
Part 5
Veni terus berlari sampai ia bertabrakan dengan seseorang membuatnya jatuh terduduk. Orang itu menjulurkan tangannya berniat untuk menolong Veni untuk berdiri.
Veni yang sedang ketakutan langsung menyambut tangan itu.
"Kak Veni, kau kenapa?" Tanya orang itu. Veni yang menunduk langsung mendongakkan kepalanya.
"Rio?" Veni bukannya menjawab pertanyaan orang itu malah balik tanya, dan orang itu menganggukan kepalanya.
"Aku ingin ke perpustakaan lewat gudang, kau tahu Rio? Aku merinding ternyata di gudang ada sosok yang berwajah seram." Veni bercerita dengan nada bergetar sedangkan Rio membulatkan matanya.
"Serius?" Tanya Rio dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Veni yang melongo. Bodoh kau Rio sama kakak kelas! Geram Veni.
"RIOOO!! BODOH!! KAU.. AISHH." Veni mengejar Rio yang sudah menjauh.
Rio hampir sampai di gudang sekolah dan langkahnya terhenti. Tiba-tiba tangannya terasa ada yang memegang, Rio berbalik dan ternyata Veni yang sedang mengatur nafasnya. Rio menghela nafas lega, ia mengira yang memegang tangannya itu adalah sosok hantu. Kalau benar-benar hantu, Rio angkat tangan menghadap ke kamera.
"Kak, jangan membuatku kaget, bisa?" Ucap Rio seraya membalikan tubuhnya menghadap Veni.
"Suruh siapa kau main pergi begitu saja, sudah tahu aku sedang ketakutan."
"Lalu kau melihatnya dimana?" Veni menunjukan gudang yang berada di belokan sebelah kiri. Rio dan Veni berjalan perlahan.
Tiba-tiba seorang gadis berambut panjang dan berkacamata lewat dari belokan yang sama, membuat mereka kaget. Gadis itu menatap keduanya dengan wajah datar dan tajam.
"Fy, sedang apa kau di sana?" Tanya Rio reflek.
"Bukan." Ujarnya dingin dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Heh?" Rio dan Veni tercengang mendengar jawaban gadis itu, mereka heran maksudnya apa sih? Jawabannya tidak nyambung sama sekali.
"Dia yang kau lihat kak?" Tanya Rio, Veni hanya menggeleng dan membuat Rio kebingungan. Maksud gelengan itu 'bukan atau tidak tahu'??.
Mereka menoleh kebelakang untuk melihat gadis berkacamata itu, dan apa yang mereka lihat? Yap kosong tidak ada satu orangpun disana. Perasaan belum lama kan gadis itu pergi? Apa mungkin dia bersembunyi? Mana bisa.
"Loh? Kemana dia." Tanya Rio polos.
"Apa aku bilang. Dia adalah hantu, Rio." Ucap Veni dan langsung pergi meninggalkan Rio.
"Eh, kak Veni!" Panggil Rio agak teriak.
"Rio, semua orang meninggalkanmu karena kau terlalu tampan. Nasib orang tampan begini rupanya. Oke, tidak apa-apa. Masih banyak yang mengantri untukmu, Rio." Rio memonolog sendiri sambil berkacak pinggang.
Dibelakang Rio, seorang gadis berkacamata muncul secara tiba-tiba lalu ia meniup kuping Rio. Rio yang merasakan itu langsung merinding, bulu kuduknya berdiri, lalu mengusap lengannya.
"Aku ingin tahu, apa bisa aku yang tampan bisa di jahili hantu? Astaga ini tidak lucu." Gadis itu meniupkan lagi kuping Rio dan ia makin merinding.
"Yakk!! Kau kalau mengidolakan ku bilang, jangan di--" Rio berbalik dan terbelalak melihat sosok mengerikan di hadapannya, wajah yang berdarah, kacamatanya patah dan belingnya bertancap dipipi kirinya.
__ADS_1
"AAAAAAA!!" Rio lari terbirit-birit menjauh dari sosok itu sesekali Rio jatuh tersandung. Hihihihi, sosok itu mengeluarkan suara mengerikannya dan pergi ke gudang belakang dan menghilang didepan pintu gudang.
****
Ify sekarang berada di ruang kesehatan dan ia sudah sadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu.
"Ra--"
"Jangan terlalu dipikirkan Fy, kau masih belum pulih, lebih baik kau istirahat, oke. Jangan membantah!" Rara memotong ucapan Ify, Rara sangat tahu apa yang Ify bicarakan.
