Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 10


__ADS_3

Brian pun langsung berlari menuju UKS. Ia pergi kesana untuk melihat kondisi Bintang. Bulan pun ikut mengejar Brian.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


Sampai di UKS, Brian langsung nyelonong masuk dalam ruang UKS. "Awas... Awas..." Ucap Brian sembari mendorong orang yang ada disana.


Brian melihat Bintang belum sadarkan diri. Sedangkan pria yang membawanya tadi kena tuduh melakukan pelecehan kepada Bintang.


"Ada apa ini buk?" tanya Brian dengan nada cemas.


"Bintang pingsan di toilet pria, di sana ada dia berduaan bersama Bintang tadi." Jawab guru itu sembari menujuk ke arah pria yang kena tuduh.


"Saya serius kok buk, saya gak ngelakuin apa-apa sama dia. Tadi dianya teriak-teriak saya kira dia kerasukan. Tiba-tiba saja dia pingsan pas berdiri." Ujar pria itu.


"Diam kamu, saya tidak menyuruh kamu berbicara." Jawab guru.


"Hmmm gini aja buk, saya bawa Bintangnya pulang ya buk." Ucap Brian yang tidak mau mendengar perdebatan.


"Ooohh... Yasudah nak, kamu antar pulang ya." Jawab guru itu.


Brian pun mengangkat badan Bintang dan membawanya keluar dari UKS. Saat Brian keluar, Bulan pun melihat itu semua dari matanya sendiri.


Membuat Bulan cemburu. "Bulan bantu gue cariin taxi." Ucap Brian dengan raut wajah menahan beban.


"Aaahh iya... Aku cariin."' Jawab Bulan lalu ikut bersama Brian.


Sampai di depan, mereka pun mendapatkan taxi. "Lan, tolong lo jagain dia disini. Kita bawa dia ke rumah sakit aja." Ucap Brian sembari memasuki badan Bintang ke dalam mobil Taxi.


"Oke-oke."


Bulan pun ikut masuk dalam mobil taxi. Sedangkan Brian mengendarai motornya.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit.


...***...


...DI RUMAH SAKIT...


"Hmmm Brian... Kita langsung pulang aja yuk." Ajak Bulan yang merasa resah.


"Tunggu bapaknya datang dulu, baru kita pulang." Jawab Brian.


"Hmmm oke deh..." Ujar Bulan dengan raut wajah kecewa.


Tidak lama ayah Bintang pun datang. Melihat disana ada Bulan, seketika raut wajah ayah Bintang pun berubah menjadi dingin.


"Makasih banyak ya, Brian. Kamu sudah jagain Bintang." Ucap ayah Bintang senyum ke arah Brian.


"Aaahh iya om, sama-sama... Hmmm Brian pulang dulu ya om." Jawab Brian sembari tersenyum.


"Ada yang mau oom sampaikan ke Brian..." Ucap Ayah Bintang.


"Apa tu om?" tanya Brian.


"Ikut oom dulu..." Ajak ayah Bintang.


Brian pun ikut jalan ayah Bintang. Sudah menjauh dari Bulan, mereka pun berbincang.


"Brian... Bintang punya penyakit asma... Jika dia susah mengontrol amarahnya, sesak nafasnya jadi kambuh. Jadi oom, minta tolong kepada kamu. Tolong jagain Bintang, oom sudah tidak bisa menjaga dia lagi. Sebenarnya oom sudah punya anak dan istri lagi. Oom menyembunyikan semua ini untuk kebaikannya. Oom serahkan dia kepada kamu, mungkin hanya kamu yang dapat membuatnya bahagia. Tolong turutkan amanat oom untuk kamu.!" Ucap ayah Bintang.


Brian pun terdiam dan bingung harus menjawab apa. Ia pun melihat ke arah Bulan yang memperhatikannya dari jauh lalu Bulan membuang wajahnya.


Brian tertegun dan kembali melihat ke arah ayah Bintang. "Yasudah om... Brian bakalan jagain Bulan." Jawab Brian sambil senyum.


