Buku Harian

Buku Harian
[4] Who Are You?


__ADS_3

Part 4


Kepercayaan memang susah di dapat, tetapi kalau mencoba untuk mempercayakan sesuatu, pasti akan tumbuh kepercayaan. Percayalah ^u^


Ify sekarang berada di ruang kesiswaan, saat kejadian di kelas tadi tubuh Ify berhasil di kendalikan oleh Rara. Sampai saat ini pula Rara masih bersenayam di tubuh Ify, menatap tajam guru kesiswaan dengan wajah datar terkesan dingin dan berwajah pucat pasi.


Jelas, Rara tidak ingin keluar dari tubuh Ify, karena dia masih marah kepada mereka.


"Apakah kau tidak merasa kasihan kepada Ify?" Ucap guru itu dengan sabar. "Cepatlah kembali." Rara menggeleng tegas membuat guru itu menghela nafas lelah.


"Saya masih marah kepada mereka, kenapa mereka kejam terhadap Ify?" Jelas Rara dingin, tatapan tajamnya masih menatap guru itu.


"Ify anak baik, sangat baik. Mereka tidak tahu apa yang terjadi kepada Ify, kenapa mereka keterlaluan?" Lanjutnya.


"Sebenarnya kau ini siapa?" Tanya guru itu.


"Saya adalah Ify, Ify adalah saya. Dalam artian satu raga dua jiwa." Guru menelan salivanya susah payah mendengar ucapan sosok yang ada di depannya.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya guru itu lagi dengan nada bergetar.


"Anda tidak perlu tahu tentang ini, dan tidak seorang pun yang tahu bahkan Ify sendiri tidak tahu." Rara bangkit dari duduknya dan melangkah keluar lalu langsung berlari ke taman belakang.


Rara duduk di kursi panjang favoritnya, dan melihat Ify berdiri di depannya, kakinya tak menyentuh tanah.


"Fy, maafkan aku. Maaf." Lirihnya, lalu ia menunduk, tak lama kemudian terdengar isakan dari mulut Rara, Ify yang tahu Rara menangis langsung berjongkok untuk menyamakannya.


"Tidak usah berminta maaf, aku tahu. Kau tidak salah." Ucap Ify lembut, Rara mendongakkan kepalanya dan matanya menatap mata Ify, terlihat disana mata itu terpancar ketulusan dan kelembutan membuat Rara tersenyum.


"Kau sangat baik, aku beruntung bisa termasuk sebagian darimu."

__ADS_1


"Yasudah, aku keluar dan kau masuk lagi."


"Aku tidak mau." Ucap Ify sedikit merengek, Rara tertawa mendengar rengekkan Ify. Sungguh ia merindukan sifat Ify yang dulu, merengek seperti anak kecil yang ingin pergi ke pasar malam.


"Ra, aku ingin bicara." Tiba-tiba wajah Ify berubah jadi serius. Rara hanya menganggukan kepalanya.


"Aku ini kenapa Ra?" Tanya Ify sambil menatap Rara kosong. Rara menyeritkan dahinya tak mengerti.


"Maksudmu?" Ify berdiri dan duduk di samping Rara.


"Ya, kenapa hidupku begini? Aku terasa terhalangi oleh sesuatu, kenapa aku bisa lihat sosok lain, kenapa aku mempunyai kamu, kenapa aku diberikan kelebihan ini."


"Suatu saat nanti kau akan tahu jawabannya. Percayalah."


"Aku benci waktu." Ify mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada.


"Ayo kita bertukar lagi, aku tidak terbiasa menjadi manusia." Lanjutnya.


Rara dan Ify memejamkan matanya cahaya terang perlahan muncul di diri keduanya, bayangan Ify berpindah dan Rara keluar dari tubuh Ify, setelahnya Ify jatuh pingsan.


***


Rio keluar dari kelas sambil tebar pesona, di koridor tidak jauh dari kelasnya Rio sadar bahwa di luar tidak ada seorangpun. Rio cengo mau apa ia tebar pesona kalau tidak ada orang sama seklai? Rio.. Rio! Kepedean sekali kau itu. Batinnya.


"Biasanya orang ganteng selalu tidak menyadari dengan suasana." Ucapnya dan melanjutkan lagi langkahnya lalu berhenti lagi.


"Mau apa aku keluar?" Tanyanya sendiri.


"Holll. Aku harus mencari If-If, aish. Namanya saja tidak tau?" Rio kembali berfikir siapa yang ia cari. Astaga Rio kenapa menjadi sosok yang bodoh begini sih? Ketenaran langsung rubuh Rio!

__ADS_1


Lampu keluar dari kepalanya Rio dan ia tersenyum lebar.


"Orang gila." Celetuk seorang murid sambil melewatinya, Rio melongo dan cepat-cepat menengok ke arah murid tadi, tapi murid itu sudah jauh darinya.


"DASAR TEMPE MENDOAN!" Teriak Rio kesal lalu melanjutkan lagi langkahnya.


***


Veni sedang berjalan di koridor ingin ke perpustakaan, saat melewati gudang belakang bulu kuduk Veni meregang lalu ia langsung berhenti.


"Kenapa merinding sekali?" Tanyanya sambil mengusap tengkuknya, tanpa sadar Veni menoleh kearah gudang sekolah.


Disana ada seorang siswi yang sedang berdiri menghadap pintu gudang itu, Veni heran kenapa siswi itu ada disana? buat apa? Siapa dia? Veni terus memperhatikan siswi itu, tiba-tiba siswi itu perlahan memalingkan wajahnya seolah ingin menengok kebelakang.


Setengah wajahnya sudah terlihat, wajahnya pucat pasi. Veni tercekat melihatnya lalu wajah itu sempurna terlihat. Veni terbelalak, wajah itu dipenuhi dengan darah segar sampai menetes kebawah.


"AAAAAAAA."


Veni berlari tanpa tujuan. Dia tidak peduli mau lari kemana, yang jelas dia kaget setengah mati melihatnya.


****


Buku Harian ❄


Ya aku Rara. Hai. Kalian tahu kenapa aku marah tadi? Kalian pasti tahu itu.


Aku marah karena mereka asal mengejek, aku tahu apa yang dirasakan Ify saat mereka mengejeknya. Sebab aku adalah Ify, Ify adalah aku, sebenarnya ini bukan kemauannya Ify untuk mempunyai kelebihan itu tapi takdir telah mencatat itu. Kehidupannya juga telah tercatat. Ify adalah segalanya bagi semua.


Rarify Anifhumari^~^

__ADS_1


__ADS_2