Buku Harian

Buku Harian
[15] Maaf Rara


__ADS_3

Bab 15


"Agni, Shilla." Panggil Via dengan menirukan suara anak kecil di ambang pintu kelas Agni dan Shilla.


Agni dan Shilla sedang berdiam diri di kelas menoleh ke arah pintu kelas.


"Iya adek Via." Jawab mereka berdua.


"Kita bakalan liburan!!" Via berlari dan duduk di depan Agni.


"Iya, ini liburan pertama kita." Ucap Shilla antusias.


"Kita harus mempersiapkan perlengkapannya bersama, Oke?!" Ucap Via membuat Shilla mengangguk, Agni malah menatap mereka.


"IIIIEELLLLL!!" Teriak seseorang di ambang pintu.


"Eh cengek gocengan, berisik sekali! pelankan suaramu, apa aku harus mencabut pita suaramu?!" Ucap Via ganas.


"Ini bukan urusanmu, gendut." Ketus orang itu yang berpakaian seragam ketat dan make up berlebihan.


"Lebih baik kau pergi dari sini badut, untuk apa kau mencari Iel?" Ucap Shilla sinis.


"Aku akan berkencan dengannya. Ahh, kau pasti iri dengan ku, shilla?"


Mereka memutarkan bola matanya, songong sekali dia, serasa paling cantik. Penampilannya sudah seperti badut pancuran aja udah bangga, apa dia tidak punya cermin di rumah? Perlu donasi cermin?


"Kau bilang aku iri kepadamu?" Shilla tersenyum meremehkan gadis itu seraya memainkan ujung rambutnya. "Jangan harap dan cepatlah bangun dari tidurmu. Karena kau sekarang sedang berada di alam mimpi."


"Dan satu hal yang perlu kau tahu, Iel tidak akan sudi berkencan dengan gadis sepertimu." Celetuk Agni. Via dan Shilla tertawa mendengar celotehnya Agni.


"Cih, sok tahu kau itu. Aku tahu kau iri dengan kecantikanku, sehingga kau berbicara seperti itu kepadaku, cewek setengah cowok." Agni hanya menggedikkan bahunya tidak menganggapi perkataan gadis yang ada di depan kelasnya itu. Cih, PD sekali.


"Shilla sayang.." Ucap seseorang yang berdiri di belakang gadis itu. Mereka semua menolehkan pandangannya ke orang tadi.

__ADS_1


"Perkataan ku benar adanya." Ucap Agni santai. Shilla hanya menunjukkan wajah datarnya, ia tahu Iel melakukan itu hanya sandiwara, tapi dalam hatinya ia ingin kebalikannya.


Apakah aku boleh berharap?


"Iya kenapa Yel?" Tanya Shilla lembut membuat Iel terpaku didepannya, begitu pula gadis itu. Shilla yang melihat itu tersenyum miring, dan aksinya berhasil. Permainan dimulai. Pikirnya.


"Ini tidak mungkin!!" Gertaknya dan ia langsung pergi meninggalkan kelas.


"Lah kabur dia, hahaha." Ucap Via sambil tertawa


"Padahal kan permainannya belum dimulai." Shilla menekuk kan wajahnya.


"Semoga saja dia lelah." Ucap Iel. 


***


Ify kini sedang memelas dihadapan Rara, sedari tadi Rara merajuk dan tidak mau berbicara lagi kepada Ify.


"Ra, please aku minta maaf." Ify masih aja belum menyerah ia terus berminta maaf pada Rara dan ini memang salahnya.


"Aku sudah tidak mempunyai teman lagi. Yasudah kalau kau ingin seperti ini lebih baik aku saja yang menjauh." Lanjutnya lalu ia bangkit dari duduknya dan melangkah.


Baru dua langkah Ify merasa ada yang memeluknya dari belakang, Ify menunduk melihat siapa yang memeluk dan terlihat disana bayangan tangan Rara yang melingkar di perutnya.


"Aku sudah nyaman bersamamu Fy, mana mungkin aku tinggalkan begitu saja dan membuat ku sengsara?" Tutur Rara dengan lembut.


"Kau adalah teman yang aku pilih. Kau adalah sebagian dari ku Fy, dan kau adalah aku."


"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa." Rara menggelengkan kepalanya lalu terdengar isak tangis Rara, membuat Ify terdiam. "Maaf, aku yang egois Fy, seharusnya aku yang lebih mengerti kan mu, aku yang sudah mengenalmu lebih lama."


"Sudah Ra jangan menangis, aku juga minta maaf yang selalu cuek kepadamu." Rara tersenyum antusias. "Kita baikan kan?" Ify sambil membalikkan tubuhnya dan menghadap ke Rara.


"Baikan!!" Pekik Rara dengan senang, Ify hanya tersenyum lebar melihat kelakuan Rara.

__ADS_1


"Oh!! Apakah ini mimpi? Aku tidak salah lihat kan? Ify tersenyum--"


"Aiissss, Kau membuatku salah tingkah saja." Mereka melanjutkan berbincang sambil berjalan menuju kelas, kadang-kadang Ify terkekeh, kadang jutek, dan itu semua dilihat oleh semua murid yang ada di sekitar mereka.


Seseorang di atas atap dengan balutan baju putih selutut dan rambut di cepol rapih melihat Ify dan Rara bercanda, ia hanya tersenyum tipis.


"Fy--" Lirihnya sangat lirih seperti angin berhembus, dan orang itu menghilang tertutup awan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buku Harian ❄


Persahabatan sungguh menyenangkan, tidak semua orang memiliki sahabat yang benar-benar sahabat.


Sahabat adalah segalanya, suka, duka, canda dan tawa selalu bersama. Sahabat lebih dari kata Istimewa.

__ADS_1


Terimakasih Rara, kau sudah bersedia menjadi sahabatku, dan semoga kita bersahabat selamanya.


Rarify Anifhumari^~^


__ADS_2