
Brian dan Bulan memasuki ruang utama. Di sana terdapat ada Dita sedang mengikis kuku nya. "EEehh kalian udah pulang... Brian keliatan banget deh bahagia. Ada apa ni?" Tanya Dita sembari tersenyum.
...••••selamat membaca••••...
...🍁🍁🍁...
...*...
...*...
...*...
"Hmmm ada deh... Mama baru gak boleh kepo." Jawab Brian sambil senyum gemas.
"Hmmm kamu ya, yasudah ajak temannya makan." Ucap Dita.
"Ya mama baru, hmmm ma nanti malam temanku ada pesta. Nah aku ama Bulan pergi boleh?" tanya Brian.
"Boleh kok asal jangan pulang larut malam banget ya, kamu itu bawa anak gadis orang keluar. Nanti teman kamu di apa-apain sama temen kamu." Jawab Dita.
"Aman aja dia bebeb ku..." Ujar kecoplosan Brian.
"Hah?" kaget Dita
Bulan pun melotot kaget dan memberi kode. "Aaahh bukan itu maksudnya, biasalah kan Brian suka bercanda..." Jawab Brian.
Ucapan Brian pun terpotong oleh dokter Hendry. "Eleh... Kamu aja ngejerit di atas gedungnya bapakmu, dan kamu ngeloncat-loncat. Terus hampir mati...." Ucap dokter Hendry yang baru pulang kerja.
"Idih... Siapa yang bilang?" Tanya kaget Brian.
"Bapakmu sendirilah yang ngasih tahu, masih untung dah tu Jaya nyelamatin kamu. Coba waktu itu gak ada dia. Mungkin sudah berada di pelukan tuhan." Jawab dokter Hendry sembari membuka jas dokter nya.
"Hmmm" dehem Brian.
"Aduh anak muda sekarang... Lain kali kalau mau nembak cewek jangan gitu ya nak. Ntar kamu jatuh dari atas gedung. Apalagi kan gedung ayah kamu itu tinggi banget. Bisa-bisa badan kamu kebelah 6." Ucap Dita sambil membantu dokter Hendry membuka jas.
"Hmmm gimana nih di restuin gak?" tanya Brian sambil menahan senyum.
Bulan yang sudah tidak tahan lagi. Bulan pun langsung menghindar dari pertanyaan julid dari dokter Hendry dan Dita.
"Aaahh tante... Om... Bulan ke kamar dulu ya. Nanti Bulan turun lagi kok." Ucap Bulan lalu pergi menuju ke kamar.
Dokter Hendry pun tersenyum. "Oom tahu kamu kenapa mau ke kamar. Pasti ngehindar dari oom sama tante kan? takut di tanya-tanya kan?" tanya dokter Hendry sembari senyum jahil.
"Ngg-nggak kok om... Hehehe... Bulan ke kamar dulu ya... Permisi om, tante." Jawab Bulan lalu ke kamarnya.
Brian hanya melihat jalan Bulan saja. Tiba-tiba dokter Hendry yang sudah kepo, langsung menarik tangan Brian.
"Heh... Gimana tadi nembaknya? pasti romantis banget. Kaya masa muda kita dulu ya kan, ma?" Tanya dokter Hendry sembari mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
"Hilih... Kepo banget ni oom-oom... Ini kan urusan anak muda, orang yang sudah tua jangan kepo deh." Jawab Brian lalu pergi ke kamarnya.
"Eleh... Dasar bucin micin..." Jerit dokter Hendry.
"Bodo amat..." Jerit balik Brian yang sudah sampai di ujung anak tangga.
"Udah deh mas... Biarin aja deh mereka, pantau aja mereka dari jauh. Kita bimbing aja dia, ajarin dia gimana cara pacaran yang baik. Gak asal main nyosor aja." Ucap Dita.
"Hmmm jadi cara papa pacaran dulu sama mama salah dong? main nyosor aja... Eaaa... Canda nyosor..." Jawab dokter Hendry lalu pergi ke kamar.
"Iiihhh kamu ya...." Ucap Dita sembari melempar bantal.
...***...
...RUMAH SAKIT...
Bintang perlahan membuka matanya. Kepala yang masih merasa pusing membuatnya kembali menutup mata.
"Kamu sudah sadar, sayang?" Tanya ayah Bintang sembari mengelus kepala Bintang.
"Papih... Ini dimana? kok bukan di UKS?" Tanya balik Bintang sambil memegang kepalanya.
