
Bab 16
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, kini hanya tersisa Ify sendiri di kelas. Ify merasa dirinya tidak enak, namun ia mencoba untuk biasa aja. Dia tak ingin Rara sampai tahu, bisa-bisa ini masalah.
Merasa Ify lebih baik, ia keluar dari kelas untuk pulang. Tapi Ify di rumah bosan, menyebalkan.
Perlahan tapi pasti Ify berjalan di koridor sampai gerbang sekolah. Ify menoleh sebentar kebelakang lalu melanjutkan langkahnya menyusuri trotoar.
Tubuh Ify perlahan memudar seiring menjauh dari lingkungan sekolah, kini dirinya seperti roh yang sedang berkeliaran di siang hari. Ify menatap tangannya yang tembus pandang, lalu ia menghela nafas.
"Ada apa dengan ku? Apa yang telah terjadi?" Gumamnya sambil berjalan.
"Beri aku petunjuk Tuhan."
***
Veni menaiki tangga rumahnya, niatnya ia ingin bertemu sama Vano, sejak masuk sekolah ia tak bertemu dengan Vano sampai sekarang. Pulang pun Veni hanya di jemput supirnya, karena Vano sibuk di osis dari pagi. Mungkin sekarang sudah sore Vano udah pulang, pikirnya.
Tok--tok!
Setelah di ketuk pintu kamar Vano, Veni menyenderkan kepalanya di dinding dan memejamkan matanya.
Brakk-brakk!!
"VANO!! BUKA IHH!! AKU TAHU KAU DI DALAM!! VANO." Teriak Veni sambil menggedor pintu kamar Vano, tetap saja pintu itu tidak di buka.
Kesabaran Veni telah habis, ia memegang knop pintu dan membukanya.
Ceklek!
Tidak dikunci, pikirnya. Veni menyembulkan kepalanya kedalam untuk melihat Vano, dan mata Veni menatap seseorang yang sedang tertidur di kasur king size. Veni membuka pintu kamar Vano lebar-lebar dan berkacak pinggang.
"Beuh!! Mau di dobrak, di gergaji, di ketok palu, tetap saja tidak akan di buka, orang yang punya kamar tentu saja sedang tidur dengan pulas. Menyebalkan." Veni menggelengkan kepala dan menghampiri Vano yang tertidur pulas.
"ABANGG!!!" Lagi-lagi Veni berteriak dan membuat Vano terbangun dari tidurnya.
"Ya Tuhan. Ven ada apa, hm." Vano mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Abang." Vano merengek dan berjalan ke arah Vano.
"Uhh, sayang-sayang. Sini abang peluk." Ucap Vano merentangkan tangannya dan disambut oleh Veni. Mereka berpelukan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu.
"Abang capek?" Tanya Veni yang masih berpelukan. Vano hanya mengangguk.
"Abang lelah?" Lagi-lagi Vano mengangguk.
"Abang."
"Hmm."
"Abang."
"Hmm." Vano makin mengeratkan pelukannya. Vano menidurkan tubuhnya serta Veni, dan mereka berpelukan.
"Temani abang disini ya, Dek." Pinta Vano dengan suara beratnya, ia sangat-sangat ngantuk sekarang. Veni menganggukkan saja dan makin menelusup kan wajahnya ke dada bidang Vano. Tak lama kemudian mereka tertidur sambil berpelukan.
Benar-benar sangat mesra mereka berdua, itulah cara mereka mengungkapkan rasa sayang dengan kemanjaannya, ke jailannya, kebersamaannya. Jangan dulu kalian berpikiran mereka tidak pernah bertengkar, mereka sering bertengkar tapi nggak lama kemudian mereka baikan lagi.
***
Sayangnya danau ini nggak ada satu orang pun yang berdiam disini, hanya dirinya sendiri. Tapi tunggu itu siapa yang sedang bersender di pohon mangga? Gadis berkepang satu dengan poni di dahinya yang berjajar rapi, dress putih selutut dan itu mempercantik dirinya, mungkin usianya lebih tua dari Ify.
Gadis itu menoleh kearah Ify yang tak jauh dari tempat ia berada, tatapannya tajam membuat Ify bergidik ngeri.
"Pergi dari sini." Lirihnya sangat pelan, Ify tertegun mendengar lirihan gadis itu.
"Pergi!!" Gertaknya, Ify masih diam dan masih menatap gadis itu. Gadis itu hilang begitu saja membuat Ify membulatkan matanya.
"Tuhan, apa benar dia hantu?"
"Kenapa aku bertemu lagi sama makhluk itu, yang satu aja belum selesai, lalu ini tambah satu. Ahh pusing!!" Wajahnya sudah frustasi, ia menjambak rambutnya.
"Pergi!!" Ucap gadis itu tepat di depan wajahnya.
"Astaga!!! Hantu macam apa lagi ini?" Ify langsung lari saja dari sana tiba-tiba ada angin yang menerpa dirinya membuat tubuhnya terbang tertiup angin.
__ADS_1
"Aaaaa!! Aku takut, tolong aku!!"
"Aku takut ketinggian."
"Aku tidak mau menjadi seorang hantu, tidak!!"
Gadis itu melangkah mendekat ke sisi danau, lalu duduk menyendiri dan menatap lurus ke depan.
"Kau tahu? Aku selalu menunggumu di sini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buku Harian ❄
Sebenarnya aku ini sudah mati atau belum sih? Kenapa aku selalu begini saat di luar sekolah? Benar-benar seperti hantu.
Sungguh aku nggak mau seperti ini, dan aku nggak ingat kenapa aku jadi begini.
Dan soal gadis yang di danau, dia hantu juga? Masa sih ada tugas lagi? Ya Tuhan aku harus bagaimana?
__ADS_1
Rarify Anifhumari^~^