"Sombong itu." Veni mengubah duduknya di sofa yang tadinya lesehan dilantai balkon.
"Sombong dari mana?"
"Itu tadi perkataanmu."
"Enggak ada tuh?"
"perkataanmu secara tidak langsung menyombongkan diri sendiri. Ahh.. Tahu ah." Vano terkekeh melihat kekesalan adiknya ini. Vano tidak menyangka bisa mendapatkan kembaran seperti Veni, gadis cantik, baik, bibir kecil, mata bulat sempurna, hidung bengir dan gingsulnya yang terdapat di bagian kanan dan itu mempercantik dirinya.
Kalau saja Veni itu bukan kembarannya melainkan orang lain, pasti Veni di jadikan sebagian jiwanya dan menjadikan ibu untuk anak-anaknya kelak. Tapi itu sangat mustahil, kenyataannya Veni itu kembarannya, adik pertamanya.
__ADS_1
"VANOOO!!!" Veni berteriak didepan wajah Vano, dan Vano mengelonjak kaget.
"Astaga. Tidak usah berteriak, aku tidak tuli. Kau mengerti?"
"Salah sendiri tidak mendengar, dari tadi aku memanggilmu, kau memikirkan apa?"
"Tidak." Elak Vano dan mana mungkin ia memberi tahu semuanya.
"Ah, aku tahu. Kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Ucap Veni dengan wajah songongnya. Vano yang melihat itu langsung mendekatkan wajahnya kearah Veni.
Veni menyeritkan dahinya, tak mengerti apa yang Vano perbuat dan itu membuat Veni salting sendiri. Vano terus saja mendekatkan wajahnya hingga 5cm, wajah Veni merah padam ia tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus menutup mata atau membiarkannya saja?
'Astaga Ven, tetap stay cool oke. Tapi ini kenapa wajahku memanas ya? Ahh!! Mama tolong Veni.' teriak batin Veni. Vano sedaritadi menahan tawa melihat ekspresi wajah Veni salting sampai merah.
Cup
Vano mencium pipi kiri Veni dan membuat wajahnya melongo, Vano menjauhkan wajahnya dan tawanya meledak ia tak tahan dengan wajah Veni.
"REVANO SANJAYA!! MATI SAJA SANA KAU!! AKU MEMBENCIMU" Teriak kesal Veni dan memukul Vano bertubi-tubi.
"Hahaha, wajahmu sangat konyol Ven, hahaha." Vano tidakbmelawan ataupun menghindar.
Ingin rasanya bergabung dengan mereka, bercanda bareng, tertawa bareng, jahilin satu sama lain, dan itu tidak akan mungkin bagi Ify.
Rara yang melihat itu hatinya sakit, ia ingin menangis tapi karna hal apa yang membuatnya menangis? Rara hanya menjadi sosok hantu, tidak lebih. Dia hanya menemani Ify dimanapun Ify berada.
Wuss
Angin dingin menerpa ke empat remaja ini, Veni menghentikan pukulannya karena merasakan bulu kuduknya merinding sama seperti Vano, Ify apalagi dia sangat merinding, Rara? Jangan di tanya dia tahu semua, karena Rara itu hantu.
Ify melihat sosok gadis cantik di depan gerbang rumahnya dengan mata sendu gadis itu menatap Ify.
"Tolong aku!" Lirihnya terkesan dingin. Ify hanya terus menatapnya dan perlahan gadis itu hilang.
Ify tersentak dan menoleh ke arah Rara, tapi Rara sudah tidak ada disana.
Ify pergi menuju kamarnya untuk tidur karena hari sudah terlarut malam.
__ADS_1
***
Veni dan Vano masih di balkon, bulu kuduk mereka merinding tiba-tiba.
"Van, kau merasakan sesuatu?" Veni mengusap-usap tengkuknya. Vano hanya menganggukan kepalanya.
"Jangan-jangan--" Vano menggantukan ucapannya lalu melirik kearah Veni yang sama juga sedang meliriknya, tanpa aba-aba Veni langsung pergi ke kamarnya. Dia takut melihat sosok lain lagi cukup sekali saja ia lihat di sekolah, tidak dirumah.
"Ven, ini gelasmu bersihkan. Veni!!" Teriak Vano, tapi percuma Veni sudah melarikan diri. Terpaksa Vano yang membereskannya.
***
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Kebersamaan itu penting, untuk memperkuat satu sama lain. Tapi kenapa kebersamaan itu malah memisahkan salah satunya. Apa kebersamaan masih tetap ada walau satu telah gugur?
Sosok itu menggangguku lagi, ntah siapa dia. Tapi kenapa dia slalu bilang 'tolong aku'. Aku harus apa? Membantunya? Tapi caranya bagaimana? Dan siapa yang akan membantuku untuk memecahkan suatu misteri yang aku dapatkan.
__ADS_1
Tolong bantu aku!
Rarify Anifhumari ^~^