Buku Harian

Buku Harian
[17] Mimpi 1


__ADS_3

Bab 17


Seorang gadis berkacamata, rambut dikuncir kuda, berwajah polos, sedang berjalan di koridor sekolah yang masih sepi. Sekarang jam 06:20, sudah biasa dia datang ke sekolah jam segitu. 


Perasaan dia tak enak setelah dia berdiri di depan kelasnya X IPA-1, gadis itu mengusap tengkuknya yang merasa merinding. Dia mengamati sekitar dan tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan satpam di luar gerbang. Ia merasa seperti ada yang sedang memperhatikan, lalu ia segera menggelengkan kepalanya untuk menyakinkan tidak ada apa-apa. Oke tenang, pikirnya, sekali lagi ia menghela nafas. 


Tap--tap--tap!!! 


Gadis itu menahan nafas saat suara langkah seseorang di ujung koridor kanan. 


Tap--tap--tap!!! 


Dia semakin berkeringat dingin, badannya sudah gemetaran, dia memejamkan matanya sambil bibirnya terus merapalkan doa. 


Tap--tap--tap!!! 


Tangan gadis itu makin mencengkram buku yang ia dekap, matanya masih terpejam dan bibirnya masih terus merapalkan doa. 


Pukk!!! 


'Astaga, siapapun!! Bisa tolong aku.' Batinnya.


"Neng, kok diam saja di depan pintu?" Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dan seketika matanya membulat dibalik kacamatanya, diam-diam dia menghela nafas lega, membuat seseorang yang bertanya padanya menatap bingung. 


"Apa masih dikunci ya neng kelasnya? Perasaan sudah dibuka deh sama saya." Gadis itu tersenyum manis, lagi dan lagi seseorang yang mungkin berumuran sudah berkepala tiga menatapnya dengan heran. 


"Ada apa ya neng?" Tanyanya lagi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. 


"Nggak ada apa-apa kok pak, cuman tadi saya lagi ngelamun jadi lupa buat buka pintunya." Jelasnya dan wajahnya masih tersenyum. 


"Pagi-pagi jangan ngelamun ya neng, nanti kesambet." Gadis itu mengangguk dan orang itu adalah bapak yang bertugas pegang kunci pergi begitu saja sesudah menganggukan kepalanya juga untuk pamit. 


Gadis itu membuka pintu kelas dengan hati-hati, lalu ia melangkahkan kakinya kearah meja yang berada di tengah-tengah dan menaruh tas nya di kursi. 


Ia mendudukan dirinya dan membuka novel yang masih separuh ia baca. 


"RIFFYYY!!" Gadis itu kaget mendengar teriakan yang berasal dari seseorang yang ada di ambang pintu. 


"Ada apa Nay?" Tanya gadis itu yang ternyata bernama Rify dengan lembut. Seseorang yang di sebut Nay itu berjalan kearah meja Rify dan duduk disamping nya lalu memeluk nya dengan erat. 


"Naya kangen sama Rify." Rify membalas pelukan Naya sambil tersenyum. 


"Rify juga kangen sama Naya." Naya terkekeh, bukan karena jawabannya melainkan suaranya yang lucu seperti anak kecil, itu pikir Naya. 


Naya bersahabat dengan Rify sudah lama, saat mereka SMP. Mereka cuman berdua, nggak ada orang lagi yang mau bersahabat dengan mereka, semua teman di sekolahnya hanya memilih-milih teman. 


Satu alasan semua siswa-siswi di sekolah nggak mau berteman dengan Naya dan Rify karena mereka berdua itu CUPU! Ya cupu dan beranggapan mereka berdua itu termasuk orang-orang miskin. 

__ADS_1


Buktinya mereka ke sekolah nggak bawa mobil atau motor, nggak berdandan selayaknya perempuan atau gadis-gadis diluar sana. Mereka ke sekolah pake angkot, pulangnya pun pake angkot, iuwww!!. 


"Rif, ke taman yuk." Tanya Naya sembari melepaskan pelukannya, Rify hanya menganggukan kepala saja dan mereka pergi keluar dari kelasnya. 


Saat mereka asik berbincang, mereka dihadang oleh kakak kelasnya bertiga membuat mereka berhenti berjalan. 


"Eh duo cupu lewat." Ucap seorang gadis berambut panjang dan berwarna grow yang di anggap leader nya. 


"Mau kalian apa?" Tanya Naya yang merasa tidak takut, Rify menggoyangkan tangan Naya supaya tidak meladeni tiga kakak kelasnya itu. 


"Oww!! Ternyata dia belum takut juga sama kita." 


Tiga kakak kelas itu menatap Naya dan Rify dengan pandangan yang meremeh, mereka adalah Dara, Elin, dan Zila. 


"Toh, ngapain kita takut sama kalian? Kalian juga manusia, bukan tuhan. Ngapain harus ditakuti." Naya dengan kalemnya menjawab seperti itu dan membuat ketiga kakak kelasnya menggeram kesal. 


Dara melayangkan tangannya untuk menampar Naya, tapi tangan itu berhenti di udara. 


"Kenapa? Nih tampar, tampar. Kenapa berhenti?" Ucap Naya sembari maju selangkah. Tangan Dara mengayun lagi siap untuk menampar. 