"Makasih banyak ya, Brian. Kamu memang anak yang baik, kamu sangat cocok sama Bintang." Ujar ayah Bintang.


"Hehehe i-iya om..."


Brian dan ayah Bintang pun kembali ke depan kamar pasien yang di tempati Bintang. "Om... Brian sama Bintang pulang dulu ya..." Ucap Brian sembari mencium punggung tangan ayah Bintang.


"Iya..." Jawab senyum ayah Bintang.


Saat Bintang ingin mencium punggung tangan ayah Bintang. Ayah Bintang menarik tangannya dan menatap ke arah Bulan dengan tatapan tajam.


Brian yang menyadari itu pun langsung berpamitan agar Bulan tidak berkecil hati. "Yasudah om, Brian pulang dulu..." Ucap Brian lalu pergi bersama Bulan.


"Bulan..." Sapa Brian melihat ke arah Bulan.


"Iya?" jawab Bulan menoleh ke arah Brian.


"Hmmm lo jangan berkecil hati ya, dengan sikapnya ayah Bintang ke kamu. Ayah Bintang memang jutek orangnya. Hmmm itu juga... Dia kasih amanat ke gue! dia nyuruh gue jaga Bintang." Ujar Brian dengan raut wajah yang merasa tidak enak.


Bulan pun menoleh ke depan dan tersenyum. "Hahaha... Untuk apa aku berkecil hati. Gak papa kok, kamu jaga dia." Jawab Bulan tersenyum menyembunyikan air matanya.


"Lo beneran gak papa? tapi lo tetap gue jadiin sahabat kok." Ucap Brian menghentikan jalannya begitu juga dengan Bulan.


"Iya Brian... Aku gak papa kok, kamu cocoknya sahabatan dengan Bintang bukan sama aku." Jawab Bulan tersenyum.


"Lo apaan sih, lo cemburukan?" tanya spontan Brian yang tidak segan-segan mengatakan seperti itu.


Deg... Glek...


"Aaahh apaan sih kamu... U-untuk apa juga aku cemburu..." Jawab Bintang yang salah tingkah dengan pipi merah merona.


"Ck... Keliatan banget tahu gak sih dari wajah lo, kalau lo itu cemburu!" Ucap Brian yang merasa jika Bulan menyukainya.


"A-apa sih... Tahu ah... Aku pengen pulang." Jawab Bulan yang salah tingkah.


Bulan pergi ninggali Brian, Brian tersenyum. "Lo mau pergi dengan siapa? kalau lo ninggali gue?" tanya Brian membuat jalan Bulan berhenti.


Bulan pun menoleh ke arah Brian, dan berjalan menuju ke arah Brian. "Yaudah... Ayo kita pulang..." Ucap Bulan yang menahan malu.


"Nah kan benar... Lo itu cemburu... Udah deh jujur aja kalau lo suka sama gue. Lihat nanti jawaban dari gue." Ucap Brian sembari menyagil Bulan.


Bulan hanya diam sambil berjalan, terlihat jelas dari wajahnya yang merah merona. 'Iiihhh Brian apa-apaan sih...' Gumam Bulan dalam hati.

__ADS_1


Brian mengajak Bulan ke toko bunga. Entah untuk apa bunga dengannya.


...***...


...DI TOKO BUNGA...


"Lho kok kita berhentinya disini? kenapa gak langsung pulang?" Tanya Bulan dengan raut wajah kebingungan.


"Lihat aja deh... Gak usah banyak bacot deh lo lihat aja apa yang gue kerjakan." Jawab Brian sembari memilih bunga.


Bulan pun berhentak kesal, padahal perutnya sudah menahan lapar. Tidak lama Brian pun keluar dari toko bunga. "Bagus gak bunga nya?" tanya Brian sambil mengedip mata.


"Bagus banget, aku suka sama bunganya. Btw itu bunga untuk siapa?" tanya Bulan yang penasaran.


