
"Hmmm iya deh iya..." Ujar Bulan kembali memeluk Brian.
...••••selamat membaca••••...
...🍁🍁🍁...
...*...
...*...
...*...
Mereka pun sudah sampai di depan rumah Bulan. "Hmmm Bulan, ayah kamu masih marah-marah ya sama kamu?" tanya Brian dengan tatapan serius.
"Yaa.... Gitu, aku gak bisa bebas dari mereka." Jawab Bulan dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu nya sih ngapain coba pulang lagi, kamu udah nyaman di rumah aku. Itu juga oom sama tante ku udah nganggap kamu itu anak mereka." Ujar Brian.
"Tetap aja kok mereka bakalan temui aku." Jawab lesu Bulan.
"Semoga aja kamu gak di marahin lagi sama ayah kamu, aku pulang dulu ya." Ujar Brian.
"Iya hati-hati di jalan ya..." Jawab Bulan.
'Andaikan kamu jadi aku, mungkin kamu tahu bagaimana perasaan aku.' Gumam Bulan.
...***...
Sore hari...
...DI CAFE...
"Lo bisa bantuin gue gak?" tanya Brian dengan tatapan serius.
"Bantu apa?" tanya balik Jhordan.
"Lo tahu kan waktu kemarin si Bintang pingsan di WC?" Brian yang mempejam matanya.
"Yaaa gue tahu, ada apa?" Tanya Jhordan
"Dia pingsan karena gak bisa mengontrol amarahnya, gue yang bikin dia sakit hati. Jujur aja sih gue sama dia itu cuma teman biasa. Gue gak tahu dia deketin karena dia suka sama gue. Pas gue anterin dia di rumah sakit. Bokap nya beri amanat ke gue untuk ngurus gue. Gue gak bisa karena gue suka sama Bulan, gue yakin juga si Bulan juga suka sama gue. Jadi gue langsung nembak dia waktu itu biar gak salah paham. Gue gak bisa jagain Bintang, jadi gue mintak tolong sama lo tolong jagain dia. Dan itu juga tolong singkirin Fadli dari Bulan kapan perlu lo jodohin deh si Bintang sama si Fadli." Jawab Brian
"Oh siap-siap, oke. Gue bakalan lakuin itu semua." Ujar Jhordan.
"Gue tahu mereka mau ngerencanai untuk memisahi gue dari Bulan... Tugas lo bagian yang ini, tolong mata-matai mereka. Apa aja yang mereka rencanakan." Jawab Brian.
"Gue bakal lakukan perintah lo, tapi ada syaratnya." Ujar Jhordan.
"Apa persyaratannya?" tanya Brian dengan tatapa serius.
"Lo harus jadi bantal guling gue nanti malam, bagaimana setuju gak?" tanya Jhordan menaiki satu alis matanya.
"Hah? yang bener-bener aja lah... Masak iya gue jadi bantal guling lo." Jawab Brian dengan tampang jijik.
"Mau apa nggak nih?" tanya Jhordan sembari senyum nakal.
"Y-ya... Gu-gue mau.... Oke cuma satu malam doang ya?" ucap Brian sambil menelan salivanya.
"Iya cuma satu malam doang kok, kapan perlu main juga. Gak seru aja cuma jadi guling." Jawab Jhordan sambil senyum.
"Gila lo... Udah jadi bantal guling aja." Ujar kesal Brian.
"Hmmm oke deh..."
...***...
Malam hari...
...DI RUMAH JHORDAN...
"Sini beb, pelukan..." Ucap Jhordan sembari merangkak ke tempat tidur.
*Glek...
'Gila... Gue bener-bener di jadiin bantal gulingnya.' Gumam Brian*.
__ADS_1
Jhordan pun memeluk Brian, Brian hanya bisa terpejam mata disaat Jhordan memeluknya.
"Jangan takut beb... Santay aja deh." Ucap Jhordan mengelus rambut Brian.
"Lo bisa kan jangan meluk gue kaya gitu, gue sesak nafas..." Jawab Brian.
"Ya maaf..." Ujar Jhordan lalu melepaskan pelukan.
