Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 08


__ADS_3

"Eh... Maksudnya tante, soalnya tante Dita kalau nangis wajahnya mirip banget sama bunda..." Jawab Brian sambil tersenyum.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


Dita pun mengelus rambut Brian. "Kamu mau manggil mama aja boleh kok." Ujar Dita sambil tersenyum.


Brian pun tersenyum, dokter Hendry langsung duduk di samping Brian. "Heh, kamu bakalan jadi anaknya oom. Oom bakalan urusin kamu sekarang. Oom bakalan anggap kamu seperti anak oom. Oom masukin kamu dalam anggota keluarga oom." Sambung dokter Hendry.


"Aaahh oom sama tante serius?" tanya Brian dengan wajah yang membinar.


Dokter Hendry dan Dita pun mengangguk senyum. Sontak dengan hal itu membuat Brian langsung memeluk keduanya.


Dokter Hendry dan Dita pun membalas pelukan dari Brian.


Brian pun menangis mendapatkan kembali kasih sayang orang tua. Inilah yang diinginkan oleh Brian. Sudah berapa lama ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua.


Brian bersyukur memiliki paman seperti dokter Hendry. Dari dulu dokter Hendry memang menyayangi Brian di saat Brian lahir.


Sebelum dokter Hendry menikah, dokter Hendry selalu memberikan waktunya untuk bermain bersama sang keponakan.


Tapi, bagaimana dengan nasib Bulan? apa yang akan di lakukan oleh ayahnya nanti jika mengetahui kalau Bulan kabur dari rumah? akan kah Bulan kembali mendapatkan siksaan?


Bulan berada di kamar barunya. Kamar yang sangat luas tidak sama seperti kamar lamanya. Bulan tersenyum dan menangis. Ternyata ada orang yang lebih baik.


'Sungguh aku sangat berterima kasih kepada Brian dan oom nya. Mulai hari ini aku harus berubah.' Gumam Bulan dengan percaya diri tersenyum di depan cermin.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat membuyar lamunan Bulan. Bulan pun segera membuka pintu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Brian, sambil membawa nampan.


"Eh Brian, masuk aja Brian..." Ucap Bulan sembari tersenyum.


"Lo kenapa kabur dari rumah?" Tanya Brian sambil meletakkan nampan di atas meja nakas yang ada di samping ranjang Bulan.


"Aku gak sanggup... Mereka selalu nganggap aku seperti pembantu, aku pernah hampir di perkosa sama cowok hidung belang. Ya karena ayah aku jual keperawanan aku." Jawab Bulan yang spontan menyebutkan itu semua.


"Gila emang itu bokap lo, lo masih perawan gak? kenapa gak laporin aja ke polisi?" tanya Brian yang terkejut.


"Aku masih perawan kok, aku gak berani ngelaporin ayah aku ke polisi. Bagaimana pun dia, dia tetap ayah aku." Jawab Bulan yang menangis.


"Gak usah sok baik lo, coba deh jangan murah hati kayak gitu. Karena kebaikan lo, semua orang pada mempermainin lo. Coba lo berubah, berubah jadi yang normal. Gak kayak gini, lo baik lo kayak culun." Ujar Brian yang memberi saran.


"Aku pasti berubah kok, Brian. Tapi aku gak bisa seperti kamu yang di takutin banyak orang. Aku cuma manusia biasa yang lemah." Jawab Bulan.


"Yaelah... Bulan-Bulan, gue juga Bulan... Gue juga. Gue juga manusia biasa yang lemah. Tapi kelemahan gue tertutupi, karena keberanian gue." Ucap Brian.


Bulan pun mengapusi air matanya. "Kamu benar, Brian... Lemah itu tertutupi karena keberanian... Mulai dari sini aku bakalan berubah." Jawab Bulan.


"Gini dong, jadi cewek itu harus berani..." Ujar Brian sambil terkekeh.


"Nah sekarang juga, lo ubah penampilan lo. Buang baju culun lo itu, gue bakalan ajak lo ke mall." Lanjut Brian.


Bulan pun mengangguk senyum mendengar dukungan dari Brian. 'Entah kenapa aku begitu senang mendapatkan dukungan dari kamu, Brian. Kamu sangat baik sebenarnya.' Gumam Bulan sambil tersenyum.


'Ya ampun Bulan... Manis banget senyuman lo.' Gumam Brian.


...***...


Malam hari...