"Ini di rumah sakit sayang... Brian lho yang bawa kamu kemari." Jawab ayah Bintang.
Mendengar nama Brian membuat Bintang terngiang-ngiang di WC tadi.
Flashback on.
"Iya... Gue suka sama dia... Apa lo? mau nantangin gue?" Tanya balik Brian sambil senyum licik.
Flashback off.
Bintang pun menelan salivanya dan kembali mengeluarkan air matanya. Ayah Bintang yang menyadari itu, langsung mengapus air mata Bintang.
"Hey... Manis nya papih kenapa nangis, hah?" tanya ayah Bintang.
Bintang pun mengapus air matanya. "Hahaha... Mustahil Brian yang bawain aku ke sini." Ucap Bintang sembari tersenyum.
"Kamu gak percaya? dia bakal jagain kamu, lihat aja dia pasti jagain kamu terus. Jadi kamu jangan nangis lagi..." Jawab ayah Bintang.
Bintang pun menatap lekat wajah ayahnya. 'Mana mungkin dia bakalan jagain gue... Terus Bulan gimana? bukannya Brian suka sama si Bulan? kalau itu benar.... Gue gak bakal lepasin dia begitu aja.' Gumam Bintang dalam hati.
"Papih yakin?" tanya Bintang.
"Iya... Lihat aja deh..." Jawab ayah Bintang.
...***...
Malam hari...
__ADS_1
...DI HOTEL BINTANG LIMA...
Semua anak muda dan teman-teman Jhordan datang mengunjungi hotel mewah itu. Brian dan Bulan pun datang di tepat waktu.
Dari kejauhan, Bintang meliha Brian dan Bulan bergandengan tangan. Membuatnya panas melihat adegan itu.
Bintang yang lagi minum pun memuncratkan minumannya dari mulutnya. 'Mana mungkin dia mau jagain gue, dia nya aja akrap banget sama si culun...' Gumam Bintang.
Brian yang melihat Bintang pun langsung menghampiri Bintang. "Lan, ke dekat Bintang yuk..." Ajak Brian.
"Hmmm ya-yaudah..." Jawab Bulan sambil senyum tipis.
"Kamu gak keberatan kan?" tanya Brian.
"Ngg-nggak kok... Ayo kita kesana..." Jawab Bulan.
Mereka pun berjalan menuju ke arah Bintang yang sedang duduk. Saat mereka sudah mendekat. Bintang yang sedang minum sambil menunduk, dan melihat dua pasangan kaki. Satu pasangan kaki wanita, satunya lagi pasangan kaki pria.
Siapa lagi kalau bukan Brian dan Bulan. Bintang pun mendongak kan kepalanya. Ternyata Brian dan Bulan sudah berapa di depan matanya.
"Hay..." Sapa Brian sembari senyum tipis.
"Aahhh ha-hay..." Jawab Bintang yang terbata-bata.
"Lagi ngapain?" tanya Brian.
"Aaahhh gue lagi... Ya gue lagi minum memangnya lo gak lihat gue minum?" tanya balik Bintang.
Bulan hanya bisa diam dan menyimak mereka bercakap. Walaupun di hati merasa sakit melihatnya.
"Lihat kok... Kan bisa jadi aja kan lo lagi nungguin orang gitu..." Jawab Brian.
"Gak ada yang gue tungguin... Orang yang gue tungguin sudah pergi sama cewek lain." Ujar Bintang sembari menyindir.
Bulan hanya memutar malas matanya. "Hmmm ooo pasti orangnya di depan lo..." Jawab Brian yang merasa tersindir.
Bulan pun menoleh ke arah Brian dengan tatapan kecewa. Brian yang menyadari jika Bulan lagi marah, Brian pun mengalih pembicaraan lain.
"Aaahh kami boleh ikut duduk bareng gak?" tanya Brian.
"Aaahh boleh kok..." Jawab Bintang lalu bergeser.
Brian dan Bulan pun duduk. Mereka bertiga pun duduk berderetan.
Jhordan yang melihat kehadiran Brian pun langsung menghampiri Brian. "Oi beb... Ikut gue yuk..." Ajak Jhordan.
"Ohhh oke-oke... Hmmm kalian duduk berdua disini ya?" tanya Brian.
Bulan dan Bintang pun mengangguk. Brian dan Jhordan langsung pergi.
__ADS_1
...*~*~*...
Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!