"Untuk Bintang!" jawab Brian sambil iseng mengerjai Bulan.


Seketika raut Bulan tadinya tersenyum, mendengar jawaban dari Brian membuat Bulan terdiam dan kecewa.


"O-oohh..."


Lagi-lagi Bulan tersenyum menahan air matanya. Brian yang menyadari itu pun menahan tawa.


Brian mengajak Bulan ke gedung miliknya tuan Sanjaya. Sampai di sana lagi-lagi Bulan di buat bingung oleh Brian.


...***...


...DI GENDUNG MENJULANG TINGGI...


"Lah... Mau ngapain lagi ini?" tanya Bulan yang bingung.


"Lo tunggu di sini... Dengar apa yang gue katakan nanti. Okeh? are you ready?" Tanya Brian sembari menaiki satu alis matanya.


"Hmmm yeahh... Ready..." Jawab Bulan yang sedikit ragu.


"Lo pegang ini bunga..." Ucap Brian sambil menyodorkan bunga ke arah Bulan.


"Oh iya-iya..."


Brian pun masuk dalam kantor itu, tidak lama ia keluar sambil membawa mick megaphone. "Nanti lo jawabnya pake ini ya... Okeh?" tanya Brian sembari mengedip mata.


Bulan hanya mengangguk bingung. Entah apa lagi yang akan di kerjakan oleh Brian. Brian pun masuk ke dalam kantor itu dan menuju ruangan ayahnya.


...***...


...DI RUANG TUAN SANJAYA...


"Ayah..." Sapa Brian dengan tatapan malas.


"Eh... Tumbenan kamu ke sini, ada apa?" tanya tuan Sanjaya sambil tersenyum. Sanjaya pun melirik ke megaphone.


"Itu megaphone mau kamu apain?" tanya tuan Sanjaya yang bingung.


"Ada deh ayah gak perlu tahu, ini urusan anak muda..." Jawab Brian sambil menyipitkan matanya.


"Hmmm..." Dehem tuan Sanjaya.


"Yah... Itu di atas pintunya gak di tutup kan?" tanya Brian.


"Idih ngapain juga mau bunuh diri... Orang aja mau jerik di atas..." Ujar Brian lalu pergi ke atas gedung.


Tuan Sanjaya pun terdiam bingung. Sampai di atas gedung. Brian tersenyum melihat ke bawah. Sangat tinggi membuatnya sedikit merinding.


Brian pun berteriak menggunakan megaphone. Ini yang ia ucapkan... "BULAN!!... GUE SAYANG SAMA LO, GUE CINTA SAMA LO. LO MAU KAN JADI PACAR GUE?" Tanya Brian yang berteriak di atas gedung.


Bulan yang melihat hal itu pun tidak percaya jika Brian mengatakan hal itu kepadanya. Bulan yang senang pun spontan langsung mengangguk senyum.


"IYA AKU TERIMA...." Jerit Bukan yang begitu senang.


Brian pun ikut senang dan meloncat senang. Saking senangnya, ia pun terjatuh dari atas gendung itu. Tuan Sanjaya pun berteriak lalu dengan cepat ia menarik tangan Brian sebelum Brian terjatuh dari atas ketinggian.


Dari bawah, Bulan pun jantungan melihat Brian berayun di atas gedung. "BRIAN... HATI-HATI..." Pekik Bulan yang cemas.


Sedangkan tuan Sanjaya menguraskan tenaganya untuk menarik badan Brian. "Ayah... Brian takut..." Ucap Brian merengek ketakutan.


"Aarrgghhh jangan lepasin ayak nak..." Jawab tuan Sanjaya dengan nada keras.


Brian pun berhasil di bawa ke atas. Tuan Sanjaya langsung menatap tajam ke arah Brian. "Gara-gara bucin, gini kamu ya... Rela mati gara-gara cinta. Hampir aja kamu jatuh terus mati kau... Bisa-bisa tulang kau kebelah 6, itu otak bakalan keluar dari kepala kau. Ada-ada aja kamu ini... Cuma mau ngungkapi perasaan sampai senekat ini? mau mati kamu?" tanya tuan Sanjaya yang marah.