Brian pun mengajak Bulan ke mall. "Papa... Mama... Brian pergi dulu ya..." Ucap Brian sembari mengedip matanya.


"Kok jadi aneh ya dengernya..." Jawab dokter Hendry dengan raut wajah jijik.


"Lah kan oom sendiri yang bilang, aaahhh gimana sih... Gak seru banget." Ujar ketus Brian.


"Gak papa kok, bagus dong kalau kamu nyebutnya gitu." Jawab Dita sambil tersenyum.


"Nah tante aja senang... Masa iya oom gak senang." Ujar Brian.


"Ya kamu nyebut nya pakai nada." Jawab dokter Hendry.


Bulan hanya tersenyum dan menyimak mendengar perdebatan mereka.


"Dih gak asik banget, dah lah Brian mau pergi dulu sama Bulan." Ujar Brian.


"Cieee... Mau ngapain tu?" Tanya dokter Hendry jahilin Brian.


"Kepo banget ni orang tua..." Jawab Brian.


Brian dan Bulan pun langsung pergi ke mall dengan mengendarai motor. Sampai di lampu lalu lintas.


Bintang pun tidak sengaja melihat Brian tertawa di atas motor bersama Bulan. Betapa panasnya ia melihat itu semua.


'Itukan si culun sama Brian, ngapain si culun dekat-dekat Brian segala? dasar cewek jal*ng.' Gumam kesal Bintang.


Sesudah lampu merah menjadi hijau, Brian pun mengegas motornya. Sedangkan Bintang menyuruh supirnya mengikuti Brian dan Bulan.

__ADS_1


"Pak... Pak... Ikutin motor sport warna hitam itu." Perintah Bintang.


"Siap non..." Jawab supirnya lalu mengikuti Brian dan Bulan dari belakang.


Sampai di mall, mereka berdua pun turun dan memasuki mall itu. Bintang juga ikut turun dan memasuki mall itu untuk mengikuti Brian dan Bulan.


Di dalam, Brian dan Bulan pergi menuju ke toko baju wanita.


Di posisi Brian dan Bulan...


"Baju yang mana ya, yang cocok untuk aku pakai?" Tanya Bulan sambil memegang baju.


"Entar dulu, gue tanya ke mbah google. Baju yang mana yang cocok untuk lo." Jawab Brian sambil membuka ponselnya.


"Hmmm okeh..." Ujar Bulan lalu melihat-lihat baju yang ada disana.


"Nah... Baju ini cocok lho untuk lo, kayak styel korea gitu." Ucap Brian sambil menunjukkan ponselnya ke Bulan.


"Ini juga cocok deh, coba deh tanyain ke mbaknya ada gak baju yang kaya gitu?"


Dari kejauhan, Bintang mengintip mereka di sela-sela patung baju. Bintang terlihat sangat kesal melihat itu semua.


Pelayan toko pun datang menghampiri Bintang yang bersembunyi. "Mbak mau cari apa?" tanya pelayan toko, membuat Bintang terkejut.


"Aaahhh gak kok, gak cari apa-apa..." Jawab Bintang lalu keluar dari persembunyiannya.


Kembali di posisi Brian dan Bulan...


"Nah baju ini nih, yang cocok untuk lo. Coba deh tes." Ucap Brian.


"Oke, aku coba ya." Jawab Bulan lalu pergi ke tempat pengganti baju.


Tidak lama Bulan pun keluar menggunakan baju itu. Betapa cantiknya Bulan memakai baju itu. "Wiiihh bagus banget, dah lo pakai itu. Cari lagi deh baju yang mana yang bagus untuk lo. Udah itu kita bakalan pergi ke salon..." Ucap Brian.


"Ini bajunya beneran baguskan? cocok gak nih?" tanya Bulan kurang pede.


"Iya kok, ihhhh gak percaya banget sih lo." Jawab Brian.


"Hmmm"


"Ayo lah cari baju lagi untuk lo." Ajak Bria sembari menarik lengan Bulan.


Hal itu membuat Bintang makin cemburu. Bintang pun menghentak-hentak kesal. 'Iiihhh dasar play boy...' Gumam kesal Bintang.


Brian dan Bulan sudah mendapatkan banyak baju. "Hmmm... Brian, ini beneran kamu yang bayar?" tanya Bulan sedikit tidak enak.


"Iya, gue yang bayar semuanya." Jawab Brian mengambil mengambil kartu debitnya.


"Memangnya kamu gak rugi?" tanya Bulan.