'Ya Tuhan... Kenapa cowok homo ini harus ada di sini.' Gumam Brian ngerutu dalam hati.
...***...
Pagi hari...
...DI SEKOLAH...
Jhordan berada di kelas Bintang. Ia duduk di atas meja Bintang. "Lo kalau butuh apa-apa, bilang aja ke gue." Ucap Jhordan sembari menunjuk Bintang dengan menggunakan pulpen.
"Hmmm tumbenan banget lo perhatian ama gue, biasanya gak pernah tuh lo perhatian ama gue." Jawab jutek Bintang.
"Sekarang ini adalah hari kebahagiaan gue, jadi gue mau berdamai dengan siapa pun." Ujar Jhordan.
"Ooo..."
"Iya, btw... Lo sama Fadli ada urusan apa? sampai lo serius banget ngomong ama dia tadi." Tanya Jhordan memajukan wajahnya.
"Kalau itu bukan urusan lo..." Jawab jutek Bintang.
"Pasti nya dong ada urusan nya juga dengan gue, gue ini sepupu lo. Jadi gue berhak mantauin lo, nanti kalau lo kenapa-kenapa gimana? pasti jadi repotkan urusannya. Jadi kalau lo mau curhat ama gue aja" Ujar Jhordan menaiki satu alis matanya.
"Iya-iya... Gue sama Fadli mau rencanai sesuatu." Jawab ketus Bintang.
"Apa yang mau kalian rencanai?" tanya Jhordan dengan tatapan serius.
"Gu-gue sama Fadli mau misahin Bulan sama Brian." Jawab Bintang.
'Oooo benar dugaan Brian... Ternyata ini niat mereka.' Gumam Jhordan.
"Ooo gitu ya..." Ujar Jhordan pura-pura bodoh.
"Lo jangan kasih tahu sama Brian..." Jawab Bintang.
"Iya..."
'Bintang... Bintang lo tahu niat gue nanya kaya gitu sama lo, gue bakalan beri tahu ini semua...' Gumam Jhordan keluar dari kelas Bintang.
Jhordan langsung memasuki kelasnya. Jhordan langsung berlari ke arah meja Brian. "Brian... Gue punya kabar ter-hot..." Ucap Jhordan.
"Kabar apaan?" tanya Brian yang serius.
"Ternyata... Itu orang beneran ngerencanai untuk mengerusak hubungan lo." Jawab Jhordan sambil tersenyum penuh misteri.
"Lo serius?" Tanya Brian yang terkejut.
"Iya... Si Bintang bakalan kasih tahu ke gue apa aja yang bakal mereka rencanai." Jawab Jhordan yang kesenangan.
"Terus lo mantau mereka..." Ujar licik Brian.
Jam istirahat...
Brian dan Bulan berjalan menuju kantin. Bintang dan Fadli pun langsung menghampiri mereka berdua.
"Aaahh Bulan mau makan ya? nanti duduknya dekat aku ya." Ucap Fadli yang mencoba mendekati Bulan.
Bulan hanya diam dan cuek kepada Fadli. Bulan pun menoleh ke arah Brian. "Brian... Aku pengen makan Bakso deh, kamu juga ya?" tanya Bulan sambil senyum.
"Oke aman aja deh..." Jawab Brian sekaligus memanas-manasi Bintang dan Fadli.
"Eh Brian... Nanti sore kita ke cafe yuk?" Ajak Bintang.
"Yaaahhh gue gak bisa, nanti sore gue mau ke cafe bareng ama Bulan." Jawab Brian tanpa menoleh ke arah Bintang.
Fadli dan Bintang pun berhenti mengikuti Bulan dan Brian. "Lho mereka kenapa mendadak kaya gitu?" tanya bingung Fadli.
"Ak-aku juga gak tahu..." Jawab Bintang yang kebingungan.
__ADS_1
Dari belakang Jhordan pun menghampiri mereka berdua. "Cieee... Ada yang lagi pdkt nih..." Ucap Jhordan sambil terkekeh.
"Apanya sih yang pdkt..." Jawab kesal Bintang.
