Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 21


__ADS_3

Bulan dan Bintang pun mengangguk. Brian dan Jhordan langsung pergi. Brian dan Jhordan sudah mulai menjauh. Bintang pun menoleh ke arah Bulan sembari senyum licik.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


"Akrap banget ya... Pergi kesini aja barengan..." Ucap Bintang senyum licik.


Bulan hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. "Lo lihat aja nanti... Brian pasti pilih gue dari pada lo." Lanjut Bintang memanas-manasi Bulan.


Bulan masih saja pura-pura tidak mendengar, walaupun di hati merasa panas. "Gue sayang banget sama dia... Dia pasti pilih gue dari pada lo." Ucap Bintang.


Bulan bisa mengontrol emosinya. Tetap pura-pura tidak mendengar. "Lihat aja nanti, dia pasti bakal menjauh dari lo..."


Bulan yang sudah geram langsung berdiri dan mendorong Bintang. "Bintang, mau kamu apa hah? kamu benar-benar gak suka kalau aku dekat sama Brian. Brian itu sudah jadi pacar aku. Jadi gak usah merusak hubungan aku sama dia." Jawab Bulan dengan nada membesar.


Semua orang pun menoleh ke sumber suara. Mata mereka pun meralih ke arah Bulan dan Bintang.


"Pacar? apa lo gak punya urat malu sampai ngaku-ngaku pacar dia?" tanya Bintang ikut berdiri dengan suara membesar yang tidak kalahnya dengan nada suara Bulan.


"Kamu kali yang gak tahu malu... Tadi siang kami sudah pacaran. Pas kamu pura-pura pingsan..." Jawab Bulan yang emosi.


Plak...


Bintang menampar pipi Bulan. Bulan pun menyentuh pipinya yang sakit. Bulan yang sudah tidak bisa menahan emosi. Ia pun langsung mendorong badan Bintang sampai Bintang kecebur kolam renang.


Brian yang melihat dari kejauhan langsung terkejut, saat Bulan mendorong Bintang. Brian pun langsung berlari.


"Bulan... Kamu apa-apaan sih, jangan dorong dia dong. Dia gak bisa berenang..." Bentak Brian.


Bulan hanya menunduk takut. Brian pun langsung meloncat ke kolam berenang. Brian mengendong Bintang yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bintang... Bangun..." Ucap Brian sembari menepuk pelan pipi Bintang.


Bintang yang belum sadar juga membuat Brian panik. Brian pun terpaksa memberi nafas buatan. Di saat Brian mendekatkan bibirnya ke bibir Bintang.


Di situ juga Bulan cemburu lalu pergi dari hotel itu sambil menangis. Brian yang menyadari jika Bulan sudah pergi langsung berdiri dan mencari Bulan.


Di depan hotel, Bulan menghentikan taxi dan pergi. Brian yang baru sampai di luar, dan hanya bisa melihat kepergian Bulan.


"Bulan..." Jerit Brian.


"Aaarrgghhh kenapa malah jadi gini sih, hah..." Pekiknya sembari menendang kerikil.


'Huuufff... Gini banget ya kalau udah nyobain pacaran. Gak semudah yang gue bayangkan.' Gumam Brian sembari mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Aduh... Kemana dia ya?" tanya nya sendiri.


Di dalam hotel...


Bintang pun sudah sadar, di saat Brian memberinya nafas buatan. "Hmmm..." Dehem Bintang sambil mengelus kepalanya.


"Bintang lo gak apa-apa kan?" tanya teman Bintang.


"I-iya... Gu-gue... Gak papa kok." Jawab Bintang yang mencoba bangkit.


"Eh lo rebahan aja dulu..." Ucap temannya menahan Bintang.


Bintang pun kembali rebahan. "Bintang... Kami keluar dulu ya? acaranya udah mau mulai nih."


Bintang pun mengangguk lemas. Saat teman-temannya keluar dari kamar hotel. Remaja pria pun masuk dalam kamar itu.


"Lo udah sadar?" tanya pria itu.


"Lo... Hmmm iya gue udah sadar. Ngapain lo masuk kesini, pergi sana keluar." Jawab Bintang.


"Gue kesini mau niat membantu lo, tapi lo juga harus bantu gue deketin Bulan..." Ujar pria itu.


"Aaahhh i-iya... Gue pasti bantuin lo, lo juga bantuin gue deketin Brian ya?" tanya Bintang dengan raut wajah membinar.


"Aman aja... Pasti gue bantu." Jawab pria itu sambil senyum licik.


