Buku Harian

Buku Harian
[20] Rain Datang Lagi


__ADS_3

Bab 20


Ify berjalan terburu-buru menuju toilet yang ada di musholla. Saat sampai ia menatap cermin kecil yang ia bawa, dan di cermin terlihat sosok Rara di sebelah wajahnya.


"Kenapa lagi, Hmm?" Tanya Rara.


"Ra, adakah cara lain? Aku tidak ingin seperti ini dan itu membuatku tidak nyaman." Ify menundukkan kepalanya dan bersender di dinding toilet.


"Kenapa kau tidak mau? Seharusnya kau senangkan bisa berdekatan lagi dengan kedua kakakmu?"


"Kak Veni sepertinya tidak senang melihatku Ra. Kau lihat sendiri'kan saat aku pura-pura ke toilet dia terlihat sangat cuek." Lirihnya sambil menatap Rara di cermin.


"Mungkin kak Veni lagi capek Fy, positif thinking saja. Lagipula dia cuek karena apa? Dia tidak akan seperti itu terhadapmu." Ucap Rara sambil mengetuk kening Ify.


"Aku tidak tahy Ra." Rara menatap Ify lewat cermin matanya sayu seperti ia lelah dengan keadaannya.


"Ya sudah kau ingin seperti apa sekarang?" Ify menatap manik mata Rara yang sama seperti Ify.


"Apakah bisa di kabulkan?" Gumam Ify dan Rara mengangguk mantap. 


***


Vano menghampiri Veni yang sedang duduk dibukit kecil. Veni hanya meliriknya saja tanpa berkata apapun.


"Kau lihat Rify tidak?" Tanya Vano saat ia mendudukkan dirinya disamping Veni.


"Tidak." Jawab Veni singkat dan membuat Vano menyerit heran.


"Kenapa kau seperti ini, Ven?" Vano memiringkan duduknya dan menatap Veni lekat. Veni hanya menggeleng saja.


"Ceritakan saja kepadaku, kau kenapa?" Tanya Vano lembut. Veni menatap Vano dengan mata yang berkaca-kaca, satu kedipan saja air matanya jatuh. Vano mengatupkan wajah Veni.


"Ada masala apa, Hmm?" Vano memeluk Veni, air mata Veni jatuh seiring isakkan nya. Vano membiarkan Veni menangis dan ia hanya bisa mengelus-elus punggung Veni.


"Aku salah tidak membenci orang yang terpenting dalam hidupku?" Tanya Veni yang masih memeluk Vano.


"Masalahnya apa?"


"Aku tidak ingin orang itu berdekatan dengan orang yang aku suka." Vano meregangkan pelukannya dan tangannya memegang kedua bahu Veni.


"Tatap kakak Ven." Veni mendongak melihat mata Vano yang dalam.


"Dengerkan baik-baik. Kalau kau membenci orang yang jelas-jelas bagian dari hidupmu, entah itu keluarga, kau tidak akan bisa. Karena keluarga adalah segalanya."


"Disaat kau terpuruk atau merasa jatuh siapa yang slalu ada membantumu? Keluarga. Belum tentu orang lain. Iya kan?" Veni menitikan air matanya lagi dan terisak mendengar kata-kata Vano, tangan Vano menghapus air mata Veni dengan ibu jarinya.


"Sekarang jelaskan siapa yang kau maksud?"


"Sebenarnya aku kesal dengan Rify kak, dia seperti dekat dengan Rio. Aku cemburu melihatnya." Veni menundukkan kepalanya dan menangis.


"Sudah, kau jangan menangis lagi." Vano membawa Veni kepelukannya.

__ADS_1


"Kau masih ingatkan dulu kan, saat kau menginginkan sekali seorang adik. Nah kebetulan mama sedang hamil waktu itu, kau bilang, kau ingin adik perempuan yang nantinya kau bisa ajak dia bermain rumah-rumahan, masak-masakan, main boneka bersama. Akhirnya ke inginanmu terkabul, mama melahirkan bayi perempuan."


"Saat kau melihat adikmu, kau ingin namainya sama sepertimu. Mama kebingungan mencari nama yang sama tapi tidak ketemu, akhirnya mama mengambil nama awalmu 'Ra' lalu papah menambahkan 'Rify' dibelakang namanya. "


"Saat waktu kau mengajak Rify main ayunan, lalu Rify jatuh tapi kau yang menangis. Adik kecil itu bilang, dia sayang sekali sama adiknya, tidak mau Rify terluka. Lalu saat kau di marah sama mama waktu kedua pensilmu hilang gara-gara kau ceroboh, Rify membelamu. Dia bilang pensilmu tidak hilang tapi ada di plastik buku, padahal kakak lihat itu bukan pensilmu yang Rify bawa tapi pensilnya."


"Kakak tanya ke Rify kenapa dia berbohong? Lalu dia jawab, dia tidak tega melihatmu di marahi oleh mama, kau itu kakak pahlawannya." 


"Kalau kau kesal sampai benci sama Rify, dia bakalan sedih karena kakak pahlawannya itu membencinya lalu nanti siapa yang akan menjaganya? Dia pasti teramat sedih Ven." Tangis Veni makin pecah mendengar cerita Vano yang menyadarkan dirinya.


"Maafkan Veni kak, maaf. Veni hampir kehilangan lagi Rify adik tersayang Veni, maaf."


