Buku Harian

Buku Harian
[19] Study Tour 2 (Kebun Raya Cibodas)


__ADS_3

Bab 19


Suasana di bus 1 sangat ramai sebab mereka berantusias dalam study tour ini. Perjalanan yang mereka tempuh selama 2 jam 49 menit itupun kalau tidak macet dan berhenti di pengistirahatan.


Sekarang mereka sedang mengadakan games untuk kepenatan mereka supaya tidak mabuk perjalanan. Gamesnya, mereka menggulirkan bola ke teman-temannya sambil bernyanyi. Bagi yang mendapatkan bola disaat lagu di stop maka orang itu akan maju kedepan dan mendapatkan hukuman.


Satu persatu siswa-siswi yang ada di bus 1 mendapat giliran, satu orang satu kali kena, kalau orang itu kena lagi maka orang yang di sampingnya lah akan maju kedepan.


Kini bola itu terus bergilir sesekali mereka tertawa melihat wajah mereka yang ketakutan, bukan takut tapi malu. Kalau suaranya fales gimana? Sudah akan di tertawakan.


Baby i'm dancing in the dark.


Saat Rio ingin mengoper bola yang ada di tangannya musik mendadak berhenti, otomatis bola pun masih di genggaman Rio. Rio melongo dan menatap bola yang ada di tangannya.


"Horee!! Rio kena!! Ayo nyanyi." Ucap siswi paling depan.


"Kenapa jadi aku yang kalah?" Rio memasang wajah bingungnya.


"Rio bodoh! Jelas-jelas bola itu masih ada di tanganmu." Ucap Iel yang berada di depan Via.


"Ahh, aku malas." Ucap Rio sambil mengusap rambutnya kebelakang.


"Tidak ada alasan Rio. Ayo maju kedepan lalu nyanyi atau kau mau menari di depan?" Rio berdecak malas mendengar petuah dari sang ketua osis yang terhormat. Mau tak mau Rio harus maju kedepan dan menimbulkan sorak-sorak dari siswa-siswi.


"So, kau ingin mengambil pilihan yang mana?" Tanya Vano dingin plus wajah datarnya. Sekali lagi Rio berdecak.


"Wajahnya tolong di junakkan pak ketos." Ucap Rio sinis. Vano terkekeh lalu menggedikkan bahunya.


"Aku pilih menari saja." Semua melongo mendengar pilihan Rio. Sedetik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Oke itu pilihanmu, sekarang kau menari tarian jaipong."


"Dan tidak ada bantahan." Lanjutnya saat Rio ingin memprotes. Musik jaipong mulai teralun dan Rio mulai berjaipongan.


Tak ingin menyesal, mereka merekam tarian Rio, ia sangat lihai menggerakkan tubuhnya.


Tidak terasa perjalanan mereka sudah memasuki jalan tol. Bus dari awal memasuki jalan tol tidak apa-apa, namun di pertengahan sang supir menginjak pedal rem dengan mendadak.


Bukk


Rio terjatuh kebelakang saat supir bus rem mendadak. Semua langsung berdiri melihat apa yang terjadi.


"Pak ada apa?" Vano menghampiri supir bus itu. Vano melirik Rio yang mengusap-usapkan bokongnya. Supir itu bukannya menjawab pertanyaan Vano malah langsung keluar dari bus.


"Apakah harus mengacuhkan ku?" Gumam Vano dan pergi menyusul supir bus. Mereka pun begitu turun keluar, tinggallah Rio juga Ify.


"Sue. Sue. Sue." Gerutu Rio dan ikut turun.


Ify menatap ke sekeliling jalan tol, jalan ini sangat ramai tapi tidak jelas. Lalu ia menatap ke belakang bus, ia melihat beberapa bus yang serupa melewatinya begitu saja.


"Aneh, dan ini manipulasi apa lagi?" Lirihnya. Ify ikut turun, dan setelah ada di luar ia mengedarkan pandangannya lagi.


Di pinggir jalan ia melihat kucing hitam besar dengan mata yang menyala, menatap tajam kearahnya. Kucing itu berbalik dan meloncat cepat ke dalam pepohonan yang ada di pinggir trotoar.


"Semuanya kita masuk lagi ke dalam, kita lanjutkan perjalanan kita." Ucap Veni. Semua siswa-siswi masuk lagi kedalam bus. 

__ADS_1


***


Mereka sudah memasuki puncak, sekarang suasananya sepi karena mereka pada tidur. Hanya Ify saja yang tidak tidur, entahlah kenapa matanya tidak bisa di pejamkan.


"Fy, perasaanku sepertinya ada yang aneh deh." Ify mengedarkan pandangannya kesemua juru. Namun tidak menemukan apapun.


"Iya. Tapi aku tidak tahu apa yang aneh." Jawab Ify.


Ify terus saja memandang kebelakang dan ke depan mencari ke anehan tapi ia tidak menemukannya.


"Fy, kau mencari apa?" Tanya Veni membuat Ify tergelonjak kaget dan menatap Veni dengan cengirannya.


"Hmm-- anu-- itu." Veni mengangkat sebelah alisnya melihat kegugupan Ify.


"Toilet." Gumamnya dan wajahnya menatap Veni lagi dan terkekeh.


"Iya, itu anu, aku mau ke toilet. Hehe."