"Hihihi... Gak papa yang penting di terima..." Jawab Brian lalu meninggali tuan Sanjaya.


"Astaga ini anak...." Ucap geram tuan Sanjaya melihat tingkah sang anak.


Brian pun turun dengan cepat dan kembali di posisi Bulan saat ini. "Iiihh kamu ya... Masih untung kamu gak jatuh beneran... Jangan gitu lah..." Ucap Bulan dengan raut wajah yang begitu cemas.


"Hihihi... Ya maap..." Jawab Brian sambil cengengesan.


Klien dan karyawan tuan Sanjaya pun bersorak. "Cieee... Selamat ya tuan muda..." Ucap kompak mereka.


Brian pun menahan senyum sembari merapikan rambutnya. Sedangkan Bulan menahan rasa malu. "Yuk kita pulang..." Ajak Brian.


"Hmmm iya ayo..."


Bulan pun mengangguk senyum, mereka pun pulang. Di perjalanan, bukannya mengajak Bulan pulang. Brian malah mampir ke restoran.


"Lah... Kita mau ngapain lagi?" tanya Bulan yang sudah tidak tahan ingin pulang.


"Ya kita makan disini lah, kamu lapar kan beb?" tanya balik Brian sembari senyum.


"Beb-bab-beb... Hilih." Jawab Bulan membuang muka.


"Ayo deh masuk, ayang nya aku sudah lapar kan? kuy lah masuk..." Ajak Brian.


"Jangan gitu ihh manggilnya." Jawab Bulan yang sedikit risih.


"Iya-iya... Ayo lah masuk, dah lapar nih. Perutku udah keroncongan..." Ujar Brian menarik pelan lengan Bulan.


Mereka duduk di meja yang sudah di pesan Brian tadi. "Kamu mau makan apa?" tanya Brian.


"Hmmm aku ngikut kamu aja..." Jawab Bulan.


"Selera kita berbeda, rasa lidah kita juga berbeda. Aku suka nya kamu, kamu suka nya dia. Eaaa...." Ucap Brian menggombal.


"Iiihhh kamu, apaan sih..." Jawab Bulan yang malu.

__ADS_1


"Hehehe... Aku pandai gombalkan?" tanya Brian sembari mengangkat kedua alis matanya.


"Gak, gombalan kamu gaje." Jawab Bulan yang tersenyum.


Tadinya raut wajah tersenyum, mendengar jawaban dari Bulan. Seketika raut wajahnya berubah.


"Hmmm oke..." Ujar Brian dengan raut wajah yang datar.


"Hehehe canda-canda, gombalan kamu pinter..." Jawab Bulan sembari mengedip mata.


"Eleh..." Kesal Brian.


"Ya maaf..." Ujar Bulan.


"Kamu gak salah kok beb..." Jawab Brian sembari tersenyum.


"Memang kok aku gak salah, siapa bilang aku salah. Kan aku cuma minta maaf..." Ucap Bulan menjulur lidah.


"Pengen ku potong tu lidah..." Jawab kesal Brian.


"Kalau lidahku di potong, ntar aku gak bisa bicara lagi dong." Ucap Bulan memajukan bibirnya.


"Iiihhh ngeselin banget ya..." Jawab kesal Brian.


"Ya maaf..."


Sudah berapa lama mereka adu mulut, pesanan mereka pun datang. "Ini pesanannya..." Ucap pelayan restoran.


"Ooo makasih..." Jawab Brian.


Mereka pun memakan pesanan yang mereka pesan tadi. Brian yang masih kesal kepada Bulan. Brian pun menarik piring yang jadi alas makanan Bulan.


"Eeh... Mau bawa kemana?" tanya Bulan.


"Kamu gak boleh makan, tunggu aku udah makan dulu." Jawab kesal Brian.