Dia tidak ingin Ify yang sekarang, Rara ingin Ify yang dulu. Sekarang Rara sedang berusaha untuk mengembalikkan Ify yang dulu, sebenarnya dia sendiri tidak tahu percis apa yang terjadi pada Ify.
Terakhir kali yang Rara rasa, Ify dibully dan di kurung di gudang belakang, dan setelah itu Rara tidak ingat. Dulu Rara belum muncul saat Ify lahir sampai Ify berumur belasan tahun, dan kejadian itu, ia hanya mendapat pecahan peristiwa yang mirip dirinya. Dan dari bangunnya Ify, Rara terlihat oleh gadis itu. Dan Rara juga heran kenapa bisa begini.
BUKKK..
Sebuah bantal mendarat di muka Rara dengan sempurna membuat si empunya kaget, dan si pelaku malah tidak peduli.
"Ihh, Ify kau menyebalkan sekali." Rara memanyunkan bibirnya.
"Aku memanggilmu beberapa kali tapi kau malah melamun." Rara hanya terkekeh tidak jelas.
Hawa dingin mulai memasuki ruang kesehatan, gordennya pun bergerak pelan. Ify melihat sosok gadis cantik diambang pintu menatap Ify dan Rara tajam.
"Tolong aku!" Ucapnya dengan lirih.
"Ra, dia siapa?" Tanya Ify yang masih menatap pintu yang tertutup.
"Aku tidak tahu Fy." Jawab Rara yang sama seperti Ify menatap pintu yang tertutup.
"Dia kenapa?" Ucap mereka berbarengan.
****
BRAAKK
Rio menggebrak pintu kelas membuat para sahabatnya kaget, Rio mendudukan dirinya dilantai depan kelas sambil mengatur nafasnya.
"Kau kenapa? Kau seperti di kejar hantu saja." Tanya gadis berpipi chubby - Vevilya Zizahra atau Via -
Mereka adalah Alvianos Jhonatan atau Alvin, Qweshilla Drezahran atau Shilla, Shamiel Thanza atau Iel, Ragni Trinubu atau Agni dan satu lagi yang sering Rio kata-kata kan Cicak dan Cakdut ialah Groy Cakka atau Cakka.
Mereka bersahabat sudah dari lama semenjak SMP, ya beginilah mereka sepakat untuk melanjutkan sekolah berbarengan dan yah,, tercapai juga.
"Iya. Aku dikejar sama sosok menyeramkan."
"Hah? Bagaimana bisa!" Tanya mereka berbarengan.
"Ya bisalah."
__ADS_1
"Terus-terus."
"Hantunya menyeramkan, wajahnya setengah hancur." Semua yang terduduk di kursi langsung berlari dan duduk di depan Rio, mereka membuat formasi lingkaran.
"Kau tidak bercanda kan, Yo? tapi kenapa kau bisa melihatnya" Tanya Shilla.
Rio mengatur nafasnya dan mulai bercerita, mereka bergidik ngeri, untung saja mereka tidak bertemu dengan sosok itu, kalau sebaliknya bagaimana? Ahh menakutkan!.
"Sebentar, barusan kau bilang 'Fy'? Maksudnya Ify? Gadis misterius itu?" Tanya Alvin.
"Iya, wajahnya sangat mirip. Cuman dia memakai kacamata, sedangkan Ify tidak. Aku bilang begitu karena reflek."
"Apa Ify mempunya kembaran? Terus kembarannya sudah meninggal." Ucap Shilla.
"Tapi mana mungkin Shil." Ucap Via.
"Kalau saja, Via. Tahukan maksudku." Balas Shilla.
"Hm. Ini sungguh misterius." Ucap Cakka sok dramatis.
"Nah satu kemungkinan, Ify terkadang suka berbicara sendiri. Dia bukan berbicara sendiri tapi sama kembarannya, waktu dia kerasukkan, dia memanggil nama 'Ra'." Jelas Iel, mereka berenam berfikir dari kata-kata Iel ada benernya juga.
"Bisa jadi." Ucap Rio, yang lain menganggukan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Menjadi sosok hantu sangat tidak menyenangkan, badan terasa ringan, kaki tidak menyentuh tanah, melayang tidak aturan, semua orang tidak bisa melihatnya. Sungguh tidak enak, kenapa Rara suka ya?
Gadis tadi itu siapa? Mau apa dia meminta tolong? Apa aku harus menolongnya?
Rarify Anifhumari ^~^
__ADS_1