"Ya sudah sana, nanti kebelet disitu lagi." Ucap Veni cuek, Ify merasa tidak enak terhadap Veni. Wajahnya kembali datar dan pergi ke toilet.


"Kenapa aku baru menyadarinya? Ify sekursi dengan Rio. Aku tak ingin Ify berdekatan dengannya, aku harus bersikap seperti apa lagi? Biarkan aku untuk egois hanya sekali ini saja." Gumam Veni, ia melirik kearah Vano yang tertidur disampingnya.


"Aku minta maaf Van." 


***


Ify membasuh wajahnya di wastafel, di kaca terdapat sosok di pojok toilet. Ify membulatkan matanya melihat sosok itu lalu perlahan menghilang.


"Kemana dia? dia siapa?" Lirihnya.


"Cari aku." Ify merinding mendengar suara dari sosok itu, ia buru-buru keluar dari toilet dan langsung duduk di kursinya.


"Serius sudah sampai?"


"Ini ada di mana?"


"Sekarang jam berapa?"


"Kok serem ya?"


"Ini di hutan kali bukan?"


"Hei? kalian itu bicara apa sih? Ini loh kita sudah sampai. Kita lagi cari tempat parkir."


1 Detik


2 Detik


3 Detik


Krrikk--krrikk!!


"Asiikkk.. !!"


Sorak mereka semakin antusias, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan dan di sana sudah ada beberapa bus yang mengangkut siswa-siswi Swener yang sudah terparkir dan sudah pada di luar.

__ADS_1


"Welcome to Kebun Raya Cibodas guys." Ucap Vano.


"Yeeyyy!!"


Kebun Raya Cibodas atau dalam bahasa inggrisnya Cibodas Botanical Garden. Terletak di hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Cipanas, Cianjur. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian 1.275 m dpl, bersuhu udara 17-27 derajat celcius.


Kebun ini didirikan pada tahun 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor pada lokasi di kaki Gunung Gede. Dengan curah hujan 2.380 mm pertahun dan suhu rata-rata 18 derajat celcius, Kebun Botani ini di khususkan bagi koleksi tumbuhan daratan tinggi basah tropika, seperi berbagai tumbuhan runjung dan paku-pakuan.


Berbagai Fasilitas tersedia di kawasan Cibodas, mulai dari lapangan parkir yang luas untuk menampung puluhan kendaraan roda empat maupun bus, ruang informasi yang di lengkapi dokumentasi Wana Wisata Cibodas, areal bermain anak-anak, musholla, MCK umum, shelter, pendopo, teater alam terbuka, dan tempat berkemah seluas 3 hektare yang dapat menampung 200 tenda.


Kebun Raya Cibodas berdekatan dengan beberapa tempat wisata lainnya. Bersebelahan Kebun Raya Cibodas terdapat Bumi Perkemahan Mandala Kitri yang di kelola oleh pramuka. Tersedia juga lapangan golf, Bandung Asri Mulya.


Di bumi perkemahan Mandalawangi yang di kelola oleh perum perhutani tampak sebuah patung Dinosaurus, yang memberikan gambaran atau peringatan agar kelestarian hutan ini janganlah sampai musnah seperti binatang purba yang tinggal sejarah tersebut.


Disamping itu, Kebun Raya Cibodas juga berdekatan dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP).


Kebun Raya Cibodas dimaksudkan sebagai tempat koleksi ex situ (diluar habitat) bagi tumbuh-tumbuhan tropis basah daratan tinggi. Termasuk koleksi nya adalah berbagai jenis pohon besar yang dilindungi seperti tusam, tumbuhan runjung, tumbuhan paku pegunungan, hutan kaliandra, hutan alam dan terdapat pula air terjun. Dari pintu masuk ke lokasi air terjun berjarak 750 meter.


"Waww udaranya sejuk ternyata." Pekik Via sambil merentangkan tangannya.


"Via. Ayo sini kita selfi dulu." Ucap Shilla yang sudah siap dengan kamera digitalnya. Via menghampiri Shilla dan langsung berpose di belakang Shilla.


"Wah! Kalian jahat, kalian tidak mengajakku. Akupun ingin." Cibir Agni menghampiri Shilla dan Via.


"Ya sudah ayo."


"EH IFY SINI KITA SELFI." Teriak Agni. Ify merasa namanya dipanggil langsung menengok kearah Agni dan tersenyum sambil bergeleng.


"YAH!! KENAPA KAU TIDAK MAU FY?" Ucap Via. Shilla menghampiri Ify yang tengah besender di badan bus, lalu menariknya ketempat yang lebih bagus untuk selfi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buku Harian ❄


Seru ternyata perjalanan kita semua, dan syukurnya tidak ada yang mabuk perjalanan satu pun. Baru pertama kali ini aku mengikuti games yang di adakan oleh kak Vano, untung saja tadi bola masih ada di Rio coba kalo udah sama aku terus lagunya di stop, Yaudah mau tak mau aku harus nyanyi.


Kucing hitam. Aku yakin kucing hitam itu bukan kucing hitam biasa, aku bisa ngerasainnya. Dan ada yang aneh di bus 1 ini, tapi aku nggak tahu yang aneh itu apa.

__ADS_1


Via, Agni, dan juga Shilla. Mereka teman yang nggak milih-milih. Buktinya aja aku di ajak untuk berselfi tapi aku ragu untuk lebih dekat sama mereka. Hmm..


Rarify Anifhumari^~^


__ADS_2