
Bab 22
Study tour telah berakhir, sekarang hari senin, hari dimana semua pelajar harus bersekolah menuntut ilmu lagi. Sama hal nya dengan Ify yang sudah siap dengan seragamnya, lalu berjalan menuju gerbang rumahnya yang sudah terbuka.
Tin--Tin!!!
Ify menoleh ke asal bunyi klakson motor yang berada di sampingnya, ia memandanginya dengan kening berkerut.
"Siapa sih dia?" Gumam Ify, orang itu membukakan helmnya dan tersenyum kearah Ify.
Ify membulatkan matanya, ternyata dia adalah Rio. "Rio--" Lirihnya.
"Loh, Fy sedang apa di rumahnya kak Veni?" Tanya Rio heran.
"Kau bisa melihatku Yo?" Tanya balik Ify sambil menunjuk dirinya.
"Tentu saja bisa, asal kau tahu mataku masih normal. Kau pikir kau hantu begitu? Yang tidak bisa di lihat oleh manusia?." Ucap Rio yang masih duduk diatas motor caviganya sambil memeluk helm.
"Ya--yakali gi--gitu." Rio menyipitkan matanya melihat Ify tergagap lalu tersenyum menggoda.
"Kenapa kau menjadi gagap? Ahh!! Aku tahu kau pasti gugup karena kedatangan pangeran berkuda sepeda motor, ya kan?" Ify menganga mendengar ucapan Rio.
"Sana pergi, nanti kau telat." ketus Ify dan memalingkan wajahnya kearah depan.
"Naik." Rio memasangkan kembali helm nya, membuat Ify cepat menoleh kearah Rio.
"Hah?" Rio berdecak kesal.
"Cepat naik Rify!!" Ucap Rio gereget.
"Naik kemana? Terus tahu namaku dari mana?" Tanya Ify dengan wajah polosnya.
"Aku'kan udah bilang, kau jangan berteman dengan si lola jadinya otakmu loading."
"Ayo cepet naik nanti telat." Mau tak mau Ify naik ke motornya Rio dengan wajah datarnya.
'Dasar pemaksa.'
***
Veni yang tadinya senang melihat Rio yang berhenti di depan rumahnya menjadi sendu, ia melihat Rio menjalankan lagi motornya. Ia pikir Rio akan berangkat bareng ke sekolah dengannya, tapi nyatanya Rio pergi sendiri.
Veni melangkah menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya, sekarang ia berangkat sendiri nggak sama Vano. Vano tadi ia berangkat pagi jam 6 karena ada urusan osis, ya jadi gini endingnya. Walaupun Veni sekertaris osis, tapi urusan itu bukan urusan untuknya tapi untuk ketua sama wakil, nah itu!!
***
Para siswa-siswi Swener menatap seorang gadis cantik berjalan di koridor sesekali tersenyum simpul.
"Siapa dia?"
"Cantik banget sumpah."
"Bidadari dari mana lagi ini?"
"Semoga saja dia masuk ke kelasku."
"Gadisku cantik bener."
Gadis itu meringis mendengar ucapan mereka, ingin cepat-cepat ke ruang kepala sekolah ia tidak mau jadi sorotan seperti ini.
__ADS_1
'Baru juga aku tinggal setahun udah seperti ini, mereka tidak sadar apa? Kalau aku itu dulu siswi Swener.'
Gadis itu terus saja berjalan dan sampai di ruang kepala sekolah, ia berdecak menatap pintu ruang kepala sekolah itu.
"Berhadapan dengan bapaknya cabe. Ck, malesin." Gumamnya dan mengetuk pintu itu setelah ada sahutan dari dalam, ia membuka pintu itu dan masuk kedalam.
***
"Yo-- ada kabar hot!!" Pekik Cakka yang baru datang. Rio berdesis kearah Cakka dan dia duduk di samping Rio.
"Naya Yo, Naya." Rio membulatkan matanya, Ify yang mendengar nama Naya langsung menatap kebelakang dimana Cakka dan Rio duduk.
'Apa dia Naya yang kata seseorang dalam mimpi itu?' Ify menatap ke depan lagi seolah-olah ia tidak tahu, padahal ia memasang kupingnya baik-baik.
"Naya kenapa Cak?" Tanya Rio antusias.
"Dia come back Yo."
"Serius? Aku harap dia datang bersama Anif. Aku merindukan mereka."
"Tadi aku lihat dia ke sini sendiri, tidak sama Anif." Rio mendesah kecewa mendengarnya.
'Anif? Siapa dia?' Ify makin menajamkan pendengarannya.
Siswa-siswi terduduk di tempatnya masing-masing dan membuat hening. Tak lama kemudian guru matematika datang bersama gadis cantik.
"Nahkan doa ku terkabul, dia masuk kelas ini."
"Huuuuuuuhhhhh"
Ify menatap seksama. 'Apa benar dia Naya?' Rara yang ada di samping nya langsung berdiri dari duduknya.