"Veni memang tidak pantas menjadi kakak yang terbaik buat Rify, disini Veni yang jahat kak." Racau Veni dipelukan Vano.


"Kau harus meminta maaf kepada Rify Ven." Veni melepaskan pelukan Vano dan mengangguk.


"Yasudah kita ke tempat yang lainnya, kita mau ke air terjun, disana sejuk." Ucap Vano dengan kekehan diakhir kalimatnya.


Mereka kembali berkumpul bersama yang lainnya, sesampainya disana Veni mengedarkan pandangannya untuk mencari Rify, tapi tidak ada. Matanya berhenti di satu titik yaitu ia melihat Ify yang sedang menatap langit.


"Ify." Gumamnya, lalu Veni menghampiri Ify yang ternyata tidak sendiri melainkan bersama Shilla, Via dan Agni.


"Heyy." Sapa Veni dan membuat mereka menolehkan ke arah Veni kecuali Ify yang masih asik menatap langit.


"Kok kalian disini, tidak ingin gabung dengan yang lainnya? Padahal kita mau ke air terjun loh. Kalian ikut?" Tanya Veni, Shilla membulatkan matanya, begitu juga dengan Via dan Agni. Veni menatap Ify yang belum masih menatapnya.


"Serius?? Ahh!! Mauu!!" Teriak Via.


"Yasudah ayo kita kesana." Shilla menarik tangan Via dan Agni dan meninggalkan Veni sama Ify.


"Fy--" Tanya Veni lembut dan ikut duduk disamping Ify. Suara Veni membuat Ify mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap Veni yang berada di sampingnya.


"Kita kumpul yuk, kita mau ke air terjun." Ify menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Veni.


Veni menghela nafas lelah, ia menatap punggung kecil Ify yang perlahan mulai menjauh. Apa ia salah bicara? Salah dengan sikapnya? Astaga! Veni benar-benar pusing.


***


Semua siswa-siswi Swener sedang berjalan di jalan setapak menuju air terjun, jarak yang mereka tempuh lumayan jauh. Kanan kiri terdapat pepohonan rindang dan rumput liar, jalan yang berliku-liku dan agak licin. Sesekali suara gonggongan anjing terdengar oleh mereka, membuat mereka waspada takut di sisi, belakang dan depan mereka anjing itu akan menampakkan wujudnya.


"Aish, menuju ke air terjun saja suasanya menakutkan. Tidak ada ular kan disini? Apa jangan-jangan ada? Ah, mama tolong Shilla!!" Rutuk Shilla sepanjang jalan.


"Banyak bicara sekali, kau bisa diam? Kaki ku sedang sakit, mana masih jauh lagi." Shilla memicingkan matanya kearah Via.


"Eleh, emang perkataanku ada hubungannya dengan kakimu yang sakit?" Tanya Shilla sinis.


"Tentu jelas ada lah, semakin kau berbicara tidak jelas semakin sakit kakiku. Aku ingin menjadikanmu santapan ajingku yang di rumah." Statik Via, Shilla hanya bercebik. Sementara Agni dan Ify yang ada di belakangnya hanya menatap mereka datar.


"Bisa diam tidak kalian?" Tanya Agni dan Ify berbarengan. Shilla dan Via menoleh ke belakang dimana Ify dan Agni berada.


"Omg!! Apa yang baru saja Ify berbicara?" Pekik Via dan menutupkan mulutnya. Ify memutarkan bola matanya mendengar pekikkan Via.

__ADS_1


"Sudahlah kalian mengahadap lagi kedepan, nanti kalian pada kesandung baru tahu rasa." Ucap Agni, mau tak mau Shilla dan Via harus nurut dengan ucapan Agni.


"Menyebalkan." Gumam mereka berbarengan. 


"Aku mendengarkannya." sinis Agni.


Ify mengedarkan pandangannya ke segala arah, memang agak gelap karena cuaca disini sedikit mendung. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding, Rara yang berada di sampingnya menengok kearah kiri Ify dan disana ada sosok Rain muncul dengan sosok aslinya, menyeramkan.


"Fy, kau tetap lihat kedepan. Di sebelah kirimu ada Rain yang sedang menatapmu tepatnya kita." Ify tertegun mendengar ucapan Rara. Apa benar Rain ikut juga? Buat apa dia mengikuti Ify?


"Cepat selesaikan." Ucap sosok itu lirih dan suaranya seperti tepat berada di dekat kuping Ify.


"mak--maksudnya, se--se--selesaikan apanya?" Tanya Ify gugup.


"Kasusku."


"Ap--apa?"


"Setelah kembali dari sini."


"Jangan nengok Fy, jangan." Ucap Rara saat ia melihat Ify secara spontan menolehkan ke arah kirinya.


"Aku harus bagaimana Ra?" Tanya Ify gelisah.


"Nanti setelah pulang dari sini kita bicarakan lagi."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buku Harian ❄


Liburan kali ini seperti liburan yang membuat hatiku hancur. Kak Vano yang tidak lagi menghampiriku, dan kak Veni yang mulai mengacuhkanku.


Apa salahku kak? Sehingga kalian begitu? Aku minta maaf sama kalian.

__ADS_1


Love you all..


Rarify Anifhumari^~^


__ADS_2