Plakk 


Naya membulatkan matanya, dia menatap Rify yang sudah tersungkur di depannya. Tak ada jalan lagi Rify nekat maju selangkah untuk melindungi sahabat satu-satunya itu, dan tamparan Dara sukses mendarat ke pipi Rify sampai tersungkur dan ujung bibirnya berdarah. 


"Rify!! Ayo bangun, maafin Naya, Rify." Naya membantu Rify untuk berdiri, dan mengusap darah dengan ibu jari Naya. 


"Kau!! Kenapa aku yang di salahkan?" Ucap Dara sembari mendorong bahu Naya hingga Naya dan Rify mundur satu langkah. 


"Iya, coba kakak nggak halangin kita, coba kakak nggak tampar aku. Semua nggak akan terjadi." Naya meneteskan air matanya sambil memeluk Rify. 


"Alah cengeng." Cibir Dara dan diangguki oleh Zila dan Elin. Seseorang dibalik Naya dan Rify menatap mereka berlima dengan wajah memerah karena menahan amarahnya lalu menghampiri mereka dan berhenti di depan Dara. 


"Belum puas kalian ngebully mereka?" Ucapnya sambil menatap tajam lawan bicaranya. Dara terkekeh sinis mendengar pertanyaan konyol yang di lontarkan most wanted girl ini. 


"BELUM!! Apa kau puas." Jawab Dara dengan angkuh nya dan membalas tatapan tajam itu dan itu tidak membuat Dara dan teman-temannya takut. 


"Kak Veni udah kak." Ucap Rify sambil menarik-narik baju orang yang ada dihadapannya, membuat Veni menoleh kebelakang. 


"Rify, diam! Jangan halangin kakak. Mereka sudah keterlaluan. Jadi kakak mohon kau diam." Rify langsung menundukkan kepalanya mendengar gertakan Veni. Dara menaikan sebelah alisnya dan tersenyum sinis. Veni menatap tajam ke arah Dara, Elin dan Zila. 


"Aku peringatin sekali lagi, jangan sekali-sekali ngebully mereka. Siap-siap kalian di D.O dari sekolah ini." 


"Heh, kau itu siapa hah? Kau bukan pemilik sekolah ini. Dan apa kau lupa? Aku siapa? Aku Dara Ananta, anak dari kepala sekolah ini." Ucap Dara dengan angkuh nya, Veni hanya memutarkan bola matanya dan bersedekap dada. Veni menatap ke belakang dan menatap wajah Rify yang sudah pucat. 


"Naya, tolong kau antarkan Rify ke uks ya." Naya hanya menganggukan kepala nya lalu memapah Rify ke uks. Setelah Naya dan Rify sudah tak terlihat lagi, Veni memutarkan badannya menghadap ke Dara. 


"Kau tahu siapa aku?" Tanya Veni menantang, Dara meniup-niupkan ujung kuku nya seolah pertanyaan Veni dianggap angin lalu. 

__ADS_1


"Biar aku yang jawab." Elin melangkah maju kedepan sambil menatap Veni sinis. 


"Kau itu, Raveni Sonaya. Cuma murid biasa dan semua siswa-siswi disini menganggapmu Most Wanted Girl. Tapi aku heran kenapa ya sosok yang ada di depanku itu jadi MWG? Katarak kali tuh mata." 


"Mereka nggak katarak, cuma matamu aja yang burem El. " Bukan, bukan Veni yang menjawab, tapi Zila dengan kekehan di akhir kalimatnya. Elin melirik tajam ke arah Zila, yang dilirik hanya memasangkan wajah polosnya. 


Sebenarnya mereka itu heran, Zila itu teman si ratu bully, tapi kayak yang nggak cocok dengan wajah polosnya yang ingin mereka timpuk pake sepatu mereka lalu ingin di coret-coret pake kecap sama saus. Gregettt sumpah!!! 


"See--" 


"Alah, banyak ngomong! Cepet jawab!." 


"Oke aku akan jawab, aku Raveni Sonaya kakak dari pemilik sekolah ini." 


Skak!! 


Dara, Zila dan Elin membulatkan matanya dan wajahnya merah padam, Veni yang melihat reaksi mereka bertiga hanya tersenyum miring. 


"Kapanpun yang aku mau, aku akan bilang ke adikku untuk men- D.O kalian dari sini dan kalau perlu kepala sekolah di sini akan dicabut. NGERTI!!" sontak mereka menganggukan kepala mereka saat Veni membentak mereka dan pergi dari sana. Syukur nya di koridor menuju taman tidak ada seorangpun siswa-siswi disini. Jadi ya aman-aman saja. Dara, Zila dan Elin langsung pergi meninggalkan Veni.


"Dasar bocah sok angkuh." Ucap Veni lalu ia pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buku Harian ❄ 


Seperti di bioskop, aku menyaksikan kehidupan yang aku tak di ketahui, mereka siapa? Yang aku ketahui cuman kak Veni. 


Aku tidak begitu jelas menyaksikannya, itu terlalu buram. Entahlah kenapa aku harus bermimpi seperti itu, semoga aja itu adalah salah satu petunjuk dari kehidupanku yang terasa aneh ini. 

__ADS_1


Rarify Anifhumari^~^


__ADS_2