
Bab 13
Tok-tok-tok!!!
"Ven, buka pintunya."
Vano mengetuk pintu kamar Veni namun tidak ada sahutan dari dalam.
Tok-tok-tok! Lagi-lagi Veni tidak membukakan pintu.
"Ven--" Teriak Vano.
Brakk-brakk
Ceklek!
"Aish, ada apa?! Kau mengganggu tidur siang ku. Berisik sekali." Veni kesal pasalnya acara tidur siangnya terganggu, sesekali menguap sambil mengucek matanya.
"Kau mau ikut aku tidak?"
"Kemana?" Veni menyenderkan kepalanya di pintu kamar dengan mata tertutup.
"Jalan-jalan." Ucap Vano sambil bersedekap dada. Mata Veni langsung terbuka lebar ketika mendengar kata 'Jalan-jalan'.
"Serius?" Pekik Veni, Vano hanya menganggukkan kepalanya.
"Kemana?" Tanyanya lagi.
"Ke kuburan." Jawab Vano singkat, Veni mendelik kan matanya kearah Vano.
"Aish!! Abang!! Kau abang durhaka!!" Veni menekuk kan wajahnya membuat Vano tertawa, ia berhasil mengerjai adiknya. Lalu ia mengacak rambut Veni.
Vano sadar akan panggilan 'Abang' yang artinya kalau Veni telah memanggil dirinya dengan panggilan 'Abang' ia ingin di manja oleh kakaknya. Dan kalau lagi serius Veni memanggil Vano dengan panggilan 'Kakak'.
Vano pun begitu, ia memanggil Veni dengan panggilan 'Adek' dan untuk Rify sang adik bungsu ia memanggil dengan panggilan 'Dede' semua panggilan itu adalah panggilan sayang dari Vano sang kakak tertua.
"Yasudah, sana cepat bersiap. Aku tunggu di bawah." Setelah berucap begitu Vano pergi turun kebawah.
Braakk! Dengan kesal Veni membanting pintu membuat Vano tergelonjak kaget.
"De--" Teriak Vano.
"Iya!! Abang.." Teriak Veni meledek.
***
Wajah Veni makin ditekuk sampai berlipat-lipat, Vano yang melihat itu lewat ekor matanya hanya tersenyum tipis. Bibir Veni misuh-misuh tidak jelas.
__ADS_1
"Masih marah?"
"Bodo amat!!" Jawab Veni cepat.
"Kau terlihat jelek kalau sedang marah."
"Bodo amat!!"
"Kalau jodohmu pergi, bagaimana?."
"Bodo am-- Eh?" Veni membekap mulutnya sendiri, lalu memukul pelan bibirnya.
"Eh bibir, kenapa kau bisa mengatakan 'bodo amat'? Kalau ternyata itu benar pergi bagaimana? Lalu Veni si gadis cantik keturunan bidadari tidak mempunya seorang kekasih bagaimana? Ah Tuhan!!! bagaimana ini? Aku tidak ingin dijuluki menjadi seorang yang tidak mempunyai kekasih. Ahh, aku tidak ingin seperti itu." Gumam Veni yang narsis membuat Vano melongo.
Sedetik kemudian Vano tertawa kencang, Veni menatap Vano dengan tatapan bertanya dan itu malah membuat tawa Vano makin kencang. Setelah sadar kenapa Vano tertawa kencang, Veni menekuk kan wajahnya lagi.
"Di tekuk lagi deh wajahnya." Vano masih saja tertawa melihat tingkah adiknya, ia sangat bersyukur mempunyai adik yang sangat lucu.
"Kau bilang akan jalan-jalan, ini kok malah jalan kaki menyelusuri komplek? Kau tidak mengerti perasaan seorang gadis, apa? Kau tidak tahu betapa pegalnya kakiku ini?" Ucap Veni jutek lalu duduk di pinggir trotoar.
"Tadi aku bilang temanya jalan-jalan."
"Lalu kenapa tidak memakai motor atau mobil?"
"Te--"
"Temanya jalan-jalan. Aish." Celetuk Veni jutek.
"Aku berhak menyudutimu, karena itu salahmu. Dan dengan bodohnya aku menuruti apa perkataan mu. Aku tidak mau tahu, kau harus menggendongku." Vano berdecak malas dan terpaksa ia melangkah ke depan Veni lalu berjongkok.
"Banyak bicara sekali. Ayo cepat naik." Veni tersenyum lebar dan naik ke punggung Vano.
***
Vano dan Veni mengantri untuk memesan donat yang mereka inginkan.
Yaa, sekarang ia sedang berada di kafe D.Coffee, yang artinya ' Donat dan Coffee ', kafe ini adalah kafe yang setiap hari ramai di kunjungi dan tempatnya lumayan luas.
Donatnya juga ada bermacam-macam rasa, ada Saus strawberry, blueberry, taro, almound, kelapa, peterpandan, keju, green tea, dan yang terbaru adalah donat Milosaurus.
Donat yang berisikan coklat malt whippen cream, lalu ditaburi bubuk coklat dan bubuk susu milo.
Walaupun kebanyakan coklat tapi manisnya tidak semua orang yang memakannya merasa pusing. Dan juga Coffee nya, sangat sangat enak di lidah.
"SELAMAT SORE, ATAS NAMA KAK RIFY SILAHKAN PESANANNYA." Teriak pegawai kafe itu.
"Rify?" Gumam Vano dan Veni berbarengan
__ADS_1
Seorang gadis berkacamata, wajah datar, pucat dan juga dingin melewati Vano dan Veni yang sedang berdiri menunggu antrian.
"Kak Rify?" Tanyanya lagi, gadis itu hanya mengangguk sambil menunjukkan struk mengatasnamakan dirinya.
"Silahkan pesanan kakak, dua donat Milosaurus dan satu cappucino freeze, Selamat menikmati."
"Terima kasih." Gadis itu pergi membawa pesanannya dan mencari tempat duduk dekat jendela, ia hanya seorang diri disini.
Vano telah menjingjing satu dus yang berisi setengah lusin donat dan menghampiri Veni yang duduk di dekat meja gadis yang bernama Rify.
"Van, apa perlu kita menghampiri gadis itu?" Tanya Veni dengan nada bergetar.
"Iya, ayo." Veni berkeringat dingin yang kini perlahan tapi pasti menghampiri Gadis itu, pasalnya kalian pada masih ingat kan waktu kejadian tempo hari saat Veni dan Rio melihat sosok yang berada di gudang belakang sekolah? Ya pasti kalian masih ingat.
Kini mereka telah sampai di meja yang di duduki oleh gadis itu, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya dengan wajah datar.
"Hmm, boleh kita duduk disini?" Tanya Vano. Gadis itu tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, Veni yang melihat itu melongo.
Veni tak percaya dengan gadis yang di hadapannya, dia tersenyum tipis? Omg! Ini memang langka. Tapi kenapa di sekolah beda lagi? Pertanyaan itu membuat Veni bergidik ngeri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Donat Milosaurus adalah makanan yang aku sukai, kedua kakakku bahkan tidak tahu itu.
Aku sengaja tidak memberi tahu mereka apa yang aku sukai, biarkan mereka yang mencari tahu sendiri, itu pun kalau mereka sayang padaku. Ahh, sudahlah jangan dulu membahas mereka, sekarang aku sedang merasa senang.
Dan apakah dengan cara ini aku bisa berdekatan dengan mereka? Aku sudah rindu mereka, tapi aku tidak bisa mengungkapkan semua rinduku ini. Dan biarkan rindu memendam di diriku saja.
__ADS_1
Rarify Anifhumari^~^