Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 14


__ADS_3

"Yaudah..." Itu lah yang di keluarkan dari mulut ayah Bulan. Seketika raut wajah Bulan langsung membinar.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


"Beneran yah...?" Tanya Bulan dengan tatapan yang bahagia.


Ayah Bulan pun mengangguk lalu pergi. Bulan pun senang jika ayahnya memberinya izin.


Bulan pun langsung menge-chat Brian.


...[Isi Chat WhatsApp]...


Bulan: "Brian, ayah ku beri izin kita keluar."


Brian: "Hah? serius? kapan kita keluar?"


Bulan: "Sore aja kita keluarnya, jam 4 deh kita keluar"


Brian: "Oke, aku bakalan jemput kamu jam segitu."


Bulan: "Sip"


...[Chatan terakhir mereka]...


Bulan pun memeluk ponselnya saking bahagianya. 'Aku ngira ayah tidak bakal ngasih izin ternyata... Oh tuhan terima kasih...' Gumam Bulan.


...***...


Sore hari...


Bulan sudah bersiap-siap dengan berpakaian rapi. Di luar, Brian sudah menunggu Bulan.


Bulan pun melihat dari atas balkon. Melihat Brian sudah menunggu di luar. Bulan pun langsung turun melewati anak tangga.


Di luar...


"Sudah siap?" tanya Brian sambil tersenyum.


"Sudah kok, kita langsung berangkat aja." Jawab Bulan balas senyum.


"Ohhh yaudah kamu langsung naik" ujar Brian.


Bulan pun menaiki motor Brian. "Sudah belum?" tanya Brian menoleh ke belakang.


"Udah..." Jawab Bulan.

__ADS_1


Mereka pun langsung berangkat. Di perjalanan mereka menuju ke cafe. Bulan memeluk pinggang Brian. Dan Brian pun merasa senang mendapatkan pelukan dari Bulan.


Di lampu merah juga, mereka bertemu dengan Fadli dan Bintang. "Ehhh... Kalian jalan-jalan juga?" Tanya Brian sambil senyum remeh.


"Lho... Ka-kalian mau kemana?" Tanya balik Bintang yang cemburu.


"Jalan-jalan dong, kita mau ke cafe nih... Mau ikut gak? hmmm mending gak usah deh, nanti kami keganggu pula sama si nyamuk." Jawab Brian sambil memanas-manasi Bintang dan Fadli.


"Ck... Kami nyamuk? apa... Si nyamuk ama si sarang bakalan selang-seling? gue sama Bulan, lo sama Bintang..." Ujar Fadli sambil senyum licik.


Bulan pun makin memeluk Brian agar Bintang dan Fadli cemburu. "Nggak kok, kami gak bakal berpaling. Tetap setiap kok sama pasangan." Jawab Bulan sambil senyum gemas.


"Denger gak bang? sakit gak? sakit gak? sakit lah masa nggak..." Lanjut Brian memanas-manasi Bintang dan Fadli.


Bintang dan Fadli pun mengigit gigi mereka masing-masing saking geramnya. 'Masih di pertanyakan sama gue, Bulan kenapa mendadak berubah? padahal dia sudah terpengaruh sama ucapan gue kemarin. Lah dia malah manas-manasin gue...' Gumam Fadli dalam hati.


Flashback on.


Di kelas Bulan...


"Kamu sama Brian itu... Ada hubungan apa sih? kok akrap banget." Ucap Fadli sambil menatap lekat wajah Bulan.


"Hmmm aku sama Brian lagi pacaran kak... Hehehe..." Jawab Bulan sambil menyengir.


"Kamu pacaran dengannya? kamu mau aja gitu jadi pacar dia?" tanya Fadli pura-pura terkejut.


"I-iya kak... Memangnya kenapa ya?" Tanya bingung Bulan.


"Brian itu kan kemarin ciuman sama Bintang, kok kamu mau aja sih dapat bekas dari cewek lain? kalau kakak ya gak mau dapat cewek yang sudah di cium sama cowok." Jawab Fadli memanas-manasi Bulan.


Flashback off.


'Dia kenapa malah jadi gini?' Gumam Fadli.


Lampu pun berubah menjadi hijau. "Kami duluan ya? bye..." Ucap Brian lalu pergi.


"Kak... Brian sama Bulan malah pergi ke cafe barengan... Gimana dong kak?" tanya Bintang yang sakit hati.