"Soalnya kalian deket banget." Ujar Jhordan.
Fadli sudah merasa risih jika Jhordan datang. "Woi Jhordan... Si Brian kenapa? kok cuek?" tanya Bintang yang kesal.
"Cuek? hmmm nggak tahu deh gue... Dia tadi aja gak cuek tu ama gue." Jawab Jhordan yang pura-pura tidak tahu.
"Ooo..."
Kenapa Bulan dan Brian cuek di saat Bintang dan Fadli menghampiri mereka?
Flashback on.
"Bulan... Mereka berdua mau merusak hubungan kita." Ucap Brian.
"Mereka siapa?" tanya Bulan yang bingung.
"Bintang sama Fadli... Mereka mau niat memisahkan kita. Jadi mulai sekarang kita jaga perasaan aja. Aku gak bakal jagain si Bintang. Karena ada Jhordan yang mau gantiin aku." Jawab Brian.
Bulan pun tersenyum senang. "Beneran kamu gak bakal jagain Bintang lagi?" Tanya Bulan dengan raut wajah membinar.
"Iya..." Jawab angguk Brian sambil tersenyum.
Flashback off.
'Kini gak ada lagi yang ganggu hubungan gue sama Bulan...' Gumam Brian sambil tersenyum.
Sampai di kantin mereka pun memesan makanan yang ingin mereka makan. "Kamu lihatkan tadi mereka mau deket-deketin kita?" Tanya Brian sambil cengengesan.
Bulan pun mengangguk senyum. "Iya benar kata kamu... Mereka mau deketin kita..." Jawab Bulan sambil tertawa kecil.
"Aku harap hubungan kita gak bakal hancur sampai akhir hayat kita..." Ucap Brian sambil tersenyum.
Begitu juga dengan Bulan yang tersenyum. Apa maksud Brian berkata seperti itu? apakah ucapannya tadi akan terulang lagi?
Brian pun mengenggam tangan Bulan. "Aku sayang banget sama kamu." Ucap Brian sambil tersenyum.
"Aku juga... Aku malahan lebih sayang sama kamu..." Jawab Bulan senyum gemas.
"Kamu itu imut tahu gak sih..." Ujar gemas Brian.
"Oh ya? seimut apa?" tanya Bulan.
"Seimut bulan di langit..." Jawab Brian sambil senyum.
"Iiihh kamu bisa aja..." Ujar Bulan.
Pesanan mereka pun sudah sampai. "Makan dulu yuk... Udah ini langsung ke kelas ya. Nanti aku ada ulangan harian aku belum baca buku." Ucap Brian.
"Makanya baca buku itu malam... Kapan perlu di catet mana yang mau hapal." Jawab Bulan.
Mendengar dengan sebutan "malam" Brian pun teringat tadi malam, di saat Jhordan memeluknya. Brian pun tertegun mendengar itu.
"Aaahh ya... Maaf..." Ucap Brian sambil menunduk.
"Biasa aja kali jangan minta maaf..." Jawab Bulan sambil senyum.
"Hehehe..."
Di lain tempat duduk, Jhordan menghalangi Bintang dan Fadli untuk mendekati Bulan dan Brian. Jhordan berusaha mencari topik agar bisa membuat mereka berdua melupakan rencana mereka.
"Gue ya dulu waktu kecil imut banget tahu gak sih. Pipi gue tembem, sampai ya saudara bokap dan nyokap gue bilang. "Iiihhh imut banget" gitu lho kata mereka..." Ucap Jhordan.
"Imut... Coba deh lo ngaca ulang di rumah... Cakep lu?" tanya Fadli dengan tampang jijik.
"Lah emang lo gak bisa lihat? wajah gue lebih ganteng dari wajah lo..." Jawab Jhordan.
"Eleh... Gak malu lo ngomong kaya gitu... Gue yang ganteng." Ujar kesal Fadli.
"Gue yang ganteng, lo jelek..." Jawab Jhordan
"Udah iiihh... Kok malah ribut, kaya gak ada yang di bahas aja deh."
__ADS_1
...*~*~*...
Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!