"Aku tahu dia akan duduk disini, aku akan kedepan kelas aja." Rara langsung melayang ke depan kelas lalu duduk lesehan di lantai dan ia tersenyum menampilkan giginya ke arah Ify.
"Ada-ada saja kau Ra."
"Anak-anak kita kedatangan murid baru, ayo perkenalkan namamu." Gadis itu mengangguk dan menatap kedepan.
"Perkenalkan namaku Naya Moengela pindahan dari Rusia." Naya tersenyum kearah Rio dan Cakka.
"Aya temanku kan?" Seru Rio.
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya Ger-nya Ay." Rio bersorak senang membuat semua siswa-siswi di kelas menoleh ke arah Rio.
"Sudah-sudah, sebenarnya Naya ini siswi dari sini sebelum pindah ke Rusia." Siswa-siswi mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baiklah Naya, kau duduk di sebelah Ify." Naya menatap seseorang yang akan menjadi teman mejanya.
"Rify--" Lirihnya. Naya melangkah perlahan matanya tak lepas menatap Ify, sedangkan Ify hanya cuek-cuek aja.
"Baiklah saya permisi, karena sebentar lagi istirahat." Guru matematika itu pun pergi.
"Rify?" Panggil Naya dengan mata berkaca-kaca. Ify menoleh ke samping dimana di situ ada Naya lalu berdiri. Rio, Cakka dan Via menghampiri meja Ify.
Naya langsung memeluk Ify dengan erat dan tangisannya pun pecah, tangan Ify perlahan naik untuk membalas pelukan Naya.
"Na-- Nay." Ucap Ify tergagap. Naya semakin nangis mendengar Ify memanggilnya.
Naya rindu dengan suara itu, Naya rindu dengan sebutan khusus untuknya, Naya rindu dengan pelukannya, Naya rindu saat bersama, dan Naya rindu dengan semuanya.
__ADS_1
"Rify, Naya sudah kembali. Naya rindu Rify. Naya kembali karena Rify. Rify queen kecilnya Naya. Naya mencari Rify kemana-mana, tapi tidak ada hasil." Semuanya menatap Ify dan Naya dengan pandangan yang berbeda-beda. Merasa tidak ada sahutan Naya melepaskan pelukannya dan menatap Rio.
"Ger, aku sudah menemukan Rify Ger. Benarkan dia Rify." Ucap Naya sambil menggoyangkan tangan Rio.
Rio menatap Naya lalu ke Ify, Naya lalu ke Ify. Ia bingung mau jawab apa sedangkan dirinya juga tidak tahu. Penampilan Rify dan Ify itu beda, menurutnya. Rio mengacak rambutnya.
"Mmm, mending kita rundingkan dengan yang lainnya Ay biar jelas." Ucap Rio, dan itu membuat yang lainnya menangguk kecuali Ify.
"Rify kenapa diam saja?" Tanya Naya lembut membuat Ify spontan menggelengkan kepalanya.
"Yasudah ayo kita temui yang lainnya." Naya langsung menggandeng tangan Ify seperti ia tidak mau berpisah lagi seperti dulu. Mereka keluar kelas dan menemui teman-teman yang lain.
Rara, di belakang kelas ia menatap kepergian mereka dengan senyum bahagia. Ia nggak nyangka Ify nya itu mempunyai teman yang tulus selain dirinya.
"Lihat Fy, banyak teman yang tulus berteman denganmu." Ucap Rara.
Merasa ada seseorang yang di sampingnya, Rara langsung menoleh ke kiri. Disana ada sosok Rain dengan wajah yang benar-benar mulus, berkacamata, rambut di kepang dua dan seragam yang agak kedodoran.
Rara menyerit heran kenapa sama sosok itu.
"Ternyata kau bisa juga menangis? Aku kira tidak." Ucap Rara polos, Rain menengok kearah Rara dan berdecak kesal.
"Hantu juga punya perasaan kali. Dan perasaan ini, perasaan sedih." ketus Rain membuat Rara mengerjapkan matanya dan langsung ketawa.
"Hahaha, Yaiyalah kan kita pernah jadi manusia."
"Tolong bantu balaskan dendamku dan mereka berdua." Ucap Rain dengan pandangan yang kosong.
"Maksudnya?" Rain hanya menatap Rara lalu sosok itu hilang perlahan, membuat ke kepoan Rara harus ditunda.
"Dasar hantu. Memang makhluk halus dia, dan aku juga hantu." Gerutunya dan ikut menghilang seperti Rain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Aneh kenapa Rio bisa melihatku ya? Padahal yang ku lihat, aku seperti hantu macam Rara.
Naya Moengela, benarkah dia yang selalu ada bersamaku? Kenapa aku tidak tahu semuanya? Aku hanya tahu mama, papa, kak Vano dan kak Veni.
Siapa pun diriku, aku akan mengikuti alur yang telah terjadi.
__ADS_1
Rarify Anifhumari^~^