Bintang mengangguk senang. Pria itu adalah Fadli, pria yang menyukai Bulan dalam diam. Pria itu adalah kakak kelas Brian, Bulan, dan Bintang. Sifat nya yang angkuh membuat orang tidak berani macam-macam padanya hanya Brian lah yang bisa menurunkan harga dirinya.


Bintang pun juga menjukurkan tangannya, dan mereka pun berjabat tangan. Fadli pun langsung keluar dari kamar hotel itu.


Sedangkan Bintang senyum licik. 'Lihat aja, Brian pasti jadi milik gue seutuhnya...' Gumam Bintang.


...***...


...DI RUMAH DOKTER HENDRY...


Brian pun berlari memasuki ruang utama. "Mama... Bulan udah pulang belum?" tanya Brian.


"Hmmm udah... Tapi dia sudah pulang ke rumahnya... Tadi barusan pamit." Jawab Dita.


"Nanti dulu... Kamu kenapa jadi basah kuyup gini? hujan aja nggak..." Lanjut Dita.


"Nanti deh Brian kasih tahu..." Jawab Brian mencoba pergi ke rumah Bulan.


...***...


...DI RUMAH BULAN...


Bulan baru sampai di rumahnya, tidak disangka jika ayahnya sudah pulang. Di ruang tamu, ayah dan kakak Bulan duduk sembari melipat tangannya ke dada.


Bulan pun terkejut melihat kehadiran ayah dan kakaknya. Kebetulan ibu tiri Bulan berada di sana.

__ADS_1


"Ck... Dari mana saja kamu, pulang-pulang bawa koper?" tanya ayah Bulan sembari memberi tatapan tajam.


"Aaahh... Aku..." Jawab Bulan yang belum selesai.


"Sini kamu..." Perintah ayahnya.


Bulan pun mendekati ayahnya. "Jongkok kamu..." Perintah ayahnya.


Bulan pun jongkok di depan ayahnya. Ayah Bulan pun menendang kepala Bulan. Hal itu membuat ibu tiri dan kakak Bulan terkejut.


"Mas... Jangan gitu dong, sama anak gadis kamu." Ucap ibu tiri Bulan sembari memeluk Bulan.


"Hiks... Hiks... Maaf ayah..." Ucap Bulan yang menangis.


"Kamu jangan halangi aku, pergi sana kamu masuk dalam kamar. Tunggu aku disana." Jawab ayah Bulan.


Ibu tiri Bulan pun terpaksa masuk dalam kamar. Sedangkan Bulan mati ketakutan. Kakak Bulan juga ikut masuk dalam kamarnya.


Malas mendengar isakan tangis Bulan. Ayah Bulan pun menjambak rambut Bulan. "Aaarrgghh ayah... Sakit... Hiks..." Pekik Bulan menahan sakit.


"Makanya jadi anak jangan bandel, siapa suruh kamu nginep di rumah temen kamu?" tanya ayah Bulan sembari menarik paksa rambut Bulan sampai badan Bulan ikut ke seret.


"Hiks... Ayah... Sakit." Pekik Bulan.


"Gak usah nangis kamu." Ucap ayah Bulan menendang badan Bulan.


Terpaksa Bulan menahan tangis. Ayah Bulan pun menarik paksa tangan Bulan. Dan membawanya ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Bulan di dorong dan masuk dalam bathup. Ayah Bulan pun mengidupi air sower. Dan mengunci Bulan dari luar.


Dari luar rumah, Brian bernekat diri memanggil nama Bulan. Ayah Bulan pun langsung keluar.


"Ngapain kamu kesini?" tanya ayah Bulan memberi tatapan tajam.


"Bulan mana om?" tanya balik Brian.


"Ngapain kamu cari dia?" tanya ayah Bulan.


"Panggil aja Bulan kesini om, ada yang mau saya sampaikan ke dia." Jawab Brian dengan nada menantang.


"Hahaha... Berani banget kamu perintah saya. Bulan gak saya kasih izin untuk bertemu denganmu." Ucap ayah Bintang sambil jalan maju.


Brian pun jalan mundur. "Kenapa om?" tanya Brian menaiki dagunya.


Dug...


Ayah Bulan pun meninju pipi Brian sampai meninggalkan bekas memar. "Pulang kamu..." Suruh ayah Bulan sambil menunjuk keluar.


Brian pun pasrah dan keluar, Brian masih menatap tajam ke arah ayah Bulan. 'Awas lo anj*ng...' Gumam kesal Brian. Brian pun pulang.


...*~*~*...

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2