"Iiihhh kamu kenapa? kok malah jadi gini sih? salah aku apa?" tanya Bulan yang merasa tidak bersalah.


"Banyak..." Jawab kesal Brian.


"Kok di bawa serius sih? Iihhh kamu sensitif banget, gak asik ah. Mau pulang aja..." Ucap Bulan yang merajuk.


Saat Bulan berdiri dan berjalan. Dengan cepat Brian menahan tangan Bulan. "Eh... Jangan pergi, iya-iya ini makan lagi." Jawab Brian sambil memdudukkan Bulan lagi.


"Aku gak mood makan... Kamu aja yang ngabisin makana aku." Ucap kesal Bulan.


"Jangan gitu dong..." Bujuk Brian yang memelas.


"Aku lagi gak mood makan. Aku mau pulang aja." Ucap Bulan yang merajuk.


"Kita bungkusin aja ya...?" Tanya Brian.


"Terserah kamu aja..." Jawab Bulan berjalan menuju keluar.


'Gini ya kalau dia ngambek... Susah banget di bujuk...' Gumam Brian.


"Mbak... Tolong di bukus dong makanannya." Ucap Brian.


"Oh siap mas..." Jawab pelayan restoran.


'Dih gue di mas lagi...' Gumam Brian.


Di luar, Bulan menunggu Brian. Tidak lama Brian datang. "Udah iiihhh gak usah ngambek lagi. Aku minta maaf... Baru juga pacaran udah ngambek aja." Ucap Brian memelas.


"Ya..." Jawab singkat Bulan membuang muka.


"Kamu kaya nya benar-benar kesel deh ama aku. Kan aku dah minta maaf, kamu nya sih bikin aku kesal." Ucap Brian.


"Iya." Lagi-lagi di jawab singkat dengan Bulan.


Brian hanya bisa menghela nafas. 'Ternyata pacaran itu gak mudah bro...' Gumam Brian.


"Ayo kita pulang, kita makannya di rumah aja." Ajak Brian dengan nada lembut.


"Hmmm iya..."


Bulan pun naik di motor Brian. "Pegangan dong, nanti jatuh..." Ucap Brian lagi-lagi dengan nada lembut.


Bulan pun pegang pinggang Brian. Brian pun menarik tangan Bulan, sampai Bulan memeluk badannya.


"Biar aman..." Ucap Brian mendapatkan kesepatan emas.


Bulan hanya diam dan ngerutu dalam hati. Di dalan perjalanan, Brian mengendarai sambil senyum-seyum sendiri.


Ini lah pertama kali Brian mencoba berpacaran. Baginya pacaran itu sangat berat. Apa lagi berumah tangga.


Pov Brian...


This is my happy day, the first time i'm in a relationship with him. Really, I'm very very happy.


Di tanggal 18-bulan 3-2015. Tanggal kami jadian, hahaha iya tanggal kami jadian. Selalu ku ingat sepanjang masa.


Padahal kami baru jadian, tapi sudah bertengkar saja. Dia sangat lucu ya kalau ngambek. Tapi susah sekali untuk membujuknya.


Saat ini dia memelukku, ya memeluk karena lagi di atas motor. Kami seperti pasangan serasikan. Atau... Seperti Dilan 1990?


Hahahaha... Sekarang ini jantungku berdetak dengan kencang. Dia memelukku dan merangkul di punggungku.


Oohhh Bulan, sungguh kau sangat indah... Aaahh aku malah membuat puisi.


Hey sayang peluk lah di badanku, ku serahkan badanku menjadi bantal gulingmu di malam hari. Aaahh bunda... Ginjalku menjerit melihatnya.


Sungguh ini hal yang palingku tunggu. Bulan Yang Selalu Menyinari Waktuku.


...***...


...DI RUMAH DOKTER HENDRY...


Brian dan Bulan memasuki ruang utama. Di sana terdapat ada Dita sedang mengikis kuku nya. "EEehh kalian udah pulang... Brian keliatan banget deh bahagia. Ada apa ni?"


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2