"Makasih banyak ya Brian, kamu udah bayarin semua baju aku." Ucap Bulan sembari tersenyum.


"Iya sama-sama..." Jawab Brian sambil tersenyum sembari menaiki kedua alisnya.


Sesudah belanja pakaian, mereka pun pergi ke salon. Bintang masih saja terus mengikuti mereka dari belakang.


Brian dan Bulan pun pergi menuju ke tempat salon yang ada di mall. Saat mereka masuk, mereka berdua di sambut manis oleh pelayan salon.


"Selamat datang mbak... Mas... Apa yang bisa saya bantu?" tanya pelayan salon.


"Tolong mbak, bikin rambutnya seperti dalam foto ini." Jawab Brian sambil memberi lihatkan ponselnya ke pelayan salon itu.


Pelayan salon itu tampak bingung. "Aaahh ini mas, foto yang mana ya?" tanya pelayan salon itu.


Saat Brian lihat ternyata ponselnya mati. Brian pun menyengir lalu mengidupi ponselnya. "Hehehe maaf mbak, yang kayak gini lho. Bikin rambutnya permanen seperti ini ya mbak." Jawab Brian.


"Oooh siap mas... Ayo mbak kita mulai."


Brian pun keluar dari tempat salon itu. Dan melihat Bintang yang mencoba untuk mengintip lewat kaca.


"Ngapain lo disitu?" tanya Brian sambil menaiki satu alis matanya.


"Eeehh... A-ada Brian... Eh lo disini juga ya? sama siapa?" tanya balik Bintang yang pura-pura tidak tahu.


"Gue disini sama Bulan... Lo sendiri ngapain disini sampai ngintip segala. Kalau mau salon langsung masuk aja gak perlu lo nunggit-nunggit. Lihat isi dalam salon, ntar lo dikira mau maling."Jawab Brian yang mengetahui niat Bintang.


"Aaahh ya gue cuma... Hmmm cuma... Ya cuma liat-liat aja sih, hehehe. Lo ngapain nemanin Bulan ke mall?" tanya Bintang dengan raut wajah yang kesal.


"Ya suka-suka gue lah, kok lo yang sewot sih? kalau niat lo mau ngikutin kami berdua, mending gak usah deh. Nanti lo sakit hati liat kami berdua." Jawab Brian memanas-manaskan Bintang.


Sontak saja raut wajah Bintang terlihat sangat marah, wajahnya pun berubah jadi merah karena menahan marah.


"Lah ngapain ngikutin lo berdua... Gak penting tau gak sih." Ujar Bintang lalu pergi dari situ.


Brian pun smirk melihat tingkah laku Bintang. Sedangkan Bintang menahan tangis melihat semua itu. Tidak disangka jika pria selama ini yang ia incar begitu licik padanya.


'Tega lo, Brian... Apa lo lupa dengan kebaikan gue selama ini? gue yang dulu selalu nemanin lo. Tapi lo malah berpaling ke cewek jal*ng itu.' Gumam Bintang yang mengampus air matanya.


Brian pun pergi mencari makanan sambil menunggu Bulan yang selesai di salon.


Tidak lama kemudian, Brian pun selesai membeli makanan dan kembali ke tempat salon. Saat Brian masuk, Bulan sudah berada di depan pintu yang ingin membuka pintu.


Deg...


Jantung Brian pun bedetak kencang. Brian pun tercengang melihat berpenampilan Bulan yang baru. 'Gile... Cakep banget dia sekarang.' Gumam Brian sambil ternganga.

__ADS_1


"Aaahh Brian... Hmmm uang salonnya belum di bayar." Ucap lembut Bulan yang mengelus lembut di gendang telinga Brian dan membuat lamunan Brian terbuyar.


"Aaahh yayaya... Gue yang bayar, hmmm ini makanan untuk lo." Jawab Brian sambil memberikan makanan ke Bulan.


"Makasih..." Ujar Bulan mengambil makanan itu dari tangan Brian.


"Iya..."


Brian pun membayar uang salon. Lalu mengajak Bulan untuk pulang. "Yuk pulang... Bawa tas-tas belanja lo." Ajak Brian dengan nada mendadak lembut.


"Aaahh iya..."


Mereka pun pergi dari mall.


Di jalan...


"Brian... Gimana dengan penampilan aku sekarang sekarang? cantik gak?" tanya Bulan.


"Banget malahan..." Jawab Brian langsung menjawab pertanyaan Bulan.