"Hmmm... Entah kenapa pikiran gue jadi berubah... Mending kita gak usah ganggu mereka deh." Jawab Fadli melajukan motornya.


"Lah... Kok gitu? terus... Gimana perjanjian kita? lenyap aja gitu?" tanya Bintang yang terkejut dengan jawaban Fadli.


"Iya... Biarin aja mereka bersama, kalau mereka emang udah jodohnya." Ujar Fadli.


"What? ini aku gak salah dengarkan? kakak yang benar dong? terus kita gimana dong?" tanya Bulan yang tidak mengerti apa maksud Fadli.


"Liat aja nanti..." Jawab Fadli.


'Lah... Ini si Fadli kenapa jadi berubah gini? aaaiisss gimana dong cara gue untuk ngejar Brian?' Gumam Bintang.


Di posisi Brian dan Bulan...


"Hahaha... Aku yakin mereka pasti cemburu..." Ucap Brian terkekeh geli.

__ADS_1


"Iya tuh benar... Pasti mereka cemburu." Jawab Bulan sambil senyum.


"Gak sia-sia aku punya teman seperti Jhordan walaupun dia gay, tetap aja dia berguna." Ujar Brian sambil tertawa geli.


Jhordan by like:


["Kenapa telinga gue jadi panas ya?" tanya Jhordan sambil memegang telinganya.]


"Pasti ada yang ngomongin gue..." Lanjutnya.


Kembali di posisi Brian dan Bulan...


"Kalau kita bisa jaga perasaan pasti kita berhasil menyingkirkan orang yang mau ngerusak hubungan kita. Lihat deh... Mereka... Aku yakin mereka pasti bakalan jadian." Ucap Brian sambil senyum.


"Amin..."


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di cafe. "Turun yuk... Kita sudah sampai." Ucap Brian.


Bulan pun turun dari motor Brian dan langsung membuka helm. "Ayo kita masuk..." Ajak Brian sambil menarik pelan tangan Bulan.


Mereka pun duduk di kursi yang sudah di sediakan. "Kamu mau pesan minuman apa? kalau aku pesan boba, kamu boba juga gak?" Tanya Brian.


"Iya..." Jawab anggung Bulan.


"Mas pesan boba nya dua, minum disini..." Ucap Brian ke pelayan cafe.


"Cuma boba aja? gak ada yang lain?" Tanya pelayan cafe.


"Nggak, cuma itu aja..." Jawab Brian.


"Oh tunggu bentar ya mas..." Ujar pelayan itu.


Brian dan Bulan pun diam sejenak. Dan Brian langsung membuka suara. "Tadi kamu minta izin nya gimana? kok bisa di izinin? biasanya bokap kamu galak banget." Tanya Brian.


"Aku juga gak tahu kenapa dia bisa ngizinin aku. Tadi aku dengar dia ngomong sama ibu tiri aku. Nah sudah ngomong sama ibu tiri aku, dia nya langsung ngebolehin aku pergi." Jawab Bulan sambil senyum.


"Syukur deh kalau gitu, aku ikut senang kamu di bolehin sama ayah kamu. Aku kira kamu bakalan gak di izinin." Ujar Brian.


"Semoga aja ayah aku benar-benar baik sama aku." Jawab Bulan.


"Amin, aku ikut senang dengernya. Hmmm ibu tiri kamu baik ya... Ibu tiri aku sama ayah tiri aku, mereka pada gak suka sama aku. Ayah tiri aku dingin banget sama aku, kalau ibu tiriku cuma butuh uang ayah ku doang." Ujar lesu Brian.


"Kamu gak tahu gimana hidupku tanpa ibu." Jawab Bulan sambil senyum berkaca-kaca.


"Aku di anggap anak pembawa sial. Aku gak pernah sama sekali di anggap sama kakak dan ayahku sebagai adik atau anak. Aku di siksa hampir di jual. Yang di jual ayahku... Hahaha keperawanan ku." Lanjut Bulan mengeluarkan air matanya.


"Hey... Kita ini sama-sama anak broken home." Jawab Brian sambil mengapus air mata Bulan.


Bulan pun megang tangan Brian. Dan mengangguk senyum. "Iya... Kita... Sama-sama anak broken home."


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!

__ADS_1


Catatan... Jangan di baca dulu bab selanjutnya, karena lagi masa revisi


__ADS_2