
Part 2
Pagi menjelang, aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Aku hanya butuh beberapa menit untuk bersiap-siap,
Lalu aku melangkah keluar kamar. Saat aku membukakan pintu kamar, kakak laki-laki ku lewat begitu saja.
Huft. Aku lelah, aku harus berbuat apa? Aku melangkah turun kebawah untuk sarapan bersama-- Rara? Dimana dia? Aku menengok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Rara.
"Rara?" Tanyaku dengan lirih.
"Aku sudah di meja makan Fy." Dia sudah ada di sana? Aish. Dia sungguh menyebalkan.
Aku melanjutkan langkahku menuju meja makan. Sesampainya di sana, semuanya bungkam tidak ada yang bercanda seperti dulu.
"Mama, papa." Tanyaku, mereka masih bungkam dan fokus pada sarapannya.
Aku menoleh kearah Rara yang ada di sebelahku, seolah mengerti Rara mengusap bahuku. Rara berdiri dari duduknya dan melangkah keluar rumah. Tanpa memikir panjang aku menyusulnya, sekali lagi aku menatap mereka, berharap ada keajaiban. Namun tetap sama, ya sudah tidak apa-apa.
****
Author Pov
Diruang makan keluarga Hanif sedang bersarapan, keheningan saat ini menjadi soundtrack di sana. Pikiran mereka kemana-mana, apa sih yang mereka pikirkan?
Seorang laki-laki kini menatap orang tuanya dan adik perempuannya.
"Kita harus cari Rify kemana lagi Ma, Pa?" Tanya Vano sambil menatap orang tuanya.
"Sabar ya kak, Rify pasti ketemu. Dia pasti baik-baik saja. Kau tahu, Rify itu kuat." Mama mengelus tangan anak sulungnya.
"Bener kata Mama kak, Rify pasti ketemu." Ucap Veni.
"Yasudah ayo kita berangkat, nanti kalian telat."
****
__ADS_1
Vano dan Veni kini berjalan di koridor sekolah. Banyak murid yang menatap mereka kagum. Mereka itu the most wanted dan couple terfavorit. Haha, mereka ini jelas tidak tahu kalau Vano dan Veni itu kembar. Yaa, walaupun tidak mirip.
Vano dan Veni tak ambil pusing dengan mereka, malah mereka sangat menyukainya.
Brukk
Ditikungan tangga Vano dan Veni bertabrakan dengan seorang gadis berkacamata.
"Sorry." Ucap gadis berkacamata dengan dingin, Vano dan Veni tersentak mendengar suara dingin gadis itu. Vano dan Veni menatap gadis itu dengan tatapan yang-- Ntahlah. Gadis itu ingin melangkah tapi Vano langsung menahannya.
"Apalagi?" Tanyanya yang masih dengan nada dingin.
"Sepertinya aku tidak asing dengan wajah ini." Ucap Veni dengan lembut. Gadis itu menggeleng tegas.
"Bukan, kalian salah orang." Gadis itu benar-benar pergi dan Vano tidak menahannya seperti tadi.
"Dia..."
"Dia bukan Rify Ven." Veni menganggukan kepalanya. Vano menggandeng Veni dan pergi ke kelas mereka, kebetulan mereka satu kelas.
****
'Mengapa sesakit ini rasanya, kenapa?'
Rara begitu saja muncul secara tiba-tiba disamping Ify, lalu memeluk Ify dari samping. Ify masih aja bungkam, air matanya turun makin deras. Lalu mengusapnya dengan kasar dan membuang nafas berkali-kali.
Sedangkan Rara, dia hanya melihat saja. Pelukan Rara sudah lepas.
"Mau sampai kapan kau akan begini terus?" Tanya Rara lembut. Ify hanya mengangkat bahunya acuh.
"Aku tidak tahu." Ify mengikat rambutnya dengan asal.
"Yasudah terserah kau, sekarang kita ke kelas sebentar lagi bel berbunyi." Rara dan Ify pergi ke kelas bersama, di koridor semua berbisik-bisik.
"Lihat dia si orang aneh."
__ADS_1
"Sok misterius."
"Sangat di sesalkan dia sekolah di Swener."
"Sekarang kita tidak aman, semenjak dia di sini."
Rara yang melihat itu menggeram kesal, ingin sekali Rara mencakar-cakar muka mereka tapi ia tahan. Ia takut Ify jadi sasaran orang-orang itu. Bel masuk pun berbunyi dan semua murid berhamburan ke dalam kelasnya masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Aku seperti dipermainkan, mereka semua masih seperti itu. Maksud mereka apa?
Apakah dengan caraku ini bisa semuanya akan seperti dulu lagi?
Kalaupun ini adalah cara yang terbaik, aku akan mencobanya.
__ADS_1
Rarify Anifhumari^~^