"Kamu serius?" Tanya Bulan yang tidak percaya diri.


"Nanti kalau dah sampai di rumah lo langsung ngaca, lo cakep apa kagak." Jawab Brian.


Mendengar itu membuat Bulan jadi percaya diri. "Makasih ya, Brian. Kamu sudah bikin aku jadi percaya diri." Ujar Bulan sambil tersenyum.


Brian pun ikut tersenyum. "Iya sama-sama, lo itu masih sahabat gue. Apa sih yang gak untuk lo!" jawab Brian sambil tersenyum.


...***...


Tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah. "Sepi banget, udah pada tidur ya?" tanya Brian memasuki ruang utama.


"Mungkin aja sih, sekarangkan sudah jam 10 lewat." Jawab Bulan mengikuti jalan Brian.


"Hmmm yaudah, lo langsung masuk dalam kamar." Ucap Brian lalu masuk dalam kamarnya.


"Hmmm iya..."


...***...


...DI RUMAH BINTANG...


Bintang menangis histeris, betapa kecewanya dia kepada Brian. "Jahat kamu Brian.... Kamu jahat... Kamu gak mikir perasaan aku. Kamu gak mikir sama sekali, kamu pergi dengannya. Padahak aku yang sering nemanin kamu." Jerit Bintang dengan isakan tangis begitu kencang membuat ayah Bintang menghampiri Bintang.


"Hey... Kamu kenapa hah? kenapa nangis? coba ceritakan ke papi cepat!" ucap ayah Bintang sambil memeluk sang buah hati.


"Brian... Pih... Brian... Hiks... Hiks..." Jawab Bintang yang teriksak-isak.


"Dia kenapa? kenapa bisa bikin kamu nangis?" tanya ayah Bintang sambil mengapus air mata Bintang.


"Dia jahat... Dia pergi sama Bulan tadi di mall. Dia malah manas-manasin Bintang." Jawab Bintang sambil mengapus air matanya yang terus mengalir.


"Kamu kok mau aja sih di gituin, kamu terus ngejarin dia dong. Jangan mau kamu di buat kaya gitu." Ujar ayahnya yang ikut kesal.


"Iya, pih... Bintang gak bakal mau dibuat kayak gitu." Jawab Bintang sambil smirk.


"Kamu kasih pelajaran untuk Bulan, bikin dia tahu rasa." Ujar ayahnya sambil smirk.


...***...


...DI KAMAR BRIAN...


Brian pun senyum-senyum sendiri membayangkan penampilan baru Bulan. 'Aaahh Bulan... Lo bikin gue melayang-layang. Lo bikin jantung gue mau copot. Lo hari ini cantik banget... Aaahh' gumam Brian sambil memeluk bantal gulingnya.


"Bulan... Bulan... Lo cantik, sayangnya lo itu culun. Ya sekarang lo bikin jantung gue mau copot tahu gak sih. Saking berdetak kencangnya ini jantung. Mungkin lo bisa bikin gue strook. Lo itu manis banget, bisa aja lo bikin gue punya penyakit diabetes. Tiap hari lihat wajah lo." Ucapnya sambil nyengir-nyerngir sendiri.


Entah apa maunya dokter Hendry, di saat Brian lagi berbunga-bunganya. Dokter Hendry nyelonong masuk dalam kamar Brian. Pas sekali Brian sedang senyum-senyum sendiri.


"Astaga... Ternyata kamu punya penyakit kelainan jiwa." Ucap Dokter Hendry.


"Apa sih oom ihhhh bikin orang kaget aja." Jawab Brian sembari mengelus dadanya.


"Kamu kenapa ketawa? oohhh jangan-jangan karena teman kamu itu ya? cieee... Udah mulai suka sama cewek..." Ujar dokter Hendry sambil nyegilin Brian.


"Iiihh oom iihhh... Au ah nganggu orang tidur aja." Jawab ketus Brian lalu bersembunyi di balik selimut.


"Oom cuma mau pastiin aja, kamu udah pulang apa belum. Kamu tadi habis dari mana?" tanya dokter Hendry.


"Habis dari mall..." Jawab Brian.


"Ooo ngapain aja?" tanya dokter Hendry.


"Cuma temenin dia beli baju." Jawab Brian.


"Ooo yaudah, oom mau tidur dulu."


...***...


Pagi hari...


Hari ini, hari siswa dan siswi mulai masuk sekolah. Brian pergi bersama Bulan berangkat sekolah.


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2